Aneka Ragam Makalah

Makalah Kritik Sanad Hadis Doa Berbuka Puasa


Makalah Kritik Sanad Hadis Doa Berbuka Puasa

BAB I
PENDAHULUAN

Puasa merupakan rukun Islam yang kelima yang diwajibkan Allah kepada manusia untuk mencapai derajat takwa sebagaimana diterangkan dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183. Dalam menjalani ibadah puasa manusia disunnahkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan semisal membaca Alquran (tadarus) di masjid-masjid atau di rumah, shalat sunnah, serta ibadah kebajikan yang lain-lainnya.

Dalam hadis dikatakan ad-du’a muhhul ibadah (do’a adalah sumsumnya ibadah). Begitu pentingnya do’a dalam agama Islam, maka sangatlah wajar jika sebaiknya do’a yang diajarkan benar-benar berasal dari Rasulullah saw, namun dalam keyataannya ditemui hadis-hadis yang dha’if yang sering dilafalkan oleh umat Islam, tetapi ketika ditelusuri hadis ini memiliki derajat yang mursal atau dha’if. Salah satunya adalah dalam berbuka puasa (ifthar) umat Islam disunnahkan untuk membaca do’a yang sering diajarkan oleh ustazd atau guru ngaji yang berbunyi:
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ
Do’a yang diajarkan ini begitu masyhur dan selalu diucapkan oleh umat Islam, bahkan oleh media elektronik semisal televisi redaksi do’a ini dipublikasikan tiap menjelang berbuka puasa. Apakah ada yang salah dengan do’a ini? Jawabannya tentu tidak. Namun demikian ketika kita menelusuri redaksional do’a ini dengan mengritisi matan dan sanadnya, maka didapatilah bahwa do’a yang selama ini dibaca memiliki derajat dhaif dan mursal, inilah yang akan dikritik secara sanad oleh pemakalah?

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Kritik Sanad Hadis Doa Berbuka Puasa

A. Redaksi matan Do’a berbuka puasa
Ada dua redaksi hadis yang mengupas tentang kebiasaan nabi Muhammad saw berdoa tatkala hendak berbuka puasa, yaitu:
اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ
Artinya: Ya Allah, aku berpuasa untukmu, dan aku beriman kepada, dan dengan rizkimu aku berbuka.

Secara sempurna, hadis ini berbunyi sebagai berikut:
حدثنا مسدد حدثنا هشيم عن حصين عن معاذ بى زهرة أنه بلغه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أفطر قال اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت
Artinya: Bercerita kepada kami Musaddad dari Hushain dari Mu’az ibn Zuhrah bahwasanya ia menyampaikan kepadannya bahwa Rasulullah saw jika akan berbuka buka puasa beliau berkata “Allāāhumma lakasumtu wabika āmantu wa’ala rizqika afthortu” (Ya Allah, aku berpuasa untukmu, dan aku beriman kepada, dan dengan rizkimu aku berbuka).[1]

Secara periwayatan hadis ini diriwayatkan oleh empat orang perawi, yaitu Musaddad, Hasyim, Husain, dan Muaz ibn Mughiroh. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dāwud ini berasal dari Musaddad yang memiliki nama lengkap Musaddad ibn Muharbil ibn Mustaurid. Beliau dimasukkan dalam kelompok tabi’ at-tabi’in, nasabnya adalah al-Asadi, gelarnya Abu Hasan. Beliau lahir di Bashrah dan wafat di Bashrah pada tahun 228 H. hadis ini marfu syarīf linnabi.

Perawi pertama yaitu Musaddad memiliki beberapa guru, antara lain: Ismail ibn Obrahim ibn Muqosam (Abu Basyar), Umayyah ibn Kholid ibn Aswad ibn Hudabah (Abu Abdullah), Basyar ibn Nufadhal ibn Lahiq (Abu Ismail), al-Jar’ah ibn Malik ibn Adi, ja’far ibn Sulaiman, Juwairiyah ibn Asma ibn Ubaid, al-Harits ibn Ubaid, Husoin ibn Namir, Anfas ibn Ghiyats ibn Thaliq, Hammad ibn Zaid ibn Dirham, Hammad ibn Salmah ibn Dinar, Humaid ibn Aswad ibn Asqar, Khalid ibn Abdullah ibn Abd Rahman ibn Yazid, Darosat ibn Ziyad, Rab’I ibn Abdullah ibn Jarud, Sufyan ibn Uyainah ibn Abi Umran Maimun, Sullam ibn Salim, Ubad ibn Habib ibn Muhallib ibn Abu Shufrah, Abul A’la ibn Abd A’la, Abdul Aziz ibn Mukhtar, Abdullah ibn Dawud ibn Amir, Abdullah ibn Mubarok ibn Wadih, Adullah ibn yahya ibn Abu Katsir, Abdul Walud ibn Ziad, Abdul Warits ibn Said ibn Zakwan, Abdullah ibn Musa ibn Abi Muhtar Badzam, Umar ibn Ubaid ibn Abi Umayyah, Isa ibn Yunus ibn Abu Ishaq, fadhil ibn Iyad ibn Mas’ud, Qiran ibn Tammam, Muhammad ibn Jabir ibn Sayyar ibn Thaliq, Muhammad ibn Khazim, Marhum ibn Abdul Aziz ibn Mahram, Musalamah ibn Muhammad, Mu’tamar ibn Sulaiman ibn Thahran, Mulazim ibn Amru ibn Abdullah, Mahdi ibn Maimum, Hasyim ibn Basyir ibn Qasim ibn Dinar, Wadah ibn Abdullah Maula Abdullah Maula Yazid ibn Atha, Waki’ in jarah ibn Malih, Yahya ibn Aaid ibn Furukh, Yazid ibn Zar’i, dan Yusuf ibn Abu Salamah al-Majisun.

Murid-muridnya antara lain: Ibrahim ibn Ya’qub ibn Ishak, Muhammad ibn Ahmad ibn Husain ibn Mudawiyah, Muhammad ibn Muhammad ibn Kholad.

Penilaian terhadap para perawi, sebagai berikut:

· Musaddad siqat hafiz
· Hasyim : siqat sabit katsiru tadlis dan irsal Khafi.
· Husoin : siqat taghayyara hifzuhu fi al-akhir.
· Muaz ibn Zuhrah : Maqbul

Penilaian ulama dan kritik tentang sanad hadis ini sebagai berikut:

Kepada perawi pertama yaitu Musaddad, Ahmad ibn Hambal menilainya shaduq, Yahya ibn Mu’in menilainya siqat siqat, an-Nasai menilainya siqat, Abu Hatim ar-Razi meilanya siqat, al-Ajily menilainya siqat, dan Ibnu Hibban menilainya siqat. Terhadap Hisyam perawi kedua, para ulama yang menilainya antara lain: Ibnu Mahdi menilainya lebih hafal dari as-Sauri; Abu Hatim ar-Razi menilainya siqat, Muhammad ibn Said menilainya siqat tetapi banyak tadlis; Al-Ajili menilainya siqat tadlis, Ibnu Hibban menilainya siqat; al-Khalal menilainya Hafiz Muttaqin tetapi pada akhir hidupnya hafalannya berubah.

Terhadap Husoin, Ibnu Hambal menilainya siqat ma’mun, Yahya ibn Muin siqat, Abu Hatim ar-Razi menilainya shaduq siqat tetapi pada akhir hayanya hafalannya melemah, al-Ajili menilainya siqat sabit, Ya’qub ibn Sufyan menyebutnya Muttaqin siqat dan menurut Ibnu Hibban ia mensiqatkannya.

Dari matan hadis dan sanad yang berkembang, dapat disimpulkan bahwa hadis ini memiliki derajat hadis daif karena Mu’adz ibn Zuhrah adalah seorang Tabi’in bukan seorang shahabat, maka sanadnya yang terputus antara shahabat dan tabi’in sehingga hadisnya dikategorikan Dha’if. Hadis ini juga memiliki derajat mursal karena ada periwayat yang lemah atau dusta. Hadis tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz ibn Zuhrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi’in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if. [2] Dari periwayat yang meriwayatkan hadis ini, dapat dilihat di bawah ini struktur perawi sebagi berikut:

Redaksional doa yang kedua adalah:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Artinya: Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.

Sedangkan sanad dan matannya secara lengkap berbunyi:
حدثنا عبد الله بن محمد من يححى أبو محمد حدثنا على ين الحسن أخيرنى الحسينى بن واقد حدثنا مروان يعنى ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض لحيته فيقطع مازاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله.
Artinya: Abdullah bercerita kepada kami dari Muhammad ibn Yahya Abu Muhammad, dia bercerita kepada kami dari Ali ibn Husain dia berkata: “Aku diberi tahu oleh Husain ibn Waqid dia berkata Marwan Ibnu Salim al-Muqaffa’ bercerita kepada kami dia berkata: “Aku melihat Ibnu Umar memegang jenggotnya dan mencukurnya yang berlebih sampai cukup dan dia berkata: “Rasulullah saw. ketika mau berbuka puasa beliau berdo’a “ “Telah hilang rasa dahaga, telah basah kerongkongan dan mendapat pahala insya Allah”[3]

Hadis ini diriwayatkan oleh lima orang yakni Abdullah ibn Muhammad ibn Yahya; Ali ibn Hasan ibn Syaqiq; Husain ibn Waqid; Marwan ibn Salim dan Abdullah ibn Umar ibn Khattab an-Naufal.

Perawi pertama yakni Abdullah ibn Muhammad ibn Yahya masuk dalam thabaqah kubaru tba’ul atba, nasabnya at-thartusi, gelarnya adalah Abu Muhammad. Di antara guru-gurunya adalah: Ali ibn Hasan ibn Syaqiq; Muhammad ibn Hazim, Ya’qub ibn Ishaq ibn Zaid. Muridnya adalah Abu Dawud dan an-Nasai. Beliau memiliki derajat siqat.

Perawi kedua adalah Ali ibn Hasan ibn Syaqiq masuk dalam kategori kubar thabi’i thabi’in, nasabnya sampai pada al-Abidy al-Marwazi, gelarnya Abu Abdurrahman lahir di Hams dan wafat pada tahun 215 H di Kafar Jadiya. Guru-gurunya adalah Hasan ibn Waqid; Abdullah ibn Mubarak ibn Wadih, dan Muhammad ibn Marwan. Murid-muridnya adalah Ibrahim ibn Ya’qub ibn Ishaq, Abu Bakar an-Nadhar ibn Abu Nadhar ibn Hasyim, Isma’il ibn Ibrahim, Ruh ibn al-Faraj, Abbas ibn Muhammad ibn Hatim ibn Waqid, Abdullah ibn Muhammad ibn Abu Saebah Ibrahim ibn Usman, Abdullah ibn Muhammad ibn Yahya, Abdullah ibn Munir, Quraisy ibn Abd Rahman, Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim, Muhammad ibn Haitam ibn Bazi, Muhammad ibn Abdullah ibn Qahzad, Muhammad ibn Ali ibn Hasan ibn Syaqiq, dan Muhammad ibn Ghailan. Memiliki derajat siqat hafiz.

Perawi ketiga Husain ibn Waqid dia seorang kubaru tab’i thabi’in, nasabnya sampai kepada al-Mawarzin yang diberi gelar Abu Ali lahir di Hams wafat pada tahun 159 H. Guru-gurunya adalah: Aufa ibn Dahlam, Ayyub ibn Abu Tamimah Kaisan, Sabit ibn Aslam, Tsamamah ibn Abdullah ibn Anas ibn Malik, Hazwar, Husoin ibn Abd Rahman, Dailam ibn Ghazwan, Rabi’ ibn Anas Sa’nak ibn Harb ibn Aus, Ashim ibn Bahdalah Abu Nujud, Abdullah ibn Abu Najih Yassar, Abdullah ibn Buraidah ibn Nashib, Abdul Mulk ibn Umair ibn Suwaid, Usman ibn Nuhik, Ulba ibn Ahmar, Umarah ibn Abu Hafshah nabit, Amru ibn Dinar al-Asram, Amru ibn Abdullah ibn Ubaid, Muhammad ibn Ziad, Muhammad ibn Muslim ibn Tadris, Marwan ibn Salim, Muhtir ibn Tahman, Mansur ibn Mu’tamar, Yahya ibn Uqail, Yazid ibn Abu Sa’id, Yazid ibn Tahman, dan Muaz ibn Harmalah. Memiliki derajat siqat auham (banyak ragu-ragunya).

Perawi keempat adalah Marwan ibn Salim, dia masuk dalam golongan duna wushta thabi’in nasabnya adalah al-Muqaffa, beliau lahir di Maru. Gurunya adalah Abdullah ibn Umar ibn al-Khattab ibn Nufail. Muridnya antara lain Zaid ibn Hibban ibn rayyan, Sulaiman ibn Mahran, Abdul Waris ibn Sa’id ibn Dzakwan, Ali Ibn Hasan ibn Syaqiq, Ali ibn Hasan ibn Waqid, Fadhl ibn Musa, Yahya ibn Wadih, dan Ishah ibn Ibrahim. Muridnya Husain ibn Waqid. Memiliki derajat maqbul.

Sedangkan perawi kelima adalah Abdullah ibn Umar ibn Khattab ibn Naufil. Beliau adalah sahabah, nasabnya adalah al-Adawy al-Quraisyi, gelarnya adalah Abu Abd Rahman. Beliau dilahirkan di Madinah dan wafat pada tahun 73 H di Marwaruwaz. Guru-gurunya adalah Usamah ibn Yazid ibn Haritsah ibn Syurahbil, Basyir ibn Abdul Munzir ibn Zubair ibn Zaid ibn Umayyah, Bilal ibn Rabah, Hafsah Ibnatu Umar ibn al-Khattab, Rafi ibn Khadij ibn Rafi, Zaid ibn Tsabit ibn Dahhak, Zaid ibn Khattab ibn Nufail, Sa’d ibn Abu Waqash, Malik ibn Sanan ibn Ubaid, Shofiah ibnti Abu Ubaid ibn Ubaid ibn Mas’ud, Shofiah ibnti Yahya ibn Akhthab, Suhaib ibn Sanan, Aisyah ibnti Abu Bakar Siddiq, Amir ibn Rabi’ah ibn Ka’b, Abdurrahman ibn Sukhr, Abdullah ibn Abbas ibn Abdul Muthallib ibn Hasyim, Abdullah ibn Usman ibn Amir ibn Amru ibn Ka’b ibn Sa’d ibn Taim ibn Murrah, Abdullah ibn Amru ibn Ash ibn Wail, Abdullah ibn Mas’ud ibn Ghafil ibn Habib, Usman ibn Affan ibn Abu al-Ash ibn Umayyah, Ali ibn Abu Thalib ibn Abdul Muthallib ibn Hasyim ibn Abd Manaf, dan Umar ibn Khattab ibn Nufail. Muridnya adalah Adam ibn Ali, Yazid ibn Atharah, Abu al-Ajlan, Abu Afdhal, Abu al-Mahariqa, Abu Munib, Abu Walid dari Ibnu Umar, Abu Usamah, Abu Bakr Sulaiman ibn Abu Hutsaim Abdullah ibn Huzaifah, Abu Bakar ibn Ubaidillah ibn Abdullah ibn Umar ibn al-Khattab, Abu Alqamah, Aslam Maula Umar, Ismail ibn Abdurrahman ibn Dzuai, Marwan ibn Salim dan lain-lain. Beliau seorang yang siqat.

Penilaian ulama terhadap kelima rawi. Menurut Abu Hatim ar-Razi Abdullah ibn Muhammad ibn Yahya adalah seorang yang shaduq (jujur), menurut an-Nasai Abdullah ibn Muhammad ibn Yahya merupakan orang yang siqat, ibnu Hibban menilanya orang nyang siqat, Musallakah ibn Qasim menyebutnya siqat dan al-Khallad menilainya siqat. Perawi kedua Ali ibn Hasan ibn Syaqiq dinilai oleh para ulama antara lain, Ahmad ibn Hambal menyebutnya lam yakun fihi ba’sun (tidak ada masalah dengannya), Yahya ibn Mu’in ma qadama alaina afdhal minhu (tidak ada orang yang lebih mulia sebelumnya dibandingkan dia), dan adz-Zahabi menilainya siqat. Perawi ketiga menurut Ahmad ibn Hambal menilainya la ba’sa bihi, Yahya ibn Mu’in menilainya siqat, Abu Zar’ah ar-Razi menilainya la ba’sa bihi ba’sun, as-Saji menilainya shaduq sedikit wahm, ibnu Hibban menilainya siqat tapi sewaktu-waktu bisa salah. Perawi keempat menurut Ibnu Hibban dan az-Zahabi siqat. Sedangkan perawi kelima adalah seorang sahabah yang adil dan dhabit.

B. Pelajararan yang bisa Diambil Dan Kesimpulan
Dari dua redaksi hadis yang telah penulis paparkan dengan menggunakan CD. Room Kutubuttis’ah, maka, hadits dha’if tentang doa berbuka puasa adalah yang berasal dari Mu’adz ibn Zuhrah, yang berbunyi “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …”

Sedangkan hadis yang dianggap lebih tepat adalah hadis yang kedua. Meskipun dhaif, hadis yang pertama adalah hal yang sunnah dan baik jika kita berdoa kepada Allah di manapun kapanpun, terlebih setelah kita melakukan ibadah yang luar biasa dengan menahan makan, minum yang harinya panas untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Azza Wajalla.

DAFTAR PUSTAKA
  • CD. KUTUBUTTIS’AH
  • Al Masaa-il, Abdul Hakim ibn Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Kedua, Tahun 2004 M.
  • Adab Harian Muslim Teladan, Abdul Hamid ibn Abdurrahman As Suhaibani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Januari 2005 M, hal. 184-185.
___________________
[1]Sunan Abu Dawud, hadis No. 2011, Kitab as-Shaum bab al-Qaul ‘inda al-Afthar, CD. Kutubuttis’ah
[2]http://ahlussunnah.web.id/audio/audio/slf-2007-09-18-61065.mp3
[3]Sunan Abu Dawud, Hadis No. 2010, kitab as-Shaum, bab. Qaul rasul ‘inda ifthar. CD. Kitabuttis’ah.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis