Mencari...

Tafsir muqarin

12:34 AM
Istilah metode "muqarin" identik dengan kata al-manhaj al-muqaran. Menurut pendapat Ath Thahir Ahmad As-sawi dan didukung oleh Muhamad Farid Wajdi sebagaimana yang dikutip oleh Syafe`i mengatakan bahwa kata al-manhaj mempunyai arti Ath Thariq al-wadhih yang berarti: jalan yang terang. Sedangkan al-muqaran artinya perbandingan.


Adapun Ciri utama metode  ini adalah perbandingan  (komparatif). Di sinilah letak salah satu perbedaan yang prinsipil antara metode ini dengan metode-metode yang lain. Melihat beberapa defenisi di atas dapat ditegaskan ruang lingkup tafsir muqarin sebagai berikut:
  • Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi satu kasus yang sama.
  • Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan Hadits Nabi SAW, yang pada lahirnya terlihat bertentangan.
  • Membandingkan berbagai pendapat ulama’ tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an.
Nasruddin Baidan dalam bukunya metode penafsiran al-Qur`an menerangkan kelebihan dan kekurangan metode tafsir muqarin yaitu:
Kelebihan metode ini antara lain:
  • memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada pada pembaca bila dibandingkan dengan metode-metode lain. Di dalam penafsiran ayat al-Qur’an dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian mufassirnya,
  •  membuka pintu untuk selalu bersikap toleransi terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif. Dapat mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu mazhab atau aliran tertentu.
  • tafsir dengan metode ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat.
  • dengan menggunakan metode ini, mufassir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan hadis-hadis serta pendapat para mufassir yang lain.
         Kelemahan metode ini antara lain:
  • penafsiran dengan memakai metode ini tidak dapat diberikan kepada pemula yang baru mempelajari tafsir, karena pembahasan yang dikemukakan di dalamnya terlalu luas dan kadang-kadang ekstrim.
  • metode ini kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan social yang tumbuh di tengah masyarakat, karena metode ini lebih mengutamakan perbandingan dari pada pemecahan masalah.
  • metode ini terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah dilakukan oleh para ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru. dapatkan lebih lengkap.


0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih