Mencari...

MUHAMMAD IQBAL | FILSAFAT TENTANG TUHAN DAN KHUDI

10:03 PM
Oleh : Sanusi Batubara 
Pendahuluan
Mohammad Iqbal
Mohammad Iqbal sebenarnya seorang failosof Muslim, beliau tidak suka kalau dirinya disebut sebagai seorang penyair. Nilai-nilai kebudayaan Islam hendak digaungkannya dan digunakan persajakan justru sebagai alat penjelma semata. Iqbal memang penyair yang hendak menggabungkan suatu pesan, dia telah mempelajari rahasia kehidupan dan inginlah dia menyampaikan rahasia ini kepada umat Islam.

Memang sulit tugas Iqbal, sebab hendak diwujudkannya kesatuan falsafah dengan cinta. Iqbal amat dalam tinjauannya tentang falsafash dan sejarah Islam, dalam pula telaahnya tentang filsafat barat. Ia melihat intelektualisme Hindi dan Pantheisme Islam membinasakan kemauan dan kesanggupan orang Islam untuk mengadakan suatu aksi dalam rangka menetuakan kejayaannya kembali seperti pada masa kejayaan Islam. Maka unti itu dibinalah semacam falsafah berasal dari hadist Nabi Muhammad SAW: “Tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Tuhan”.
Lalu Iqbal pun menantang para filisof idealis dan para penyair mistis yang menurutnya telah menyebabkan kemerosotan kejayaan Islam. Iqbal menyatakan bahwa dengan jalan menegaskan diri sendiri, menjelmakan dan menumbuhkan pribadi sebulat-bulatnya beserta memajukan wujud diri sendiri, orang Islam dapat menjadi Umat yang kuat dan merdeka kembali. 

Maka di dalam makalah yang sederhana ini, akan mencoba memberikan gambaran pendapat Mohammad Iqbal tentang Tuhan dan Khudi (Rahasia Pribadi).


Riwayat Hidup Iqbal
Mohammad Iqbal
Iqbal lahir di Sialkot (Punjab) tanggal 22 Pebruari 1873. Nenek moyangnya berasal dari Kashmir dan telah memeluk agama Islam kira-kira 300 tahun sebelumnya. Sesudah menamatkan pendidikan Sekolah Rendah dan menengah di Saikot maka ia pergi ke Lahore pada tahun 1895 untuk melanjutkan studinya. Ia berguru kepada seorang syekh yang telah mashur yakni Syamsul Ulema MirHasan. Selanjutnya ia meneruskan studinya ke Eropa. Di Eropalah pemikirannya berkembang. Iqbal wafat tanggal 21 April 1938.  

Pemikiran Iqbal Tentang Tuhan
Filsafat Iqbal tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun 1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu keindahan yang abadi, yang ada tanpa tergantung pada dan mendahului segala sesuatu dan karena itu menampakkan diri dalam semua itu. Ia menyatakan dirinya dilangit dan dibumi, dimatahari dan dibulan, pada kerlap kerlip bintang –bintang dan jatuhnya embun ditanah dan dilaut, diapi dan nyalanya, di batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, diwewangian dan nyanyian, tetapi dimana pun ia menunjukkan diri tidak lebih daripada yang nampak di mata Salimah, bahkan sebagaimana pada Dante; dimana pun, ia menampakkan diri tidak lebih dari pada yang tampak pada Beatrice. Seperti halnya besi ditarik oleh magnet, demikian pula segala sesuatu ditarik oleh Tuhan. 

Demikianlah, Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak hanya itu bahkan keseluruhan mewujudtan atau eksistensi adalah suatu yang fana.[1]

Secara umum telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti termuat diatas. Pemikiran seperti ni tidak sulit dicari sumbernya, pada dasarnya pemikiran seperti ini bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan sebagai keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari pengertian seks dan memberinya makn universal, konsep platonis ini sebagaimana yang diunghkapkan oleh Plaonus diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para ,istiukus patheistis menurut kepada Iqbalk sebagai suatu tradisi lama dalam puisi, parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis inggris. Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.

Masa kedua perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu,[2] disatu pihak dan cinta kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini mengalami perubahan.

Pertama, suatu kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam psimisme yang menyelinap ke dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang pribadi(self)yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi, usaha ,keputuisan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu, melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan dan rintangan.Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dsengan pedang.

Yang disebut dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri.Dunia yang terindera adalah ciptaan pribadi. Karena itu segala keindahanm alam merupakan bentukan hasrat-hasrta kita sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.

Tuhan sang hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut kepada yang bukan Tuhan.

Tuhan menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap DIA dengan cara sama seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia.Dengan menemukan Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.

Masa ketiga perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun 1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh.

Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada panggilan pribadi yang lain.[3] Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.

Ego mutlak tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles. Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan yang merdeka,suatu gerak kreatif.

Konsepsi Iqbal Tentang Khudi
Khudi dalam bahasa Parsi berarti pribadi. Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna. Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan Islam dibumi ini.

Syarat-syarat untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua, yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang akan datang sebagai suatu satuan didalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas. Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat, pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat –pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.

Khudi yakni ego yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri. Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup ialah pribadi.

Tuhan menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah.

Jadi mencari tuhan bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan) dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.

Maka menurut Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau khudi ialah:[4]

1. Tidak terikat oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.

2. Hanyalah lanjutan masa mengenai kepribadian

3. Kepribadian pada asasnya tersendiri dan Unik.

Sedangkan cita tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya, diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal Ialah:

1. ‘Isyq-o-muhabbat, yakni cinta kasih.

2. Faqr yang artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab bercita-cita yang lebih agung lagi.

3. Keberanian

4. Sikap tenggang rasa (tolerance)

5. Kasb-i-halal yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.

6. Mengerjakan kerja kreatif dan asli.


Kunjungi lebih banyak makalah di Aneka ragam Makalah selain Makalah MUHAMMAD IQBAL | FILSAFAT TENTANG TUHAN DAN KHUDI


DAFTAR PUSTAKA


Iqbal, Moh.,1976, Asrar-I Khudi:Rahasi-Rahasia Pribadi, Ter. Bahrum Rangkuti Jakarta: Bulan Bintang.
Syarif, M.M, 1984, Iqbal Tentang Tuhan dan Khudi, Jakarta: Mizan.


Footnote

[1] Bang-I Dara, h. 73.

[2] M.M. Syarif, Tentang Tuhan dan Keindahan, Terj. Yusuf Jamil, (Jakarta: Mizan, 1984), h. 30

[3] Iqbal dalam Syarif,.Hal.37.

[4] Iqbal , Asrari khudi : Rahasia-Rahasia Pribadi, Terj Bahrum Rangkuti, (Jakarta: Bulan Bintang), hal.25..



0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih