Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Makalah Pesantren: Karakteristik dan Unsur-Unsur Kelembagaan


BAB I
PENDAHULUAN
Makalah Pesantren: Karakteristik dan Unsur-Unsur Kelembagaan

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang muncul kemudian, pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader -kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dalam perkembangan pesantren telah mengalami transformasi yang memungkinkannya kehilangan identitas jika nilai-nilai tradisonalnya tidak dilestarikan.

Karena keunikannya itu maka pesantren hadir dalam berbagai situasi dan kondisi dan hampir dapat dipastikan bahwa lembaga ini, meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan karekteristik yang beragam, tidak pernah mati. Demikian pula semua komponen yang ada didalamnya seperti kyai atau ustad serta para santri senantiasa mengabdikan diri mereka demi kelangsungan pesantren.tentu saja ini tidak dapat diukur dengan standart system pendidikan modren dimana tenaga pengajarnya dibayar, karena jerih payahnya, dalam bayaran dalam bentuk material[1].

Disini pemakalah akan memaparkan sedikit sebenarnya apa saja yang menjadi karakteristik pesantren tersebut serta bagai mana sebenarnya unsur – unsur kelambagaan yang ada didalam pesantren tersebut. Untuk mengetahuui karakteristik pesantren tersebut , maka dapat dilacak dari berbagai segi yang meliputi dari keseluruhan system pendidikan yaitu materi pelajaran dan metode pengajaran, perinsip – perinsip pendidikan, sarana (unsure – unsure ) tujuan pendidikan pesantren, kehidupan kyai dan santri serta hubungan keduanya.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Pesantren: Karakteristik dan Unsur-Unsur Kelembagaan

A. Karakteristik Pesantren
Tradisi pesantren merupakan krangka system pendidikan Islam tradisonal di jawa dan Madura, yang dalam perjalan sejarahnya telah menjadi obyek peneliti para sarjana yang mempelajari Islam di Indonesia,.beberapa kumpulan karangan tentang pesantren yang ditulis oleh sekelompok intelektual Islam Indonesia turut membantu menambah pengetahuan kita tentang pesantren. Tetapi karangan – karangan ini belum membahas pesantren dalam kaitannya secara luas dengan struktur social, keagamaan, dan politik dari masyarakat Islam di pedesaan di Jawa. Peranan kunci pesantren dalam penyebaran Islam dan dalam pemantapan ketaatan masyarakat kepada Islam di Jawa telah dibahas oleh Dr. Soebardi dan Prof, Johns.

Lembaga – lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak keIslaman dari kerajaan – kerajaan Islam, dan memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok – pelosok. Dari lembaga – lembaga pesantren itulah asal – usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara, yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan oleh pengembara – pengembara pertama dari perusahan – perusahan dagang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke -16. untuk dapat betul – betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini , kita harus mulai mempelajari lembaga – lembaga pesantren tersebut, karena lembaga – lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah Indonesia[2].

Sebuah pesantren biasanya di jalankan oleh seorang kyai yang dibantu oleh sejumlah santri senior atau anggota keluarga yang lain. Pesantren adalah bagian penting kehidupan kyai karena ia merupakan tempat dimana ia mengembangkan ajaran dan pengaruhnya melalui pengajaran[3]. Karakteristik pemimpin di pondok pesatren yang mempunyai sejumlah sifat – sifat yang secara konsisten melekat kepada pemimpin pendidikan yang efisien. Sifat-sifat ini antara lain, rasa tanggung jawab, perhatian menyelesaikan tugas, enerjik, tepat, berani mengambil resiko, orisinal, percaya diri, terampil mengendalikan stres, mampu mempengaruhi dan mampu mengkordinasikan usaha pada pihak lain dalam rangka mencapai tujuan lembaga[4].

Guru atau ustadz merupakan komponen yang sangat penting dan menentukan dalam proses pendidikan islam. Menurut Abdullah Syafi’ie guru bukan hanya mentreansfer ilmu, tetapi juga pembentuk watak, karakter dan kepribadian anak didik. Selain itu, untuk dapat mencapai tujuan pendidikan di perguruannya, menurutnya, sangat dibutuhkan guru- guru yang berpaham agama “ ahl al-sunnah wa al- jama’ah” berakidah yang jelas, berilmu serta senantiasa meningkatkan ilmunya, memiliki jiwa yang ikhlas, dan bersikap bijak[5].

Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama, sedangkan sumber kajian atau mata pelajaran iyalah kitab – kitab dalam bahasa Arab. Pelajaran yang dikaji di pesantren adalah al-Qur’an dengan tajwidnya dan tafsirnya, aqa’id dan ilmu kalam, fiqh dan ushul fiqh, hadis dengan mustnalah hadis, bahasa Arab dengan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, bayan, ma’ani, badi’, dan urudh, tarikh, mantiq dan tasawuf. Kitab yang di kaji di pesantren pada umumnya kitab – kitab yang di tulis dalam abad pertengahan, yaitu antara abad ke -12 sampai dengan abad ke – 15 atau lazim disebut dengan kitab kuning[6].

Adapun metode yang lazim yang digunakan dalam pendidikan pesantren adalah, sorongan, wetonan, dan hapalan. Sorongan adalah sistem individual dalam sistem pendidikan Islam tradisonal. Yang di berikan dalam pengkajian kepada murid – murid yang telah menguasaai pembacaan Qur’an. Kemudian metode utama yang di gunakan dalam pengajaran pesantren ialah sistem bandongan atau yang sering kali di sebut dengan sistem weton. Dalam sistem ini sekelompok murid ( antara 5 samapi 500 ) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan sering kali mengulas buku – buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan – catatan ( baik arti maupun keterangan ) tentang kata – kata atau buah pikiran yang sulit. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut dengan haloqah belajar di bawah bimbingan seorang guru[7].

Metode hapalan adalah suatu metode dimana santri menghapal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya. Biasanya cara menghapal ini di ajarkan dalam bentuk syair atau nazham. Dengan cara ini memudahkan santri untuk menghapal, baik ketika belajar maupun di saat berada di luar jam belajar. Kebiasaan menghapal, dalam sistem pendidikan pesantren, merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak awal berdirinya. Hapalan tidak hanya terbatas pada ayat – ayat al – Qur’an dan hadis ataupun nazham tetapi juga isi atau teks kitab tertentu[8]. M sulton Masyhad dan Muhammad Khusnudiro dalam buku manajeman pondok pesantren mengatakan ada beberapa krakteristik pesantren yang mendasar antara lain :
  • Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai. Kyai sangat memperhatikan santrinya. Hal ini memungkinkan karena mereka sama – sama tinggal dalam suatu komplek dan sering bertemu baik di saat belajar maupun dalam pergaulan sehari – hari.
  • Kepatuhan santri kepada kyai. Para santri menganggap bahwa menentang kyai selain tidak sopan juga dilarang agama. Bahkan tidak memperoleh barkah karena durhaka kepada guru.
  • Hidup hemat dan sederhana benar – benar mewujudkan dalam lingkungan pesantren hidup mewah hampir tidak didapatkan disana.
  • Kemandirian amat terasa di pesantren. Para santri mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar tidurnya sendiri dan memasak sendiri.
  • Jiwa tolong menolog dan suasana persaudaraan ( ukhwah Islamiyah ) sangat mewarnai pergaulan di pesantren, ini disebabkan selain kehidupan yang merata di kalangan santri juga karena mereka harus mengerjakan pekerjaan – pekerjaan yang sama, seperti shalat berjama’ah, membersihkan masjid, dan ruang belajar bersama.
  • Disiplin sangat dianjurkan. Untuk menjaga kedisiplinan ini, pesantren biasanya memberikan sanksi – sanksi edukatif.
  • Keprihatinan untuk mencapai tujuan yang mulia. Hal ini sebagai akibat kebiasaan puasa sunat, zikir, dan I’tikaf. Shalat tahadjud dan bentuk – bentuk riyadhoh lainnya tau meneladani kyai yang menonjolkan sikap zuhud.
  • Pemberian ijazah. Yaitu pencantuman nama dan satu daftar rantai pengalihan pengetahuan yang diberikan kepada santri – santri yang berprestasi.
Ciri-ciri diatas menggambarkan pendidikan pesantren dalam bentuknya yang masih murni ( tradisonal ). Adapun penampilan pendidikan pesantren sekarang yang lebih beragam merupkan akibat dinamika dan kemajuan zaman yang telah mendorong terjadinya perubahan yang terus menerus sehingga lembaga tersebut melakukan berbagai adopsi dan adaptasi sedemikian rupa[9].

Dalam konteks ilmu pengetahuan,Abdullah Syafi’ie memandang semua ilmu baik dipelajari baik ilmu agama, maupun ilmu umum seperti ilmu kedokteran. Oleh karena itu, dengan kaitan dengan materi pendidikan Islam, ia melihat bahwa kandungan pendidikan Islam meliputi disiplin yang luas atau mencakup disiplin ilmu agama maupun ilmu umum[10]. Dalam kaitannya dengan respon keilmuan pesantren terhadap dinamika modernitas, setidaknya terdapat dua hal utama yang perlu diperhatikan. Keduanya merupakan upaya cultural keilmuan pesantren, sehingga paradigma keilmuannya tetap menemukan relevansinya dengan perkembangan kontemporer.

Pertama keilmuan pesantren muncul sebagai upaya pencerahan bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Dengan lain ungkapan keilmuan pesanteren pada kenyatannya harus dilihat sebagai produk sejarah yang karenanya tidak terlepas dari hukum sejarah.

Kedua, karena pesantern dipandang sebagai lembaga pendidikan, maka kurikulum pengajarannya setidaknya memiliki orientasi terhadap dinamika kekiniaan. Maksudnya adalah keilmuan pesanteren juga penting mengadopsi metode yang dikembangakn ilmu – ilmu social[11].

Di dalam pesantren mempunyai tujuan pendidikan yang menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bemamfaat bagi masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat, sebagai pelayan masyarakat sebagai mana kepribadian Nabi Muhammad ( mengikut sunnah Nabi), maupun berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan dalam kejayaan umat Islam di tengah – tengah masyarakat( ‘izzul Islami wal muslimin ), dan mencari ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia[12].

B. Unsur – Unsur kelembagaan Pesantren
Apa sebetulnya persyaratan – persyaratan pokok suatu lembaga pendidikan baru dapat di golongkan sebagai pesantren. Untuk itu perlu di lihat apabila telah mencukupi elemen – elemen pokok pesantren. Elemen-elemen pokok atau unsur – unsur pesantren itu adalah :

1. Pondok
Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisonal di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang ( atau lebih ) guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada didalam lingkungan kompleks pesantren di mana kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan – kegiatan keagamaan yang lain.komplek pesantren ini biasanya di kelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar dan masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pondok, asrama bagi para santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren, yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisonal di masjid – masjid yang berkembang yang berkebanyakan wilayah Islam di negara – negara lain.di jawa besarnya pondok tergantung dari jumlah santri. Pesantren besar yang memiliki santri lebih dari 3000 orang ada yang memiliki gedung bertingkat tiga yang dibuat dari tembok, semuanya ini biasanya dibiayai dari para santri dan sumbangan masyarakat .

Ada tiga alasan utama kenapa pesantren harus memiliki asrama bagi para santri. Pertama, kemasyuran seorang kyai dan kedalaman ilmu pengetahuan tentang Islam menarik santri – santri dari jauh. Kedua hampir semua pesantren berada di desa – desa dimana tidak tersedia perumahan ( akomodasi ) yang cukup untuk dapat menampung santri – santri, dengan demikian perlulah adanya suatu asrama khusus para santri. Ketiga, ada sikap timbal balik antara santri dan kyai, di mana para santri menganggap kyainya seolah – olah sebagai bapaknya sendiri, sedangkan kyai menganggap para santri sebagai titipan tuhan yang harus senantiasa dilindungi[13].

2. Masjid
Kata masjid merupakan bentuk isim makan ( keterangan tempat ), berasal dari kata sajada – yasjudu yang artinya tempat uantuk bersujud atau tempat orang beribadah[14].Secara harfiah masjid diartikan sebagai tempat duduk atau setiap tempat yang dipergunakan untuk beribadah. Masjid juga berarti tempat sholat berjamaah atau tempat sholat untuk umum ( orang banyak ).[15] Masjid diartikan juga adalah tempat sujud karena tempat ini setidak – tidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan shalat. Fungsi masjid tidak saja hanya untuk shalat, tetapi juga mempunyai fungsi lain seperti pendidikan dan lain sebagainya. Di zaman Rasullullah masjid berfungsi sebagai tempat ibadah dan urusan – urusan kemasyarakatan serta pendidikan[16].

Atau dengan perkataan lain Masjid adalah yang didirikan oleh sekelompok muslim atau individu untuk memenuhi kebutuhan suatu lokasi atau kelompok tertentu. Tidak membutuhkan ijin dari pemerintah, perawatan masjid dan gaji guru dari waqaf dan sedekah. Masjid dapat menentukan guru serta arah kegiatannya ditentukan sendiri[17]. Suatu pesantren mutlak mesti memiliki masjid, sebab disitulah akan dilangsungkan proses pendidikan dalam bentuk komunikasi belajar mengajar antara kyai dan santri. Masjid sebagai pusat pendidikan Islam telah berlangsuing sejak masa Rasulullah, dilanjutkan oleh Khulafa al – Rasyidin, dinasti bani Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah dan dinasti - dinasti lain. Tradisi itu tetap di pegang oleh para kyai pemimpin pesantren untuk menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan[18].

3. Santri
Menurut pengertian yang dipakai dalam lingkungan orang – orang pesantren, seorang alim hanya bisa disebut kyai bila mana memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut untuk memepelajari kitab – kitab Islam klasik. Oleh karena itu, santri merupakan elemen terpenting dalam suatu lembaga pesantren. Walaupun demikian menurut tradisi pesantren, terdapat dua kelompok santri yaitu:

Santri mukim yaitu murid – murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut merupakan biasanya kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari – hari. Mereka juga memikul tanggung jawab mengajar santri – santri muda tentang kitab – kitab dasar dan menengah.

Santri kalong yaitu murid – murid yang berasal dari desa – desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren untuk mengikuti pelajarannya di pesantren, mereka bolak – balik dari rumahnya sendiri. Biasanya perbedaan antara pesantren besar dan pesantren kecil dapat dilihat dari komposisi santri kalong. Semakin besar sebuah pesantren, akan semakain besar jumlah santri mukimnya.

Ada beberapa alasan seorang santri pergi dan menetap di suatu pesantren diantara lain adalah :
  • Ia ingin mempelajari kitab – kitab lain yang membahas Islam secara mendalam dibawah bimbingan kyai yang memimpin pesantren tersebut.
  • Ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren, baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren – pesantren yang terkenal.
  • Ia ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari – sehari di rumah keluarganya. Disamping itu dengan tinggal di sebuah pesantren yang sangat jauh letaknya dan rumahnya sendiri ia tidak mudah pulang balik meskipun kadang – kadang mengiginkannya[19].
  • Pengajar kitab – kitab Islam Klasik.
Kitab – kitab Islam klasik yang lebih popular dengan sebutan kitab kuning . kitab – kitab ini ditulis oleh ulama -ulama Islam pada abad pertengahan. Kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta mensyarahkan ( menjelaskan ) isi kitab – kitab tersebut. Untuk tahu membaca sebuah kitab dengan benar, seorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu – ilmu Bantu, seperti ilmu nahwu, syaraf, balaghah, ma’ani, bayan dan lain sebagainya[20].

Kitab kuning pada umumnya dipahami sebagai kitab – kitab keagamaan berbahasa Arab, menggunakan aksara Arab, yang dihasilkan oleh para ulama dan pemikir muslim lainnya di masa lampau khususnya yang berasal dari timur Tengah. Kitab kuning mempunyai format yang khas, dan warna kertas “kekuning kuningan”. Selain ulama dari timur Tengah dan ada juga kitab kuning ini di tulis oleh ulama Indonesia sendiri[21].

Pada jaman dahulu, pengajaran kitab - kitab Islam klasik, terutama karangan – karangan ulama yang menganut faham Syafi’iyah, merupakan satu – satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama pengajaran ini adalah untuk mendidik para calon ulama. Para santri yang tinggal di pesantren untuk jangka waktu pendek ( misalnya kurang dari satu tahun ) dan tidak bercita – cita menjadi ulama,mempunyai tujuan untuk mencari pengalaman dalam hal pendalaman perasaan keagamaan[22].

Menurut Azyumardi Azra sulit untuk melacak kapan waktu persis mulai terjadinya penyebaran dan demikian pembentukan awal tradisi kitab kuning di Indonesia. Historiografi dan berbagai catatan baik local maupun asing tentang penyebaran Islam di Indonesia, tidak menyebutkan judul – judul kitab yang digunakan di dalam masa – masa awal perkembangan Islam di kawasan ini[23].

4. Kyai
Sudah menjadi kebiasaan umum ( diseluruh dunia Islam ) bagi seorang ulama terkenal untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan agama. Di Arab Saudi, dan juga di Iran, madrasah merupakan lembaga seperti itu. Sedangkan di Indonesia, lembaga ini secara tradisonal disebut pesantren. Pesantren adalah system pembelajaran di mana para murid ( santri ), memperoleh pengetahuan keislaman dari seorang ulama ( kyai ) yang biasanya mempunyai beberapa pengetahuan khusus[24].

Kyai atau pengasuh pondok pesantren merupakan elemen yang sangat esensial bagi suatu pesantren. Rata- rata pesantren yang berkembang di Jawa dan Madura sosok kyai begitu sangat berpengaruh, kharismatik, dan berwibawa, sehingga amat disegani oleh masyarakat di lingkunagn pesantren. Disamping itu , kyai pondok pesantren biasanya juga sekaligus sebagai penggagas dan pendiri dari pesantren yang bersangkutan. Oleh karenanya, sangat wajar jika dalam pertumbuhannya, pesantren sangat bergantung peran seorang kyai[25]. Menurut asal – usulnya, perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda yaitu:
  • Sebagai gelar kehormatan bagi barang – barang yang dianggap keramat umpamanya “kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogyakarta.
  • Gelar kehormatan untuk para orang – orang tua pada umumnya .
  • Gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab – kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai, ia juga sering disebut seorang alim ( orang yang dalam pengetahuan Islamnya)[26].
Dalam perkembangannya, gelar kyai tidak lagi menjadi monopoli bagi para pemimpin atau pengasuh pesantren. Gelar kyai dewasa ini juga dianugrahkan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ulama yang mumpuni dalam bidang – bidang ilmu agama, walaupun yang bersangkutan tidak memiliki pesantren. Dengan kata lain, bahwa gelar kyai tetap dipakai bagi seorang ulama yang mempunyai ikatan primordial dengan kelompok Islam tradisional. Bahkan dalam banyak hal, gelar kyai ini juga sering dipakai oleh para da’i atau muballigh yang biasa memberikan ceramah agama ( Islam )[27]. Inilah beberapa unsure – unsure dalam kelembagaan pesantren yang menjadi tradisi sampai sekarang ini.

DAFTAR PUSTAKA
  • Abudin Nata Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga – Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta:PT Grafindo persada..2001)
  • Azrumardi Azra. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernitas Menuju Milenium Baru .(Jakarta : Logos.199 ).
  • Endang Turmudi. Perselingkuhan Kyai dan kekuasaan.. (Yogyakarta: LkiS. 2003).
  • Haidar Putra Daulay.Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. ( Bandung : Cita Pustaka Media.2001).
  • Hasan Asari.Menikap zaman Keemasan Islam. ( Bandung : Cita Pustaka Media, 2007)
  • Hasbi Indra. Pesantren Dan Tranformasi Sosial : Studi Atas Pemikiran Kh.Abdullah Syafi’ie Dalam Bidang Pendidikan Islam. (Jakarta : Penamadani .2005).
  • Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya.( Jakarta : Rajawali Pres. 1999).
  • HM..Amin Haedari, dkk. Masa Depan Pesantren.(Jakarta: IRD Press. 2004.)
  • Kamus Munjid fi al – luhgah wa al – I’lam. ( Beirut : Maktabah Syarqiyyah,.1986).
  • Kuntowijoyo. Budaya Dan Masyarakat, (Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.1987.)
  • M sulton Masyhad dan Muhammad Khusnudiro.. Manajeman Pondok Pesantren. (Jakarta: Dina Pustaka.2004).
  • Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren studi Tentang Pandangan Hidup Kyai..(Jakarta:LP3S.1994)
FOOTNOTE
-------------------------
[1] Abudin Nata Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga – Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta:PT Grafindo persada..2001).P100-1002
[2] Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren studi Tentang Pandangan Hidup Kyai..(Jakarta:LP3S.1994).P17-18
[3] Endang Turmudi. Perselingkuhan Kyai dan kekuasaan.. (Yogyakarta: LkiS. 2003.P.35
[4]. M sulton Masyhad dan Muhammad Khusnudiro.. Manajeman Pondok Pesantren. (Jakarta: Dina Pustaka.2004). P 32
[5]. Hasbi Indra. Pesantren Dan Tranformasi Sosial : Studi Atas Pemikiran Kh.Abdullah Syafi’ie Dalam Bidang Pendidikan Islam.( Jakarta : Penamadani .2005) P 191-192
[6]. Kuntowijoyo. Budaya Dan Masyarakat, (Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.1987). P. 44
[7]. Dhoifer P 28
[8]. Abudin Nata P.108
[9]. M sulton Masyhad dan Muhammad Khusnudiro. P 93-94
[10]. Hasbi Indra. P.175
[11]. HM..Amin Haedari, dkk. Masa Depan Pesantren.(Jakarta: IRD Press. 2004). P.78-79
[12]. Abudin Nata P.116.
[13]. Dhoifer P.44-47.
[14]. Kamus Munjid fi al – luhgah wa al – I’lam. ( Beirut : Maktabah Syarqiyyah,.1986).P.32.
[15]. Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya.( Jakarta : Rajawali Pres. 1999). P.132
[16]. Haidar Putra Daulay.Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. ( Bandung : Cita Pustaka Media.2001). P.70.
[17]. Hasan Asari.Menikap zaman Keemasan Islam. ( Bandung : Cita Pustaka Media, 2007) P 47.
[18]. Haidar Putra Daulay. P 70 – 71.
[19]. Dhoifer P.51- 52.
[20]. Haidar Putra Daulay. P. 71.
[21]. Azrumardi Azra. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernitas Menuju Milenium Baru .(Jakarta : Logos.199 ). P.111.
[22]. Dhoifer. P. 50.
[23]. Azyumardi Azra. P. 112.
[24]. Endang Turmudi.P.28.
[25]. HM. Amin Haedari,dkk. P. 28.
[26]. Dhoifer. P.55.
[27]. HM. Amin Haedari,dkk. P. 29

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis