Aneka Ragam Makalah

Makalah Psikologi Pendidikan


Kata Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche yang berarti jiwa, dan Logos yang berarti ilmu. Sehingga secara harfial Psikologi dapat diartikan Ilmu Jiwa yang dimana sebuah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang (sesuatu yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, seperti sifat, minat, dll). Tetapi menurut Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa, Psikologi adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku (prilaku) manusia dengan hubungannya terhadap lingkungan.

Psikologi Pendidikan merupakan salah satu cabang dari ilmu Psikologi yang bersifat ilmu terapan, sehingga Psikologi Pendidikan dapat diartikan sebagai berikut, yaitu “Disiplin Ilmu yang mempelajari tingkah laku (prilaku) manusia khususnya peserta didik (pelajar) dalam penerapan prinsip-prinsip belajar dan kurikulum yang digunakan”.

Setiap manusia khususnya pelajar pasti akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang tidak akan dapat ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Proses tersebut berjalan dengan kodrati dan melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan oleh-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mukminun ayat 14 :

وقد خلقكم أطوارا
Artinya :
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian( Q.S. 71 : 14 )

Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa setiap manusia akan mengalami pertumbuhan yaitu seperti bertambahnya tinggi, berat badan, tumbuhnya rambut pada daerah-daerah tertentu, dan lain-lain. Berarti pertumbuhan merupakan suatu proses perubahan secara jasmaniah (fisik). Tetapi tidak dipungkiri juga bahwa setiap manusia khususnya pelajar akan mengalami perkembangan secara rohaniah atau mental (jiwa).

Maka dari itu agar proses pertumbuhan dan perkembangan berjalan dengan baik dan mengarah ke perkembangan yang positif, diperlukanlah sebuah ilmu yang dapat mempelajarinya yaitu salah satu cabang ilmu Psikologi yaitu Psikologi Perkembangan.

Survai membuktikan bahwa hampir 60% perkembangan mental (psikis) seorang manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan lebih mudah terserap, sehingga banyak yang mengandalkan dunia pendidikan untuk membantu mengawasi dan mengarahkan perkembangan mental (psikis) itu kearah yang lebih baik selain dari pengawasan dan pengarahan dari pihak keluarga. Karena kedua pihak tersebut sangat berperan penting dalam perkembangan psikis anak (pelajar) maka haruslah saling bekerjasama.

Di dalam dunia pendidikan terdapat beberapa aspek perkembangan, seperti yang disampaikan Nana Syaodih Sukmadinata dalam bukunya Landasan Psikologi Proses Pendidikan mengatakan bahwa perilaku kegiatan Individu dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.

Tetapi pada kesempatan kali ini penulis akan membahas dan menitik beratkan terhadap Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kematangan Psikomotorik Dalam Dunia Pendidikan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kematangan

1. Pertumbuhan (Growth)

Pertumbuhan secara Biologi merupakan perubahan ukuran organisme karena bertambahnya sel-sel dalam setiap tubuh organisme yang bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kuantitatif[1]. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan bentuk (bertambah besar) jasmaniah (fisik) yang terjadi secara alamiah pada setiap makhluk hidup. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan merupakan proses perubahan yang bersifat kuantitatif dan menyangkut jasmaniah.

Contoh :

Ø Seorang remaja yang tingginya 156 cm beberapa tahun kemudian berubah menjadi 162 cm,
Ø Seorang balita yang beratnya 13 kg berubah menjadi 15 kg, dan lain sebagainya.

2. Perkembangan (Development)

Perkembangan secara Biologi merupakan proses perubahan organisme ke arah kedewasaan dan biasanya tidak bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kualitatif. Perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup[2]. Perkembangan adalah suatu proses bertambah sempurnanya suatu hal dalam sudut pandangnya, dan menandakan sebagai hasil proses pematangan. Tetapi biasanya lebih banyak berkaitan dengan psikis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah proses perubahan yang dimulai sejak hingga rentang hidupnya yang bersifat kualitatif dan bersangkutan dengan psikis manusia[3].

Contoh :

Ø hormon-hormon di dalam tubuh mulai matang dan mulai berfungsi sesuai fungsinya,
Ø alat reproduksi mulai sempurna,
Ø emosi mulai berkembang,
Ø intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan mulai terangsang,
Ø perubahan-perubahan pada pengetahuan, kemampuan, sifat sosial, moral, kecerdasan, keyakinan agama, dan lain sebagainya[4].

3. Kematangan

Kematangan dalam proses pembelajaran ialah suatu keadaan/ tahap dalam pencapaian proses pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam kegiatan belajar yang dilakukannya. Dengan demikian kematangan dalam pendidikan ialah kematangan potensi fisik & potensi metal psikologis yang telah dicapai dalam suatu tahap pertumbuhan & perkembangan.

a. Fungsi Kematangan dalam Belajar

Ø Memberi bahan mentah/bahan baku bagi suatu perkembangan.
Ø Memberi batas & kualitas perkembangn.
Ø Memberi kemudahan bagi pendidik untuk membimbing[5].

B. Aspek – Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan

Makna perkembangan pada seorang anak adalah terjadinya perubahan yang besifat terus nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih komleks dan lebih berdiferensiasi (Berk, 2003). Jadi berbicara soal perkembangan anak yang dibicarakan adalah perubahan. Pertanyaannya adalah perubahan apa saja yang terjadi pada diri seorang anak dalam proses perkembangan ? Untuk menjawab pertanyaan itu maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan, yaitu :

1. Perkembangan Fisik

Perkembangan Fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi anggota badan, tampang, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan[6].

2. Perkembangan Kognitif

Perkembangan Kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam proses berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan mengunakan bahasa[7].

3. Perkembangan sosial-emosional

Perkembangan sosial-emosionalyaitu perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persabatan, dan pengertian tentang moral[8].

Harus dipahami dengan sungguh sungguh bahwa ketiga aspek perkembangan itu merupakan satu kesatuan yang utuh (terpadu), tidak terpisahkan satu sama lain. Setiap aspek perkembangan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya. Sebagai contoh perkembangan fisik seorang anak seperti meraih, duduk, merangkak, dan berjalan sangat mempengaruh terhadap perkembangan kognitif anak yaitu dalam memahami lingkungan sekitar di mana ia berada. Ketika seorang anak mencapai tingkat perkembangan tertentu dalam berpikifr (kognitif) dan lebih terampil dalam bertindak, maka akan mendapat respon dan stimulasi lebih banyak dari orang dewasa, seperti dalam melakukan permaianan, percakapan dan berkomunikasi sehingga anak dapat mencapai keterampilan baru (aspek sosial-emosional). Hal seperti ini memperkaya pengalaman dan pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya semua aspek perkembangan secara menyeluruh. Dengan kata lain perkembangan itu tidak terjadi secara sendiri-sendiri.

C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

1. Nativisme

Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi, perkembangan individu semata-mata tergantung kepada dasar.

2. Empirisme

Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor lingkungan, sedangkan dasar tidak berpengaruh sama sekali.

3. Konvergensi

Aliran ini berpendapat bahwa didalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang[9].

D. Pengertian Psikomotorik

Dalam psikologi, psikomotorik diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-garakannya. Atau dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yangmeningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik[10].

E. Tahap-Tahap Perkembangan Psikomotorik

1. Periode Pra-Kelahiran (Prenatal Period)

Waktu mulai pembuahan hingga kelahiran, sekiar 9 bulan. Selama waktu yang menakjubkan ini, sebuah sel tunggal tumbuh menjadi organisme, lengkap dengan sebuah otak dan kemampuan berprilaku.

2. Masa Bayi (Infancy)

Periode perkembangan yang terus terjadi dari lahir sampai sekitar usia 18 hingga 24 bulan. Timbul aktivitas kemampuan psikologis yang baru dimalai dari kemampuan berbicara, mengatur indera dan tindakan fisik, berpikir dengan simbol, dan meniru atau belajar dari orang lain.

3. Masa Kanak-Kanak (Early Childhood)

Periode perkembangan yang terjadi mulai akhir masa bayi hingga usia sekitar 5 atau 6 tahun, disebut juga tahun pra-sekolah. Selama waktu ini, anak kecil belajar mandiri dan merawat diri sendiri, mengembangkan keterampilan, kesiapan sekolah(mengikuti perintah/ mengenal huruf) dan mereka mengahbiskan berjam-jam untuk brmain dengan teman sebaya.

4. Masa Kanak-Kanak Tengah dan Akhir (Middle and Late Childhood)

Periode perkembangan yang dimulai sekitar usia 6 hingga usia 11 tahun, peridode ini disebut juga periode sekolah dasar. Anak mengusai keterampilan dasar membaca, menulis, arismatik, dan mereka secara formal dihadapkan pada dunia yang lebih besar dan budayanya. Prestasi menjadi tema sentral yang lebih dari dunia anak, dan kontrol diri menungkat.

5. Masa Remaja (Adolesence)

Periode peralihan perkembangan dari kanak-kanak ke masa dewasa awal memasuki masa ini sekitar usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia18 hingga 22 tahun. Masa remaja dimulai dengan perubahan fisik yang cepat, pertambahan tinggi dan berat badan yang dramatis, perubahan dalam kontur tubuh, dan perkembangan karateristik seksual seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis dan wajah, dan pembesaran suara. Pencarian identitas dan kebebasan merupakan ciri uttaama periode ini,. Makin banyak waktu yang dihabiskan di luar keluarga atau rumah. Pikiran menjadi lebih abstrak, idealis, dan logis[11].

F. Hubungan Psikomotorik Dengan Tingkah Laku dan Hasil Belajar

Apakah perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar atau perkembangan itu hasil dari proses belajar ? Pertanyaan itu bisa dijawab ya, bahwa perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar. Artinya jika seorang anak belajar perlu didasari oleh kesiapan (kematangan) yang dicapai dalam perkembangan. Misalnya seorang anak tidak mungkin akan bisa belajar bahasa dan bicara jika belum mencapai kesiapan (kematangan), meskipun lingkungan diciptakan sedemikian rupa agar anak dapat belajar bahasa dan bicara. Sebaliknya, pertanyaan itu bisa dijawab tidak bahwa perkembangan itu adalah hasil belajar. Artinya perubahan yang terjadi pada diri seorang anak diperoleh melaui proses interaksi dengan lingkungannya. Misalnya meskipun setiap anak memiliki potensi untuk belajar bahasa dan bicara dan telah mencapai kematangan untuk siap belajar, tetapi anak tersebut sama sekali tidak mendapatkan rangsangan dari luar (lingkungan) untuk belajar, maka anak itu tidak akan memperoleh keterampilan berbahasa. Oleh karena itu terdapat hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antara proses belajar dalam lingkungan dengan kematangan perkembangan. Dengan kata lain pada saat tetentu belajar ditentukan oleh kematangan perkembangan, tetapi pada saat yang lain perkembangan adalah hasil dari proses belajar. Konsekuensi dari keadaan ini maka jika seorang anak mengalami hambatan dalam mencapai kematangan perkembangan karena ada gangguan pada aspek fisik atau kognitif atau sosial-emosional maka dapat dipastikan akan mengalami hambatan belajar, dan anak yang mengalami hambatan belajar akan mengalami hamabtan perkembangan. Anak yang mengalami hambatan belajar dan atau hambatan perkembangan, memerlukan layanan khusus dalam pendidikan dan disebut anak berkebutuhan khusus.

Pemberdayaan potensi yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik pada pendidikan anak usia dini (taman kanak – kanak) akan menjadi cikal bakal pembentukan karakter dan sebagai titik awal dari pembentukan SDM yang berkualitas yang memiliki wawasan, intelekual, kepribadian, bertanggung jawab, serta semangat mandiri. Kemampuan hidup tersebut tidak lain adalah agar anak mempunyai ketrampilan hidup (life skill) dan siap menerima pendidikan selanjutnya[12].

Menurut hasil observasi Anik Susanti (Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA) terhadap anak sekolah dasar yang berumur 10 tahun diperoleh data sebagai berikut[13] :


Perkembangan Psikomotor
Aspek yang diobservasi
Hasil observasi

Gerak
Pada anak usia 10 tahun sudah mampu bergerak secara aktif.

Cara berlari
Pada anak 10 tahun sudah mampu berlari secara cepat, meskipun frekuensi berlari anak perempuan dan laki-laki berbeda. Anak laki-laki cara berlarinya lebih cepat disbanding anak perempuan.

Melompat
Pada anak yang berusia 10 tahun sudah mampu melompat yang lumayan tinggi sebanding dengan tingginya yang terus bertambah.

Menari
Pada anak sekolah dasar khusus nya anak yang berusia10 tahun sudah bisa meniru tarian yang relative mudah. Bukan tarian yang sulit-sulit. Mereka cenderung menari tarian daerah disbanding disuruh nge-dance.

Melukis
Pada anak yang berusia 10 tahun masih terbiasa melukis pemandangan, atau tokoh film yang dia sukai. Misalnya: film spongebob, film dora, atau film dragonball.

Berbicara
Pada anak usia 10 tahun sudah bisa berbicara dengan lancar, mereka sudah mampu mengutarakan maksudnya atau keinginannya.

Membongkar dan Memasang
Pada anak yang berusia 10 tahun sudah mampu membongkar maupun memasang misalnya puzzle. Meskipun terkadang mereka masih kesulitan jika puzzle tersebut relative rumit.


A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Psikomotorik
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Psikomotorik dalam kaitannya dengan pendidikan, terdiri atas :

1. Faktor yang terdapat dari diri siswa sendiri. Diantaranya, terbagi menjadi :
a. Konstitusi tubuh,
b. Struktur & keadaan fisik,
c. Koordinasi motorik,
d. Kemampuan metal & bakat,
e. Tingkat emosionalitas yang terkendali.

2. Faktor yang berasal dari lingkungan
a. Lingkungan keluarga,
b. Lingkungan sekolah (dunia pendidikan).[14]

B. Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Psikomotorik

Setiap Individu pasti memiliki perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya, contohnya ada individu yang proses perkembangan dan pematangannya yang berjalan cepat dan pula yang berjalan lambat. Akibat dari perbedaan itu maka perkembangan psikomotorik setiap individu berbeda-beda, maka perlulah suatu bimbingan baik di luar lingkup keluarga maupun di dalam lingkup keluarga. Menurut para ahli psikologi, individu biasanya mengalami dua masa pancaroba atau krisis yang biasanya disebut Trotz. Masa ini terjadi dalam periode :

1. Periode pertama : Terjadi pada usia 2 – 3 tahun dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
2. Periode kedua : Terjadi pada usia antara 14 – 17 tahun dengan ciri utama sering membantah orang tuanya dan cenderung mencari identitas diri[15].

Mengingat setiap individu selalu perbedaan dalam perkembangannya, contoh dalam proses perkembangannya ada berjalan cepat dan ada pula yang berjalan lambat. Maka dari itu tentang Trotz yang kedua (diatas) perlu digaris bawahi bahwa usia 14 – 17 tahun bukanlah harga mati. Artinya rentang usia remaja yang mengalami krisis tahap kedua ini dimasing-masing daerah mungkin berbeda boleh jadi lebih cepat atau lebih lambat. Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sifat-sifat anak trotz ini adalah meraja-raja, egosentris, keras kepala, pembangkang dan sebagainya. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan memperoleh kebebasan dan perhatian.

C. Karakteristik Perkembangan Fisik dan Psikomotorik dari Massa ke Massa Serta Implikasinya Bagi Pendidikan

Menurut John W. Santrock pada bukunya yang berjudul Perkembangan Anak Jilid 1, disebutkan bahwa Karakteristik Perkembangan Psikomotorik terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu : (Tetapi Karakteristik Perkembangan Psikomotorik ini ditujukan untuk periode bayi sampai kanak)

1. Refleks
Refleks merupakan reaksi alami terhadap stimulus yang mengatur gerakan bersifat otomatis dan diluar kendali. Refleks adalah mekanisme pertahanan hidup yang dibawa secara genetik.

2. Keterampilan Motorik Kasar
Keterampilan yang mengikuti aktivitas otot yang besar seperti menggerakan lengan dan berjalan.
a. Perkembangan Postur Tubuh,
b. Belajar Berjalan.

3. Ketarampilan Motorik Halus
Melibatkan gerakan yang diatur dengan lebih halus seperti keterampilan tangan
a. Penggunaan Tangan[16]
Sedangkan menurut Fuji Lestari, Karakteristik Perkembangan Psikomotorik Serta Implikasinya Bagi Pendidikan dibagi menjadi 3 (tiga) massa, yaitu :

1. Massa Anak-Anak
Karakteristik :
Ketika anak-anak sekolah menghadapi dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang dan perlu mengembangkan perilaku yang bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Anak-anak belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berpikir mengenai apa yang sedang ia perbuat / intelegensi dasardimiliki anak tersebut kelak. Pada tahap ini anak-anak belajar secara praktis dengan keterampilan-keterampilan perseptual, motorik, kognitif dan kemampuanbahasa yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu.Atas prakarsa mereka sendiri, anak-anak pada tahap ini beralih ke dunia sosial yang lebih luas.

Pengatur utama prakarsa adalah suara hati, prakarsa dan antusiasme mereka dapat menyebabkan mereka menerima hadiah / hukuman. Muncul pula gejala insight – learning (melihat situasi problematik, berpikir sesaat, spontan memperoleh pemahaman) dan perilaku-perilaku ranah cipta / kognitif.Perasaan bersalah jika anak tidak diberi tanggung-jawab dan dibuat terlalu cemas, rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa berhasil.Rata-rata binatang beberapa saat setelah lahir sudah bisa mandiri. Sebuah tayangan di TV seekor bayi jerapah yg kira-kira 4 jam setelah lahir sudah berusahaberdiri dan lari dengan ibunya. Katanya supaya tidak jadi korban makanan harimau. Bayi reptil begitu menetas sudah bisa berenang dan berlari-lari.

Semua bayiini, biarpun sudah bisa lari tetapi mereka tetap bermain-main. Konon, masa bermain ini merupakan masa mereka berlatih, menguatkan tulang dan belajar keahlianyang mereka butuhkan untuk masa dewasa mereka kelak ketika mereka harus mandiri.Untuk manusia, masa kanak-kanak sangat lama, dan ini disebabkan karena keahlian yang harus mereka kembangkan kelak juga jauh lebih rumit daripada sekedar mencari, menerkam dan memburu makanannya sehingga masa bermainnyapun lebih lama daripada mahluk lain. Bagi Erikson, masa usia 3 sampai 6 tahun, ini adalah fase bermain. Dalam fase inilah anak-anak belajar berfantasi, belajar mentertawakan diri, mulai belajar bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada fase initerletak fondasi anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada fase berikut.

2. Massa Remaja
Periode ini individu / anak berpikir intuisif / berpikir mengandalkan ilham, anak-anak berimajinasi memperoleh kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran & idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Pada tahap ini remaja / individu dihadapkan pada temuan siapa mereka? Bagaimana mereka nantinya? Kemana tujuan mereka?

Menuju dalam kehidupannya => Penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran karir merupakan hal penting. Pada tahap ini remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak / berurutan 2 ragam kemampuan kognitif.

a. Kapasitas menggunakan hipotesis.
b. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, logis dan idealisitk (berpikir tentang pemikiran itu sendiri).
Anggapan dasar seorang remaja akan berpikir hipotesis => berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam pemecahan masalah dengan menggunakan dasar yangrelevan dengan lingkungan yang ia respon, memiliki perhatian ke masa depan, etika ideal, dsb. Guru & orang tua mengetahui bahwa kecerdasan itu melibatkan interaksi aktif antara siswa dengan dunia disekitarnya. Oleh karenanya lingkungan siswa, sepertirumah tinggal, seyogyanya ditata sebaik-baiknya agar memberi efek positif terhadap perkembangan intelegensi anak.

Terjadi proses asimilasi (info baru digabungdalam pengetahuan yang ada) => pergolakan kognitif yang tajam.Sekolah sebagai pelatihan-pelatihan intelektual, mempertahankan orientasi-orientasinya pada hal yang komprehensif yang dirancang untuk melatih remaja secaraintelektual seperti kejuruan & sosial, dalam perkembangan fisik, kognitif dan sosial orang tua dan guru harus terus memantau agar meningkatkan kemandirian remaja tertantang secara intelektual oleh tugas akademis dan menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial dan emosional sebagai sesuatu yangsecara intrinsik penting dalam sekolah bagi remaja.

3. Massa Dewasa
E.B. Hurlock (1986) mengemukakan bahwa penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healthy personality) ditandai dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Mampu menilai diri secara realities.
b. Mampu menilai situasi secara realistik.
c. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik.
d. Menerima tanggung jawab.
e. Kemandirian (autonomi).
f. Dapat mengontrol emosi.
g. Berorientasi tujuan.
h. Berorientasi keluar.
i. Penerimaan sosial.
j. Memiliki filsafat hidup.

Periode Perkembangan : Masa Awal Dewasa (18/19 - 30 tahun)
Karakteristik :

Individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi yang akrab dengan orang lain, Erikson menggambarkan keakraban sebagai penemuan diri sendiri,tanpa kehilangan diri sendiri pada orang lain.Pada periode ini, individu termotivasi untuk berhasil melalui perkembangan sosial. Pada proses belajar individu membentuk keintiman dalam proses pembentukan identitas yang tetap dan berhasil, jika keintiman tidakberkembang individu mengalami “isolasi” yang membentuk persahabatan yang sehat dan ketidakmampuan melakukan hubungan sosial individu => frustasi =>introspeksi diri untuk menemukan kesalahan.

Introspeksi diri mengakibatkan depresi dan isolasi => menghambat keinginan untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri.Oran tua / guru memiliki implikasi penting pada kematangan mereka (kemandirian & kebebasan).Perkembangan emosional, intelektual dan sosial. Pada usia ini, kita sudah bukan lagi anak-anak atau remaja, tetapi pemuda atau pemudi. Kita sudah dianggap dewasa dan kita dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan kita. Tugas kita pada periode ini adalah mengenal dan mengijinkan diri kita untuk mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan yang intim sedang kegagalan kita akan membuat kita terisolasi atau mengisolasi diri dari sekeliling kita. Keintiman dapat terjadi karena kita telah mengenal diri kita dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang kita miliki. Akibat dari rasa aman ini adalah mengijinkan orang lain untuk sharing dengan kita melalui hari-hari dan malam-malam kita, mengenal kelebihan dan kekurangan kita. Jadi, pada pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang menghasilkan karya-karya yang lebih besar.

Periode Perkembangan : Masa Pertengahan Dewasa (antara pertengahan 20-50 tahunan)
Karakteristik :

Mencakup rencana-rencana orang dewasa atas apa yang mereka harap guna membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna melalui generativitas / bangkit.Sebaliknya, stagnasi / mandeg => ketika individu tidak melakukan apa-apa untuk generasi berikutnya. Memberikan asuhan, bimbingan pada anak-anak, individu generatif adalah seseorang yang mempelajari keahlian, mengembangkan warisan diri yang positif danmembimbing orang yang lebih muda.Tugas kita dalam fase ini adalah mengembangkan keseimbangan antara generativity dan stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luasdaripada intimacy karena rasa kasih ini telah men"generalize" ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya. Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan. Misalnya saja, sebagian sangat besardari para orang tua tidak keberatan untuk menderita atau meninggal demi keturunannya, walau perkecualian pasti ada. Begitu pula dengan orang-orang yangmelakukan pekerjaan sukarela di Salvation Army, Word Vision, Palang Merah, Green Peace dan NGO (Non-Governmental Organization) bisa dikatakan termasuk mereka yang memiliki Generativity ini.Perkembangan Fisik Mengetahui besarnya bayi dalam kandungan pada waktu tertentu tahap perkembangannya terhitung pada hari pertama menstruasi, terutama dalam ukuran-ukuran panjang dan berat bayi terbagi menjadi :

• 8 Minggu – panjangnya satu inchi
• 12 Minggu – panjangnya tiga inchi
• 16 Minggu – panjangnya enam inchi
• 20 Minggu – panjangnya sepuluh inchi
• 24 Minggu – panjangnya dua belas inchi, dan beratnya lebih ½ Kg
• 28 Minggu – panjangnya lima belas inchi beratnya 1 Kg
• 32 Minggu – panjangnya enam belas inchi dan beratnya 2 Kg
• 36 Minggu - panjangnya delapan belas inchi dan beratnya 2 ½ sampai 2 ¾ Kg[17]

BAB III KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan tadi kita bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan, yang diantaranya yaitu :
 Pertumbuhan merupakan proses perubahan yang bersifat kuantitatif dan menyangkut jasmaniah.
 perkembangan adalah proses perubahan yang dimulai sejak hingga rentang hidupnya yang bersifat kualitatif dan bersangkutan dengan psikis manusia.
 Kematangan dalam proses pembelajaran ialah suatu keadaan / tahap dalam pencapaian proses pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam kegiatan belajar yang dilakukannya. Dengan demikian kematangan dalam pendidikan ialah kematangan potensi fisik & potensi metal psikologis yang telah dicapai dalam suatu tahap pertumbuhan dan perkembangan.
 Fungsi Kematangan dalam Belajar
• Memberi bahan mentah/bahan baku bagi suatu perkembangan.
• Memberi batas & kualitas perkembangn.
• Memberi kemudahan bagi pendidik untuk membimbing.
 Aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan, yaitu :
• Perkembangan Fisik,
• Perkembangan Kognitif
• Perkembangan Sosial-Emosional
 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, yaitu :
• Nativisme
• Empirisme
• Konvergensi
 Psikomotorik diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga gerakan-garakannya.
 Tahap Perkembangan Psikomotorik, yaitu :
• Masa Pra-Kelahiran,
• Masa Bayi,
• Masa Kanak-Kanak,
• Masa Kanak-Kanak Tengah dan Akhir,
• Masa Remaja.
 Perkembangan psikomotorik merupakan prasyarat untuk bisa belajar, tetapi perkembangan psikomotorik juga merupakan hasil belajar.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikomotorik, yaitu :
1. Faktor yang terdapat dari diri siswa sendiri. Diantaranya, terbagi menjadi :
a. Konstitusi tubuh,
b. Struktur dankeadaan fisik,
c. Koordinasi motorik,
d. Kemampuan metal dan bakat,
e. Tingkat emosionalitas yang terkendali.
2. Faktor yang berasal dari lingkungan
a. Lingkungan keluarga,
b. Lingkungan sekolah (dunia pendidikan).
 Dengan adanya perbedaan setiap individual membuat perkembangan setiap individual berbeda, dikarenakan ada individual yang proses perkembangan psikomotoriknya cepat ada pula yang proses perkembangan psikomotoriknya lambat. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya, sehingga proses perkembangannya berbeda-beda.
Footnote
[1]Angga Yuli S, http://gayul.wordpress.com/2009/12/07/pengertian-pertumbuhan-dan-perkembangan/

[2] John W. Santrock, Perkembangan Anak - Jilid 1. Hal 7

[3] Drs. M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. Hal 136

[4]Drs. M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. Hal 137

[5]kapanpunbisa.blogspot.com/2011/09/kematangan-dalam-belajar.html

[6] Yusuf Syamsu,Psykologi Perkembangan Anak dan Remaja.

[7]http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-perkembangan_02.html

[8]http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-perkembangan_02.html

[9]Drs.Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D, Psikologi Pendidikan. Hal 176-178

[10] Drs. Muhibbin Syah M.Ed., Psikologi Pendidikan “Suatu Pendekatan Baru”. Hal 59

[11] John W. Santrock, Perkembangan Anak Jilid 1. Hal 19-20

[12]http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2178082-perkembangan-potensi-peserta-didik-siswa/

[13]Anik Susanti, Makalah Psikologi Pendidikan_Perkembangan Anak. http://annik-kianprutic.blogspot.com/2011/12/makalah-psikologi-pendidikanperkembanga.html#!/2011/12/makalah-psikologi-pendidikanperkembanga.html

[14]Dr. Singgih D. Gunarsah, 1981 : 87

[15]PERKEMBANGAN ANAK NORMAL DAN KEBIASAAN-KEBIASAANNYA, http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-perkembangan_02.html

[16] John W. Santrock, Perkembangan Anak. Hal 208-219

[17]Fuji Lestari, http://pengembanganprogrampascal.blogspot.com/2009/05/karakteristik-perkembangan-fisik-dan.html

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijinkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Makalah Psikologi Pendidikan, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis