Aneka Ragam Makalah

Tantangan Allah Untuk Membuat Tandingan Al-Quran


Makalah Tantangan Allah Untuk Membuat Tandingan Al-Quran

BAB I
PENDAHULUAN

Makalah ini akan mencoba menguraikan tentang tantangan Allah Untuk Membuat Tandingan Al-Quran dan beberapa hal yang berhubungan dengannya seperti kondisi dan konteks turunya ayat-ayat tersebut. Setiap Rasul dan Nabi selalu dibekali dengan mu’jizat yang akan menjadi bukti kebenaran keNabiannya atau kerasulannya, seperti Nabi Isa yang bisa mengobati segala penyakit dan menghidupkan orang yang mati, atau seperti Nabi Sulaiman yang bisa berkomunikasi dengan segala binatang. Unsur luar biasa yang terkandung dalam mu’jizat ini dimaksudkan sebagai dorongan bagi manusia untuk berpikir.[1]

Sejarah mengatakan bahwa mu’jizat seorang Nabi atau Rasul merupakan hal yang sesuai dengan zamannya, atau hal yang sedang berkembang dan digandrungi oleh masyarakat yang diseru untuk beriman kepada Allah, seperti merubah tali menjadi ular ketika masyarakat Mesir kala itu sedang menggandrungi sihir, atau keindahan bahasa Alquran untuk orang Arab yang sangat menyukai bahasa yang indah, fasih dan baligh.[2]

Alquran yang menjadi mu’jizat Nabi Muhammad SAW adalah bukti terkuat untuk saat itu atas kebenaran risalah Muhammad, keindahannya yang merupakan hal yang paling mudah dicerna oleh orang Arab yang nota bene adalah pengagum karya sastra mengalahkan segala keindahan syair-syair kaum Quraisy. Meskipun sebenarnya tidak ada lagi alasan bagi orang kafir dan kaum Quraisy Mekkah juga kaum Munafik Yahudi khusunya untuk tidak mempercayai kebenaran seruan Nabi Muhammad tapi mereka tetap tidak mengakui kebenaran risalah Muhammad.

Salah satu bentuk perlawanan mereka adalah tuduhan yang mereka lontarkan bahwa Muhammad sendirilah yang membuat dan mengarang Alquran, sebuah tuduhan yang manis dalam arti mereka mengakui kehebatan Nabi tapi mengingkari kerasulannya. Dalam pertarungan seperti inilah Allah menurunkan beberapa ayat yang berisi tantangan bagi mereka dan siapa saja setelah mereka untuk membuktikan bahwa Alquran itu memang karya cipta manusia dengan membuat tandingan Alquran.

Makalah ini akan mencoba menguraikan tentang tantangan tersebut dan beberapa hal yang berhubungan dengannya seperti kondisi dan konteks turunya ayat-ayat tersebut. Makalah ini juga akan banyak menyinggung tentang kemu’jizatan AlQuran dan sisi I’jaznya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Bangsa Arab Dan Sastra Arab Pra-Risalah
Bangsa Arab yang hidup di semananjung Arab adalah bangsa yang harus berusaha lebih untuk bertahan hidup, hal ini dikarenakan daerah yang tandus yang mereka diami tidak memberikan sumber kehidupan yang mencukupi. Mereka, mayoritas merupakan pedagang meskipun tidak juga sedikit yang hidup dari pertanian dan profesi lainnya.

Perdagangan yang merupakan mayoritas pekerjaan orang Arab direkam dan dijadikan sebagai bahan ungkapan oleh Alquran. Banyak kata dan permisalan yang digunakan oleh Alquran “bersumber” dari istilah-istilah perdagangan seperti mitsqal, mizan, ajr, jaza’, yattajirun, hisab, robiha, khosiro dan lain sebagainya.[3]

Bangsa Arab juga merupakan bangsa yang mempunyai minat tinggi terhadap bahasa, mereka mempunyai kebiasaan mengirimkan anak-anak mereka untuk mempelajari bahasa kepedalaman. Mereka memberikan apresiasi yang sungguh besar bagi seseorang yang fasih dan baligh dalam berbicara. Sastra merupakan salah satu bentuk kehormatan bagi mereka, tak heran jika beberapa genre sastra berkembang pesat dikalangan bangsa Arab kala itu.[4] Mereka beradu kebolehan dalam menggubah puisi secara rutin di pasar-pasar atau di tempat berkumpulnya orang-orang, karya yang paling bagus akan mendapatkan kehormatan untuk ditempelkan di dinding ka’bah, seorang pujangga akan semakin terkenal dengan banyaknya mu’alloqot yang ia ciptakan.

Puisi yang merupakan genre yang yang paling disenangi biasanya berkisar pada hal, benda atau kejadian yang kasat mata, seperti wanita, unta, raja atau perang[5], maka tak heran jika puisi yang mereka gubah haruslah menggunakan kata-kata atau ungkapan hiperbola -yang tentu tidak terlepas dari unsur kebohongan- untuk memperindah karyanya.[6]

Ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat-ayat suci yang indah dari segi bahasanya untuk saat itu, sontak saja mereka kaget dan mengakui keindahan susunan kata, fashl, izaz, surah bayaniyah, balaghah, ma’ani dan badi’nya. Selain bahasa yang merupakan keindahan Alquran kala itu juga adalah kandungannya tentang cerita tentang ummat-ummat terdahulu.

Akan tetapi ketika keindahan itu disertai dengan pengakuan Muhammad tentang risalah dan agama baru, meninggalkan agama lama dan berhala, mereka lantas tidak mau mengakui kebenaran ayat Alquran sebagai firman Tuhan. Kesombongan dan rasa harga diri mereka membuat mereka menolak ajaran Muhamad. Berbagai tuduhan mereka lontarkan seperti; tukang sihir, tukang tenung, pendongeng dan orang gila yang membuat sendiri Alquran.[7]

B. Mukjizat AlQuran
Sangat perlu untuk membahas tentang mu’jizat Alquran sebelum membahas tentang kandungan ayat-ayat tantangan untuk membuat tandingan Alquran, agar pertanyaan “Alquran, apanya saja yang ditantang untuk membuatnya”, untuk saat itu dan sekarang.

I. Definisi Mukjizat
Kata mu’jizat berasal dari bahasa Arab, ajaza yang merupakan kata dasarnya berarti lemah, tidak mampu atau tidak kuasa.[8] Kata ini merupakan kata kerja intransitif (lazim), kemudian dijadikan transitif (muta’addiy) dengan menambahkan huruf hamzah diawalnya atau dengan menambahkan tadi’efh, hingga menjadi a’jaza atau ajjaza yang berarti mebuatnya lemah atau menjadikan tidak kuasa.[9] Kata a’jaza inilah yang kemudian dengan sighat ism fai’l berubah menjadi mu’jiz atau mu’jizatun, yang menurut etimologi berarti yang melemahkan.

Dalam buku Mukjizat Al-Qur’an, Quraish Shihab lebih lanjut menjelaskan bahwa pelaku yang melemahkan itu dalam bahasa Arab dinamai dengan معجِز (mu’jiz). Bila kemampuan pelakunya dalam melemahkan pihak lain sangat menonjol sehingga mampu membungkam lawan-lawannya, maka ia dinamai معجِزة(mu’jizat). Tambaha (ة ) pada akhir kata itu mengandung makna superlatif (mubalaghah).[10]

Mukjizat didefinisikan oleh kebanyakan pakar agama Islam sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti keNabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, utnuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu malayani tantangan itu.” Sebagaimana diungkapkan oleh Al-Suyuthi dalam Al- Itqan ;

المعجزة : أمر خارق للعادة ، مقرون بالتحدى ، سالم عن المعارضة ، وهي إما حسية وإماعقلية. [11]

Menurt Manna Qatthan kata mu’jizat berarti hal yang luar biasa yang tampak pada seorang Rasul atupun Nabi yang tidak mungkin untuk ditandingi,[12] Louis ma’luf juga mengatakan hal tidak jauh berbeda dengan pendapat diatas. Memang tidak begitu banyak perbedaan yang mendasar tentang defenisi Mu’jizat ini.

II. Sisi Kemukjizatan AlQuran
Sisi kemu’jizatan Alquran ini adalah salah satu hal yang sangat variatif, banyak terdapat perbedaan pendapat tentang apa saja yang menjadi mu’jizat Alquran itu, sebagian mengatakan bahasanya dan kandungannya, sebagian lagi mengatakan bahkan satu hurufnya saja merupakan mu’jizat, kandungannya terhadap teori-teori ilmiah.

Dalam buku “Membumikan Al-Quran”, Quraish Shihab menjelaskan paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar-benar bersumber dari Allah SWT. Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis, ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif mengenal peradaban, seperti Mesir, Romawi atau Persia. Ketiga aspek tersebut adalah pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Kedua, pemberitaan-pemberitaan gaibnya, dan yang ketiga isyarat-isyarat ilmiahnya.[13]

Bila diteliti lebih lanjut pendapat para mufassirin tentang i’jaz Al-Quran, maka akan didapati pendapat mereka yang sangat variatif. Sebagian mufassirin, diantaranya Imam Fakruddin, az-Zamlukany, Ibn Hazam, al-Khutabi berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Quran karena fashahat dan balaghat–nya secara keseluruhan. Sedangkan yang lain seperti al-Marakasy berpendapat bahwa I’jaz tersebut disebabkan ia memiliki unsur-unsur keteraturan, kesinambungan dan penyusunan yang berbeda dengan kaedah-kaedah bahasa konvensional kalam Arab. Dalam hal ini, sulit bagi mereka (orang Arab) untuk mengetahui rahasia-rahasia i’jaz Al-Quran, baik mereka lihat dari sisi syairnya, balaghatnya, khitabnya dan lain sebagainya, sekalipun diantara mereka adalah orang-orang yang ahli dalam sastra dan bahasa.[14]

Ada juga sebagian mufassir yang lain melihat I’jaz Al-Quran tersebut dari sisi prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya, khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan sosial (al-ijtima’iyyat), politik (al-siyasat) dan norma-norma (al-akhlaqiyat). Aspek-aspek tersebut bagi masyarakat Arab saat itu adalah sesuatu yang belum pernah terpikirkan mereka sebelumnya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Alquran membawa informasi-informasi baru yang di luar perkiraan manusia. Dari sini jelas bahwa Alquran mengandung dasar-dasar dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, yang pada dasarnya tidak mungkin dihasilkan oleh seorang Muhammad yang “ummi” (menurut sebagian besar ulama)[15]

Al-Rumani, dalam buku Salasu Rasail Fi I’jaz al-Quran melihat kemukjizatan Al-Quran dari tujuh macam segi, yaitu: [16]
  • Tidak adanya yang mampu menyaingi ( ترك المعارضة ).
  • Tantangan Al-Quran yang global (semua manusia dan jin) ( التحدى للكافة).
  • Adanya pemalingan ( الصرفة) .
  • Balaghah Al-Quran البلاغة )).
  • Berita-berita gaib yang akan datang (الأخبار الصادقة عن الأمور المستقبلة ).
  • Pembatalan kebiasaan-kebiasaan ( نقض العادة).
  • Qiasnya terhadap segala mukjizat ( قياسه بكل معجزة ).
Kemu’jizatan Alquran ini kemudian dirangkum oleh Manna Qaththan, menurutnya mu’jizat Alquran terletak pada kata-katanya, hurufnya, susunannya, bayannya dalam memberikan informasi, nazhmnya,kandungannya tentang ilmu, hukum dan kekuatannya dalam menjaga hak asasi manusia. Banyak orang salah yang menganggap bahwa Alquran juga mengandung seluruh teori ilmiah, padahal teori ilmiah itu bersifat dinamis, sedangkan yang merupakan mu’jizatnya dalam hal ini adalah kekuatannya dalam mengajak manusia untuk berfikir dan mencari ilmu.[17]

Menurut kami bahwa salah satu bentuk kemu’jizatan ini adalah keabadiannya, keeksisannya hingga zaman sekarang, begitu juga kekuatannya untuk menjadi beberapa sumber ilmu, seprti Fikih, Ushul Fikih, Nahwu, Sharf, Bayan, Ma’ani dan Badi’. Denga kata lain tidak ada suatu tulisanpun yang paling diminati orang di muka bumi ini menyaingi Alquran hingga menghasilkan beberapa disiplin Ilmu. Juga kemampuannya menjelaskan sesuatu dan melukiskannya dengan sarana terbaik, menerangkan sesuatu dengan makna yang mudah difikirkan, atau menjelaskan suasana psikologik dengan imajinatif dengan sesuatu yang dapat diraba dan dirasakan dengan konkrit.[18]

II. Mu’jizat Dalam Tantangan Ayat Al-Quran
Sub bab ini adalah untuk menjawab pertanyaan “apakah semua kandungan Alquran dimaksudkan dalam tantangan untuk membuat tandingan Alquran ketika turunnya?” tentu saja tidak karena bangsa Arab kala itu tidaklah mengenal kandungan-kandungan Alquran, seperti hukum, ilmu dan lain sebagainya.

Mu’jizat bahasa adalah hal yang paling utama dalam tantangan ini,[19] karena unsur itulah yang menjadi perhatian kaum Quraysy saat itu. Keindahan eksternal maupun internalnya merupakan hal yang dipuji sekaligus diingkari oleh kaum Quraysy.

Uslubnya, tasybih, majaz, kinyah, fasohah, balaghah, ma’ani, qashr, washl, fashl, ijaz, irama (musiqul uslub, musiqul wazan dan musiqul fawasil), saja’, tajanus, husnut taqsim, jinas, tarshi’, tasythir, raddul I’jaz alas shudur, tauriyah,tibaq, muqabalah[20] dan lain sebagainya adalah unsur-unsur yang menjadi keindahan bahasa Alquran dalam pandangan ilmu Balaghah. Seperti ayat :

يوم تقوم الساعة يقسم المجةمون ما لبسوا غير ساعة # فأما اليتيم فلا نقهر و أما السائل فلا تنهر # إن الأبرار لفى نعيم و إن الفجار لفى جحيم # و تخشى الناس و الله أحق أن تخشاه # و هو الذى يتوفاكم بالليل و يعلم ما جرحتم بالنهار # و تحسبهم أيقاظا و هم رقودا # لكيلا تأسوا على ما فاتاكم و لا تفرحوا على ما أتاكم
Selain itu menurut Manna Qaththan bahwa informasi tentang ummat-ummat terdahulu juga merupakan unsur dalam tantangan Allah.[21] Dan menurut sebagian besar ulama keummiyan rasul juga terkandung didalamnya.[22]

D. Tantangan Allah Untuk Membuat Tandingan Al-Quran
Paling tidak ada empat ayat yang merupakan tantangan bagi mereka yang tidak mempercayai kebenaran Alquran saat itu, keempat ayat itu adalah :
و إنكنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله و ادعوا شهداءكم من دون الله إتكنتم صادقين ( البقرة : 24 )
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.( al-Baqarah: 24 )
أم يقولون افتراه قل فأتوا بسورة مثله و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( يونس : 37 )
Atau (patutkah) mereka mengatakan “ Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah : “(kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. ( Yunus : 38)
ام يقولون افتراه قل فأتوا بعسر سور مثله مفتريات و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( هود : 13 )
Bahkan mereka mengatakan :” Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, katakanlah:”( kalau demikian ), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.( Hud : 13)
فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين ( الطور : 34 )
Maka hendalah mereka mendatangkan kalimat kalimat yang semisal dengan Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar (At-at-Thur : 34)

Tapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayat yang merupakan tantangan untuk membuat tandingan Al-Quran hanya ada tiga ayat, dalam arti tiga tingkatan. Seperti Manna qaththan yang mengatakan memberikan tiga tingaktan tantangan dengan empat ayat, yang pertama adalah Al-Isro ayat 88 yang berbunyi:
قل لئن اجتمعت الإنس و الجن على أن يأتوا بمثل هذا القرأن لا يأتون بمثله و لو كان بعضهم لبعض ظهيرا
Artinya: katakanlah:”sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka menjadi pembantu dengan yang lainnya”
Diteruskan dengan membuat sepuluh surat saja pada surat Hud ayat 13, yang kalau itu juga mereka tidak mampu maka diteruskan untuk membuat satu surat saja yaitu pada surat Yunus ayat 38 yang kemudian diulangi pada surat al-Baqarah ayat 24.[23]

I. Tafsir Ayat
a. at-Thur : 34 (Makkiyah turun setelah surah As-Sajdah)
فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين ( الطور : 34 )
Maka hendalah mereka mendatangkan kalimat-kalimat yang semisal dengan Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar (Atu-at-Thur : 34 )

Al-Hadist berarti perkataan dan kabar, hal ini disetujui banyak mufassirin dan ahli bahasa.[24] Sebab turunnya ayat ini diberitahu pada ayat sebelumnya yaitu:
أم يقولون تقوله بل لا يؤمنون ( الطور : 33 )
Ataukah mereka mengatakan: “ dia ( Muhammad ) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman.( At-at-Thur : 33 )

az-Zamakhsyari menafsirkan apabila memang mereka mengatakan Muhammadlah yang membuat Alquran maka tentu kalian juga bisa membuatnya, maka buatlah perkataan yang mirip dengannya[25] Sedangkan Sayyid Qutub menafsirkan bahwa sebenarnya mereka yang mengatakan Muhammadlah yang membuat Alquran semebnarnya mengakui bahwa siapapun tidak akan bisa untuk membuat seperti Alquran, tapi kebutaan hati membuat mereka berpaling dari Alquran karena itulah Allah menantang mereka untuk membuat perkataan yang mirip dengannya.[26] Menurut mereka inilah tantangan untuk membuat seperti Alquran secara keseluruhan

b. Hud : 13 (Makkiyah)
ام يقولون افتراه قل فأتوا بعسر سور مثله مفتريات و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( هود : 13 )
Bahkan mereka mengatakan :” Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, katakanlah:”(kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.( Hud : 13)

Iftaroo berarti mengarang atau membuat-buat.
Jika kita melihat ayat sebelumnya
فلعلك تارك بعض ما يوحى إليك و ضائق به صدرك أن يقولوا لو لا أنزل عليه كنز أو جاء به ملك إنما أنت نذير و الله على كل شىء وكيل ( هود : 12 )
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “ mengapa tidak diturunkn padanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” sesunggunya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu ( Hud : 12 )

Zamaksyari mengartikan kedua ayat ini “ Muhammad jangan cemas dengan ulah mereka, jangan cemas dan takut untuk menyampaikan firman Allah karena mereka mengatakan : kalau memang itu mu’jizat kenapa tidak turun saja harta yang berlimpah, atau mereka mengatakan : Muhammadlah yang membuat Alquran” maka tantanglah mereka untuk membuat sepuluh surat saja.[27]

c. Yunus : 38 (Makkiyah)
أم يقولون افتراه قل ل فأتوا بسورة مثله و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( يونس : 37 )
Atau (patutkah) mereka mengatakan “ Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah : “(kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. ( Yunus : 38)

Surah berarti nama yang digunakan merujuk kepada “bab” dalam Alquran yang berjumlah 114. kata surah muncul sembilan kali dalam Alquran dan sekali dalam bentuk suwar, yang merujuk kepada kesatuan unit wahyu yang diturunkan bukan dengan pemahaman seperti yang seakrang ini.[28]

Asal-usul kata surah juga masih diperdebatkan, sebagaian mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Ibarani Syura yang berarti jajaran atau urutan, sebagian lagi menganggap berasal dari bahasa Suryani surtha yang berarti tulisan atau teks kitab suci.[29] Sedangkan Ahmad Warson mengartikan suroh kepada sesuatu yang membatasi dengan sesuatu yang lainnya, seperti jajaran, tembok, pagar, keutamaan dan lain-lain.[30]

Az-az-Zamakhsyari menafsirkan ayat ini dengan melihat ayat sebelumnya
و ما كان هذا القرأن أن يفترى من دون الله ولكن تصديق الذى بين يديه و تفضيل الكتاب لا ريب فيه من رب العالمين ( يونس: 37 )
Tidaklah mungkin Alquran ini dibuat selain Allah; akan tetapi (Alquran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya dan, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. ( Yunus : 37)

Apabila mereka tidak percaya bahwa Alquran merupakan pembenar bagi kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan hukum-hukum yang ada didalamnya, tidak ada keraguan didalamnya, atau mereka menuduhmu membuat Alquran maka katakanlah:”apabila kalian memang orang-orang yang benar (apabila tuduhan kalian benar) bahwa aku membuat Alquran maka kalian juga tentu bisa membuat Alquran, maka buatlah satu surat saja yang serupa.[31]

Jika kita menyamakan domir hi (ه) yang ada pada surat Yunus ini dengan domir yang sama pada surat al-Baqarah, maka sebagian ulama menafsirkan bahwa selain domir itu kembali kepada Alquran juga bisa dikembalikan kepada Muhammad dengan keummiyannya (bagi yang mempercayai bahwa Muhammad memang Ummiy), dengan kata lain buatlah satu sura saja yang sama dengan Alquran atau buatlah satu surat saja yang sama dengan kondisi Muhammad yang ummiy.[32] Tapi menurut Abu Bakar bahwa domir hi pada ayat ini tidak bisa dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, karena kata Muhammad atau yang merujuk kepadanya tidak ditemukan pada ayat ini, menurutnya inilah perbedaan ayat ini dengan surah al-Baqarah ayat 24, selanjutnya kata mitslihi berarti satu surah yang sama dengan Alquran dalam kefasihannya, balaghnya dan nazhmnya.[33]

Sedangkan kata bi, kebanyakan para mufassir tidak memberi komentar apakah kata itu menunjukkan arti sebahagian seperti dalam bi dalam ayat wudhu’ فامسحوا برووسكم , seandainya bi dalam surat ini sama artinya dengan bi pada ayat wudhu’-yang menurut kebanyakan ulama berarti sebahagian- maka ayat ini menantang untuk membuat sebahagian surat saja. Atau bi yang dimaksud disini adalah pasangan kata kerja ataa, yang artinya membawa, seperti kata اتينى بأبيك yang berarti “ bawalah ayahmu kemari”.

d. al-Baqarah : 24 (Madaniyah)
و إنكنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله و ادعوا شهداءكم من دون الله إتكنتم صادقين ( البقرة : 24 )
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.( al-Baqarah: 24 )

Nazzala berarti menurunkan, bendanya dengan anzala adalah yang pertama menunjukkan penurunan secara periodik sedangkan yang kedua berarti penurunan sekaligus. [34] suroh berarti seperti yang kita kemukakan diatas, akan tetapi masih menurut Az-az-Zamakhsyari bahwa surah disini berarti bagian dari Alquran minimal terdiri dari tiga ayat,[35] pendapat ini bisa diterima karena memang ayat ini turun di Madinah yang kemungkinan besar sudah ada satu surah penuh yang sudah turun.

Kata Min mitslihi diartikan oleh mayoritas ulama dengan “yang serupa dengan Alquran itu”, tapi tidak sedikit juga yang menganggap bahwa domir hi dikembalikan kepada Muhammad, karena memang disini sudah ada kata yang merujuk kepada Muhammad yaitu abdina. Mufassir yang berpendapat bahwa domir ini bisa dikembalikan kepada Muhammad adalah seperti Abu Bakar Jabbar yang mengatakan “seperti Muhammad dengan keummiyannya” dan az-Zamakhsyari,[36] sedangkan mufassir yang mengatakan sebaiknya domir ini dikembalikan kepada Alquran adalah seperti Alauddin Ali Al-Khozin.[37] Kami lebih cendrung dengan pendapat ini karena penisbatan yang langsung kita fahami tentu saja kepada Alquran.

Syuhada berarti penolong-penolong, termasuk tuhan-tuhan yang mereka anggap bisa menolong mereka pada hari Kiamat, termasuk juga dengan berhala-berhala yang mereka sembah, penafsiran seperti ini akan terlihat bagus jika kita mengkaitkannya dengan ayat sesudahnya
فإنلم تفعلوا و لن تفعلوا فاتقوا النار التى وقودها النلس و الحجارة أعدت للكافرين ( البقرة : 25 )
Maka kamu tidak dapat membuatnya dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir (al-Baqarah : 25 )

Kata al-hijaroh disini menurut sebagian ulama berarti berhala-berhala yang rata-rata dibuat dari batu.[38]

Menurut Sayyid Qutub bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Yahudi Madinah yang sebenarnya telah mengetahui kebenaran Alquran, dan juga tentang munafik Mekkah yang selalu merongrong Islam dari dalam.[39] Sedangkan Az-Zmakhsyari mengatakan bahwa yang ditantang pada ayat ini adalah orang musyrik (tanpa keterangan apakah musrik Madinah atau Mekkah atau Yahudi), lebih lanjut ia menafsirkan ayat ini, bahwa orang-orang musyrik yang tidak mempercayai kebenaran Alquran berkata ”seandainya memang Alquran itu mu’jizat kenapa tidak diturunkan sekaligus saja” seperti yang difirmankan Allah dalam surah al-Furqan ayat 32. lalu Allah menantang mereka untuk membuat sedikit saja yang sama dengan Alquran.[40]

Sedangkan kandungan ayat sesudahnya, para ulama setuju bahwa ayat ini menjamin bahwa tantangan ini tidak akan terlaksana hingga kapanpun. Firman Allah itu berarti:” apabila kalian tidak bisa membuatnya berarti telah jelas kesucian Alquran maka ia pantas diimani dan dipercaya sebagai mu’jizat Nabi, kalau kalian masih menolak maka takutlah kepada api neraka yang sangat bergejolak, api yang tidak sama dengan api dunia yang menyala dengan manusia dan batu sebagai kayu bakarnya”[41]

Mereka yang tidak mempercayai kemu’jizatan Alquran ternyata hingga sekarang tidak bisa meladeni tantangan itu. Sedangkan para Quraysy yang telah ditantang oleh Allah tidak bisa membuat tandingan Alquran karena beberapa hal:[42]

kefasihan mereka dalam berbicara hanya dalam menyifati atau menjelaskan tentang sesuatu yang kasat mata, seperti wanita, unta dan lain-lain ,sementara Alquran datang dengan hal-hal baru yang belum pernah dilihat oleh mata. kefasihan Alquran tidaklah dalam sebagian ayatnya saja tapi seluruh kata yang ada didalamnya adalah fasih, sementara para Quroysy hanya bisa membuat sebagian dari gubahannya yang bisa dikatakan fasih dan indah. bagaimanapun mereka tentu tidak sanggup untuk mebuat syair sebanyak Alquran.

Alquran dengan keindahan, fashohah, balaghah, badinya tidaklah menggunakan kata-kata yang membesarkan-besarkan fakta untuk memperindah redaksinya, sedangkan syair-syair orang Arab harus menggunakan hal-hal semacam itu.

Bila kaum Quraysy hanya ditantang untuk membuat tandingan Alquran hanya dari segi keindahan bahasanya saja-karena memang pada saat itu mereka baru memahami keindahan bahasanya saja- maka tantangan itu sekarang bertambah dengan segala aspek I’jaznya, baik bahasa, isi, keabadian, kekuatannya membangkitan minat orang untuk berfikir dan lain sebagainya.

II. Urutan dan Tingkatan Ayat
Sebelumnya kita perlu mengaskan kembali makna ayat-ayat diatas hingga kita bisa mengkategorikan dan mengkelaskan ayat-ayat diatas, dan setelah itu kita akan membahas tentang urutan turunnya ayat-ayat diatas. Kata bi haditsin mitslihi yang ada pada surah At-at-Thur bila diterjemahkan sebagai keseluruhan Alquran pada masa itu, seperti yang ditafsirkan oleh Manna Qaththan, az-Zamakhsyari, Alauddin Ali dan Sayyid Qutub,[43] maka ayat ini berada pada tingkatan pertama, atau dengan kata lain inilah tantangan pertama. Tapi bila diartikan dengan “perkataan” yang maksudnya, perkataan yang tidak mesti mirip sekali dengan Alquran maka ayat ini berada pada tingkatan terkahir setelah al-Baqarah.

Tantangan kedua turun setelah ternyata mereka tidak sanggup membuat seperti Alquran “seluruhnya”, maka cukuplah dengan sepluh surat saja. Dengan begitu surah Hud ayat 12 adalah yang turun setelah surah At-at-Thur. Tapi bila kita mengartikan surah at-Thur seperti dengan penafsiran kedua maka surah Hud ini adalah yang pertama. Yang turun setelahnnya adalah surat Yunus ayat 38, yang menyuruh membuat satu surat saja dan itupun dengan menambahi kata bi, yang bisa saja berarti sebahagian.

Kemudian disusul dengan surah al-Baqarah ayat 24, yang berisi tantangan untuk membuat sebagian kecil saja dari satu surat Alquran. Penafsiran ini seperti ini adalah penafsiran Zamkhsyari. Menurut kami memang kata bi dan min yang ada pada ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah sesuatu yang lebih sedikitadan lebih kecil dari surah Yunus ayat 38.

III. Urutan Turunnya Ayat
Informasi tentang sebab dan waktu turunya ayat sangatlah sedikit, beberapa literatur yang membahas tentang asbabun nuzul dan sejarah turunnya Alquran tidak mencantumkan keempat ayat ini.

Tapi bila kita melihat kepada urutan turunnya keempat ayat diatas berdasarkan surahnya maka bisa dikemukakan sebagai berikut:

Versi Ibn Abbas dan Al-kafi : Yunus (Makkiyah) merupakan surah yang pertama turun, surah ini berada pada urutan ke 50, disusul kemudian dengan surah Hud (Makkiyah) yang turun pada urutan ke 51, selanjutnya At-at-Thur (Makkiyah) pada urutan ke 75. barulah al-Baqarah (Madaniyah) urutan ke 1[44]

Versi Al-Hasan dan Ikrimah : Yunus (Makkiyah) urutan ke 50, Hud (Makkiyah) urutan ke 48, at-Thur (Makkiyah) urutan ke 73, dan al-Baqarah (madaniyah) urutan ke 2.[45]

Sarjana Barat Weil membaginya dengan lebih rinci: At-at-at-Thur (urutan ke 42) turun pada priode Mekkah awal. Kemudian disusul priode mekkah Akhir yaitu Yunus (urutan 7) dan Hud (urutan 8), dan kemudian al-Baqarah (urutan pertama) di priode Madinah.

Pencarian waktu turunnya ayat ini dengan mencari urutan turunya surah tidaklah efektif, karena wahyu yang turun merupakan unit dan kesatuan tanpa berurutan satu surah seperti yang ada pada mushaf sekarang ini. Seharusnya memang harus dicari urutan turunnya unit kesatuan wahyu, akan tetapi para ulama ilmuwan biasanya hanya mencantumkan urutan turunnya surat, karena urutan turunnya kesatuan wahyu sangat sulit didapat informasinya.

Ada satu ilmuwan yang membuat terobosan baru dengan mengedepankan tata urut turunnya unit wahyu yang terperinci, yaitu Hartwig Hirschfeld dengan penelitiannya yang berjudul New Research in to Composition And Exegesis of the Qur’an. Dalam informasi yang ia kemukakan kami mengurutkan keempat ayat ini, ayat mana yang pertama turun. Menurutnya unit surah at-Thur ayat 29-49 merupakan yang pertama turun yaitu pada priode konfirmatori, yakni setelah Muhammad diangkat jadi Nabi dan sebelum turun perintah berdakwah. Kemudian unit surah Yunus ayat 1-57 pada priode deklamatori dan deskriftif, yakni setelah turunnya ayat suruhan berdakwah (setelah Muhammad diangkat jadi Rasul), yang kemudian disusul dengan unit Surah al-Baqarah ayat 19-37, sebelum terjadinya perang Badar. Sayangnya ia tidak mendapatkan informasi tentang surah Hud, tapi dengan melihat matannya maka kemungkinan besar ayat itu turun sebelum unit surah Yunus 1-57. Meskipun menurut Taufiq Adnan Amal, banyak terjadi kesalahan dalam pembahasan Hartwig tapi apa yang dikritik oleh Taufiq bukanlah dalam ketiga unit ayat tersebut. [46]

Informasi yang dipaparkan oleh Hartwig ini sangat sinkron sekali dengan pendapat kebanyakan para Ulama yang mengurutkan Surah at-Thur pada urutan pertama yang disusul dengan surah Hud dan kemudian Surah al-Baqarah yang memang diturunkan berkenaan dengan Yahudi Madinah.

BAB III
PENUTUP

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa aspek-aspek yang merupakan tantangan bagi kaum Quraysy pada saat turunnya keempat ayat tersebut adalah aspek bahasa. Sedangkan bila tantangan itu diaplikasikan pada masa sekarang ini maka tentu seluruh aspek kemukjizatannya harus dipenuhi.

Menurut kebanyakan para ulama dan sarjana-sarjana Muslim maupun non Muslim, surah At-at-Thur ayat 34 merupakan tantangan pertama, untuk membuat seprti Alquran secara keseluruhan, yang disusul dengan surah Hud ayat 13 dengan sepuluh surat saja, dan surah Yunus ayat 37 dengan satu surat yang kemudian diulangi pada surat al-Baqarah dengan tingkat kemiripan yang lebih sedikit dari tantangan pada surah Yunus.

Tapi bila dilihat susunan surah berdasarkan Mushaf Utsmani, maka urutannya tidaklah seperti yang diatas, hikmah penyususnan surat-surat seperti dalam Mushaf Utsmani dalam kaitannya dengan urutan tantangan ini belum penulis temui dalam beberapa literatur. Begitu juga dengan waktu jeda satu ayat dengan ayat lainnya, karena disamping untuk mencari jarak waktu turunnya yang sangat sulit, mencari urutan turunnya unit ayat orisinal saja sangat susah untuk didapatkan.

Selanjutnya juga bila kita memperhatikan dan membandingkan empat ayat diatas dalam redaksi Alquran terjemahan Departemen Agama, kita akan menemukan ke-tidakjelasan perbedaajn arti antara surah al-Baqarah ayat 24 dengan surah Yunus ayat 38. para penerjemah yang bekerja di bawah koordinasi Departmen Agama ini tidak memberikan arti yang begitu berbeda antara kedua ayat tersebut. Kaladu dalam surah al-Baqarah dikatakan: buatlah satu surah saja yang semisal Alqur’an itu”, sementara dalam surah Yunus diartikan:”maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya”. Kita tidak bisa membedakan yang mana yang merupakan tantangan yang paling berat diantara kedua surah ini jika hanya berpegangan kepada Alquran terjemahan Depratemen Agama.

DAFTAR PUSTAKA
  • Al-Khozin, Alauddin Ali, Tafsir Khazin, jil. I. Libanon: Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995.
  • _______________, Tafsir Khazin, jil. II. Libanon: Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995.
  • Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001.
  • Az-az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasysyaf, jil. I. Libanon : Daar kutub Al-Ilmiyah, 1995.
  • _______________, Tafsir Al-Kasysyaf , jil. II. Libanon : Daar kutub Al-Ilmiuyah, 1995.
  • _______________, Tafsir Al-Kasysyaf , jil. IV. Libanon : Daar kutub Al-Ilmiuyah, 1995.
  • Banna, Haddam, Al-Balaghah Fi Ilmi Al-Ma’ani. Ponorogo : Darussalam,1991.
  • Esposito, John.L, Dunia Islam Modern I, terj. Eva dkk . Bandung : Mizan, 2002.
  • Ghufron, M. Al-Balaghah Fi Ilmi Al-Bayan. Ponorogo : Darussalam,1991.
  • _________, Al-Balagahah Fi Ilm Badi’. Ponorogo : Darussalam,1991.
  • Hasyimi, Ahmad, Jawahir Al-Adab. Beirut : Daar Kutub, 1996.
  • Jabbar , Abu Bakar, Aysarut Tafasir, jil. I. Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995.
  • Khalil, Munawwar. Al-Qur’an Dari Masa ke Masa. Solo:Ramadhani, 1985.
  • Makdisi, Goerge. The Rise Of Humanism In Classical Islam And The Chiristian West . Edinburgh : Edinburgh University Press, 1990.
  • Munawwir, Ahmad Warson. Al-munawwir. Yogyakarta : Pustaka Progressif, 1984.
  • Ma’luf, Louis. al-Munjid Fi al-Lughah Wa al-A’lam. Beirut : Daar Masyriq, 1982.
  • Salam, Muhammad Zaglul dan Muhammad Khalfullah Ahmad, Salasu Rasail Fi I’jaz Al-Quran: Li al- Rumani Wa al-Khuthabi Wa Abdul Qadir al-Jurjani. Mesir: Dar al-Ma’arif, t.t.
  • Shihab, Quraish, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1992.
  • ______________, Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah dan Pemberitaan Gaib. Bandung: Mizan, 1997.
  • Sholih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta : pustaka Firdausi, 2000.
  • Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran, Jil. IV. Kairo: Maktabah Dar Al-Turast, t.t.h.
  • Qatthan, Manna, Mabahits Fi Ulumil Qur’an. Mesir: Mansyuroti asril Hadist, tth.
  • Qutub, Sayyid, Fi Zhilalil Qur’an, jil. I. Libanon : Daar Masyriq, 1992.
  • _____________, Fi Zhilalil Qur’an, jil. VI. Libanon : Daar Masyriq, 1992.

FOOTNOTE
-----------------------------
[1] Munawwar Khalil, Al-Qur’an Dari Masa ke Masa (Solo:Ramadhani, 1985) hal. 59.
[2] Kesenangan orang Arab terhadap sastra khususnya pada genre pusis dapat ditelusuri dari kata aroba itu sendiri, Goerge Makdisi mengatakan bahwa aroba berarti orang yang bebicara dengan lancar, fasih tanpa kesalahan dan tanpa terputus-putus, lihat Goerge Makdisi, The Rise Of Humanism In Classical Islam And The Chiristian West (Edinburgh : Edinburgh University Press, 1990) hal. 120. lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Al-munawwir (Yogyakarta : Pustaka Progressif, 1984) hal. 911. dan Louis Ma’luf, Al-Munjid Fi Al-Lughah Wa Al-A’lam (Beirut : Daar Masyriq, 1982). Hal. 493

[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001) hal. 11.
[4] John, L.Esposito, Dunia Islam Modern I, terj. Eva dkk (Bandung : Mizan, 2002) hal . 153.
[5] Untuk contoh puisi-puisi ini silahkan lihat A.Hasyimi, Jawahir Al-Adab, (Beirut : Daar Kutub, 1996) hal. 331.
[6] Munawwar Khalil, Al-Qur’an, hal. 69.
[7] Manna Qatthan, Mabahits Fi Ulumil Qur’an (Mesir: Mansyuroti asril Hadist, tth) hal. 260.
[8] Ahmad Warson, Al-Munawwir, hal. 898. lihat juga Louis Ma’luf, Al-Munjid, hal. 488.
[9] Ibid.
[10] Lihat, M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah dan Pemberitaan Gaib, Cet. IV (Bandung: Mizan, 1997), h. 23
[11] Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran (Kairo: Maktabah Dar Al-Turast, t.t.), Jilid ke-4, h. 3.
[12] Mnna, Mbahits, hal. 257.
[13] Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Cet. XXIII (Bandung: Mizan, 1992), h. 29-32.
[14] Lebih lanjut al- Suyuthi, Al-Itqan, h. 7-12. Lihat juga, Muhammada Abu Bakar Al-Baqilany, I’jaz Al-Quran (Kairo: Daar al-Ma’arif, t.t.), h. 15. Al-Baqilany sendiri melihat sisi kemukjizatan Al-Quran itu dari tiga sisi, yaitu: Pertama, sisi pemberitaannya yang gaib (akhbar an algaib). Kedua, karena ke-ummi-an Rasul. Ketiga, susunan dan keteraturan bahasanya yang luar biasa dan menakjubkan.
[15] Manna, Mabahits, hal. 260.
[16] Muhammad Zaglul Salam dan Muhammad Khalfullah Ahmad, Salasu Rasail Fi I’jaz Al-Quran: Li al- Rumani Wa al-Khuthabi Wa Abdul Qadir al-Jurjani, Cet.3. (Mesir: Dar al-Ma’arif, t.t.), h. 75.
[17] Manna, Mabahits, hal. 260.
[18] Subhi Sholih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus (jakarta : pustaka Firdausi, 2001) hal. 427.
[19] Subhi Sholih, Membahas, hal. 427.

[20] Istilah-istilah diatas adalah term dalam ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’. Ilmu Bayan adalah ilmu metode pendeskripsian dengan berbagai cara, tujuannya adalah agar perkataan dapat dipahami secara jelas, karenanya disebut ilmu Bayan. Ilmu ini mempelajari tentang uslub (gaya bahasa), Gambaran Deskriptif (shurah bayaniyah) seperti alegoris (tasybih) majaz dan kinayah. Sedangkan ilmu Ma’ani adalah dasar-dasar untuk mengetahui keadaan dan keindahan perkataan sesuai dengan bentuk dan konteks kalimat. Ilmu ini mempelajari kretria perkataan yang baligh dan fasih (Fashahah wa balahg Al-kalam), kalimat khabar dan insya’, qashr, fashl. Washl,ijaz,ithnab dan musawah. Ilmu Badi’. Adalah ilmu yang mempelajari keindahan internal dan eksternal sebuah kalimat dengan tetap menjaga kejelasan arti. Dalam ilmu ini diplejari tentang irama, gaya bahasa, keindahan struktur (keindahan eksternal) dan keindahan Arti (keindahan internal). Untuk lebih jelasnya silahkan lihat M.Ghufron, Al-Balaghah Fi Ilmi Al-Bayan (Ponorogo :Darussalam, 1991) hal. 99-102. juga Haddam Banna, Al-Balaghah Fi Ilmi Al-Ma’ani (Ponorogo : Darussalam,1991) hal. 80-81. dan M.Ghufron, Al-Balagahah Fi Ilm Badi’ (Ponorogo: Darussalam, 1991) hal. 81-82.

[21] Manna, Mabahits, hal 260.
[22] Lihat Abu Bakar Jabbar, Aysarut Tafasir (Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995) jil. I, hal. 34.
[23] Manna, Mabahits, hal. 259.
[24] Lihat Ahmad Warson, Al-munawwir, hal. 24, lihat juga Louis Ma’luf, Al-munjid, hal. 120. dan Az-az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasysyaf (Libanon : Daar kutub Al-Ilmiuyah, 1995) jil. IV. Hal . 403
[25] ibid, hal 430.
[26] Sayyid Qutub, Fi Zhilalil Qur’an (Libanon : Daar Masyriq, 1992) jil. VI, hal. 3390.
[27] Az-az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasysyaf (Libanon : Daar kutub Al-Ilmiuyah, 1995) jil. II. Hal . 368.
[28] Taufik, Rekonstruksi, hal. 47.
[29] Ibid. hal. 76.
[30] Ahmad Warson, Al-Munawwir, hal. 676. lihat juga Louis Ma’luf, Al-Munjid, hal. 362.
[31] az-Zamakhsyari, Kasysyaf, jil. II. Hal 335.
[32] Abu Bakar, Aysarut, hal. 34.
[33] Abu Bakar Jabbar, Aysarut Tafasir (Beirut : Daar kutub Al-Ilmiyah, 1995) jil. II. Hal. 444.
[34] Az-az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasysyaf (Libanon : Daar kutub Al-Ilmiuyah, 1995) jil. I. Hal. 102.
[35] Ibid.
[36] Abu Bakar Jabbar, Aysarut, jil. I. Hal 34. lihat juga Az-az-Zamakhsyari, Al-kasysyaf, jil. I, Hal. 102.
[37] Alauddin Ali Al-Khozin, Tafsir Khazin (Libanon: Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995) hal. 31.
[38] Ibid.
[39] Sayyid Qutub, Fi Zhilalil Qur’an (Libanon : Daar Masyriq, 1992) jil. I, hal. 48.
[40] Az-az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, jil I, hal. 107.
[41] Ibid.
[42] Munawwar Khalil, Al-Qur’an, hal. 69.
[43] Lihat Manna, Mabahits, hal. 259. juga Alauddin, Al-khazin, jil. II hal. 444. juga Az-az-Zamakhsyari, kasysyaf, jil. I, hal.102. dan Sayyid Qutub, Fi Zhilal, jil. I 48.
[44] Taufiq, Rekonstruksi, hal. 86.
[45] Ibid.
[46] Ibid, hal. 95.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis