Aneka Ragam Makalah
Jasa Review

Kisah Nabi Adam | Kajian Tafsir Alquran


Nabi adam adalah nabi dan rasul pertama dalam sejarah. nabi adam merupakan awal kekhalifahan manusia yang diutus oleh allah untuk menjaga alam semesta ini. perlu di ingat bahwa nabi adam bukan terusir kedunia karena melakukan kesalahan, tetapi itu merupakan keputusan Allah swt. bagaimanakah sebenarnya kisah nabi adam dalam tafsir alquran, apakah benar adam merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah swt?
Tafsir Kisah Adam Menurut Tafsir al-Manar (QS Al-Baqarah: 30-39) Oleh: Daulat P
Pendahuluan
Sesungguhnya masalah penciptaan dan cara penjadian makhluk adalah urusan ketuhanan yang wajib diimani sebagaimna Dia jelaskan. Ada dua macam pendekatan yang dilakukan dalam memahami ayat-ayat mutsyabihat. Yang pertama adalah pendekatan kaum salaf yakni dengan tidak mengindahkan apa yang bisa dipahami oleh akal, yang dikhawatirkan bisa menyimpang dari arti sebenarnya, dan pendekatan kaum khalaf yang lebih memakai ta’wil.

 Pendekatan ke dua ini didasarkan pada teori bahwa prinsip-prinsip dasar agama Islam tidak akan pernah bertentangan dengan akal, karena prinsip tersebut dibangun atas dasar teori rasional. Maka akallah yang menjelaskan apa yang dimaksud oleh sebuah nash, karena nash tersebut hanya menjelaskan zahirnya saja.

  Uraian Singkat Tafsir Kisah Adam  
Pengarang al-Manar percaya bahwa penuturan kisah Adam dalam Alquran hanyalah permisalan, untuk mempermudah manusia memahaminya. Karena tidak mungkin malaikat akan mempertanyakan perintah Allah atas mereka. Mereka akan bertasbih siang dan malam sesuai yang dijelaskan pada ayat-ayat lain.

Namun meski demikian, ternyata al-Manar mengakui bahwa beliau lebih suka untuk mengikuti pendekatan pertama dalam hal ini. Namun dengan begitu ia tetap memperhatikan pemahaman-pemahaman yang mungkin muncul ketika berhadapan dengan ayat mutasyabihat. Namu bila terjadi sebuah pertentangan atau ketidak samaan antara pendekatan salaf dengan khalaf tersebut maka beliau lebih condong untuk mengambil pemahaman manshus dari pada ma’qul.


Tentang Malaikat
Tentang wujudnya malaikat harus dipercaya sebagaimana ia dijelaskan secara manshus dalam Alquran. Apakah ia punya jasad seperti yang dijelaskan, punya sayap tapi tidak seperti sayap burung. Ada alam jismiah yang lebih halus daripada alam jismiah yang kasat yang kita rasakan pada alam kita ini.

Hikmah penuturan kisah bertanya malaikat terhadap keputusan Allah bisa dijelaskan sebagai berikut:
  • Bahwa Allah dengan segala kebesaranNya membolehkan hambaNya untuk mempertanyakan hikmah di balik penciptaan.
  • Ketika malaikat mempertanyakan rahasia di balik sesuatu yang tidak mereka ketahui, maka kita lebih berhak untuk mempertanyakan apa yang tidak kita pahami.
  • Bahwa Allah bersedia menajawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan alasan-alasan yang dapat dipahami oleh malaikat.

Menghibur Rasul.
Jailun fi al-Ardi Khalifah
Ayat ini memberitahukan bahwa Allah memberikan fitrah bagi manusia. Mereka mereka diberi kebebasan untuk bertindak. Maka baik buruknya tindakan mereka itu akan tergantung kepada ilmu yang mereka miliki. Para malaikatpun lalu takjub dengan makhluk Allah ini. Mereka bertanya kepada Allah swt. Dengan lidah nathq (bila memang mereka bicara) atau dengan lidah hal (bila mereka tidak bicara).

Pertanyaan malaikat itu kemudian dijawab oleh Allah swt. “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Ini merupakan taslim dari Allah swt., bisa dipahami bahwa di alam ini ada banyak ilmu yang tidak dipahami oleh manusia. Dengan begitu sangat beralasan bila Rasul bertanya langsung kepada Allah swt. Ketika beliau mendapatkan hal-hal yang tidak bisa beliau jawab.

Khalifah

Ada dua pemahaman yang muncul dalam memahami kata khalifah dalam ayat ini. Yang pertama memahami bahwa di dunia telah ada segolongan atau lebih dari golongan hayawan nathiq. Golongan inilah yang dikatakan oleh Allah kepada malaikat bahwa Ia akan menciptakan manusia sebagai ganti makhluk yang akan menduduki posisi tersebut.

Gologan pertama ini juga memahami bahwa yang dimaksud dengan itu adalah golongan yang telah musnah yang telah berbuat kerusakan di dunia, menumpahkan darah. Inilah yang menjadi dasar pemahaman malaikat hingga kemudian mereka menanyakannya. Akan tetapi tidak ada bukti bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah tersebut akan berbuat sama dengan para pendahulunya, karena itulah Allah lalu menjawab: “sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Menurut mereka golongan yang telah ada tersebut adalah jin dan alban. Kedua golongan ini berbuat kerusakan hingga Allah mengirimkan Iblis (sebelum ia menentang) dengan sepasukan malaikat untuk menghancurkan golongan tersebut.

Akan tetapi kisah ini hanyalah kisah yang diambil dari kisah-kisah dan khurafat Persia. Tidak ada alasan yang kuat untuk mempercayai kisah ini dalam Islam.

Sedangkan golongan yang ke dua berpendapat bahwa kata khalifah berarti adalah khalifah Allah swt. Jadi pertanyaan malaikat tentang apakah manusia tidak akan berbuat kerusakan di bumi didasarkan pada pemahaman bahwa manusia diberi oleh Allah kemauan yang mutlak, melakukan apa yang ia suka.

Wa ‘allam Adam Asma…..
Ayat ini menunjukkan bahwa malaikat mempunyai pekerjaan dan kemauan yang terbatas sesuai dengan yang diberikan oleh Allah swt., sedangkan pekerjaan manusia dan keinginannya diberikan oleh Allah kebebasan kepada mereka. Dengan kekhususan ini, maka manusia lebih berhak dari malaikat untuk menjadi khalifah di bumi.

Sujud
Oleh pengarang ­al-Manar sifat sujud malaikat kepada Adam tidak ditafsirkan. Sujud itu adalah sujud yang tidak kita sifatnya, akan tetapi para ahli ushuluddin berpedapat bahwa sujud itu bukan sujud penyembahan karena tentu saja malaikat tidak menyembah selain Allah. Kalau diartikan secara bahasa maka sujud merupakan bentuk penghormatan terbesar dari manusia kepada sesuatu, dahulunya merupakan simbol pengormatan dan ketundukan seorang manusia kepada raja.

Keengganan Iblis
Dapat dipahami bahwa Iblis merupakan bagian dari golongan malaikat. Dalam ayat lain (al-kahf) disebutkan bahwa tidak ada perbedaan antara malaikat dan jin, karena iblis merupakan bangsa jin. Perbedaannya hanya pada sifat dan golongan yang berbeda.
Penggunaan kata istakbara yakni penggunaan huruf alif, sin dan ta dalam bahsa Arab menunjukkan bahwa apa yang disombongkan oleh Iblis tersebut bukanlah hal yang ia miliki dan tidak pantas untuk ia sombongkan.

Dari tata tertib urutan kata dalam ayat (sombong-kafir) menunjukkan bahwa aksi kesombongan mengakibatkan Iblis dicap sebagai seorang yang kafir. Tapi meskipun demikian ada beberapa pendapat yang berbeda dalam menafsirkan hal tersebut.

Syurga
Syurga yang ditempati oleh Adam dan istirinya, apakah merupakan syurga yang dijanjikan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dijelaskan berikut:
  • Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dan keturunannya untuk mendiami dunia.
Tidak disebutkan bahwa setelah penciptaan Adam untuk menjadi khalifah di bumi, ada jalan untuk menuju langit dari bumi, karena kalau ada maka tentu akan disebutkan dalam ayat.

syurga yang dijanjikan tidak akan dimasuki oleh kecuali orang mukmin dan muttaqin, bagaimana mungkin syetan masuk ke dalamnya.

Di syurga yang dijanjikan tidak ada kewajiban dan larangan.
Tidak ada larangan dari hal-hal yang menyenangkan di syurga yang dijanjikan.
Tidak akan terjadi perbuatan munkar di syurga yang dijanjikan.
Perintah Allah adalah “wahai Adam tinggallah di Syurga” bukan “masuklah ke Syurga”, jadi Adam diciptakan di tempat tersebut atau di tempat yang dekat dengannya. Ada kebolehan untuk menikmati segal isinya kecuali yang dilarang oleh Allah. Jadi salah satu pohon yang dilarang tersebut merupakan sebab akan terjadinya pertukaran dari suatu keadaan menjadi keadaan yang lain. Larangan ini bisa saja merupakan karean ada bahaya atau ada sebab yang menyebabkan Adam akan sengsara, atau merupakan ujian akan kecondongan manusia akan beberapa hal.
Turunnya Adam

Lalu setelah terjadi pelanggaran peraturan, Allah berfirman “ihbitu”, yang artinya turunlah. Maka secara bahasa pada dasarnya turun itu berarti dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Akan tetapi selalukah demikian? Dalam pemakaian ihbitu, ternyata artinya juga bisa memasuki atau berpindah. Orang-orang Arab akan berkata “ihbithu misro” masuklah ke dalam negeri Mesir. Jadi tidak mesti “turun” tapi perpindahan.

Penciptaan Hawa
Ada perbedaan pendapat dalam penciptaan Hawa, apakah ia diciptakan dari tulang rusuk seperti lazimnya yang disebutkan oleh para mufassirin ataukah tidak. Yang pasti Alquran tidak menyebutkannya seperti dalam kitab Taurat. Perlua digaris bawahi bahwa tujuan utama kisah sejarah dalam Alquran bukanlah sejarah itu sendiri tapi pelajaran dari kisah sejarah tersebut.


Corak Penafsiran al-Manar
Uraian di atas hanyalah sebagian kecil uraian tentang kisah adam yang ada dalam tafsir al-Manar (hal. 250-289). Maksud dari uraian itu adalah untuk melihat corak dan metode penafsiran yang digunakan oleh pengarangnya. Dari uraian singkat tersebut dan dari kajian kami dapat diuraikan berikut:

Pengarang Tafsir al-Manar lebih suka untuk tidak mengkaji ayat-ayat yang tidak ada keterangan dalam Alquran. Bila ada penafsiran yang tidak ada dasar yang kuat, seperti pembeberan kisah-kisah sejarah yang tidak ada akarnya dalam Islam, maka beliau akan menyatakan bahwa tidak keperluan untuk percaya kepada hal tersebut. Asal-asul cerita sangat diperhatikan betul dalam tafsir ini.

Beliau tidak memungkiri adanya corak penafsiran salaf dan khalaf. Pada pendahuluan kisah tentang Adam ini beliau menyatakan lebih suka untuk berpegang dengan corak salaf. Akan tetapi tentu saja dari kajiannya dapat dikatakan bahwa metode salaf yang dipakai adalah dalam menaggapai pada ayat-ayat yang sangat riskan untuk dita’wil. Beliau tidak akan mengkaji hal-hal lain yang tidak muncul dalam ayat tersebut kecuali itu perlu.
Penafsiran apapun, memang tidak akan lepas dari intrepretasi akal. Corak rasional tafsir ini terlihat dengan mengemukakan penjelasan yang reasonable (beralasan) dan dapat dipahami dengan baik.

Salah satu keistimewaan tafsir ini, khususnya dari kisah Adam, adalah tujuan dan sifat penafsirannya. Sifat penafsirannya sungguh humanis. Pengarang tafsir ini menyajikan kisah Adam dengan memahami konflik-konflik yang terjadi merupakan contoh yang akan terjadi pada manusia dalam kehidupan di dunia. Dengan begitu tujuan dari kisah ini bukanlah sebuah pengungkapan fakta sejarah akan tetapi pengambilan nilai-nilai pelajaran untuk ummat manusia.

Membaca tafsir al-Manar akan menumbuhkan sebuah rasa dimana kisah Adam tersebut memang perlu dibaca oleh setiap orang yang beriman, karena kisah yang disajikan merupakan refleksi dari kehidupan manusia seutuhnya. Bukan kecondongan bahwa Allah telah menciptakan Adam di syurga lalu sengaja untuk menurunkannya, akan tetapi lebih kepada bahwa hidup itu mempunyai aturan baik aturan yang berkenaan dengan pencipta dan dengan makhluk hidup lainnya. Pelanggaran terhadap peraturan tersebut akan mengakibatkan adanya sanksi. Pelanggaran sanksi peraturan dalam hubungan dari Allah akan menghasilkan sanksi dari Allah, lalu kemudian pelanggaran peraturan sosial akan menghasilkan sanksi sosial. Tapi tahap selanjutnya, sanksi antara pelanggaran hubungan dengan Allah dengan pelanggaran hubungan sosial tidak terpisahkan dalam ajaran Islam.

Sering dalam uraiannya, pengarang menyajikan dua pendapat berbeda. Pada umumnya, pendapat tersebut adalah pendapat yang kaum salaf dan pendapat kaum khalaf. Dua pendapat berbeda ini kemudian diakhiri dengan pendapat pengarang sendiri (aqulu/menurut saya). Tidak dapat dipastikan apakah beliau akan mengikuti pendapat salaf atau sebaliknya, yang pasti beliau akan membuat pendapatnya sendiri terlepas dari kemiripannya dengan pendapat kaum salaf atau khalaf.

Sumber: Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, jil. I. Beirut: Dar al-Fikr, t.th. h. 250-289.




Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis