Aneka Ragam Makalah

Pengumpulan Data

Dari berbagai penelitian kuantitatif, bahan-bahan pustaka merupakan sumber sekunder dari penelitian. Pentingnya pengumpulan data dalam penelitian merupakan langkah-langkah yang diatur dalam penelitian. Selain pada penelitian pengumpulan data, juga dalam menyusun dan merumuskan landasan teoritis dan kerangka konseptual. Menurut Lofland sumber data utama adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lainnya.

Berkaitan dengan hal itu makalah ini akan menjelaskan tentang jenis data dibagi kepada, angket questioner, waancara, observasi, analisis data dan lainnya[1].

1. Menggunakan Angket dan Quesioner

Penelitian, disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga memilih tekhnik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan tekhnik dan pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperoleh data yang objektif. Angket sebagai alat pengumpul data, berisi pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subjek/resfonden penelitian. Pertanyaan-pertanyaan pada angket, bisa berbentuk tertutup ( bersturuktur) dan bisa juga berbentuk terbuka(tidak berstruktur).[2] Dibawah ini akan diuraikan tekhnik penelitian sebagaimana cara yang dapat ditempuh untuk mengumpulkan data.
Angket

Untuk melakukan penelitian, angket sangat diperlukan[3]. Digunakan apabila responden jumlahnya besar, dapat membaca dengan baik dan dapat mengungkapkan hal-hal yang sifatnya rahasia. Untuk pengumpulan data atau pengetahuan yang akan diperoleh perlu kiranya mencatat data hasil observasi tersebut yang diantaranya adalah :

a) Cacatan anekdot : yaitu alat untuk mencatat gejala-gejala khusus atau luar biasa menurut urutan kejadian.

b) Cacatan berkala yaitu pencacatan yang dilakukan secara berturut menurut waktu munculnya suatu gejala dan tidak dilakukan secara terus menerus, melainkan pada waktu tertentu, dan terbatas pula pada jangka waktu yang ditetapkan untuk setiap pengamatan

c) Daftar cek yaitu penataan data yang dilakukan dengan mempergunakan sebuah daftar yang memuat nama obsever disertai dengan jenis gejala yang akan diamati

d) Skala nilai yaitu pentatan data dengan cara men-chek list. Perbedaannya terletak pada kategorisasi gejala yang dicatat

e) Peralatan mekanis yaitu pencatatan data tidak dilakukan pada saat observasi langsung, karena data diambil denga cara menggunakan alat elektronik dan sesuai dengan keperluan.

Di bawah ini beberapa contoh pertanyaan yang diajukan terhdap questioner yang diantaranya adalah :

1. Apakah agama yang anda anut ?

a. Islam

b. Katholik

c. Kristen Protestan

d. Hindu

e. Budha


Apakah anda termasuk mahasiswa yang memperoleh beasiswa ?

a. Ya

b. Tidak[4]


Wawancara

Untuk semakin objektifnya penelitian tentunya seorang peneliti harus melakukan wawancara. Pengertian wawancara bisa dikategorikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yaitu yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yaitu memebrikan jawaban dari atas petanyaan-pertannyaan.[5]

Setiap peneliti kebanyakan telah melakukan suatu wawancara, beberapa dari mereka melakukannya dengan efisiensi, sementara yang lainnya memperoleh kegagalan dalam informasi yang dikehendaki.[6] Wawancara sangat sangat diperlukan, terutama pada penaksiaran penelitian bidang wawancara kualitatif.

Menurut Patton cara pembagian wawancara di bagi sebagaimana berikut : (1) Wawancara pembicaraan informal (2) pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (3) wawancara baku terbuka. Pembagian wawancara yang dilakukan Patton di dasari atas perencanaan pertanyaan. Ketiganya di jelaskan secara singkat di bawah ini.

a. Wawancara pembicaraan informal dengan mengjukan pertanyaan yang bergantung pada pewawancara itu sendiri, jadi bergantungnya secara spontanitas ketika mengajukan pertanyaan kepada terwawancara

b. Pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara yaitu dengan membuat kerangkan dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan dan tidak tidak perlu dipertanyaan secara berurutan. Demikian pula pewawancara dengan penggunaan kata-kata untuk wawancara dalam hal tertentu tidak perlu dilakukan sebelumnya.

c. Wawancara baku terbuka ini adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya sama untuk setiap resfonden. Keluwesan untuk mengadakan pertanyaan pengalaman (probling) terbatas, dan hal bergantung pada situasi wawancara dan kecakapan pewawancara.[7]

Pada jenis wawancara pertanyaan akan diajukan sangat tergantung pada pewawancara itu sendiri, kebergantungan ini meliputi spontanitas dalam mengajukan pertanyaan kepada orang yang diwawancara. Hubungan pewawancara dengan orang yang diwawancarai adalah suasana biasa, wajar, sedangkan pertanyaan dan jwabannya seperti pembicaraan biasa yaitu alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan. Ciri utama dari wawancara ini adalah dengan kontak langsung atau tatap muka antara peneliti dengan objek. Untuk mendapatkan informasi yang tepat dan objektif harus menciptakan hubungan baik dengan responden dan mengadakan raport ialah suatu situasi psikologis yang menunjukkan bahwa responden bersedia bekerjasama, bersedia menjawab pertanyaan dan memberi informasi sesuai dengan pikiran dan keadaan yang sebenarnya.

Keadaan ini akan menciptakan suatu suasana, dimana responden meresahkan adanya kehangatan dan sikap simpatik, merasakan kebebasan untuk berbicara bahkan terangsang untuk berbicara dan yang terpenting lagi, bahwa kesan pertama dari penampilan peneliti sangatlah penting untuk menjalin kerjasama. [8]

Selanjutnya akan dilakukan pengujian validitas instrument yang diantaranya : pengujian validitas internal (rasional)[9] Selanjutnya pengujian validitas isi dengan membendingkan isi instrument dengan isi objek yang telah diperoleh dan selanjutnya dan validitas eksternal yaitu membandingkan antara criteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta emfiris yang didapatkan setelah melakukan observasi.


Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa sehingga observasi berada bersama objek yang diselidiki, disebut dengan observasi langsung, sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang melakukan observasi agar penggunaan tekhnik ini dapat menghimpun data secara efektif berikut ini[10] :
Memilikan pengetahuan yang cukup mengenai objek yang di observasi.
Memahaman tujuan umum dan tujuan khusus penelitian yang dilaksanakannya.
Menentukan cara dan alat yang pergunakan dalam pencatatan data objektif
Menentukan kategori pendapatan gejala yang diamati, apakah dengan menggunakan skala tertentu atau sekedar mentatat frekuensi munculnya gejala tanpa klasifikasi tingkatannya sehingga perumusan dengan tegas dan jelas ciri setiap kategori sangat perlu
Mengamati dan proses pencatatan harus dilakukan secara cermat dan kritis
Pencacatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah agar tidak saling mempengaruhi dan seterusnya.

Dalam pengumpulan data atau pengetahuan yang akan diperoleh perlu kiranya mencatat data hasil observasi tersebut yang diantaranya adalah :

a) Cacatan anekdot : yaitu alat untuk mencatat gejala-gejala khusus atau luar biasa menurut urutan kejadian.

b) Cacatan berkala yaitu pencacatan yang dilakukan secara berturut menurut waktu munculnya suatu gejala dan tidak dilakukan secara terus menerus, melainkan pada waktu tertentu, dan terbatas pula pada jangka waktu yang ditetapkan untuk setiap pengamatan

c) Daftar cek yaitu penataan data yang dilakukan dengan mempergunakan sebuah daftar yang memuat nama obsever disertai dengan jenis gejala yang akan diamati

d) Skala nilai yaitu pentatan data dengan cara men-chek list. Perbedaannya terletak pada kategorisasi gejala yang dicatat

e) Peralatan mekanis yaitu pencatatan data tidak dilakukan pada saat observasi langsung, karena data diambil denga cara menggunakan alat elektronik dan sesuai dengan keperluan.[11]





4. Men ggunakan Tes

Langkah selanjutnya dalam penelitian adalah dengan menggunakan tes, yaitu seperangkat ransangan atau stimulus kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapannya (biji-angka seseorang ) yang berkenaan dengan karakteristik/variable tertentu yang hendak diukur, untuk mengukur da melukiskan aspek-aspek tertentu dari atingkah-laku manusia. Ditiliti dari tujuannya, tes bisa dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu ;

(1) tes prestasi belajar ( achievement test) dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar seseorang pada suatu bidang pengetahuan atau keterampilan :mengukur tingkat performant individu sehingga bisa menetapkan status atau posisi sesuatu individu atau kelompok did lam pengusaannya terhadap suatu bidang pengetahuan atau keterampilan tertentu.

(2) tes intelegensi atau kecerdasan yang belakangan ini lebih cenderung disebut dengan " tes kemampuan skolastik " ( scholastic aptitude test ) dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan umum seseorang guna untuk mendapatkan tingkat kafasitas atau potensi kecendasan seseorang. Dalam penelitian, kecerdasanya lazimnya di tempatkan sebagai variable yang berkenaan dengan performans dari responden subjek penelitian pada sesuatu hal.

(3) tes kepribadian (personality meansurement )dimaksudkan untuk mendapatan ukuran kepribadian seseorang, apakah berkenaan dengan sikap, motivasi, minat, ataukah " gangguan kejiwaan ". Pengukuran kepribadian tersebut, biasa dilakukan dengan menggunakan tekhnik seperti, (1) tekhnik inventory (2) tekhnik skala penilaian ( rating scale) (3) tekhnik proyektif dan (4) tekhnik skala sikap ( attitude scale )[12]

5. Studi Dokument

Penelitian yang berorientasi kepada dokument membahas empat pokok persolan, antara lain :

1. Dokumen pribadi

Penelitian ini tentang cacatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tidakan, pengalaman dan kepercayaannya. Maksud dari pengumpulan dokumen pribadi adalah untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi sosial dan arti berbagai factor sekitar subjek untuk menuliskan pengalaman berkesan mereka, hal ini dipandang juga sebagai dokumen pribadi.[13]

2. Dokumen Resmi

Dokumen resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat tertent yang digunakan dalam kalangan sendiri. Termasuk di dalamnya risalah atau laporan rapat, keputusan pemimpin kantor, dan semacamnya. Dokumen demikian dapat menyajikan informasi tentang keadaan, aturan, disiplin, dan dapat memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan.

Dokumen eksternal berisi bahan-bahan informasi yang di hasilkan oleh suatu lembaga sosial, misalnya majalah, bulletin, pertanyaan, dan berita yang disiarkan kepada media massa. Dokumen eksternal dapat dimamfaatkan untuk menelaah konteks sosial, kepimimpinan dan lain-lain.


References and Footnote


Daftar Pustaka



Ahmad, Selamat Triono, Kumpulan Makalah Medologi Peneltian. Medan,tt.



Chulsum, Umi & Windy Novia, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko, 2006.



Davies,Ivor K., Pengelolaan Belajar:Seri pusyala Tekhnologi Pendidikan N0.8. Jakarta: Rajawali Pers,1986.



Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia. Judul asli, An English-Indonesia Dictionary. Jakarta: PT.Gramedia, 1990.



Faisal, Sanafiah, Format-format Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.



Goode dan Hatt, Metode-metode Penelitian Sosial: di sadur oleh Imam Munawir. Surabaya: Usaha Nasional,tt.



Harjanto, Perencanaan Pengakaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2005.



Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan.Semarang: Rineka Cipta, 1996.



Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya, 2006.



Sudjana, Nana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru, 1989.



Sugeng, Nyoman Sudana, Ilmu Taksonomi Variabel. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dan Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, 1989.








[2]Sanafiah Faisal,Format-format Penelitian(Jakarta:Raja Grafindo Persada,2001),h.122. Disebut suatu pertanyaan bersturuktur apabila jawaban pertanyaan tersebut telah tersedia "kemungkinan pilihannya", sehingga resfonde tinggal memilih yang sesuai.

[3]Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan(Semarang:Rineka Cipta, 1996),h.158-160.yaitu data yang didasari atas pendapat objek yaitu data yang diinginkan ataupun pernyataan tertulis mengenai, data yang perlukan dengan ruang untuk memilih jawaban atau mengisi jawaban setiap pertanyaan yang diberikan peneliti kepada objek.

[4]Faisal,Format-format,h.123.dua contoh ini adalah pertanyaan tertututp dan tidak tertutup, dikonstruksikan dari pertanyaan tertutup atau berstuktur kadang-kadang disebut dengan angket terbatas atau pertanyaan terbatas.

[5]Moleong, Metologi Penelitian Kualitatif(Bandung:Rosdakarya, 2006),h.186

[6]Goode dan Hatt, Metode-metode Penelitian Sosial: di sadur oleh Imam Munawir(Surabaya: Usaha Nasional,tt),h.228-229.sebagai percontohanya adalah wawancara terhadap propek penjualan suatu usaha bangunan di mana seseorang penjual itu menjadi seorang pewawancara, juga seorang yang menanyakan masalah-masalah kemiskinan atau kembali kepada masalah-masalah yang berhubungan dengan daerah.

[7] Lihat Moelong,h. 187-188

[8]Selamat Triono Ahmad, Kumpulan Makalah Medologi Peneltian(Medan,tt),h.161

[9]Ibid,Triono Ahmad. Untuk menciptakan kerjasama dan membina hubungan manusiawi yang baik ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut di bawah ini : (a) Pastisifasi yaitu penerimaan dan keikutsertaan interviewer dalam kegiatan interviu sehingga tanya-jawab berlangsung dalam suasana yang wajar, (b)Identifikasi yaitu perkenalan dan pendekatan interviewer sehingga dapat dirsakan sebagai teman atau orang seperjuangan yang memiliki cita-cita yang sama. Interviewer jangan bersikap egoistic yang mementingkan diri sendiri dan tidak menghargai orang yang diinterview, (c)Persuasi yaitu sikap sopan dan ramah dalam bertanya. Menumbuhkan keyakinan pada diri interviewer bahwa informasi yang akan disampaikan sangat penting sehingga harus dekemukakan secara lengkap dan sejujurnya. Experts judgement yaitu setelah instrument dikonstruksi tentang aspek-aspek yang diukur dengan berlandaskan teori tertentu dan dikonsultasi kepada para ahli dan analisis factor yaitu persetujuan para ahli instrumen akan diuji-cobakan kepada sampel yang rata-rata 30 orang kemudian data akan ditabulasi dan dianalisis.

[10]Lihat Margono,h.158-160

[11]Margono, Metodologi ,h. 76



[12]Faisal,Format-format,h138-139. lihat Imam Munawir, Metode-metode Penelitian,h.435. Sesungguhnya, masalah analisis data melibatkan seluruh pertanyaan yang dilibatkan dalam pembahasan tentang disain penelitian sebab analisanya harus benar-benar melibatkan perencanaan dan merencanakan kembali sebagai pengganti dari percobaan yang terkontrol. Ini menunjukkan bahwa ada dua type pertanyaan tentang analisa yang mungkin dapat disajikan. Salah-satu diantaranya, berhubungan erat dengan cara menunjukkan data, dan yang lain pada metode pengaturan tingakat logis, sehingga pertanyaan dapat diajukan serta dapat dijawab.

[13] Moleong, Metologi Penelitian,h.218-219. (1) buku harian yaitu buku-buku yang ditulis dengan memberikan tanggapan tentang peristiwa-peristiwa di sekitar penulis (2) Surat pribadi antara seseorang dengan anggota keluarganya yang antaranya tentang masalah atau pengalaman yang berkesan dari penulis (3) otobiografi banyak di tulis oleh orang-orang tertentu seperti guru atau pendidik terkenal, pemimpin masyarakat, bahkan oran biasapun ada juga yang menulis. Ada bermacam-macam tujuan penulisan otobiografi, antara lain karena seseorang senang menulis, dan kesenangan sastra.
Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis