Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
 UsiTech

Timbulnya Pemikiran Falsafah



Makalah Timbulnya Pemikiran Falsafah

Sejarah timbulnya pemikiran falsafah di kalangan umat Islam tidak dapat kita lepaskan dari sejarah penterjemahan buku-buku dari Yunani, Persia dan lainnya pada masa kerajaan Daulat Bani Abbasyiyah terutama masa kekuasaan khalifah al-Makmum dan Harun ar-Rasyid, saat itu gencarnya umat Islam mempelajari ilmu-ilmu dari Yunani termasuk di dalamnya ilmu falsafah. Keadaan ini berlangsung sampai pemerintahan Daulat bani Umayyah di Andalusia.

Dalam perkembangannya usaha mempelajari falsafah ini diiringi dengan melahirkan beberapa konsep falsafah dalam Islam, namun usaha yang dilakukan oleh sebagian orang Islam ini tidak terlepas dari gangguan dan ketidak sesuaian sebagian umat Islam, yang intinya mereka menganggap bahwa ajaran falsafah ini merupakan warisan dari ilmu Yunani yang tidak sesuai konsepnya dengan Islam.

Dari perkembangan falsafah telah melahirkan beberapa tokoh-tokoh dengan karyanya masing-masing, bila dikaji biografi para tokoh tersebut terlihat mereka merupakan ilmuwan Islam yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang, sebagai kontribusinya kepada umat Islam terlihat adanya penambahan ilmu terhadap dunia Islam, hal ini selain sebagai kemajuan dalam peradaban Islam juga sebagai penambah wawasan dikalangan umat Islam itu sendiri.


1. Pendahuluan

Islam sebagai ajaran agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad saw membawa ajaran-ajaran tentang keimanan, akhlak, ibadah, tarekh dan muamalah. Dalam perihal muamalah beberapa ayat Alquran telah mengupas tentang kewajiban manusia terhadap sesamanya, tuntunan untuk mendalami ilmu pengetahuan, hubungan manusia dengan orang Islam serta orang kafir, hubungan manusia dengan orang tua, tetangga dan lainnya.

Umat Islam generasi awal pada zaman klasik telah berusaha mempelajari dan mengembangkan konsep-konsep ilmu pengetahuan yang sebagian besar mereka ambilkan dari ilmu pengetahuan Yunani, Persi dan Byzantium. Salah satu ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa tersebut adalah falsafah Islam, umat Islam waktu itu telah berusaha dengan semampunya untuk mempelajari falsafah dari ilmu-ilmu Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan diberikan nuansa-nuansa ke-Islaman.

Upaya penterjemahan dan pengembangan ilmu falsafah ini berlangsung mulai pada masa pemerintahan Daulat Bani Abbasiyah sampai zaman kemunduran umat Islam, sehingga melahirkan beberapa orang tokoh falsafah Islam dengan teori-teori yang dikemukannya. Upaya mempelajari ilmu falsafah ini lebih banyak mereka adopsi dari ilmu falsafah Yunani, namun satu perbedaan yang tampak adalah dengan disesuaikannya konsep ilmu falsafah dengan ketentuan Alquran dan hadis Nabi saw sehingga melahirkan suatu ilmu baru yang dinamakan dengan falsafah Islam.

Untuk mengetahui timbul dan perkembangan ilmu falsafah dalam Islam maka penulis mencoba menulis makalah ini, untuk tidak melebarnya isi makalah, penulis membatasinya dengan latar belakang timbulnya pemikiran falsafah dalam Islam, tokoh-tokoh serta ajaran-ajaran dasarnya serta implementasinya terhadap kehidupan umat Islam, penulis akhiri makalah ini dengan memberikan kesimpulan dari pembahasan di atas.

2. Latar Belakang Timbulnya Pemikiran Falsafah dalam Islam

Kata-kata falsafah merupakan bentuk kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu philosopia, yang terdiri atas dua kata yakni philein berarti mencintai dan sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan (Inggris: love of wisdom, Belanda: wijsbegeerte, Arab: muhibbu al-Hikmah ).[1] Sedangkan menurut istilah bahasa Indonesia dijadikan filsafat yang diambilkan dari kata barat fil dan safat dari kata Arab sehingga terjadilah gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat.[2]

Secara istilah pengertian filsafat Islam disebutkan oleh beberapa ulama sebagai berikut:

a. Menurut Ibrahim Madkur, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu, akal, agama dan filsafat.

b. Ahmad Fuad al-Ahwaniy, filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam

c. Muhammad Athif al-Iraqi, filsafat Islam secara umum di dalamnya tercakup ilmu kalam, ilmu ushul fiqh, ilmu tasawuf dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh intelektual Islam. Pengertiannya secara khusus adalah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran filosofis yang dikemukakan para filosof muslim.[3]

Dalam kaitan dengan filsafat Islam ini terdapat dua pendapat mengenai penamaannya, sebagian pendapat menamakannya dengan filsafat Arab dan sebagian lainnya menamakannya dengan filsafat Islam.

Penamaan disiplin ilmu ini dengan filsafat Arab mengemukakan tiga alasan yakni:

a. Prediket “Arab” diberikan kepada ilmu ini karena bahasa yang dipergunakan dalam pengungkapannya adalah bahasa Arab. Maurice de Wulf sebagai pendukung pendapat ini menyatakan istilah Islam tidak tepat menjadi ciri dari ilmu ini, karena hal itu mengharuskan orang-orang menelaah buku-buku selain berbahasa Arab misalnya Urdu, Persia sedangkan karya yang diteliti itu bertuliskan Arab tanpa memperhatikan agama penulisnya.

b. Dengan memberi cap Islam pada ilmu ini berarti diharuskan menghilangkan sejumlah tokoh pemikir dan penterjemah yang bukan beragama Islam dan tidak sedikit jasanya dalam membangun kembangkan ilmu ini tetapi masih dalam rumpun beragama Majusi, Nasrani, Yahudi dan Shabiah.

c. Sejarah Arab lebih tua dari sejarah Islam. Islam lahir dikalangan bangsa Arab, disebar luaskan oleh bangsa Arab, maka seluruh kebudayaan yang berada di bawah pengaruh sejarah bangsa ini haruslah diberi prediket “Arab” termasuk filsafatnya.[4]

Sebagian lagi menamkannya filsafat Islam dengan mengemukakan beberapa alasan yaitu:

a. Para filosof yang tercatat memberikan sumbangan pengetahuannya kepada perkembangan ilmu itu sendiri menamakannya dengan filsafat Islam. Filosof tersebut antara lain al-Kindi, al-Farabi dan ibn Rusyd.

b. Bahwa Islam bukan hanya sekedar nama agama, tetapi juga mengandung unsur kebudayaan dan peradaban. Sejak lahirnya Islam telah merupakan kekuatan politik yang telah berhasil mempersatukan berbagai suku bangsa menjadi satu umat dalam kekhalifahan Islam. Dengan memberikan prediket Arab berarti harus dikeluarkan para filosof yang bukan berbangsa Arab, padahal jumlah mereka lebih banyak, antara lain ibn Sina, al-Ghazali dan ibn Khladun. Jadi dengan prediket Islam kan lebih umum dibanding Arab sehingga keseluruhan tokoh-tokoh dimaksud tercakup di dalamnya.

c. Filsafat Islam tidak mungkin terbina tanpa dakwah Islamiyah dan persoalan yang dibahas juga persoalan agama Islam, maka adalah tepat menamakannya filsafat Islam.[5]

Filsafat Islam mulai berkembang dikalangan umat Islam mulai abad ke-7, di mana saat itu umat Islam di bawah kepemimpinan daulat Bani Abbasiyah tengah gencarnya melakukan penterjemahan buku-buku dari Yunani, termasuk di dalamnya beberapa buku-buku filsafat karangan Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya. Dengan adanya penterjemahan ini umat Islam mulai mempelajari konsep-konsep ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada zaman Yunani kuno ditambah dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah lahir pada masa Persia dan Romawi.

Dengan gencarnya umat Islam melaksanakan penterjemahan ini semakin banyak diikuti oleh masyarakat terutama semenjak didirikannya beberapa perpustakaan oleh penguasa waktu itu, tempat ini selain sebagai perpustakaan juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan penterjemahan. Perpustakaan yang didirikan diantaranya Bait al-Hikmah yang didirikan oleh khalifah al-Makmun tahun 833 di Baghdad, Jami’at al-Azhar yang didirikan oleh khalifah Hakam di Kairo tahun 972, dan beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan di daerah Bashrah, Fustat, Samarrah dan Nishapur.[6]

Upaya penterjemahan tersebut diikuti dengan mempelajari ilmu filsafat oleh umat Islam waktu itu, adapun cara yang dilakukan oleh para filosof Islam terhadap filsafat Yunani adalah:

a. Mengulas pemikiran-pemikiran filsafat Yunani, kemudian melenyapkan terhadap kejanggalannya dan mempertemukan pemikiran filsafat yang kontroversi.

b. Mengadakan keterpaduan antara pihak filsafat dan agama.[7]

Filsafat Islam pada awalnya mengalami perkembangan yang baik, hal ini terbukti dengan lahirnya beberapa filosof yang mengemukakan ajaran filsafatnya masing-masing, diantara faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan filsafat tersebut adalah:

a. Perpindahan ibu kota pemerintahan Islam dari Damaskus ke Baghdad.

b. Adanya kemunduran filsafat di kalangan orang Yunani, Persia dan dunia Kristen.

c. Dorongan ajaran Islam

d. Kecintaan para khalifah terhadap ilmu pengetahuan

e. Kemajuan ekonomi umat Islam waktu itu.[8]

3. Tokoh-Tokoh Falsafah Islam serta Ajaran-Ajaran Dasarnya

Perkembangan falsafah Islam baik pada masa kekuasaan daulat Bani Abbasiyah maupun setelahnya telah melahirkan beberapa tokoh-tokoh dengan mengetengahkan ajaran-ajaran dan pendapat-pendapat mereka masing-masing. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah:

a. Al-Kindi (185 – 252 H/801 – 816 M)

Dia merupakan filosof muslim keturunan Arab yang pertama, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Ays’as ibn Qais al-Kindi, ia lebih populer dipanggil dengan al-Kindi yang dinisbatkan kepada Kindah suatu kabilah terkemuka pra Islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman.[9] Ia dilahirkan di Kufah tahun 185 H (801M) dari keluarga kaya dan terhormat, ayahnya bernama Ishaq ibn al-Shabbah yang pernah menjabat sebagai gubernur Kufah pada masa pemerintahan al-Mahdi (775-785 M) dan Harun ar-Rasyid (786-809 M).[10]

Ayahnya meninggal dunia saat al-Kindi masih kecil namun dalam perkembangan keilmuannya dia menuntut ilmu di daerah Bashrah dan Kufah serta banyak bergaul dengan para ahli pikir terkenal. Ia termasuk salah seorang pelopor yang memperkenalkan tulisan-tulisan Yunani, Suriah dan India kepada dunia Islam. Al-Kindi terkenal sebagai ahli yang menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan di antaranya kedokteran, filsafat, semantik, geometri, aljabar, ilmu falak, astronomi dan kemampuan untuk mengubah lagu, farmakologi, ilmu jiwa, optika dan lainnya.[11]

Ajaran-ajaran filsafatnya adalah:[12]

1) Talfiq (perpaduan antara agama dan filsafat), menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar sedangkan Alquran yang membawa pengetahuan yang benar tidak mungkin berlawanan dengan filsafat.

2) Metafisika (ketuhanan), Tuhan adalah wujud yang sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain.

3) Jiwa, substansi roh berasal dari Tuhan, hubungan roh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari, jiwa tidak tersusun mempunyai arti penting, sempurna dan mulia.

4) Moral, filsafat harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri, hikmah sejati membawa serta pengetahuan serta pelaksanaan keutamaan.

Karya-karyanya lebih kurang sebanyak 270 buah di antaranya:

1) Kitab al-Kindi ila al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama)

2) Kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masail al-Manthiqiyyah wa al-Muqtashah wa ma Fawqa al-Thabi’iyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil serta metafisika).

3) Kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘Ilm al-Riyadhiyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika)

4) Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud-maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya)

5) Kitab fi Ma’iyyah al-‘Ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya).[13]

b. Al-Farabi (257 – 337 H/870 – 950 M)

Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh. Lahir di Wasijj, distrik Farab (sekarang bernama kota Atrar) Turkistan, ayahnya seorang jendral berkebangsaan Persia sedangkan ibunya berkebangsaan Turki. Ia belajar di daerah Baghdad dan Harran.[14]

Ajaran-ajaran filsafatnya adalah:[15]

1) Pemaduan filsafat, yaitu memadukan beberapa aliran filsafat yang pernah berkembang sebelumnya terutama pemikiran Plato, Aristoteles dan Plotinus, serta pemaduan agama dan filsafat.

2) Metafisika, al-Maujud al-Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada.

3) Jiwa, jiwa bersifat rohani bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan tidak dapat berpindah dari suatu badan ke badan yang lain.

4) Politik, konsep negara sama dengan tubuh manusia yang memiliki bagian-bagian dengan fungsi masing-masing.

5) Moral, al-farabi menyarankan agar bertindak jangan berlebihan karena akan dapt merusak jiwa dan fisik.

6) Teori kenabian, ciri khas seorang nabi adalah mempunyai daya imajinasi yang kuat di mana objek indrawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya.

Karya-karyanya antara lain:

1) Al-Jam Bain Ra’yi al-Hakimain

2) Tahshil al-Sa’adat

3) Maqalat fi Aghradh ma Ba’d al-Thabi’at

4) Risalat fi Isbat al-Mufaraqat

5) Uyun al-Masail[16]

c. Ibnu Sina

Nama lengkapnya Abu Ali al-Husein ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Ali ibn Sina, lahir di desa Afsyanah dekat Bukhara Transoxiana (Persia utara) 370H/980M, ayahnya pernah menjadi penguasa di daerah Kharmaitsan, ia mempunyai ingatan yang kuat sehingga usia 10 tahun telah hafal Alquran.[17]

Ajaran-ajaran filsafatnya adalah:[18]

1) Metafisika, sifat wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat yang lain.

2) Jiwa, menurut hukum alam manusia harus diam ditempat karena mempunyai berat badan sama dengan benda padat. Gerak yang menentang hukum alam, seperti manusia berjalan tentu ada penggerak tertentu di luar unsur manusia, inilah yang dinamakan jiwa.

3) Kenabian, syarat yang dibutuhkan bagi seorang nabi adalah memiliki imajinasi yang kuat dan hidup.

4) Tasawuf, ia memulai tasawuf dengan akal yang dibantu oleh hati, dengan kebersihan hati dan pancaran akal, lalu akal akan menerima makrifah.

5) Al-Tawfiq, yaitu pemaduan antara agama dan filsafat.

Karya-karya ibnu Sina tercatat sebanyak 267 buah di antaranya:

1) Al-Syifa’, yang berisi tentang filsafat, terdiri atas empat bagian: ketuhanan, fisika, matematika dan logika.

2) Al-Najat, keringkasan dari al-Syifa’

3) Al-Qanun fi al-Thibb, tentang ilmu kedokteran

4) Al-Isyarat wa al-Tanbihat, tentang logika dan hikmah.



5) Hidayah al-Rais li al-Amir[19]

d. Al-Razi

Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria ibn Yahya al-Razi, lahir di Rayy dekat Taheran tahun 251H/865M, ia belajar di kota Rayy ini dalam bidang kedokteran, filsafat dan lainnya.

Bentuk ajaran filsafatnya adalah:[20]

1) Lima kekal (kadim), intinya ada lima yang kekal yakni Allah, jiwa universal, materi pertama, tempat/ruang absolut dan masa absolut.

2) Akal, merupakan substansi sangat penting yang terdapat dalam diri manusia.

3) Kenabian, al-Razi tidak percaya pada nabi, Alquran bukanlah mukjizat

4) Wahyu, al-Razi tidak percaya adanya wahyu.

Karya al-Razi diperkirakan sebanyak 200 judul, diantaranya:

1) Kitab al-Asrar dalam bidang kimia

2) Al-Thib al-Ruhani

3) Amarah al-Iqbal al-Dawlah[21]

e. Ibnu Maskawaih

Nama lengkapnya Abu Ali Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawaih, lahir di kota Rayy (Iran) tahun 320H/932M.[22] Ajaran-ajaran filsafatnya yaitu:

1) Metafisika, Tuhan adalah zat yang tidak berjism, azali dan pencipta

2) Kenabian, nabi sebagai sumber informasi untuk mengetahui sifat-sifat keutamaan dan yang terpuji dalam kehidupan

3) Moral, adalah suatu sikap mental yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan[23]

Karya-karya yang dilahirkannya

1) Tajarib al-Umam

2) Risalat fi al-Lazzat wa al-Alam fi Jauhar al-Nafs

3) Thaharat al-Nafs.[24]

f. Ikhwan al-Shafa’

Ini merupakan nama sekelompok pemikir Islam yang bergerak secara rahasia dari sekte Syi’ah Isma’iliyah yang lahir pada abad ke 4H/10M, pelopor kelompok ini yang terkenal adalah Ahmad bin Abdullah, Abu Sulaiman Muhammad ibn Nasr al-Busti. Ajaran-ajaran filsafatnya adalah:

1) Talfiq, pemaduan antara agama dan filsafat.

2) Metafisika, ilmu bilangan adalah lidah yang mempercakapkan tentang tauhid

3) Jiwa, jiwa manusia berasal dari jiwa yang universal

4) Moral, untuk mencapai tingkatan moral manusia harus melepaskan diri dari ketergantungan pada materil[25]

Karya-karyanya mencakup risalah-risalah tentang matematika yang mencakup geometri, astronomi, musik, geografi, seni, moral dan logika. Fisika yang mencakup geneologi, botani, hidup dan matinya alam, keterbatasan manusia dan ilmu jiwa yang mencakup metafisika, pythagoreanisme dan kebangkitan alam.

g. Al-Ghazali

Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali, lahir di Thus (Khurasan) tahun 450H/1056M. Karya filsafat al-Ghazali adalah:

1) Epistimologi, intuisi lebih tinggi dan lebih dipercayai dari pada akal untuk menangkap pengetahuan yang betul-betul diyakini kebenarannya.

2) Metafisika, ilmu Tuhan adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat.

3) Moral, tujuan manusia adalah kebahagiaan akhirat yang dapat diperoleh dengan mengendalikan sifat-sifat manusia

4) Jiwa, manusia terdiri dari jiwa dan jasad, jiwa adalah makhluk spritual rabbani yang sangat halus.[26]

Diantara karya al-Gazali adalah:

1) Tahafut al Falasifah (kekacauan fikiran para filosof)

2) Al-Ma’arif al-Aqliyah (pengetahuan yang rasional)

3) Mi’yar al-Ilm (kriteria ilmu-ilmu)[27]

h. Ibnu Bajah

Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Yahya ibn al-Sha’igh al-Tujibi al-Andalusi al-Samqusti ibn Bajah, lahir di Saragossa, Andalus tahun 475H/1082M. Diantara karya filsafatnya adalah:

1) Epistimologi, manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan akal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuatan ilmiyah.

2) Metafisika, segala yang maujud terbagi dua yaitu yang bergerak dan tidak bergerak, gerakan ini berasal dari kekuatan yang tidak terbatas.

3) Moral, manusia memiliki naluri insani yang tidak terdapat pada hewan, dengan ini manusia dapat melakukan aktivitas berdasarkan pertimbangan akal.

4) Politik, warga negara yang memiliki sikap dan bertindak mulia tidaklah banyak.[28]

Karya-karyanya:

1) Komentar terhadap logika al-Farabi

2) Risalah al-Wada

3) Kitab al-Nafs[29]

i. Ibnu Thufail

Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Qaisyi, lahir di Guadix (40 mil sebelah timur laut Granada) tahun 506H/1110M, inti pemikiran filsafatnya terdapat dalam karyanya Hayy ibn Yaqzan yang intinya adalah:

1) Filsafat dan agama adalah selaras bahkan merupakan gambaran dari hakikat yang satu.

2) Metafisika, karena Allah itu wujud semata, wajib wujud dengan zat-Nya maka hanya Dialah yang maha sempurna dan semua kesempurnaan berasal dan melimpah dari pada-Nya.

3) Epistimologi, untuk sampai kepada pengetahuan yang tinggi ditempuh dengan dua jalan yaitu wahyu dan filsafat.

4) Jiwa.[30]

j. Ibnu Rusyd

Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd, lahir di Cordova tahun 520H/1126M, pandangan filsafatnya adalah:

1) Metode pembuktian kebenaran, dengan mempergunakan metode retorika, dialektik dan demonstratif.

2) Metafisika, Allah adalah penggerak pertama, wujud Allah adalah esa dan ke-esaannya tidak berbeda dari zat-Nya.

3) Moral, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup untuk mencapai kebahagiaan. Ini merupakan pembenaran terhadap pendapat Plato.[31]

Karya-karyanya:

1) Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid fi al-Fiqh

2) Tahafut al-Tahafut

3) Dhamimah li Masalah al-Qadim.[32]





k. Nashiruddin Thusi

Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad al-Hasan Nashir al-Din al- Thusi al-Muhaqqiq, lahir di Thus salah satu kota di Khurasan tahun 597H/1201M. Pandangan-pandangannya tentang filsafat adalah:

1) Metafisika, Tuhan tidak perlu dibuktikan secara logis, eksistensi Tuhan harus diterima dan dianggap sebagai postulat bukan untuk dibuktikan.

2) Jiwa, jiwa merupakan substansi yang sederhana dan immaterial yang dapat merasa sendiri.

3) Moral, kebahagiaan utama adalah tujuan moral utama yang ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia di dalam evolusi kosmik dan diwujudkan lewat kesediaannya untuk berdisiplin dan patuh.

4) Politik, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, hal ini sesuai dengan istilah insan yang secara harfiah berarti orang yang suka berkumpul dan berhubungan.

5) Kenabian, manusia perlu aturan dari Tuhannya, karena Tuhan berada di luar jangkauan indra maka Ia mengutus Nabi untuk menuntun manusia.[33]

Karya-karyanya:

1) Ta’dil al-Mi’yar tentang logika

2) Fushul tentang metafisika

3) Tahzir al-Majisti tentang astronomi.[34]

l. Suhrawardi al-Maqtul

Nama lengkapnya Syihab al-Din al-Futuh Yahya ibn Habasy ibn Amirak al-Suhrawardi, lahir di Suhraward Iran barat laut tahun 548H/1153M. Pandangan-pandangannya tentang filsafat adalah:

1) Metafisika dan cahaya, sebagaimana halnya suatu bangunan ilmu tidak muncul lantas langsung sempurna pada seorang pemikir.

2) Epistimologi

3) Kosmologi, segala yang “bukan cahaya” disebut sebagai “kualitas mutlak” atau “materi mutlak”.

4) Psikologi, sama dengan konsep jiwa Ibnu Sina.[35]

Karya-karyanya:

1) Al-Waridat wa al Taqdisat

2) Hayakil al-Nur

3) Risalah fi Halat al-Thifuliyah.[36]

m. Mulla Shadra

Nama lengkapnya Muhammad ibn Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, lahir di Syiraz tahun 980H/1572M, pendapat-pendapatnya tentang filsafat adalah:

1) Epistimologi,

2) Metafisika

Karya-karyanya

1) Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah

2) Al-Hasyr

3) Khalq al-Amal[37]

n. Muhammad Iqbal

Lahir di Sialkot tahun 1289H/1873M, pemikirannya antara lain:

1) Ego dan Khudi

2) Ketuhanan

3) Materi dan Kausalitas

4) Moral

5) Insan al-Kamil

Karya-karyanya:

1) Ilm al-Iqtisad

2) Islam as a Moral and Political Ideal

3) Khusal Khan Khattak.[38]

4. Implementasinya terhadap Kehidupan Umat islam

Kajian flsafat dikalangan umat Islam tidaklah menerima seluruhnya, dalam menanggapi filsafat ini umat Islam berbeda pendapat, disatu kelompok ada umat Islam yang menyetujui adanya filsafat Islam tapi disisi lain ada kelompok umat Islam yang tidak menyetujui adanya filsafat, terutama setelah al-Gazali mengarang buku Tahafut al-Falasifah. Dalam memaknai isi buku ini sebagian umat Islam berpendapat mempelajari filsafat adalah haram namun di sisi lain segolongan umat Islam berpegang pada buku Ibn Rusyd Tahafut al-Tahafut. Sebagian mereka yang berpikiran maju dan liberal cendrung mau menerima filsafat Islam. Sedangkan mereka yang bersifat tradisional yakni berpegang teguh pada doktrin Alquran dan Hadis secara tekstual, cendrung kurang mau menerima filsafat bahkan menolaknya.[39]

Kajian Islam secara filosofis dan mendalam sesungguhnya sangat diperlukan, sebab tampa hal yang demikian akan sulit bagi umat Islam untuk memahami dan mengembangkan ajaran agamanya serta ajaran Islam akan terlihat kaku, sebab akan berdampak pada pemahaman nilai-nilai agama dan tidak mampunya umat Islam merelevankan ajaran agamanya dengan perkembangan kehidupan dunia.

Dalam dunia perguruan tinggi kajian filsafat baru dimulai diakhir abad ke-20, namun sampai saat ini masih terdapat kekaburan di kalangan umat Islam tentang pemikiran filsafat ini seperti yang disampaikan oleh Amin Abdullah ada kekaburan dan kesimpang siuran yang patut disayangkan di dalam cara berfikir kita, tidak terkecuali di lingkungan perguruan tinggi dan kalangan akademis. Tampaknya sulit membedakan antara filsafat dan sejarah filsafat; antara filsafat Islam dan sejarah filsafat Islam. Biasanya kita korbankan kajian filsafat, karena kita selalu dihantui oleh trauma sejarah abad pertengahan; ketika sejarah Islam diwarnai oleh pertentangan pendapat dan perhelatan pemikiran antara al-Gazali dan Ibnu Sina.[40]

Kajian filsafat disadari atau tidak sudah memberikan kontribusi yang banyak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, karena ajaran filsafat Islam telah mengupas masalah-masalah yang berhubungan dengan seluk beluk ilmu pengetahuan yang dijadikan sebagai kajian di tengah-tengah masyarakat Islam untuk pengembangan kemajuan peradaban Islam itu sendiri.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah TIMBULNYA PEMIKIRAN FALSAFAH oleh: Hamdan, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.

Daftar Pustaka dan Footnote
DAFTAR PUSTAKA



Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Ahmad, Jamil, 100 Muslim Terkemuka, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Atiyeh, George N., al-Kindi: The Philosopher of the Arabs, Rawalpindi: Islamic Research Institute, 1966.

Hanafi, A., Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: NV Bulan Bintang, 1969.

Mustofa, A. Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Setia, .

Nasr, Hossen, Three Muslim Sages, Massachusetts: Harvard University Press, 1964.

Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Nasution, Hasan Bakti, Filsafat Umum, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001.

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Raziq, Mushtafa Abdul, Tamhid li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah Kairo: Lajnah Ta’lif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1959.

Siddiqi, Bakhtiyar Husain, “Nashir al-Din Thusi”, dalam M.M. Sharif (ed), a History of Muslim Philosophy, vol. 1, Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1963.

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.




[1] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), h. 1.

[2] Harun Nasution, Falsafat Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 9.

[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 15-16.

[4] Mushtafa Abdul Raziq, Tamhid li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah (Kairo: Lajnah Ta’lif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1959), h. 16.

[5] Ibid., h. 17.

[6] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 94.

[7] A. Mustofa, Filsafat Islam (Jakarta: Pustaka Setia, ), h. 31.

[8] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum ( Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 3.

[9] George N. Atiyeh, al-Kindi: The Philosopher of the Arabs (Rawalpindi: Islamic Research Institute, 1966), h. 1.

[10] A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: NV Bulan Bintang, 1969), h. 80.

[11] Zar, Filsafat Islam, h. 16.

[12] Ibid., h. 17-24.

[13] Hasyimsyah, Filsafat, h. 17.

[14] Ibid., h. 32.

[15] Hanafi, Pengantar, h. 90 – 106.

[16] Zar, Filsafat Islam, h. 67.

[17] Ibid., h. 91.

[18] Hasyimsyah, Filsafat, h. 69-77.

[19] Ibid.,h. 68.

[20] Zar, Filsafat Islam, h. 117-125.

[21] Hasyimsyah, Filsafat, h. 25.

[22] Ibid. H. 56.

[23] Ibid.,h. 58-65.

[24] Zar, Filsafat Islam, h. 129.

[25] Ibid., h. 143-153.

[26] Hasyimsyah, Filsafat, h. 82-94.

[27] Ibid., h. 79.

[28] Ibid., h. 95-101.

[29] Ibid., h. 94.

[30] Hanafi, Pengantar, h. 175-177.

[31] Ibid, h. 195-199.

[32] Ibid., h. 179.

[33] Bakhtiyar Husain Siddiqi, “Nashir al-Din Thusi”, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, vol. 1 (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1963), h. 567-578.

[34] Jamil Ahmad, 100 Muslim terkemuka (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 169.

[35] Hasyimsyah, Filsafat, h. 153-164.

[36] Hossen Nasr, Three Muslim Sages (Massachusetts: Harvard University Press, 1964), h. 58-59.

[37] Hasyimsyah, Filsafat, h. 168-179.

[38] Ibid, h. 181-199.

[39] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 203.

[40] Ibid., h. 204.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis