Aneka Ragam Makalah

Pertanyaan dan Jawaban Dalam al quran



 Al quran sebagai kitab suci di dalamnya terdapat pertanyaan dan jawaban yang menjadi petunjuk umat manusia, di dalamnya terdapat ayat-ayat yang berupa pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang menunjukkan kepada manusia bahwa telah ada suatu dialog atau pembicaraan yang terjadi di masa lalu dan pada masa al quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.  

Oleh: Sufriyansyah

       Dalam suatu komunikasi atau dialog biasanya akan terjadi tanya jawab. Sebuah jawaban akan hadir bila ada pertanyaan dan biasanya setiap jawaban harus sesuai dengan apa yang ditanyakan. Dari sini dapat diketahui bahwa jawaban yang baik adalah sesuai dengan yang ditanyakan dan sesuai dengan konteks pembicaraan.

       Sebagai ilustrasinya, kita sering dihadapkan pada situasi di mana kita harus berkomunikasi dengan orang lain, baik kepada orang dikenal maupun dengan orang  belum dikenal. Bila kita ditanya, siapakah namamu? maka jawaban  kita adalah nama saya si folan. Dari mana asalmu? Maka kita jawab, saya dari kota X, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.

        Dari ilustrasi di atas, maka bisa dipahami bahwa setiap pertanyaan yang diajukan pasti akan dijawab sesuai dengan pertanyaan. Atau dengan kata lain, bahwa setiap pertanyaan, membutuhkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya. Dengan adanya kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban, maka akan terpenuhilah apa yang menjadi keinginan si penanya. Inilah kaidah yang umumnya berlaku dalam suatu komunikasi.
     
        Al quran sebagai kitab suci yang menjadi petunjuk umat manusia, di dalamnya terdapat ayat-ayat yang berupa pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang menunjukkan kepada manusia bahwa telah ada suatu dialog atau pembicaraan yang terjadi di masa lalu dan pada masa Al quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

     Bentuk-bentuk pertanyaan atau jawaban tersebut, baik yang diajukan oleh umat-umat terdahulu kepada nabi-nabi Allah atau pembicaraan lainnya direkam dan diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al quran untuk dijadikan i’tibar (pelajaran) bagi umat manusia dan sekaligus Al quran menunjukkan sebuah gaya bahasa dialog yang baik, dilihat dari berbagai bentuk pertanyaan dan jawaban yang ada.

        Makalah ini akan memaparkan beberapa bentuk atau model pertanyaan dan jawaban yang ada dalam al-Qur’an. Bentuk-bentuk tersebut oleh para mufassir telah dijelaskan dalam kitab-kitabnya yang menjadi rujukan dalam makalah ini sehingga memudahkan kita untuk mengetahui konteks pembicaraan yang terdapat di dalam al-Qur’an. Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amiin 

BENTUK-BENTUK PERTANYAAN DAN JAWABAN

     Secara defenitif, dinamakan sebuah pertanyaan (al-su’al) sebagai sebuah perkataan yang menjadi permulaan (ibtida’). Sedangkan jawaban (al-jawab) merupakan perkataan yang dikembalikan kepada si penanya atau kepada konteks pembicaraan. Syeikh Khalid Abd al-Rahman al-‘Akk dalam bukunya Ushul al-Tafsir wa Qawa’iduhu menjelaskan bahwa di dalam Al quran terdapat bentuk-bentuk pertanyaan dan jawaban yang dapat dibagi atas beberapa bentuk, yaitu: Jawaban yang bersambung dengan pertanyaan; Jawaban yang terpisah dari pertanyaan; Jawaban yang tersembunyi; Jawaban yang hanya menyebutkan pertanyaan; Dua jawaban untuk satu pertanyaan; Satu jawaban untuk dua pertanyaan; Jawaban yang mahdzuf; Jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan; Jawaban yang terdapat pada konteks pembicaraan; Jawaban yang terdapat pada akhir pembicaraan; Jawaban yang masuk kedalam pertanyaan; Jawaban yang tergantung pada suatu masa atau waktu; dan Jawaban yang berupa larangan. (al-‘Ak, 1994: 318)

      Jawaban yang bersambung dengan pertanyaan adalah pertanyaan dan jawaban yang terdapat pada satu ayat dan tidak terpisah dengan ayat selanjutnya. Contoh dari jawab maushul ini banyak terdapat pada surat al-Baqarah yaitu pada ayat 189, 215, 217, 219, 220, 222 dan pada surat-surat yang lain. Misalnya pertanyaan tentang madza yunfiqun: 

       “Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan? Katakanlah: yang lebih dari keperluan.” (QS. al-Baqarah: 219).

        Jawaban yang terpisah dengan pertanyaan. Jawaban ini dibagi menjadi dua jenis: pertama, pertanyaan dan jawaban yang berada pada satu surat. Sebagaimana firman Allah: “ Dan mereka berkata: mengapa rasul ini memakan makanan” (QS. Al-Furqan:7) dan jawabannya: “Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu melainkan mereka sungguh memakan makanan” (QS. Al-Furqan: 20). Kedua, pertanyaan dan jawaban terpisah pada dua surat, sebagaimana firman Allah: “ Siapakah yang Maha pemurah” (QS. Furqan: 60), maka jawabannya terdapat dalam surat yang lain: “ Tuhan yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia telah menciptakan manusia.”(QS. Al-Rahman: 1-3).

     Jawaban yang tersembunyi yaitu adanya pertanyaan dalam sebuah ayat, namun tidak ditemukan jawabannya atau tersembunyi. Misalnya firman Allah: “ Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan, atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya, orang yang sudah mati dapat berbicara..” (QS. Al-Ra’du: 31). Pada ayat tersebut tidak terlihat atau tersembunyi jawabannya, sedangkan jawaban dari pertanyaan tersebut tak lain adalah kitab suci al-Qur’an.
Jawaban yang hanya menyebutkan pertanyaan. Bentuk jawaban seperti ini terdapat dalam firman Allah:

       “Dan tidaklah Allah akan menyia-nyiakan iman kamu” (QS. Al-Baqarah: 143)

       Jawaban ini merupakan jawaban dari orang-orang yang menanyakan kepada Nabi Muhammad saw: bagaimana dengan mereka yang salat ke arah Baitul Maqdis sebelum pemindahan kiblat ke Baitullah?.
Dua jawaban untuk satu pertanyaan. Seperti firman Allah: “Mengapa Al quran tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif)” (QS. Zukhruf: 31). Terdapat dua jawaban atas pertanyaan tersebut: pertama, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan-mu” (QS. Zukhruf: 32) kedua, “Dan Tuhan-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya” (QS. Qashash: 68)
Satu jawaban untuk dua pertanyaan. Seperti firman Allah: “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah maha penyantun lagi maha penyayang (niscaya kamu mendapat azab yang besar)” (QS. Nur: 20). Ayat tersebut merupakan jawaban dari dua pertanyaan yang terdapat pada hadis ifqi.

      Jawaban yang mahdzuf. Contohnya seperti firman Allah: “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan dari Tuhannya..” (QS. Muhammad:14). Jawabannya adalah mahdzuf, yakni keadaan seseorang tersebut sama seperti keadaan orang yang menginginkan perhiasan kehidupan dunia. (al-‘Ak, 1994: 319) Jika dilihat lanjutan ayat disebutkan bahwa: ..sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?. Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah membandingkan antara orang yang berpegang dengan keterangan Allah dengan orang yang mengikuti syaithan dan hawa nafsunya. Mahdzuf dari pertanyaan ini bahwa pertanyaan pertama sudah cukup untuk menggugurkan pertanyaan yang kedua.

       Jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan. Sebagaimana firman Allah: “Dan Ibrahim ketika ia berkata kepada kaumnya: Sembahlah Allah dan bertaqwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu” (QS. Al-Ankanbut: 16) jawabannya: “Maka tidak ada jawaban dari kaum Ibrahim kecuali mengatakan, bunuhlah! Atau bakarlah dia.” (QS. Al-Ankanbut: 24) 
Jawaban yang terdapat pada konteks pembicaraan. Sebagaimana firman Allah: “Shad. Demi Al quran sebagai pengingat” (QS. Shad: 1) jawaban tersebut merupakan jawaban atas dugaan kaum kafir bahwa Nabi Muhammad saw., bukanlah rasul yang haq, maka turunlah ayat ini yang dikuatkan dengan sumpah sebagai penguat atas risalah Nabi saw.

      Jawaban yang terdapat pada akhir pembicaraan. Sebagaimana firman Allah: “Sungguh ada yang mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga.” Jawabannya terdapat pada akhir ayat: “Katakanlah, Tuhan-ku yang lebih mengetahui jumlah mereka” (QS. Khafi: 22) Jawaban yang masuk kedalam pertanyaan. Sebagaimana firman Allah: “…barang apakah yang hilang dari kamu? Mereka berkata: kami kehilangan tempat minum raja” (QS. Yusuf: 71-72)
       
       Jawaban yang tergantung pada suatu waktu atau masa. Sebagaimana firman Allah: “Berdoalah, niscaya akan Ku-kabulkan bagimu”(QS. Mukminun: 60). Kemudian para sahabat bertanya: kapan waktu dikabulkannya doa? Maka turunlah firman Allah: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintahku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka tetap dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186). Jadi apabila bila seseorang ingin dikabulkan doanya kepada Allah, maka waktu dikabulkannya doa tersebut adalah pada saat seseorang benar-benar beriman dan mematuhi segala perintah dari Allah SWT.

     Jawaban yang berupa larangan. Sebagaimana firman Allah: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam dirinya.” (QS. Al-Ahzab: 32) ini merupakan jawaban sekaligus larangan terhadap para istri nabi dan rasul untuk tidak menundukkan wajah ketika berbicara pada orang lain karena akan menimbulkan mudharat bagi istri-istri nabi dan rasul tersebut. (al-A’kk, 1994: 320)

KAIDAH PERTANYAAN DAN JAWABAN 

      Menurut kaidah umum, setiap jawaban harus sesuai dengan pertanyaan dan terkadang jawaban tersebut harus diulang terhadap pertanyaan atau persoalan yang merupakan peringatan. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang paling sesuai dan cocok untuk dipertanyakan. (al-Qathan, 1988: 205). Begitu juga sebaliknya, jawaban yang baik adalah harus sesuai dengan yang apa dipertanyakan oleh si penanya.

        Kaidah yang berlaku umum apabila yang dipertanyakan tentang diri seseorang dengan menggunakan pertanyaan “siapa engkau” maka jawabannya adalah “saya anu”. Kaidah semacam ini adalah dapat dilihat dalam kisah perjumpaan Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya. (al-Zarkasyi, 1988:54) sebagaimana terdapat dalam surat Yusuf ayat 90:

       Sekalipun kaidah umum mengatakan bahwa pertanyaan (al-su’al) harus sesuai dengan jawaban (al-jawab), namun dalam Al quranditemukan kaidah lain yang menyatakan bahwa bentuk jawaban yang diberikan tersebut menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh pertanyaan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan peringatan kepada si penanya bahwa jawaban itulah yang seharusnya dipertanyakan. Jawaban yang demikian oleh al-Sakakiy disebut sebagai uslub al-hakim. (al-Suyuthi, 1996: 199; al-Zarkasyi, 1988: 50). Dalam al-Qur’an, kasus semacam ini seperti ditunjukkan dalam QS. al-Baqarah: 189.

      “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. 2: 189)

      Pada ayat di atas, redaksi yang digunakan adalah redaksi tanya jawab, yaitu dengan menggunakan bentuk lafazd sa’ala. Asbab al-Nuzul ayat ini adalah bahwa ada sekelompok orang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang bulan sabit. (al-ahillah), kenapa ia semula tanpak kecil seperti benang, kemudian, lama-kelamaan berubah sedikit demi sedikit menjadi purnama, lalu ia menyusut kembali seperti keadaan semula?. (al-Naisabury, 1988: 32)

       Secara logika, pertanyaan itu seharusnya dijawab dengan menerangkan proses perubahan yang terjadi pada bulan tersebut. Namun terhadap pertanyaan yang demikian itu, jawaban yang diberikan Al quran kepada mereka adalah berupa penjelasan tentang hikmahnya, dengan alasan untuk mengingatkan mereka bahwa yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah hikmah dari bulan sabit, bukan seperti yang mereka pertanyakan.

       Jawaban Al quran yang demikian itu, bisa jadi karena ada asumsi lain bahwa yang dipertanyakan tidak terpaku pada bulan sabit semata, tapi juga menginginkan manfaat atau hikmah dibalik kejadian yang demikian itu. Jika memang demikian halnya, maka jawaban Al quran itu tidak menyalahi kaidah umum yang berlaku. Dengan demikian, ada kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban. Selanjutnya, terkadang sebuah jawaban bersifat lebih umum dari apa yang dipertanyakan, karena memang demikianlah yang dikehendaki. Seperti dalam QS. al-An’am: 64.

     “Katakanlah: Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali menyekutukan-Nya” (QS. 5: 64)

      Ayat di atas merupakan jawaban dari pertanyaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu: “Katakanlah, Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut..?” (QS. 5: 63)

       Redaksi ayat ini secara eksplisit mempertanyakan tentang siapakah orang yang mampu menyelamatkan dari bencana yang ada di darat dan di laut. Artinya, bahwa teks ayat ini hanya menyebutkan dua bencana, yaitu di darat dan di laut. Namun jawaban yang diberikan Al quran terhadap pertanyaan itu, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat sesudahnya, bahwa Allah-lah yang akan menyelamatkan dari bencana tersebut, baik di darat maupun di laut, bahkan Allah juga akan menyelamatkannya dari segala macam bentuk kesususahan. Dengan demikian, jawaban yang diberikan Al quran tersebut bersifat lebih umum dan lebih konprehensif dari apa yang dipertanyakan. Contoh jawaban yang lebih umum dari pertanyaan, juga dapat dijumpai pada QS. Thaha: 18. (al-Zarkasyi, 1988: 53)

     “berkata Musa: Inilah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (QS. 20: 18)

     Teks ayat di atas merupakan bentuk jawaban dari pertanyaan yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu: “apakah itu, yang di tangan kananmu, hai Musa?”. (QS. 20: 17)

       Dalam teks ayat ini, sebenarnya Allah hanya mempertanyakan kepada Nabi Musa perihal apa yang ada di tangan kanannya. Kemudian, pertanyaan itu oleh Nabi Musa dijawab bahwa yang ada di tangan kanannya adalah tongkat. Dengan jawaban yang demikian, sebenarnya sudah mencukupi bagi si penanya dan sudah dapat dipahami. Namun, Nabi Musa menambahkan dalam jawabannya sesuatu yang terkait dengan fungsi tongkat tersebut, yaitu untuk bertelekan, memukul daun, dan beberapa fungsi lainnya. Hal yang demikian, dilakukan Nabi Musa karena ia merasa senang dengan pertanyaan Allah yang dilontarkan kepadanya. (Ichwan, 2002: 77)

      Kadang-kadang bentuk jawaban terhadap suatu pertanyaan yang diajukan bersifat lebih sempit cakupannya dari apa yang dipertanyakan, karena memang demikianlah yang dikehendaki. Bentuk jawaban semacam ini terdapat dalam surat Yunus ayat 5:

       “katakanlah: tidak patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.” (QS. 10:15)

       Ayat ini sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang disebutkan sebelumnya yang masih dalam ayat yang sama, yaitu: “Datangkanlah Al quranyang lain dari ini atau gantilah dia.”

         Dalam teks ayat di atas, setidaknya ada dua pertanyaan pokok, yaitu perintah untuk mendatangkan Al quran yang lain, selain Al quran sudah ada, dan jikalau tidak dapat, maka disuruh untuk menggantinya. Terhadap pertanyaan ini, jawaban yang diberikan Al quran tidak mencakup kedua hal dimaksud, tetapi hanya terpokus pada satu hal, yaitu yang terkait dengan perintah menggantinya. Jawaban yang diberikan Al quran memang demikian. Hal ini mengingat bahwa mengganti itu lebih mudah daripada menciptakan kembali. Jika mengganti saja sudah tidak mampu, apalagi untuk menciptakan, pasti akan lebih sulit.

      Al quranjuga menyebutkan beberapa pertanyaan yang tidak perlu untuk dijawab, karena sudah jelas bahwa yang mengetahui jawabannya hanya Allah. Misalnya pertanyaan yang diajukan kaum musyrikin tentang hari kiamat dan kapan terjadinya (QS. al-A’raf: 187) dan tentang hari berbangkit (QS. al-Ahzab: 63). Selain itu, ada beberapa bentuk pertanyaan yang diulang-ulang oleh mereka, padahal sebenarnya tidak ada manfaatnya, maka kita akan temukan jawabannya: Sesungguhnya hanya Allah-lah yang tahu. Contoh lain dari pertanyaan yang kurang berarti, seperti tentang gunung atau jabal. (Qardhawi,1998: 245)

     “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: Tuhan-ku akan menghancurkannya (di ahri kiamat) sehancur-hancurnya.” (QS. Thaha: 105)

      Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebagian datang kaum Yahudi, seperti pertanyaan tentang roh, atau tentang Dzulkarnain.Akan tetapi, sebagian besar pertanyaan yang datang dari orang-orang Islam atau para sahabat Rasulullah saw., meski sangat sedikit, namun semuanya mempunyai bobot ilmiah yang baik. Baik pertanyaan itu yang berkaitan dengan kehidupan manusia maupun tantang alam sekitar. Seperti pertanyaan tentang perhitungan bulan (hilal), pertanyaan yang apa yang harus diinfaqkan (madza yunfiqun). Pertanyaan ini terulang dua kali dalam surat al-Baqarah dan jawaban dari dua pertanyaan ini berbeda. Pertama, menunjukkan ukuran harta yang harus diinfaqkan. Kedua, apa yang harus diinfaqkan.

      Contoh lain pertanyaan-pertanyaan dalam al-Qur’an, adalah pertanyaan tentang arak (khamar) dan judi (QS. al-Baqarah: 219). Karena pada waktu itu sebagian umat muslim masih meminum khamar dan berjudi, sehingga turun ayat yang secara tegas mengharamankannya, yaitu pada surat al-Maidah. (al-Shan’ani, 1989: 88). Selain pertanyaan tersebut, khususnya dalam surat al-Baqarah dapat dijumpai pertanyaan-pertanyaan lainnya, seperti pertanyaan tentang haid, anak yatim, apa yang dihalalkan dan sebagainya.

CIRI-CIRI AYAT-AYAT PERTANYAAN


   
      Pertanyaan-pertanyaan dalam Al quranbanyak dijumpai dengan menggunakan kata tanya (ism al-istifham). Ism istifham yang digunakan dalam konteks ayat pertanyaan tersebut menggunakan beberapa kalimat, seperti: hal ﻫﻝ , maa ﻤﺎ , madza ﻤﺎﺬﺍ , ‘amma ﻋﻢ, ayyu ﺍﻱ , man[1] ﻤﻦ dan sebagainya. (Nadwi, 1996: 276). Adapun ayat-ayat pertanyaan yang menggunakan huruf istifham, antara lain:


ﻫﻝﺍﺘﺎﻚ ﺣﺪﻳﺚﺍﻠﻐﺎﺷﻴﻪ[2]
ﺃﻔﺭﺃﻴﺘﻢ ﻣﺎﺗﺤﺭﺜﻮﻥ[3]
ﻤﺎﺬﺍﺃﺮﺍﺪﺍﷲ ﺑﻬﺬﺍ ﻣﺜﻶ[4]
ﻋﻢ ﻴﺗﺴﺎﺀﻟﻮﻦ[5]
ﺍﻴﻜﻢ ﺰﺍﺪﺗﻪﻫﺬﻩ ﺇﻴﻣﺎﻧﺎ[6]
ﻤﻦﺧﻟﻖﺍﻠﺳﻣﻮﺍﺕ ﻮﺍﻷﺮﺾ
      Selain memakai ism al-istifham, Al quranjuga menggunakan kalimat sa’ala yang menunjukkan secara langsung bahwa konteks ayat tersebut adalah berupa pertanyaan. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa pertanyaan kaum Muslimin kepada Nabi Muhammad saw, dengan menggunakan kalimat sa’ala atau yas’alunaka ada empat belas tempat, yaitu: QS. al-Baqarah: 186, 189, 215, 217, 219[8], 220, 222; QS. al-Maidah: 4; QS. al-Anfal: 1; QS. al-Isra’ 85; QS. al-Kahfi: 83; QS. Thaha: 105; dan QS. al-Nazi’at: 42. (al-Zarkasyi, 1988: 62)

       Sementara al-Qardhawi, menyebutkan terdapat sebelas pertanyaan sahabat di dalam al-Qur’an. Tujuh di antaranya terdapat dalam surat al-Baqarah, satu dalam surat al-Maidah, dan yang lain dipermulaan surat al-Anfal. Kesemuanya menggunakan kalimat yas’alunaka, dan dua pertanyaan tentang wanita dengan kalimat yastaftunaka, ditambah satu pertanyaan dalam surat al-Baqarah ayat 186 dengan kalimat sa’alaka.

ﻭﺍﺬﺍ ﺴﺄﻠﻚﻋﺑﺎﺪﻱﻋﻧﻲﻓᥴ0;ﻧﻲﻗﺮﻴﺐ

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat…”(QS. al-Baqarah: 186)

     Adapun lafadz pertanyaan, bila digunakan untuk meminta suatu pengertian, maka terkadang ia bermuta’addi kepada maf’ul kedua (maf’ul tsaniy) secara langsung dan terkadang menggunakan kata bantu ‘an ﻋﻦ seperti dalam surat al-Isra’ ayat 85, yaitu pertanyaan tentang ruh.

     Dan apabila dipergunakan untuk meminta sesuatu benda atau yang sejenis, maka ia bermuta’addi kepada maf’ul kedua secara langsung dengan menggunakan kata bantu min ﻤﻦ , namun cara yang disebutkan pertama lebih banyak dipakai. (al-Qathan, 1988: 206)


PENUTUP

       Terdapat beberapa bentuk pertanyaan dan jawaban dalam al-Qur’an. Bentuk dan pola-pola tersebut menunjukkan bahwa Al quranmemberikan gambaran kepada umat manusia tentang berbagai dinamika dalam suatu tanya jawab dan dialog. Dari berbagai dialog atau pembicaraan yang terjadi di masa lalu, tentunya umat manusia dapat mengambil hikmah dan pelajaran, baik dalam segi konteks atau maksud pembicaraannya maupun dalam segi gaya berkomunikasi dan respon yang diberikan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sangat pantas disebutkan bahwa salah satu segi kemukjizatan Al quran adalah dari segi cara Al quranmemberikan atau menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat sempurna sekaligus memiliki gaya bahasa yang tinggi.


DAFTAR PUSTAKA
  • Abd al-Razaq bin Hammam al-Shan’ani, Tafsir al-Qur’an, jilid 1, Maktabah al-Rusyd, Riyadh, 1989
  • Abdullah Abbas Nadwi, Belajar Mudah Bahasa al-Qur’an, terjemahan: Tim Redaksi, Mizan, Bandung, 1996
  • Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-Nuzul, Dar al-Fikr, Beirut, 1988
  • Badr al-Din Muhammad bin Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz 4, Dar al-Fikr, Beirut, 1988
  • Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jilid. 1, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah, Beirut, 1996
  • Khalid Abdurrahman al-‘Akk, Ushul al-Tafsir wa Qawa‘iduhu, Dar al-Nafs, Beirut, 1994
  • Manna’ al-Qathan, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, jilid 2, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, 1988
  • Nor Ichwan, Memahami Bahasa al-Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002
  • Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, terjemahan: Abdul Hayyie al-Kattani, Irfan Salim, dan Sochimien, Gema Insani, Jakarta, 1998

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis