Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Dampak Merokok


Latar Belakang

Sandi Adi Susanto adalah putra bungsu dari pasangan suami istri Mulud Riadi (50) dan Mujiati (45) yang mengalami dampak negatif dari lingkungan tempat tinggalnya, yaitu merokok dan berbicara kotor. Anak yang tinggal di Jalan Nusakambangan No.19 C,Malang ini diperkirakan sudah merokok sejak usia 1,5 tahun.

Latar belakang Ayah Sandi hanyalah seorang kuli bangunan dan Ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga. Selain itu, anak yang akrab dipanggil Sandi ini, memiliki teman dekat yang bernama Hartanto alias Sinyo (24).

Dalam kesehariannya, Sandi sering ikut Sinyo membantu mengantar barang. Pria berusia 24 tahun yang tinggal di Jalan Indrasta, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini mengaku bahwa rekaman video yang tersebar di You Tube dengan judul 'Anak Kecil Berbicara Kotor Dan Merokok! Dari Surabaya!’ adalah hasil rekaman 2 bulan yang lalu, tepatnya dibuat digudang penyimpanan ekspedisi di tempat Sinyo bekerja. Bahkan Sinyo sendiri yang merekam Sandi. Video tersebut berdurasi selama 3 menit 29 detik dan menampilkan sesosok anak berusia 4 tahun yang memiliki cita-cita jadi tentara ini sedang merokok dan berbicara kotor.

Dalam kasus ini, saya akan membahas tentang Penyebab Sandi merokok, Dampak yang akan timbul akibat merokok, Sisi kesalahan dari orang tua dan lingkungan masyarakat, serta Cara menanggulanginya.


Penyebab Sandi Merokok

Salah satu penyebab Sandi merokok yaitu dari pengaruh lingkungan Sandi yang sebagian besar tinggal dalam lingkungan pekerja informal dan kurangnya kepedulian keluarga terhadap hal-hal seperti merokok dan berbicara kotor, membuat Sandi tidak bisa tumbuh selayaknya anak umur 4 tahun. Bahkan Sandi lebih cepat dewasa, contohnya saja Sandi mampu membuat asap rokok menjadi berbentuk lingkaran dari mulutnya layaknya orang dewasa, meskipun tidak semua orang dewasa mampu melakukannya. Selain itu, Sandi juga mampu menyebutkan berbagai istilah alat kelamin perempuan dan laki-laki dalam bahasa Jawa, bahkan ketika diminta memperagakan adegan seks, tanpa malu-malu Sandi menggerakkan pantatnya maju mundur.

Awalnya Sandi hanya mencoba-coba membakar dan menyedot rokok milik Kakeknya yang seorang perokok berat. Karena dibiarkan berlarut-larut, akhirnya rokok sudah menjadi layaknya permen di mulut Sandi, bahkan Sandi tidak batuk-batuk dan tersedak saat pertama kali merokok. Apabila ada yang melarang Sandi merokok, dia akan marah bahkan sampai jatuh sakit. Selain itu, ada juga penyebab dimana seseorang dapat menjadi perokok, yaitu dipengaruhi oleh teman-temannya. Mereka ingin terlihat dan merasa lebih “jago dan jantan” kalau menjadi seorang perokok.

Sebelumnya, kasus bocah berumur 4 tahun yang sudah merokok layaknya orang dewasa, disinyalir terjadi karena iklan rokok yang berlebihan. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan ketat tentang iklan-iklan tersebut. Salah satunya dengan mempercepat pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan. Perokok anak-anak juga bisa ditimbulkan akibat dari penjualan rokok ketengan atau satuan. Bahkan, sebagian anak ada yang memperoleh rokok dari acara-acara musik seperti konser yang disponsori perusahaan rokok dengan pembagian sampel gratis. Tidak ada batasan usia untuk 'mengkonsumsi' rokok. Anak seusia Sandi yang masih 4 tahun pun bebas menghisap dalam-dalam rokok. Karena itulah dibutuhkan regulasi yang mengatur soal batasan usia merokok.

Dampak-dampak yang timbul akibat merokok antara lain :
  • Merontokkan rambut. Merokok menurunkan sistem kekebalan sehingga perokok lebih mudah terserang penyakit seperti lupus erimatosus yang dapat menyebabkan kerontokan rambut, ulserasi/bisul atau sariawan di mulut, serta rash (ruam) di wajah, kulit kepala dan tangan.
  • Katarak. Perokok mempunyai resiko 40 persen lebih tinggi terkena katarak – buramnya lensa mata yang menghalangi masuknya cahaya, bahkan menyebabkan kebutaan. Semburan zat kimia beracun dari asap rokok mengiritasi mata atau menghambat aliran oksigen dalam darah ke mata.
  • Keriput. Asap rokok membakar protein dan merusak vitamin A yang memelihara elastisitas kulit, serta menurunkan kelancaran aliran darah. Kulit perokok, khususnya di sekitar bibir dan mata, menjadi kering, kasar, dan bergaris-garis.
  • Merusak pendengaran. Rokok menyebabkan plaque (plak) pada pembuluh darah sehingga mengganggu aliran oksigen dalam darah yang menuju ke telinga dalam. Perokok dapat kehilangan pendengaran lebih awal daripada mereka yang bukan perokok, serta lebih mudah terkena infeksi telinga tengah yang dapat diikuti komplikasi seperti meningitis dan kelumpuhan otot wajah.
  • Merusak gigi. Zat-zat kimia beracun asap rokok menimbulkan plak yang aktif berkontribusi merusak gigi. Perokok satu setengah kali lebih mudah kehilangan gigi.
  • Emfisema – pecahnya kantong pernafasan yang mengurangi kapasitas paru menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Pada kondisi ekstrim, penderita emfisema memerlukan operasi trakheostomi – pemasangan pipa terbuka pada trachea untuk membantu masuknya udara ke dalam paru – agar tetap bisa bernafas.
  • Osteoporosis. Karbon monoksida – zat kimia utama yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor dan asap rokok – mempunyai daya ikat lebih besar terhadap sel darah merah daripada oksigen, mengurangi daya angkut oksigen darah perokok sebesar 15 persen. Akibatnya, densitas tulang para perokok pun menurun sehingga lebih mudah retak dan membutuhkan waktu 80 persen lebih lama untuk sembuh. Perokok juga lebih mungkin menderita sakit tulang belakang.
  • Sakit jantung. Satu dari tiga kematian di dunia berhubungan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah – yang faktor resiko terbesarnya adalah asap rokok. Setiap tahun, lebih dari 1 juta orang di negara berkembang dan 600.000 orang di negara maju tewas karena penyakit jantung. Berbagai studi membuktikan merokok mempercepat denyut jantung dan menaikkan tekanan darah (sehingga meningkatkan resiko hipertensi) dan menyumbat pembuluh darah yang akhirnya menyebabkan serangan jantung dan stroke.
  • Tukak lambung. Merokok menurunkan pertahanan tubuh terhadap bakteri penyebab tukak lambung – sekaligus merusak kemampuan lambung menetralisir asam sehabis makan. Tukak pada perokok lebih sulit diobati dan lebih mudah kambuh.
  • Kelainan sperma. Berbagai racun rokok dapat merusak DNA dan mengubah bentuk sperma, yang kemudian menyebabkan keguguran atau kelahiran cacat. Merokok juga mengurangi kesuburan pria serta mengurangi aliran darah ke penis – yang dapat menyebabkan impotensi.

  • Penyakit Burger. Juga disebut thromboangitis obliterans – suatu peradangan pembuluh nadi dan pembuluh balik, serta saraf pada kaki dan secara keseluruhan mengurangi aliran darah. Jika tidak ditangani, penyakit Burger dapat menyebabkan gangrene (pembusukan jaringan tubuh), yang hanya dapat dihentikan penyebarannya dengan amputasi.


Bukti-bukti yang menyatakan bahwa orang tua Sandi bersalah, yaitu :

♦ Orang tua Sandi terlalu menuruti ego anak ( membiarkan saja karena tidak mau anak mengamuk dan jatuh sakit )

♦Membiarkan Sandi bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa dan yang tidak bertanggung jawab.

♦ Terlalu percaya dengan mimpi/hal mistis ( Ibunya pernah membawa Sandi ke paranormal tetapi paranormal itu angkat tangan. Sandi dianggap ditempeli roh sakti dan sulit dikalahkan. Diakui oleh Mujiati, dulu saat mengandung Sandi, dia pernah bermimpi di datangi almarhum ibunya. Sang nenek meminta agar Sandi dibiarkan dan tidak dilarang minum kopi maupun merokok. Dengan alasan ” amanah arwah ” sejak itulah Sandi oleh kedua orang tuanya tak pernah di larang hingga sekarang.

Cara menanggulangi kasus Sandi, yaitu:
  • Pola asuh orangtua memiliki peranan yang cukup besar terhadap perkembangan moral anak, yang dapat diidentifikasi melalui tutur kata, sikap dan perbuatan mereka.
  • Anak yang dididik dengan model pola asuh otoriter menyebabkan anak kurang matang jiwanya, sering kesulitan membedakan perilaku baik buruk, benar salah, suka menyendiri, kurang bisa bergaul dan sulit mengambil keputusan.
  • Anak yang dididik dengan model pola asuh permisif cenderung terlalu bebas dalam bertutur kata, bersikap dan sering tidak mengindahkan aturan yang berlaku, emosi kurang stabil, kurang bertanggungjawab dan sulit diajak bekerjasama.
  • Anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kematangan jiwa yang baik, emosi lebih stabil, mudah diatur, terbuka, supel dalam bergaul dan lebih bertanggungjawab.
Selain itu, upaya yang diperlukan untuk mengurangi Laju Prevalensi Perokok Usia Dini yaitu dengan pengendalian yang efektif dan pemihakan pemerintah yang lebih tegas. Untuk itu yang harus dilakukan adalah membuat peraturan perundang-undangan untuk mencegah bahaya rokok pada anak berupa :

1. Anak tidak boleh merokok
2. Anak tidak boleh membeli rokok
3. Orang dewasa tidak boleh menjual rokok pada anak
4. Orang tua tidak boleh merokok di depan anak.
5. Orang dewasa tidak boleh merokok di depan ibu yang sedang hamil.
6. Ibu yang sedang hamil tidak boleh merokok.
7. Iklan rokok tidak boleh mengambil sasaran anak-anak.

Hal tersebut dapat dituangkan dalam suatu Undang-undang khusus tentang dampak merokok pada anak. Atau disisipkan pada revisi UU Kesehatan No 23 Tahun 1992 yang saat ini sedang dalam pembahasan di Komisi IX DPR-RI.

1. Semua fasilitas publik harus bebas asap rokok.
2. Lembaga-lembaga pendidikan harus bebas asap rokok.
3. Tempat-tempat ibadah harus bebas asap rokok.
4. Media massa tidak boleh menayangkan iklan rokok.

Usulan konkretnya, jika terpaksa sekali:
1. Tingkatkan cukai tembakau, yang terbukti di semua negara bisa meningkatkan pendapatan tanpa merusak kesehatan rakyat.
2. Turunkan kadar nikotin, serendah-rendahnya. Sebagai contoh, di Korea Selatan, pemerintah mengatur rokok seperti pemerintah Indonesia mengatur Pertamina. Sangat-sangat ketat. Artinya, dimana produksi dan distribusi rokok diatur dengan kebijakan pemerintah. Salah satunya, dengan secara bertahap menurunkan kadar nikotin pada rokok-rokok yang diproduksi di Korea Selatan. Sampai-sampai ada rokok yang kadar nikotinnya 0,01%.
3. Menaikkan harga rokok, jadikan rokok sebagai barang mahal supaya masyarakat miskin dan anak-anak tidak bisa membeli.
4. Pemerintah harus berani tidak menggantungkan pemasukkan APBN dari rokok.
Artinya para penyelenggara dituntut untuk kreatif mencari sumber-sumber pemasukkan negara tanpa merusak kesehatan generasi muda.

Saran-saran untuk kasus Sandi antara lain :
1. Untuk orangtua
Orangtua harus bisa memilih pola asuh yang baik untuk anak-anaknya yaitu pola asuh demokratis, sehingga perkembangan moral anak menjadi baik pula.
2. Untuk guru/pendidik
Hendaknya guru melakukan bimbingan dan pembinaan yang intensif pada anak yang memiliki perkembangan moral kurang baik.

Daftar Pustaka

http://www.google.com/
http://www.kompas.com/
http://www.metrotvnews.com/
http://www.detiknews.com/
http://www.detiknews.com/read/2010/04/01/081930/1329937/10/pemerintah-bertanggung-jawab-atas-kasus-sw
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3776730

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijinkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Dampak Merokok, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis