Makalah Dinasti Mughal - Aneka Ragam Makalah
Mencari...

Makalah Dinasti Mughal

6:04 PM
Dinasti Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi, hal ini ditandai dengan puncak perjuangan yang panjang dalam membentuk sebuah dinasti di India yang memusat, yang merupakan suatu usaha membentuk sebuah kultur Islam yang didasarkan pada sebuah sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India. Dinasti Mughal didirikan oleh Zahiruddin Babur ( 1526-1530 M ), setelah ia berhasil menaklukkan Ibrahim Lodi penguasa dinasti Delhi di India.

Zaman keemasan Dinasti Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar Khan ( 1556-1605 M ). Akbar berhasil mencapai kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang diterapkannya mampu membawa Dinasti Mughal pada kemajuan di bidang ekonomi, pertanian, perdagangan dan lain-lain. Zaman keemasan ini masih mampu bertahan hingga pada tiga generasi penerusnya, yaitu Jahangir, Shah Jehan dan Aurangzeb.

Pada permulaan abad ke-18, Dinasti Mughal mulai memasuki masa kemunduran. Perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan adalah salah satu faktor yang menyebabkan kehancuran dinasti ini pada tahun 1858.

B. Berdirinya Dinasti Mughal

Kata “Mughal” dalam bahasa Parsi adalah panggilan bagi bangsa Mongol dan turunan Mongolia. Dinasti Mughal ( 1256-1858 M ) merupakan kekuasaan Islam terbesar pada anak benua India, yang didirikan oleh Zahiruddin Babur ( 1526-1530 M ), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana, sedangkan Ibunya adalah kerturunan Jengis Khan. Kekuasaaannya meliputi daerah India, Pakistan, Bangladesh dan Kashmir sekarang. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun.[1] Ia berambisi dan bertekad untuk menaklukkan Samarkhand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari raja Safawi, Ismail I, akhirnya ia berhasil menaklukkan Samarkhand tahun 1492 M dan pada tahun 1504 M Babur menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan.[2]

Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India yang saat itu diperintahkan Ibrahim Lodi yang sedang mengalami masa krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, ia meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lodi di Delhi. Permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi.[3]

Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat antara Ibrahim Lodi dan Zahiruddin Babur yang terkenal dengan pertempuran Panipat I. Ibrahim Lodi terbunuh dan kekuasaannya berpindah ke tangan Babur. Sejak itulah berdiri dinasti Mughal di India, dan Delhi dijadikan ibu kotanya.[4]

C. Perkembangan Dinasti Mughal

Berdirinya Dinasti Mughal menyebabkan bersatunya raja-raja Hindu Rajputh ( seperti Rana Sanga ) di seluruh India dan menyusun angkatan perang yang besar untuk menyerang Babur. Namun gabungan pasukan Hindu dapat dikalahkan Babur, sementara itu di Afghanistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi. Mereka mengangkat adik kandung Ibrahim Lodi, Mahmud menjadi sultan.. Tetapi sultan Mahmud Lodi dengan mudah dikalahkan babur dalam pertempuran dekat Gogra tahun 1529 M.[5]

Pada tahun 1530 M Babur meninggal dunia dalam usianya 48 tahun. Ia meninggalkan Wilayah kekuasaan yang luas, kemudian pemerintahan pun di pegang oleh anaknya Humayun.

Pada pemerintahan Humayun ( 1530-1540 dan 1555-1556 M ), kondisi negara tidak stabil karena ia banyak menghadapi tantangan dan perlawanan dari musuh-musuhnya.[6] Di antara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi.[7]

Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Humayun kalah dan melarikan diri ke Kendahar dan kemudian ke Persia. Di pengasingan ini dia menyusun kekuatannya dan di sinilah ia mengenal tradisi Syi’ah. Pada saat itu Persia dipimpin oleh penguasa Safawiyah yang bernama Tahmasp. Setelah lima belas tahun menyusun kekuatannya dalam pengasingan di Persia, ia kembali menyerang musuh-musuhnya dengan bantuan raja Persia. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan setelah lima belas tahun berkelana meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta kerajaan Muhghal pada tahun 1555 M.[8] Pada tahun 1556 M Humayun meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh anaknya Akbar Khan.

Akbar Khan ( 1556-1605 M ), sewaktu naik tahta berumur 15 tahun, sehingga pada masa awal pemerintahannya, Akbar menyerahkan urusan kenegaraan pada Bairam Khan, seorang Syi’i. Awal periode ini ditandai dengan berbagai pemberontakan. Bairam Khan harus menghadapi sisa-sisa pemberontakan keturunan Sher Khan yang masih berkuasa di Punjab. Selain itu pemberontakan yang mengancam pemerintahan Akbar adalah Hemu seorang penguasa Gwalior dan Agra.

Pasukan Hemu berusaha memasuki kota Delhi, Bairam Khan menyambut pemberontakan ini dengan mengerahkan pasukan yang besar. Pertempuran antara keduanya dikenal sebagai pertempuran Panipat II, terjadi pada tahun 1556 M. Pasukan Bairam Khan berhasil memenangkan peperangan ini, sehingga wilayah Agra dan Gwalior dapat dikuasai secara penuh.[9]

Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan mencoba untuk memberontak, tetapi usahanya ini dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai melakukan ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chritor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Admadnagar dan Ashgar.[10]

Stabilitas politik yang berhasil diciptakan oleh Akbar melalui sistem pemerintahan militeristik mendukung pencapaian kemajuan di bidang perekonomian, ilmu pengetahuan dan peradaban. Kemajuan di bidang ekonomi ditandai dengan kemajuan sektor pertanian dan perindustrian.

Setelah Akbar, maka penguasa selanjutnya adalah Jahangir ( 1605-1628 M ), putera Akbar. Jahangir penganut ahlussunnah wal jamaah. Pemerintahan Jahangir juga diwarnai dengan pemberontakan, seperti pemberontakan di Ambar yang tidak mampu dipadamkan.[11]Pemberontakan juga muncul dari dalam istana yang dipimpin oleh Kurram, puteranya sendiri. Dengan bantuan panglima Muhabbat Khar, Kurram menangkap dan menyekap Jahangir. Tetapi berkat usaha permaisuri, permusuhan ayah dan anak dapat didamaikan.

Akhirnya setelah Jahangir meninggal, Kurram naik tahta dan bergelar Muzaffar Shahabuddin Muhammad Shah Jehan Padshah Ghazi. Shah Jehan ( 1627-1658 M ), pemerintahannya diwarnai dengan timbulnya pemberontakan dan perselisihan di kalangan keluarganya sendiri. Seperti dari ibunya, adiknya Syahriar yang mengukuhkan dirinya sebagai kaisar di Lahore. Namun pemberontakan itu dapat diselesaikannya dengan baik. Pada tahun 1657 M, Shah Jehan jatuh sakit dan mulai timbullah perlombaan di kalangan anak-anaknya, karena saling ingin menjadi kaisar. Dalam pertarungan itu, Aurangzeb muncul sebagai pemenang karana telah berhasil mengalahkan saudara-saudaranya Dara, Sujak, Murad.[12]

Aurangzeb adalah sultan Mugahl besar terakhir yang memerintah mulai tahun 1658-1707 M.[13] Dia bergelar Alamgir Padshah Ghazi. Dia adal;ah pemnguasa yang berani dan bijak. Kebesarannyan sejajar dengna Akbar, pendahulunya. Di akhir pemerintahannya dia berhasil menguasai Deccan, Bangla dan Auid. Sistem yang dijalankan Aurangzeb banyak berbeda dengan pendahulunya. Kebijakan-kebijakan yang telah dirintis oleh raja-raja sebelumnya banyak diubah, khususnya yang menyangkut hubungan dengan orang Hindu. Aurangzeb adalah penguasa Muhghal yang membalik kebijakan konsiliasi dengan Hindu. Di antara kebijakannya adalah melarang minuman keras, perjudian, prostitusi dan penggunaan narkotika ( 1659 M _. Tahun 1664 dia juga mengeluarkan dekrit yang isinya tidak boleh memaksa wanita untuk salidaho, yaitu pembakaran diri seorang janda yang ditinggal mati suaminya, tanpa kemauan yang bersangkutan.. Akhirnya praktek ini dihapus secara resmi pada masa penjajahan Inggris.[14] Aurangzeb juga melarang pertunjukan musik di istana, membebani non muslim dengan poll-tax, yaitu pajak untuk mendapatkan hak memilih ( 1668 M ), menyuruh perusakan kuil-kuil Hindu dan mensponsori pengkodifikasian hokum Islam yang dikenal dengan Fatawa Alamgiri.[15]

Tindakan Ayrangzeb di atas menyulut kemarahan orang-orang Hindu. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan pemberontakan di masanya. Namun karena Aurangzeb sangat kuat , pemberontakan itu pun dapat dipadamkan. Meskipun pemberontakan-oemberiontakan tersebut dapat dipadamklan, tetapi tidak sepenuhnya tuntas. Hal ini terbukti ketika Aurangzeb meninggal ( 1707 M ), banyak wilayah-wilayah memisahkan diri dari Mughal dan terjadi pemberontakan oleh golongan Hindu.

Setelah Aurangzeb mmeninggal (1707 M ), maka Dinasti Mughal ini dipimpin oleh sultan-sultan yang lemah yang tidak dapat mempertahankan eksistensi kesultanan Mughal. Adapun penguasa-penguasa Mughal sesudah Aurangzeb antara lain : Bahadur Syah I ( 1707-1712 M ), Jihandar Syah ( 1712-1713 M ), Farryuk Siyar ( 1713-1719 M ), Muhammad Syah ( 1719-1748 M ), Ahmad Syah (1748-1754 M), Alamgir II (1754-1759 M ), Syah Alam ( 1759-1806 M ), Akbar Ii ( 1806-1837 M ), Bahadur Syah II ( 1837-1858 M ).[16]

D. Kemajuan Yang Dicapai Dinasti Mughal

1. Bidang Pemerintahan dan Sosial-politik

Sistem pemerintahan Dinasti Mughal adal;ah militeristik. Pemerintah pusat dipegang oleh sultan yang bersifat dictator. Pemerintah daerah dipegang oleh sipah salar atau kepala komandan, sedangkan sub distrik dipegang oleh faudjar ( komandan ). Jabatan-jabatan sipil juga memakai jenjang militer di man para pejabatnya diwajibkan mengikuti latihan militer.[17] Sistem yang menonjol adalah politik ini semua rakyat India dipandang sama . Mereka tidak dibedakan, karena perbedaan etnis dan agama. Secara umum politik “Sulakul

Bidang Ekonomi dan Keuangan
Bidang Intelektual ( Pendidikan dan aPengetahuan )
Bidang Arsitektur, Bahasa dan Sastra


Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah MAKALAH DINASTI MUGHAL, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com
Daftar Pustaka dan Footnote



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : Raja Grafindo Peresada, 2000 ), hal. 147

[2] Ibid

[3] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, ( yogyakarta : LESFI, 2002 ), hal. 184

[4] S.M. Ikram, Muslim Civilization In India, ( New York : Columbia University Press, 1965 ), hal. 136.

[5] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004 ), hal. 203

[6] Hamka , Sejarah Umat Islam, ( Singapura : Pustaka Nasional PTE.LTD, 1994 ), HAL. 504

[7] Syed Mahmudunnasir, Islam : Konsepsi dan Sejrahnya, ( Bandung : Rosdakarya, 1993 ), hal. 265-266

[8] C. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj. ( Bandung : Mizan, 1993 ), hal. 226

[9] K. Ali, Sejarah Islam ( Tarikh Pramodern ), ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997 ), hal. 354

[10] M. Mujib, The Indian Muslim, ( London : George Alen, 1967 ), hal. 254

[11] PM. Holt, dkk, The Cambridge History of Islam ( London : Cambridge University Press, 1970 ), hal. 45

[12] Syed Mahmudunnasir, Islam : Konsepsi dan Sejarahnya…..hal. 277

[13] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, ( Jakarta : Universitas Indonesia, 1985 ), hal. 85

[14] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, hal. 186

[15] K. Ali, Sejarah Islam ( Tarikh Pramodern )……, hal. 536

[16] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, hal. 186-187



[17] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Islam, …….. hal. 205
Ibrahim Lubis

Penulis:

Judul Makalah: Makalah Dinasti Mughal
Semoga Makalah ini memberi manfaat bagi anda, tidak ada maksud apa-apa selain keikhlasan hati untuk membantu anda semua. Jika terdapat kata atau tulisan yang salah, mohon berikan kritik dan saran yang membangun. Jika anda mengcopy dan meletakkannya di blog, sertakan link dibawah ini sebagai sumbernya :

0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih