Mencari...

BOOK REPORT: HUMANISASI PENDIDIKAN

10:44 PM

A. Deskripsi Buku
            Nama pengarang         : Prof. Darmiyati Zuchdi, Ed.D
Judul buku                  : Humanisasi Pendidikan Menemukan Kembali Pendidikan Yang Manusiawi
            Tempat terbit               : Jakarta
            Penerbit                       : Bumi Aksara
            Tahun terbut                : 2010
            Jumlah halaman           : 210 halaman
            Tebal buku                  : 15 x 23 cm
            ISBN                           : 978-979-010-480-8

            Buku ini terdiri dari sembilan bab dan dilengkapi dengan prolog dan epilog. Adapun rincian dari masing-masing Bab yaitu sebagai berikut:

Bab I KONSEPSI MORALITAS DAN PENDIDIKAN NILAI
1.        Pendahuluan
2.        Konsepsi Moralitas
3.        Alternatif Pendidikan Nilai

Bab II TEORI PERKEMBANGAN MORAL
1. Pendekatan Klarifikasi Nilai Versus Teori Perkembangan Moral
2. Konsep Keputusan (Judgment) Moral
3. Metodologi Yang Digunakan Kohlberg
4. Tahap-Tahap Keputusan Moral

Bab III KARAKTERISTIK DAN KOMPETENSI AFEKTIF
1. Pendahuluan
2. Karakteristik Afektif
3. Teori Perkembangan Afektif
4. Kompetensi Afektif

Bab IV PENDIDIKAN NILAI KOMPREHENSIF
1. Pendahuluan
2. Pendekatan Komprehensif
3. Metode Komprehensif
4. Evaluasi Komprehensif
5. Kesimpulan

Bab V PENDIDIKAN MORAL DENGAN PENDEKATAN KOGNITIF: PENGEMBANGAN PENALARAN MORAL
1. Pendahuluan
2. Konsepsi Pengajaran
3.Model Pengembangan Penalaran Moral
4. Contoh Praktik Pengembangan Moral

Bab VI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AFEKTIF
1. Pendahuluan
2. Pendidikan Afektif
3. Pengembangan Keterampilan Intrapribadi
4. Pengembangan Keterampilan Antrapribadi
5. Pengembangan Kesadaran Diri
6. Pengembangan Empati dan Keterampilan Sosial
7. Pengembangan Instrumen Evaluasi Afektif

Bab VII PENDEKATAN KOMPREHENSIF UNTUK MENGEMBANGKAN KECERDASAN RELIGIUS, KULTURAL, SOSIAL, EMOSIONAL, DAN INTELEKTUAL
1. Pendahuluan
2. Berbagai Kecerdasan
3. Pendekatan Komprehensif
4. Implementasi Pendekatan Komprehensif
5. Pengembangan program Pendidikan Nilai
6. Kesimpulan

Bab VIII PENDIDIKAN KETERAMPILAN BERFIKIR KRITIS DAN KREATIF SERTA KEPEKAAN SOSIAL
1. Pendahuluan
2. Keterampilan Berfikir Kritis
3. Keterampilan Berfikir Kreatif
4. Kepekaan Sosial
5. Kesimpulan

Bab IX REKONSTRUKSI PERAN ORANG TUA DAN GURU DALAM PENDIDIKAN NILAI DAN SPIRITUALITAS
1. Pendahuluan
2. Kemitraan Sekolah dan Keluarga
3. Kesimpulan

Bab X  PENGEMBANGAN KEBIASAAN EFEKTIF DAN KETERAMPILAN MENGATASI KONFLIK
1. Pendahuluan
2. Pengembangan Kebiasaan Efektif
3. Tujuh Kebiasaan Efektif
4. Pengembangan Keterampilan Mengatasi Konflik
5. Metode Mediasi
6. Penanganan Konflik Sosial
7. Kesimpulan

Bab XI PENGINTEGRASIAN NILAI PERDAMAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1. Pendahuluan
2. Pendidikan Perdamaian
3. Pemaduan Pendidikan Perdamaian Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia
4. Proses Pembelajaran Pemaduan Pendidikan Perdamaian Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia
 5. Mengembangkan Keterampilan Mengatasi Konflik
 6. Mengembangkan Keterampilan mengatasi Konflik
 7. Evaluasi Pembelajaran
 8. Kesimpulan

Bab XII  PENGEMBANGAN BUDAYA PROGRESIF MELALUI    PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
 1. Pendahuluan
 2. Pengembangan Budaya Progresif
 3. Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Strategi Pemecahan Masalah
 4. Kesimpulan

B. Interpretation
            Pada Bab I, ini membahas pendidikan karakter secara historis, bagaimana pendidikan karakter berkembang dalam sejarah peradaban umat manusia, bagaimana pemahaman konseptual tentang manusia sebagai homo educans (manusia yang belajar) yang terlahir dari dinamika sejarah tersebut. Selain meletakkan sejarah pendidikan karakter dalam lingkup global, pada akhir bagian bab I ini disajikan kilasan tentang sejarah pendidikan karakter dalam konteks ke Indonesiaan dengan menyelami secara khusus pendidikan karakter seperti yang digagas oleh pemikir Indonesia, yaitu Soekarno, melalui gagasannya tentang pembentukan karakter bangsa, tentang Pancasila sebagai dasar ideologi Negara, serta relevansi, tantangan, hambatan dan perkembangannya bagi pendidikan karakter di Indonesia. Melalui penanaman nilai-nilai budaya bangsa diharapkan siswa memiliki rasa patriotisme, nasionalisme dan berbudi pekerti atau karakter yang baik.

            Bab II akan membahas secara khusus mengenai pendidikan. Namun, pendidikan di sini dipusatkan pada pendidikan karaakter. Pendidikan merupakan kegiata manusia yang di dalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukkan bagi generasi yang sedang bertumbuh. Sebagai sebuah kegiatan manusiawi, pendidikan membuat manusia membuka diri terhadap dunia. Manusia berkembang melalui kegiatan membudaya dalam memaknai sejarahnya di dunia ini, memahami kebebasannya yang selalu ada dalam situasi agar mereka semakin mampu memberdayakan dirinya.

            Melalui tindakan edukatif, seorang individu mampu membaktikan diri dan setia pada nilai yang diyakininya. Nilai itu bisa berupa pemahaman tentang keberadaan dirinya sebagai manusia, nilai-nilai pengetahuan yang berguna bagi hidupnya. Tindakan didaktis juga memperhatikan perkembangan dimensi motivasional pembelajaran. Keberhasilan sebuah proses belajar mengajar banyak ditentukan oleh unsur motivasional yang ada dalam diri kedua belah pihak, yang ada dalam diri guru dan siswa. Berdasarkan kedua tindakan tersebut diharapkan dapat tercapai tujuan pendidikan. Adapun tujuan tersebut yaitu sebagai  pedoman arah bagi proses pendidikan, menjadi sumber motivasi yang menggerakkan insan pendidikan untuk mengarahkan seluruh waktu dan tenaganya pada tujuan tersebut, dan menjadi dasar atau kriteria untuk melaksanakan sebuah evaluasi bagi kinerja pendidikan. Oleh karena itu, tujuan pendidikan menjadi aspek yanga sangat penting dalam upaya menanamkan nilai-nilai, sebab tanpa gagasan tentang tujuan pendidikan, praksis pendidikan karakter akan kehilangan visi.

            Setelah kita mengetahui hakikat pendidikan yang dipusatkan pada pendidikan karakter. Maka pada Bab III akan dibahas seputar karakter. Karakter dapat dipahami sebagai struktur antropologis dalam diri individu sehingga pendekatan atasnya bersifat prosesual, menekankan dimensi pertumbuhan menuju kesempurnaan. Karakter menjadi gerak dialektis proses konsolidasi individu secara dinamis sehingga menghasilkan karakter kepribadian yang stabil. Mounier mengajukan dua cara interpretasi. Ia melihat karakter sebagai dua hal, yaitu pertama sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita. Karakter yang demikian ini dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dari asalnya (given). Kedua, karakter juga bisa dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seseorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang demikian ini disebutnya sebagai sebuah proses yang dikehandaki (willed). Maka, untuk dapat mengetahui karakter dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan.

            Pendekatan hereditatif memberikan penekanan pada determinasi perilaku menurut struktur genetik riwayat keluarga (penjelasan yang sifatnya keturunan). Pemikir yang mengambangkan pendekatan hereditatif adalah Medel. Ia menjelaskan bahwa sifat anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Setiap perangai, temperamen, sifat, dan karakter memiliki kaitan genetic dengan generasi yang mendahuluinya. Pendekatan lain yaitu melalui polymorphous heredity. Pendekatan ini berupaya untuk menjelaskan adanya perbedaan antarbangsa/suku. Pendekatan ini dipakai untuk menjawab tentang adanya variasi dan divergensi kromosom yang diwariskan secara genetik. Orang Batak memiliki karakter yang berbeda dengan orang Jawa. Dengan demikian, melalui karakter manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi dirinya secara bebas, mengarahkan dirinya ke masa depan.

 Pada Bab IV ini dibahas mengenai bagaimana pendidikan nilai secara komprehensif dengan pendekatan komprehensif dipandang sesuai untuk diterapkan, karena pada masa sekarang ini kehidupan sudah semakin kompleks dan perubahan di segala segi kehidupan berlangsung dengan sangat cepat. Ada empat macam substansi pendidikan nilai yang disebut sebagai gerakan utama pendidikan nilai di Amerika Serikat, yaitu realisasi nilai, pendidikan karakter, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan moral. Keempat jenis substansi tersebut patut dipertimbangkan dalammelaksanakan inovasi pendidikan nilai dan moral di Indonesia. Bagian-bagian yang dianggap relevan dapat diintegrasikan ke dalam program Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral Pancasila, atau Pendidikan Kewarganegaraan, termasuk di dalamnya pemahaman dan penghargaan terhadap sistem demokrasi, keterampilan berfikir kritis, keterampilan bekerja sama, daan keterampilan mengatasi konflik.

Pendidikan nilai dan moral yang terlalu berfokus pada pengembangan kognitif tingkat rendah, perlu dilengkapi dengan pengembangan kognitif tingkat tinggi sampai subjek didik memiliki keterampilan membuat keputusan moral yang tepat secara mandiri, memiliki komitmen yang tinggi untuk bertindak selaras dengan keputusan moral tersebut, dan memiliki kebiasaan (habit) untuk melakukan tindakan bermoral. Dengan kata lain, pendidikan nilai dan moral hendaknya dapat mengembangkan subjek didik secara holistik, yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Pendekatan pendidikan nilai dan moral yang masih bernuansa indoktrinasi perlu diinovasi dengan pendekatan komprehensif yang meliputi inculcating. “menanamkan” nilai dan moralitas, modelling “meneladankan” nilai dan moralitas, facilitating “memfasilitasi” perkembangan nilai dan moral, dan skill development “pengembangan keterampilan”untuk mencapai kehidupan pribadi yang tenteram dan kehidupan sosial yang konstruktif, sebagai manifestasi kekuatan iman setiap warga negara Indonesia.

Evaluasi pendidikan nilai juga harus dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan instrumen evaluasi yang baik. Karena evaluasi pendidikan nilai/moral harus dapat menggambarkan secara akurat, baik pemikiran/  penalaran moral, afek moral, (hubungan dengan perasaan atau hati nurani), maupun perilaku moral (moral action), maka perlu dikembangkan instrumen evaluasi untuk ketiga ranah tersebut. Pengembangan ketiga jenis instrumen tersebut dapat didasarkan pada perkembangan penalaran moral oleh Kohlberg, perkembangan afektif oleh Dupon, dan Observasi perilaku secara berkelanjutan.

            Bab V membahas mengenai pendidikan moral dengan menggunakan pendekatan kognitif: Pengembangan penalaran moral. Yang di dalamnya berisi konsep pengajaran yang diperuntukkan bagi seorang guru untuk dapat memahami perkembangan moral para siswanya sebagaimana dua prinsip yang dinyatakan oleh Kohlberg, yaitu guru harus mampu menciptakan konflik kognitif, dan mampu merangsang perspektif sosial murid-murid. Artinya, dalam mengajar, guru perlu mengatur kegiatan belajar dalam suatu pola interaksi sosial. Langkah-langkah pedagogis yang harus dilakukan untuk menumbuhkan penalaran moral murid-murid meliputi: Pengembangan kesadaran moral, seni bertanya, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk perkembangan moral. Selain itu, guru juga menurut Thomas Lickona menyatakan bahwa guru dalam mengajar di kelas harus berfungsi sebagai pengasuh, model ( pemberi teladan), dan mentor. Sebagai pengasuh, guru harus bisa mencintai dan menghargai murid-murid, menolong mereka agar berhasil di sekolah, mengembangkan kesadaran akan harga diri mereka, dan memperlakukan murid-muridnya secara bermoral sehingga mereka dapat mengalami apa yang dimaksud dengan moralitas. Guru juga harus menjadi model atau teladan sebagai orang yang beretika, yang menunjukkan dalam perilakunya rasa hormat dan juga dapat memberi teladan dengan memberikan perhatian pada moralitasdan melakukan penalaran moral melalui reaksi-reaksinya terhadap kejadian-kejadian yang secara moral bermakna dalam menyelenggarakan pembelajarn dan bimbingan melalui penjelasan diskusi kelas, bercerita, pemberian dorongan, dan memberikan respons yang berupa koreksi jika murid-murid melukai perasaan teman-teman mereka atau perasaan guru. Dalam bab ini juga dijelaskan tentang contoh praktikal pengembangan moral , yang pernah dilakukan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah di Amerika Serikat. Beberapa strategi yang digunakan guru adalah:1) mengembangkan suasana kelas yang mengutamakan saling mempercayai, 2) mengidentifikasi dan memperjelas konflik moral, 3) memfokus pada penalaran moral, 4)perangsangan penyampaian pandangan, 5) pengembangan keterampilan murid dalam bernalar, berkomunikasi, menyimak (mendengarkan), dan bertanya.

            Selanjutnya pada Bab VI melihat pendidikan karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat keseluruhan peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri. Momen pertama dalam pendidikan karakter di dalam lembaga pendidikan adalah pertemuan visi dan misi lembaga pendidikan. Visi dan misi lembaga pendidikan merupakan momen awal yang menjadi prasyarat sebuah program pendidikan karakter di sekolah. Tanpa ini, pendidikan karakter di sekolah tidak dapat berjalan. Jika visi dan misi telah ada, pilar penting tegaknya pendidikan karakter adalah individu-individu yang bekerja di dalam lembaga pendidikan tersebut. Untuk ini, etika profesi dan formasi guru menjadi momen penting bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah.

            Sebagai sebuah lembaga yang tidak dapat berdiri sendiri, lembaga pendidikan berhubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan lain yang relevan bagi kinerja sebuah lembaga pendidikan. Lembaga lain ini adalah orang tua, masyarakat, dan Negara.

            Bab VII menelaah pendekatan komprehensif untuk mengembangkan kecerdasan religius, kultural, sosial, emosional dan intelaktual. Pengembangan berbagai kecerdasan, sebagaimana disebutkan diatas, dapat dilaksanakn dengan pendekatan komprehensif. Caranya dengan mengintegrasikan nilai-nilai yang ditargetkan akan dikembangkan ke dalam proses perkuliahan semua mata kuliah. Metode yang digunakan juga bersifat komprehensif, meliputi inkulkasi, pemberian teladan, fasilitasi nilai, dan pengembangan keterampilan yang terkait dengan nilai-nilai yang diperlukan dalam kehidupan. Iklim pembelajaran dan konteks institusional universitas/fakultas/jurusan termasuk penyediaan dan pengelolaan fasilitas juga harus kondusif. Program pendidikan nilai hanya mungkin efektif apabila didukung bersama oleh universitas, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam perencanaan nilai-nilai yang ditargetkan, pelaksanaan, dan evaluasi program, orang tua dan masyarakat harus terlibat. 

            Bab VIII, yang berjudul Pendidikan keterampilan berfikir kritis dan kreatif serta kepekaan sosial. Dalam bab ini, menjelaskan bahwa pengembangan keterampilan berfikir kritis dan kreatif serta kepekaan sosial yang merupakan taqnggung jawab para ilmuwan  termasuk mahasiswa, hanya mungkin dilakukan apabila mahasiswa membekali dirinya dengan pengetahuan yang luas, dengan jalan aktif memahami penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu yang diperdalamnya. Salah satu syarat utamanya ialah dengan banyak membaca dan berdiskusi. Namun, perlu disadari bahwa pemecahan masalah sosial secara relatif dapat tuntas hanya mungkin dapat dicapai dengan memanfaatkan berbagai bidang ilmu secara interdisipliner. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan kerja sama mahasiswa dari bidang-bidang ilmu yang berbeda. Misalnya, tiga mahasiswa dari jurusan yang berbeda dapat menyusun proposal penelitian untuk memecahkan masalah soial yang memang memerlukan pendekatan dari ketiga bidang yang berbeda tersebut. Pemecahan masalah secara interdisipliner biasanya relatif lebih tuntas daripada yang secara monodisipliner, karena cakupan masalah dapat lebih luas dan alternatif pemecahannya dari berbagai dimensi.

            Pada Bab IX  dipaparkan mengenai rekonstruksi peran orang tua dan guru dalam pendidikan nilai dan spiritualitas. Dalam bab ini, penulis dapat menginterpretasikan bahwa pendidikan nilai dan spiritualitas di lingkungan keluarga dan sekolah memang memerlukan berbagai inovasi, guna mengatasi masalah uang kita hadapi saat ini dan untuk mengantisipasi masalah uyang mungkin muncul pada masa yang akan datang. Karena masalah besar hanya mungkin dapat diatasi secara bersama-sama dan dengan koordinasi yang bagus, maka perlu dipikirkan kemungkinan diciptakannya suatu bentuk kemitraan antara sekolah dan keluarga dalam melaksanakan pendidikan nilai dan spiritualitas, yang secara relatif sesuia dengan tantngan masa kini dan masa yang akan datang. Pendekatan yang baru juga diperlukan, selaras dengan kekompleksan masalah yan muncul pada era global ini. Banyak nilai yang sering kontradiktif, sehingga diperlukan tidak hanya pemahaman, tetapi juga kemampuan dan ketetapam hati untuk memilih dan mengamalknnya secara konsisten. Dengan kata lain, peran guru dan orang tua dalam pendidikan nilai dan spiritualitas juga memerlukan perubahan yang mendasar.
            Bab XI membahas tentang pengembangan kebiasaan efektif dan keterampilan mengatasi konflik. Dalam bab ini ss

C. Evaluasi
            Setelah menelaah secara seksama isi buku mengenai Pendidikan Karakter ini, penulis merasa cukup baik. Karena buku ini mengulas secara khusus mengenai pendidikan karakter mulai dari akar sejarahnya hingga implementasinya dalam lembaga pendidikan bahkan sampai pada penilaian terhadap pendidikan karakter tersebut. Oleh karena itu, buku ini sangat penting dibaca dan dipahami oleh para pendidik guna menanamkan nilai-nilai moral budi pekerti, sosial kepada peserta didik, sehingga diharapkan terjadinya perubahan tingkah laku ke arah  yang lebih baik.

            Namun, krikik penulis terhadap buku ini yaitu bahasa-bahasa yang digunakan banyak yang tidak baku sehingga sulit dipahami dan dimengerti. Akhir kata penulis mengatakan semoga buku ini bermanfaat bagi kita.

D. Recommendation
            Melihat begitu kompleksnya pembahasan yang ada dalam buku ini. Maka, penulis menyarankan agar buku ini dapat menjadi pegangan bagi para guru dalam mengajar khususnya yang terkait dengan pendidikan karakter. Diharapkan buku ini dapat bermanfaat bagi kita dan dapat mewujudkan tujuan pendidikan, yaitumenciptakan peserta didik yang berbudi pekerti baik. Akhir kata penulis mengatakan semoga buku ini bermanfaat bagi kita.


0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih