Mencari...

Dimensi Mistik dalam Islam Kebatinan

10:19 AM
Dimensi Mistik dalam Islam Kebatinan merupakan hal yang tidak tabu lagi didengar. dimensi mistik mengambarkan corak yang selalu dikaitkan dengan hal yang ghaib. dalam islam kebatinan dimensi mistik selalu melekat dengan orang-orang yang cendrung dan mngerah kepad hal mistik. apa sebenarnya makna  Dimensi Mistik dalam Islam Kebatinan. diantara maknanya adalah bahwa  mistik berasal berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman. jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah  Dimensi Mistik dalam Islam Kebatinan bermakana sesuatu yang ghaib yang hanya dapat dirasakan dengan jiwa dan perasaan.

Pendahuluan
Islam adalah agama yang menyeimbangan antara aspek lahir dan batin, antara Iman dan amal saleh. Nabi Muhammad saw. yang diutus untuk menyampaikan risalah Islam, tidak pernah menunjukkan sikap-sikap yang lebih menekankan salah satu dari dua aspek tersebut. Dengan kata lain, ia tidak lebih mementingkan aspek lahiriah saja ketimbang aspek batiniah, ataupun sebaliknya. Islam mengajarkan umatnya untuk membuat seimbang kedua aspek tersebut dan menjadikannya sama-sama penting dalam menjalani kehidupan dunia.
    Sebagai aspek-aspek yang sama-sama penting dalam ajaran Islam, dalam sejarahnya, telah terjadi pergeseran ke arah formalisme dan legalisme serba lahir yang menimbulkan reaksi serba batin. Di mana kedua aspek yang disebutkan di atas lebih didahulukan salah satunya sehingga menjadi sebuah paham yang mengikat kuat dalam masyarakat dan pada saat tertentu mencapai anti klimaks yang berakibat pada pertentangan antara keduanya. Orang-orang yang lebih mementingkan aspek-aspek syari’ah, persoalan halal-haram, intelektualisme-rasional, materialisme, dan legalisme, mewakili golongan lahiriah. Sementara bagi orang-orang yang lebih mementingkan rasa-hati, dan nilai-nilai batin, masuk dalam golongan batiniah. Tasawuf atau sufisme, berawal dari gerakan batiniah tersebut. Gerakan ini berusaha mendekatkan diri kepada Allah Sang pencipta dengan memanfaatkan media-media yang serba batin dan rahasia tersebut. 
      Sebelum Islam datang ke Indonesia, agama Islam telah mengalami perkembangan yang gemilang. Dalam bidang penalaran, umat Islam telah sanggup mewarisi dan memanfaatkan pemikiran dan falsafah Yunani, untuk memperkuat perkembangan ijtihad, baik dalam hukum Islam, ilmu kalam, falsafah dan sebagainya. Dalam mistik Islam atau tasawuf, umat isla juga telah berhasil mengembangkan penghayatan dan pengalaman mistik yang disesuaikan dengan ajaran Islam.
     Makalah ini berusaha membahas mengenai dimensi mistik dalam Islam kebatinan. Perlu diperjelas di sini bahwa yang dimaksud Islam kebatinan adalah Islam yang bersifat menonjolkan aspek-aspek batiniah ketimbang aspek lahiriah. Islam kebatinan-pada masyarakat Jawa disebut sebagai Islam kejawen -telah memadukan ajaran-ajaran tasawuf Islam dengan unsur-unsur animisme, dan ajaran Hindu-Budha. Perpaduan itu melahirkan paham-paham kebatinan yang khas dan terkadang lari dari konsep tasawuf Islam sebenarnya. Ciri yang menonjol dari paham Islam kebatinan adalah antroposentrisme dan panteisme. Begitu juga dengan penggunaan istilah-istilah tasawuf juga banyak digunakan dalam Islam kebatinan, tetapi tidak diartikan dengan yang sebenarnya. Oleh sebab itu, dalam pembahasan selanjutnya akan awali dengan meninjau pengertian mistik, latar belakang munculnya Islam kebatinan, hubungan antara Islam dan kepercayaan lokal, serta melihat praktek-praktek dan ajaran-ajaran yang bersifat mistis dalam Islam kebatinan. Semoga makalah ini dapat memberikan penjelasan yang memadai.

Pengertian Mistik 

Menurut asal katanya, mistik berasal berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman. Dalam buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950) karya G.B.J. Hiltermann dan Van De Woestijne, kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya menutup mata. Kata mistik sejajar dengan kata Yunani lainnya musterion yang artinya suatu rahasia. Paham mistik dilihat dari segi materi ajarannya dapat dipilah menjadi dua, yaitu paham mistik keagamaan, yang terkait dengan tuhan dan ketuhanan, dan paham mistik non-keagamaan, yang tidak terkait dengan ketuhanan.[1]

Dalam kata mistik itu terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Mistik telah disebut sebagai “arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama.” Dalam artinya yang paling luas, mistik bisa didefenisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal – yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.[2]

Namun, defenisi-defenisi semacam itu hanya sekadar petunjuk saja. Sebab kenyataan yang menjadi tujuan mistik, dan apa yang tak terlukiskan, memang tidak bisa dipahami, dijelaskan dan diungkapkan dengan cara persepsi apapun; baik filsafat maupun penalaran logis. Hanya kearifan hati, gnosis, ma`rifah, yang bisa mendalami beberapa di antara seginya. Diperlukan sebuah pengalaman rohani yang tidak tergantung pada metode-metode indera dan fikiran. Begitu si pencari memulai perjalanannya menuju kenyataan akhir ini, ia akan dibimbing oleh cahaya batin. Cahaya itu akan semakin terang ketika ia membebaskan diri dari keterikatannya dengan dunia atau, seperti kata para sufi; menggosok cermin jiwanya sampai mengkilap. Hanya setelah masa pemurnian yang lama – yang dalam mistik Kristen disebut via purgativa – si pencari bisa mencapai via iluminativa, tempat di mana ia diberkati cahaya dan kearifan. Dari sana ia bisa mencapai sasaran akhir pencarian mistik, yakni unio mystica atau via unitiva.[3] Hal ini bisa dihayati dan diungkapkan sebagai perpaduan cinta, atau sebagai visio beatifica, yakni tempat jiwa menyaksikan segala yang diluar jangkauan penglihatan, diliputi oleh cahaya Tuhan.[4] Hal ini bisa digambarkan sebagai penyingkapan cadar ketidaktahuan, cadar yang menutupi ciri-ciri dasar Tuhan dan makhluknya, yang dalam istilah tasawuf disebut kasyaf, mukasyafah.

Dalam agama Islam, mistisisme diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam dan istilah sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain.[5] Seperti halnya agama lain, mistisisme Islam bertujuan membersihkan unsur-unsur batiniah manusia untuk mendapatkan kebersihan jiwa dari segala yang mengotorinya sekaligus berusaha untuk sedekat mungkin kepada Allah.

Dari pengertian mistik di atas, dapat diketahui bahwa mistik bersifat universal, terdapat di semua agama, bersifat rahasia dan sulit dicermati secara ilmiah. Khusus dalam Islam, paham mistik disebut tasawuf atau sufisme. Tasawuf yang berkembang di Indonesia telah mengalami perkembangan dan pada sebagian ajarannya telah dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan pra-Islam dan ajaran Hindu-Budha. Paham semacam ini disebut sebagai Islam kebatinan. Paham ini melakukan sinkretisme antara ajaran tasawuf dengan ajaran kebatinan di luar Islam. Di Indonesia, paham Islam kebatinan ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam aliran-aliran kepercayaan dan kebatinan. Pada perkembangannya, aliran-aliran tersebut kelihatan sudah jauh meninggalkan ajaran Islam yang murni, bahkan hampir tidak ada kaitan sama sekali dengan ajaran Islam.


Latar Belakang Munculnya Islam Kebatinan

Dalam sejarah penyebaran agama di Jawa, Islam mengalami perkembangan yang cukup unik. Dari segi agama, suku jawa sebelum menerima pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, masih dalam taraf animisme dan dinamisme. Mereka memuja roh nenek moyang, dan percaya adanya kekuatan gaib atau daya magis yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda yang dianggap memiliki daya sakti.

Suatu hal yang sangat menarik ditinjau dari sudut agama, adalah pandangan yang bersifat sinkretis yang mempengaruhi watak dari kebudayaan dan kepustakaan jawa. Sinkretisme ditinjau dari segi agama, adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya suatu agama. Yakni suatu sikap yang tidak mempersoalkan murni atau tidak murninya suatu agama. Bagi orang yang berpaham sinkretis, semua agama dipandang baik dan benar. Penganut paham sinkretis suka memadukan unsur-unsur dari berbagai agama, yang pada dasarnya berbeda atau berlawanan.[6]

Simuh dalam penelitiannya membedakan dua macam kepustakaan Islam yang berkembang di Jawa, yaitu: kepustakan Islam santri dan kepustakaan Islam kejawen. Kepustakaan Islam santri adalah kepustakaan yang bersumber dari kitab-kitab Islam yang diajarkan di pesantren-pesantren dan bersumber dari ulama-ulama besar Islam yang sebagian besarnya berbahasa Arab, sebagian lainnya berbahasa Arab melayu. Sementara kepustakaan Islam kejawen adalah suatu kepustakaan jawa yang memuat perpaduan antara tradisi jawa dan unsur-unsur ajaran Islam, terutama aspek-aspek ajaran tasawuf dan budi luhur yang terdapat dalam perbendaharaan kitab-kitab tasawuf. Ciri kepustakaan Islam kejawen, ialah memperhunakan bahasa jawa dan sangat sedikit mengungkapkan aspek syari`at, bahkan sebagian ada yang kurang menghargai syari`at. Yakni syari`at dalam arti hukum atau aturan-aturan lahir agama Islam.

Bentuk kepustakaan ini termasuk dalam kepustakaan Islam, karena ditulis oleh dan untuk orang-orang yang telah menerima Islam sebagai agama mereka. Nama yang sering dipergunakan untuk menyebut kepustakaan Islam kejawen, adalah primbon, suluk dan wirid. Suluk dan wirid berkaitan isinya dengan ajaran tasawuf. Adapun primbon isinya merangkum berbagai ajaran yang berkembang dalam tradisi Jawa, seperti ngelmu-petung, ramalan, guna-guna, dan sebagainya. Selain itu primbon umumnya juga memuat aspek-aspek ajaran Islam. Kemudian terdapat Serat Suluk Wujil, yang berisi wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang budak raja Majapahit. Suluk Malang Sumirang, yang disusun oleh Sunan Panggung waktu beliau menjalani hukuman bakar di tengah nyala api.[7] Ada lagi kepustakan jawa yang disebut serat. Serat yang terkenal adalah Serat Wirid Hidayat Jati yang dikarang oleh Ranggawarsita (1802-1873), Serat Gatoloco, Serat Darmogandul, Serat Cabolek, Serat Centini yang dianggap sebagai puncak kesusastraan-mistik kejawen, dan lain sebagainya.

Di antara peninggalan kepustakaan Islam kejawen yang paling tua, masih dapat ditemukan, dan menurut perkiraan berasal dari abad ke-16, yaitu Suluk Sunan Bonang dan primbon Jawa Abad Enam Belas. Kitab yang lebih dahulu adanya dari kedua manuskrip di atas adalah Serat Suluk Sukarsa. Kitab ini berisi ajaran mistik Islam kejawen. Menurut Purbatjaraka, dalam Serat Suluk Sukarsa terdapat ungkapan-ungkapan yang mirip dengan syair-syair Hamzah fansuri.[8]

Semedi atau tapa adalah penarikan diri sementara dari minat kepada dunia lahir, yang caranya adalah duduk lurus berdiam diri mutlak dan mengososngkan diri dari semua isi dunia sejauh mungkin.[9] Jadi semedi atau tapa merupakan sejenis penangguhan kebahagiaan terhadap segala hal yang bersifat keduniaan.

Dalam cerita masyarakat jawa, khususnya menurut versi Islam abangan (sebuah penggunaan istilah oleh Cliiford Geertz untuk menunjukkan varian Islam yang cenderung kepada paham animisme di daerah Jawa), diceritakan bahwa Sunan Kalijaga, tokoh besar penyebar ajaran Islam di Jawa, dijadikan model dalam penggunaan praktek semedi. Ketika masih muda ia adalah seorang perampok, penjudi, pemboros dan umumnya jahat. Pada suatu hari, datanglah ke kota ayahnya seorang perintis Islam bernama Sunan Bonang, salah satu dari wali Sembilan. Sunan Bonang mengenakan pakaian yang bagus dan permata yang mahal-mahal, dan ujung tongkatnya terbuat dari emas murni. Suatu ketika ia memasuki daerah di mana Sunan Kalijaga (yang waktu itu dipanggil Raden Said) biasa duduk di tempat itu; ia diberhentikan oleh Kalijaga, yang meminta permata dan tongkatnya dengan taruhan nyawanya. Sunan Bonang hanya tertawa dan berkata, “mengapa, permata ini tidak ada artinya, lihatlah sekelilingmu!”, Kalijaga melihat ke sekelilingnya, dan terkejut ketika melihat bahwa Bonang telah mengubah semua pohon menjadi emas dan beruntaikan permata. Dia terkejut dan sadar akan kesaktian Sunan Bonang.

Kalijaga memohon kedada Bonang untuk dapat mengajarkan ilmu rahasianya tersebut. Bonang berkata, “baiklah, tetapi itu sulit sekali dan berbahaya. Apakah kamu berani?” dan Kalijaga berkata, “saya berani sampai titik darah penghabisan.” Maka Bonang berkata, “kalau kamu berani, maka tunggulah saya di sini di pinggir kali ini sampai saya kembali.” Kalijaga menunggu, dan bertapa. Selama bertahun-tahun Sunan Bonang tak kembali, tetapi Kalijaga terus tidak bergerak di satu tempat. Pohon-pohon tumbuh di sekitarnya, wanita-wanita cantik menggoda, setan dan hantu menakut-nakutinya, tetapi ia tidak bergerak. Akhirnya Bonang kembali dan mendapati Kalijaga (kali, sungai dan jaga, penjaga) ternyata lebih sakti dari dia sendiri, karena lamanya ia bertapa. Sesudah ini Kalijaga tidak merampok dan berjudi lagi tetapi berusaha menyebarkan Islam di tanah Jawa.[10]


Antara Islam dan Kepercayaan lokal

Tidak ada satu agama atau ajaran yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan dan kebudayaan lokal. Begitu juga dengan agama Islam. Ia awalnya merupakan ajaran yang murni dan bersih, ketika Islam hadir ke tengah-tengah masyarakat yang telah memiliki kepercayaan sebelumnya, pada prakteknya akan terjadi saling keterpengaruhan antara keduanya.

Jumhur ulama berijma’ bahwa iman Muslim utuh dan lengkap terdiri dari tiga unsur: pengucapan dengan lidah (qaul bil lisan), pembenaran dalam hati (tasdiq bil qalb) dan pelaksanaan dengan anggota (amal bil arkan). Anasir iqrar, tasdiq dan amal, ketiga-tiganya sama perlunya dan sama termuat dalam perintah Alqur’an. Ketiganya berhubungan secara dialketis, artinya bila satu tergelincir, maka yang lain akan mengalami ketimpangan.

Di dalam rangka kesatuan unsur tasdiq berkembang ke arah ajaran hidup rohani, pengetahuan kebatinan dan perhatian pada rahasia-rahasia hati. Petunjuk-petunjuk untuk hidup rohani di dalam Alqur’an digali dan dipelajari secara sistematis dengan latar belakang pengalaman batin sendiri. Demikianlah disusun mazhab tasawuf yang merupakan pustaka berharga dalam tradisi Islam. Para sufi berusaaha untuk menemukan Tuhan dalam hatinya, agar mencapai cinta-kasih emosionil (hubb) dan cinta eskatis (`isq) kepada Tuhan. Diutamakanlah persatuan (ittisal) dengan Tuhan, bukan kesatuan (ittihad) yang berbau panteistik. Jalan rohani mereka melalui empat tingkat, yaitu syari`at, tariqat, hakikat sampai ma`rifat atau pengetahuan mistik. Pada tingkat tertinggi Tuhan sendiri menyaksikan kebenaran-Nya melalui kesaksian seorang sufi, yang dalam istilahnya disebut ‘kesatuan kesaksian’ (wahdat al syuhud).

Orang-orang yang tidak dapat mengikuti para sufi dalam perjalanan jiwa mereka, terutama ahli hukum dan para penguasa negara selalu menaruh rasa curiga terhadap kekhususan ajaran tasawuf. Dalam pandangan mereka yang seluruhnya berkisar pada persoalan halal-haramnya perbuatan manusia, mereka buta akan kebutuhan orang akan pemenuhan hasrat rohani. Menurut mereka tasawuf berbahaya. Kerjasama antara otak dan hati, antara akal dan perasaan, antara hukum lahir dan batin yang dicita-citakan dalam Islam semula tidak berjalan lancar. Akhirnya timbullah konflik terbuka.

Oleh mahkamah yang didominasi oleh ahli hukum (fuqaha) dan penguasa-penguasa duniawi, beberapa sufi yang berpengaruh dihukum mati seperti al-Hallaj, Ahmad al-Ghazali (saudara Muhammad al-Ghazali), dan Suhrawardi al-maqtul. Dalam putusan radikal itu gerakan tasawuf dalam Islam bubar. Tetapi arus mistik yang tak dapat dibendung di dalam Islam itu tetap muncul dan keluar serta tercampur dengan paham dan filsafat asing, dan akhirnya berbelok menjadi panteisme dan magik. Ibnu Arabi mengganti dalil wahdat al-syuhud dengan wahdat al-wujud, yaitu kesatuan substansi antara manusia dengan Allah. Maka peengaruh Ibnu Arabi itulah menjalar kemana-mana, ke dalam tariqat di Turki, di Afrka, praktek fakir-fakir di India, dan akhirnya ke dalam kebatinan di Indonesia. (subagya, 85-88)  

Dalam banyak aliran kebatinan, orang-orang dengan tanpa alasan wajar, menganggap perasaan sendiri adalah wahyu atau panggilan Tuhan. Untuk dapat membedakannya, dapat dilihat dari jalan atau cara yang membawa orang tersebut kepada pengalaman batin tertentu. Seorang yang beriman mendekati Tuhan dengan doa, amal saleh, renungan, cinta kepada sesama, pengekangan nafsu duniawi, itulah layak mengharapkan anugerah pengalaman rohani otentik. Tetapi dalam aliran-aliran kebatinan seringkali dijumpai teknik olah-rasa yang aneh-aneh, yang bersifat gaib dan magis, yang tidak memenuhi kaidah moral. Pastilah dalam hal sebegitu orang tidak merasai hadirat Tuhan, melainkan merasai sang aku sendiri saja. Mereka menipu dirinya sendiri. Kesadaran diri dianggap bernilai religius. Angan-angan sendiri dianggap panggilan Tuhan. Rasa panca indera dianggap pengalaman iman. Tegasnya: mereka hidup dalam ilusi dan ilusinya disiarkan kepada orang lain sebagai seruan yang berasal dari Tuhan.[11]

Dalam aliran kebatinan, ditentukan hari raya khusus untuknya, yaitu 1 Suro. Hampir diseluruh tanah jawa, 1 Suro dimeriahkan dengan berbagai acara dan kegiatan keagamaan sebagai penghormatan kepada hari tersebut. Aliran “Islam Sejati”yang bergerak di sekitar cirebon yang lebih bergerak kehinduan daripada keislaman berkehendak untuk menegakkan ‘Islam murni’, yang tidak berasal dari Arab, melainkan dari tanah jawa sendiri dan diciptakan oleh Wali Songo. Kalimat syahadat mereka yang kedua menyatakan kesaksian kepada ‘Arwah Wali Songo’.[12]

Kesamaan bahasa antara Islam dan aliran kebatinan, namun diartikan secara berbeda dan jauh dari maksud yang sebenarnya. Misalnya, dalam konsep tasawuf dipakai konsep ‘tidak ada’ (`adam). Seorang sufi yang mencapai tingkat pengetahuan mistik (ma`rifah), baginya dunia seolah-olah tidak ada. Tetapi aliran yang bernama Agama Adam Marifat meletakkan asas ajarannya pada pemujaan arwah suci bapak Adam, manusia pertama. (lihat, Subagay, 41-42)



Aliran Kebatinan dan Ajaran-ajarannya
Menurut Prof. Muhammad Muhsin Jayadiguna, aliran kebatinan di Indonesia dapat dibedakan dalam empat golongan:
  • golongan yang hendak menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk melayani berbagai keperluan manusia. Golongan ini ialah golongan yang mementingkan ilmu gaib.
  • golongan yang berusaha untuk mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan, selama manusia itu masih hidup, agar dengan demikian, manusia dapat merasakan dan mengetahui hidup yang baka sebelum manusia mengalami mati.
  • golongan yang berniat mengenal Tuhan, dan menembus alam rahasia “paransangkaning dumadi”, dari mana hidup manusia dan hendak kemana hidup itu akhirnya pergi.
  • golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta berusaha menciptakan masyarakat yang berdasarkan saling menghargai dan mencintai dengan senantiasa mengindahkan perintah Tuhan.[13] 
Golongan pertama yang mementingkan ilmu gaib dapat disebut dengan science occultes atau lebih singkat occultisme. Golongan kedua yang berusaha mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan dinamakan dengan mystic atau mistisisme. Golongan ketiga yang membahas “paran sangkaning dumadi” dinamakan ahli metafisik, yakni tentang hal-hal di luar alam. Golongan keempat yang mementingkan budi luhur, dinamakan moralist, alirannya adalah morale atau ethics.[14]

Pembedaan aliran kebatinan daalam empat golongan ini, mungkin memberi kesan bahwa empat bagian itu terpisah, satu daripada lainnya, tiap-tiap bagiannya berdiri sendiri. Menurut Rasjidi, jika sesuatu golongan hanya memikirkan moral saja, atau metafisik saja, atau mistik saja, atau melulu mempraktekkan ilmu gaib, maka itu lebih bersifat khusus dan pengecualian. Yang terbanyak dan umum adalah orang-orang yang mencampurkan empat macam bidang tersebut di atas, hal ini mudah dimengerti, karena bidang-bidang metafisik, mistik, moral dan occultisme, memiliki hubungan satu sama lain. Metafisik atau sangkan paraning dumadi merupakan suatu dasar konsepsi. Dari situlah orang dapat mengatur penghidupan mistik, dapat membentuk tesis-tesis moral, dan dari situ juga ilmu gaib atau science occulte dapat timbul.[15]

Mengenai asal nama dari “kebatinan” di Indonesia, Rasjidi mengemukakan beberapa hipotesis,[16] yaitu:
Kata kebatinan mungkin sebagai salinan dari arti: approfondisement de la vie interiure yang artinya memperdalam hidup. Dengan begitu, istilah kebatinan itu merupakan suatu manifestasi dari pengaruh teosofi.
Kemungkinan kedua, ialah bahwa bahwa kata kebatinan merupakan salinan dari perkataan occultisme, yaitu yang tersembunyi dan rahasia, apalagi telah diketahui bahwa banyak dari praktek-praktek kebatinan yang disebut ilmu gaib. Kemungkinan ketiga, bahwa kebatinan merupakan salinan dari kata Arab: bathiniyah yang berarti “di dalam”.

Dalam kepustakaan Islam kejawen, pengaruh ajaran tasawuf dan ajaran budi luhur sangat nyata terlihat. Demikian pula dengan istilah-istilah arab yang berkaitan dengan agama Islam dan ajaran tasawuf merupakan bagian dari kepustakaan Jawa. Tetapi pada umumnya, para sastrawan Jawa tidak banyak pengetahuannya tentang bahasa Arab dan agama Islam. Oleh karena itu, banyak istilah-istilah Islam yang diterjemahkan menurut tanggapan dan pemahaman para sastrawan itu sendiri. Ada yang jauh menyimpang dari pengertian yang sebenarnya, dan akibatnya, banyak terdapat uraian-uraian yang samar dan sulit dipahami. Dalam Serat Centini diuraikan sebgai berikut:

Ranakit pasangin dikir / setariah isbandiah / barjah jalalah suhule / tinokidken mring makrifat / pemancade maring kak / pemnacade maring kak / dedalan tarki tanajul / layaping panaul pana / (terdapat istilah-istilah tasawuf seperti zikir, Syatariah Isbandiah, barzah jalalah, ma`rifah, fana, yang tidak jelas maksud dan pengertiannya).[17]

Dengan bersamadi, para mistikus kebatinan merasai hadirnya Tuhan dalam dirinya. Bila semua rintangan telah ia lalui, ia merasakan kesatuan tak-mendua antara manusia dengan Tuhan yang istilahnya berbunyi: jumbuhing kawula-Gusti, pamor kawula-Gusti, ataupun tokid. Selanjutnya, ia menyadari dirinya sebagai Tuhan, pemikirannya bersifat wahyu, perkataannya dicatat oleh murid-murid, diciptakanlah kitab suci yang baru dan murid-murid jadi rasul baru. Missaalnya pemimpin aliran “Ilmu Sejati” di Jawa Barat menyatakan: “Aku menyaksikan tiada Allah selain aku dan bahwa rasaku adalah wakilku.”[18] Ucapan-ucapan sejenis ini sudah ada sejak zaman wali songo, dari mulai syeh Siti Jenar sampai para penyusun Suluk Centini.

Dalam tradisi Hindu disebutkan bahwa diri manusia (atman), bila beralih kepada tingkat mulia yang disebut paratman, merasa identik dengan Brahman. Adapaun ektase dalam mistikus kebatinan, kepribadiannya diganti oleh pribadi lain, yang disebut kerasukan atau majnun, dan suri. Usaha dan sarana untuk mencapai penggantian pribadi itu bermacam-macam: yoga, autosugesti, tari menari, kemenyan, kutug, rebana, zikir, ganja, gamelan dan lain sebagainya. Berkat latihan kebatinan, tercapailah identifikasi dengan yang maha kuasa, dan akhirnya menimbulkan kekuatan dan tenaga yang luar biasa dan tidak terdapat pada manusia normal. Segala hal ajaib sering terjadi, seperti, dapat bertelepati, meramal, bilokasi atau hadir dalam dua tempat pada waktu yang sama, dapat berbicara dengan bahasa yang tak dikenal (xenolali), daapat menggerakkan sesuatu tanpa menyentuhnya, dan sebagainya. Daya gaib seperti itulah yang sering ditonjolkan adalam aliran kebatinan. (subagya, 57)

Dalam Serat Saloka Jiwa disebutkan: membeberkan ilmu kesempurnaan, ajaran para guru masa lalu, sesungguhnya sebelum ada apa-apa, awang-uwung (keadaan kosong) ini, hanya Tuhan yang ada. Tuhan menciptakan cahaya nur ru`yah, lalu menjadi unsur-unsur, segera mengurai menjadi tanah, api, angin, (udara), dan air. Bumi (tanah) menjadi jasad, berkembang menjadi empat macam: darah, daging, tulang dan sumsum. Api berkembang menjadi empat macam nafsu: cahaya hitam (lawwamah), merah (amarah), kuning (sufiah), dan putih (mutmainnah). Angin berkembang menjadi 4 macam nafas, yakni; nafas, anfas, tanafas, nufus. Adapun air berkembang menjadi empat macam roh; roh-jasmani, roh-hewani, roh-nabati, dan roh-nurani. Sesungguhnya Tuhan itu, sebalum ada alam kososng ini, telah berada dalam nukat gaib, ibarat huruf alif bersifat wajibul wujud, berada pada manusia yang telah manunggal dengan Tuhan, tiada beda baginya di dunia dan di akhirat.[19]

Sejak semula, para ahli mistik dengan tegas membedakan antara ahli sufi sejati, yakni mutasawwif yang berusaha mencapai tingkat rohani yang lebih tinggi, dengan mustawif, yakni orang yang berpura-pura menjadi seorang sufi tetapi sebenarnya merupakan pengganggu yang tak berguna, dan bahkan membahayakan bagi orang yang mempercayainya.[20]

Dalam kepustakaan Jawa, kata wirid mendapat perhatian khusus, sesuai dengan pemahaman penulis Jawa. Dalam kepustakaan Jawa wirid adalah ajaran ilmu ma`rifat atau mistik, pada umumnya dituangkan dalam bentuk prosa. Sedangkan ajaran ilmu ma`rifat yang dituangkan dalam bentuk puisi atau sekar disebut suluk.

Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita di dalamnya memuat ajaran ilmu ma`rifat dan ajaran martabat tujuh. Karya ini dipengaruhi oleh ajaran martabat tujuh dari Syamsuddin Pasai dan Abdul Rauf Singkel. Selain itu, Wirid Hidayat Jati dipengaruhi oleh kepustakaan Jawa lainnya, yaitu Serat Centini dan Serat Dewa Ruci.ajaran martabat tujuh yang sebenarnya bersumber dari Kitab al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruhi Nabi, karya Muhammad ibn Fadh Allah dari Gujarat. Ajaran ini sampai di Jawa meungkin melalui komentar Syamsuddin Pasai, atau melalui penyebaran tarekat Syatariyah oleh murid-murid Abdul rauf Singkel. Tarekat Syatariyah di Jawa disebarkan oleh Abdul Muhyi, seorang murid dari Abdul Rauf, yakni di Priyangan. Pengikut tarekat Syatariyah segera menyebar ke cirebon dan tegal. Di daerah Tegal inilah muncul Serat Tuhfah, yang digubah dalam bahasa Jawa.

Martabat tujuh adalah suatu ajaran tentang penciptaan manusia dan alam semesta, dari tajalli Tuhan sebanyak tujuh martabat. Ajaran ini diambil sebagai kerangka pemikiran dalam Wirid Hidayat Jati, untuk menjelaskan tentang asal usul manusia. Ada tujuh unsur pembentuk manusia, dan ada tujuh martabat penghayatan gaib untuk kembali bersatu dengan Tuhan. Bahkan perkembangan janin dalam kandungan, hingga berbentuk manusia secara utuh, juga melalui tujuh martabat. Dalam serat ini disebutkan:
/marquee
Dari Hadis Qudsi, Hadis yang dimulai dari kata: Allah bersabda .., sabda Allah kepada Rasulullah: “Aku mendirikan istana dalam perut manusia yang Ku-sebut dada. Dalam dada kalbu, dalam kalbu jantung, dalam jantung budi, dalam budi jinem, dalam jinem sukma, dalam sukma rahasya (rasa), yaitu: Aku. Arti sabda Allah; anugerah Allah yang datang dalam rasa.[21]

Seorang mistikus santri menjelaskan bahwa salat malam (tahajjud) dapat membawa seseorang merasakan pengalaman mistis dan bisa mendekatkan jiwa kepada Allah. Salat malam yang dilakukan di masjid merupakan suatu bentuk meditasi, dan hal seperti ini lebih efektif dan aman daripada yang dilakukan para mistikus kejawen. Sementara kalangan mistik kejawen, berusaha menjadi ‘kosong’ dan mereka sering bermeditasi di hutan atau di pinggir kali. Menurut kalangan santri, hal ini berbahaya karena setan-setan justru hidup di daerah-daerah seperti ini dan bisa mengubah jiwa dalam badan spiritual. Bahaya ini akan tidak mungkin atau sangat sulit terjadi pada meditasi yang dilakukan di masjid karena setan tidak berani mengganggu di masjid.[22]

Wirid Hidayat Jati mengajarkan paham kesatuan antara manusia dengan Tuhan. Paham ini mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan, dan oleh karena itu, harus berusaha untuk dapat bersatu dengan Tuhan. Kesatuan kembali antara manusia dengan Tuhan di dunia bisa dicapai melalui penghayatan mistis, seperti pada umumnya dalam setiap ajaran mistis. Akan tetapi kesatuan yang sempurna antara manusia dengan Tuhan menurut Wirid Hidayat Jati sesudah datangnya masa ajal atau maut.

Manusia yang sanggup mencapai penghayatan kesatuan dengan Tuhan, akan menjadi orang yang waskitha dan menjadi manusia yang sempurna hidupnya. Yaitu orang yang tingkah lakunya mencerminkan perbuatan-perbuatan Tuhan, lantaran Tuhan bersabda, mendengar, melihat, merasakan segala rasa serta berbuat mempergunakan tubuh manusia. Dalam keadaan kesatuan seperti itu manusia berhak mengakui sebagai Tuhan, karena tuhanlah yang berbicara melalui mulut manusia. Maka dalam Wirid Hidayat Jati, penjelasan tentang Tuhan tidak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Dalam arti, manusia yang telah mencapai tingkat kesatuan dengan Tuhan. Dengan demikian, penjelasan tentang Tuhan dan tentang manusia selalu berkaitan satu dengan yang lain.

Jalan untuk mencapai kesatuan antara manusia dengan Tuhan adalah melakukan manekung amuntu samadi. Selain itu juga dapat dicapai dengan membaca suatu rumusan kata-katauntuk mengumpulkan kawula Gusti, yaitu sejenis rumusan kata-kata yang dipandang mempunyai daya magis. Rumusan kata-kata yang punya daya magis tersebut adalah sebagai berikut: Aku zat Tuhan yang bersifat Esa, meliputi hamba-Ku, manunggal-lah menjadi satu keadaan, sempurna lantaran kodrat-Ku.[23]

Konsepsi tentang Tuhan dalam Islam Kejawen berbeda dengan ajaran Alqur’an. Qur’an secara tegas mengatakan bahwa Tuhan adalah zat yang trancendent (berada di luar dan mengatasi alam semesta). Sebaliknya Wirid Hidayat Jati mengetengahkan konsepsi tentang Tuhan yang bersifat immanent. Tuhan dikatakan berada dalam diri manusia. Selain itu Alqur’an mengajarkan tentang paham tanzih, yaitu menyucikan Tuhan dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Sebaliknya dalam paham Islam kejawen, cenderung kepada paham tasybih, yaitu keserupaan antara manusia dengan Tuhan. Dalam istilah yang lain disebut panteisme.

Di dalam pertunjukan, stace juga membantah bahwa mistik Islam itu menjelma menjadi corak universal serupa ditemukan dalam paham Budha, Hindu, Yahudi, dan semacamnya. Bagaimanapun, perhatian teliti kepada status mistik Islam yang bertujuan fana kepada Allah akan mengungkapkan bahwa, sebagai contoh, bukan sama halnya, dengan nirwana, dan demikian juga, ketika mistik islam berbicara tentang ketiadaan dari pengalamannya dia tidak berarti hal yang sama dengan faham Cina ketika ia menyatakan Mu, atau ajaran Hinayanis dan Mahayanis ketika mereka menyatakan sun-yata. Yang dilibatkan dalam ketiadaan fana tidaklah hanya hilangnya identitas, tetapi juga baqa, hidup kekal di (dalam) allah. (Steven T. Katz, 53)

Dalam mistik kristen pada umumnya menyebutkan bahwa pengalaman mistik adalah penyatuan dengan tuhan. Sementara dalam agama hindu, salah satu dari pengalaman mistik adalah di mana individu identik dengan Brahman atau jiwa universal. Seorang Kristen mengatakan bahwa pengalamannya mendukung aliran ketuhanan dan bukanlah suatu pengalaman yang identik nyata dengan Tuhan, ia tidak memahami penyatuan sebagai penyertaan identitas tetapi beberapa hubungan lain seperti kemiripan. Orang hindu dengan tegas atas keidentikan tersebut, dan mengatakan bahwa pengalaman mistisnya menunjukkan apa yang oleh para penulis dalam mistisisme yang disebut panteisme.[24]
Daftar Pustaka
  • Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986
  • Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi: Dalam masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin, cet. 2, Jakarta: Pustaka Jaya, 1983
  • Harun Nasution, Falsafat & Mistisisme Dalam Islam, cet. 9, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
  • http://.wikipedia.org/wiki/Tasawuf
  • Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj. Hairus Salim, Yogyakarta: LkiS, 1999
  • M. Rasjidi, Islam & Kebatinan, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1992
  • Rahmat Subagya, Kepercayaan dan Agama, cet. 11, Yogyakarta: Kanisius, 1995
  • Simuh, Mistik Islam Kejawen: Raden Ngabehi Ranggawarsita, Jakarta: UI Press, 1988
  • Steven T. Katz (ed.), Mysticism and Philosophical Analysis, New York, Oxford University Press, 1978
FootNote
  • [1] http://id.wikipedia.org/wiki/Tasawuf
  • [2] Annemarie Scimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Pramono, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986, hlm. 1-2
  • [3] Lihat lebih lanjut, Carl A. Keller, Mystical Literature, dalam: Steven T. Katz (ed.), Mysticism and Philosophical Analysis, New York, Oxford University Press, 1978, hlm. 81
  • [4] Ibid.
  • [5] Harun Nasution, Falsafat & Mistisisme Dalam Islam, cet. 9, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, hlm. 56
  • [6] Simuh, Mistik Islam Kejawen: Raden Ngabehi Ranggawarsita, (Jakarta: UI Press, 1988) hlm. 1-2
  • [7] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 3
  • [8] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 23-24
  • [9] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi: Dalam masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin, cet. 2 (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), hlm. 416
  • [10] Lihat lebih lanjut; Geertz, Abangan..., hlm. 435-436
  • [11] Rahmat Subagya, Kepercayaan dan Agama: Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan, cet. 11 (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 19
  • [12] Subagya, hlm. 21
  • [13] M. Rasjidi, Islam & Kebatinan, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1992, hlm. 52
  • [14] Rasjidi, hlm. 52
  • [15] Rasjidi, Ibid.
  • [16] Rasjidi, hlm. 63-65
  • [17] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 52
  • [18] Subagya, hlm. 53
  • [19] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 53-54
  • [20] Schimmel, Dimensi Mistik…, hlm. 19
  • [21] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 280
  • [22] Mark. R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj. Hairus Salim, Yogyakarta, LkiS, 1999, hlm. 346-347
  • [23] Simuh, Mistik Islam..., hlm. 289-290
  • [24] Steven T. Katz, Language, Epistemology, and Mysticism, dalam Steven Katz (ed.), Mysticism and Philosophical Analysis, (New York, Oxford University Press, 1978) hlm. 29

Ibrahim Lubis

Penulis:

Judul Makalah: Dimensi Mistik dalam Islam Kebatinan
Semoga Makalah ini memberi manfaat bagi anda, tidak ada maksud apa-apa selain keikhlasan hati untuk membantu anda semua. Jika terdapat kata atau tulisan yang salah, mohon berikan kritik dan saran yang membangun. Jika anda mengcopy dan meletakkannya di blog, sertakan link dibawah ini sebagai sumbernya :

0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih