Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Belajar Mengajar Dan Faktor Yang Mempengaruhinya


BELAJAR MENGAJAR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

I. PENDAHULUAN

Dalam hidup manusia, pasti akan selalu terjadi sesuatu dalam perkembangnya. Setiap manusia akan selalu mengalami, menikmati, dan merasakan setiap hal yang memang sudah menjadi garis nasibnya. Adakalanya baik dan menyenangkan, namun tidak jarang akan menemui sesuatu yang tidak mengenakkan.

Dalam proses perkembangannya tersebut, manusia pasti tidak akan pernah terlepas dari masalah psikiologis yang mendera hidupnya. Dalam masa perkembangan tersebut, setiap manusia akan selalu mengalami sesuatu secara psikiologis yang hanya dia sendiri yang merasakannya. Itulah pengalaman pribadi dan juga bisa menjadi masalah pribadi bila hal itu tidak mengenakan. Di dalam makalah ini, akan dijelaskan masalah belajar mengajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya yang dimana masalah tersebut sudah menjadi hal wajar ketika orang memiliki masalah dalam pembelajaran.


II. RUMUSAN MASALAH

1. Pengertian Belajar
2. Pengertian Mengajar
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar-Mengajar
4. Prinsip-Prinsip Mengajar
5. Media Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar

III. PEMBAHASAN

1. Pengertian Belajar

Pengertian belajar yang diberikan oleh beberapa ahli pendidikan:

  • Dr. Musthofa Fahmi
Innatta’alluma ‘ibarotun ‘an ‘amaliyati taghoyurin au ta’adiilin fissuluuki awil khibroh. (sesungguhnya belajar adalah ungkapan yang menunjuk aktifitas yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku atau pengalaman).
  • Harorld Spears
Learning is to observe, to read to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. (belajar adalah mengamati, membaca, meniru membaca sendiri tentang sesuatu, mendengarkan, mengiktui petunjuk).

Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar, sepereti misalnya agar seseorang anak mahir dalam matematika maka ia harus banyak dilatih mengerjakan soal-soal latiahan. Menurut James O. whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Dengan demikian perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.

Setiap situasi diamanapun dan kapan saja memberi kesempatan belajar kepada seseorang. Situasi ini ikut menentukan set belajar yang dipilih. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh aktifitas belajar.

a. Mendengarkan
Dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ada ceramah atau kuliah dari guru atau dosen. Tugas pelajar atau mahasiswa adalah mendengarkan. Tidak setiap orang dapat memanfaatkan situasi ini untuk belajar, bahkan para pelajar atau mahasiswa yang diam mendengarkan ceramah itu mesti belajar. Apabila hal mendengarkan mereka tidak didorong oleh kebutuhan, motivasi, dan tujuan tertentu, maka sia-sialah pekerjaan mereka.

b. Memandang
Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang dapat kita pandang, akan tetapi tidak semua pandangan atau penglihatan kita termasuk adalah belajar. Meskipun pandangan kita tertuju kepada semua objek visual, apabila dalam diri kita tidak terdapat kebutuhan, motivasi serta set tertentu untuk mencapai suatu tujuan, maka pandangan yang demikian tidak termasuk belajar. Alam sekitar kita termasuk juga sekolah dengan segenap kesibukannya, merupakan objek-objek yang memberi kesempatan untuk belajar, apabila kita memandang segala sesuatu dengan set tertentu untuk mencapai tujuan yang mengakibatkan perkembangan dari kita, maka dalam hal demikian itu sudah termasuk belajar.

c. Meraba, membau, dan mencicipi atau mengecap
Meraba, membau, dan mengecap adalah aktivitas sensoris seperti halnya pada mendengarkan dan memandang. Segenap stimuli yang dapat diraba dicium, dan segenap merupakan situasi yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk belajar.

d. Menulis atau mencatat
Material atau objek yang ingin kita pelajari lebih lanjut harus memberi kemungkinan untuk dipraktekkan, beberapa material diantaranya terdapat di dalam buku-buku, di kelas, ataupun dibuat catatan kita sendiri, dan kita dapat membawa isi buku catatan dalam kesempatan. Dari sumber manapun kita dapat fotokopi pelajaran.

e. Membaca
Seringkali ada orang yang membaca buku pelajaran sambil berbaring santai di tempat tidurnya hanya dengan maksud agar dia bisa tidur, membaca seperti ini adalah bukan aktivitas belajar, ada pula orang yang membaca sambil berbaring dengan tujuan belajar, menurut ilmu jiwa, membaca yang demikian belum dapat dikatakan sebagai belajar. Belajar aktif adalah dilakukan di meja belajar daripada di tempat tidur.

f. Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi
Untuk keperluan belajar yang intensif, bagaimanapun juga hanya membuat ikhtisar adalah belum cukup. Sementara membaca, pada hal-hal yang penting kita beri garis bawah (underlaining). Hal ini sangt membantu kita dalam usaha menemukan kembali materi itu di kemudian hari.

g. Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan
Materi non-verbal semacam ini sangat berguna bagi kita dalam mempelajari materi yang relevan itu. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman kita tentang susuatu hal.

h. Menyusun paper atau kertas kerja
Mengambil materi yang diatur dengan membentuk sajian yang sistematis dan lengkap, dengan bahas yang bagus karena dibuat oleh para ahli, maka mereka memperoleh angka lulus. Dalam membuat paper ini, pertama yang perlu mendapat perhatian ialah rumusan topik paper itu, paper yang baik memerlukan perencanaan yang masak dengan terlebih dahulu mengumpulkan ide-ide yang menunjang serta penyediaan sumber-sumber yang relevan

i. Mengingat
Mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu belum termasuk sebagai aktivitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi jika mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas belajar lainnya.

j. Berpikir
Dengan berpikir, orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar sesuatu.

k. Latihan atau praktek
Dalam kegiatan berltih atau praktek, segenap tindakan subjek terjadi intregatif dan terarah ke suatu tujuan, hasilnya sendiri berupa pengalaman yang dapat mengubah diri subjek serta mengubah lingkungannya.


2. Pengertian Mengajar
  • Menurut Dr. Harold Benyamin
“teaching is the process of arranging conditions under which the learning changes his ways consciously in the direction of his own goals” (mengajar ialah sesuatu proses pengaturan-pengaturan kondisi-kondisi dengan mana pelajar merubah tingkah lakunya dengan sadar kearah tujuan-tujuan sendiri)
  • Menurut Prof. Drs. S. Nasution, MA
Mengajar ada yang bersifat teacher centered dan ada yang pupil centered, tipe pertma, mengajar adalah menanamakan pengetahuan pada anak. Sedang tipe kedua guru sebagai penglola yang aktif adalah siswanya sendiri. Namun, mengajar menurut faham lama adalah guru senantiasa aktif menyampaikan dan memompakan informsi atau fakta-fakta agar diskuasi siswa, siswanya sendiri pasif. Menurut faham baru mengajar adalah guru sebagai pengelola, pengatur, peracik lingkungan berupa tujuan, materi, metode, dan alat dengan siswa harus aktif.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar-Mengajar

Prestasi belajar yang dicapai seorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Dan diantaranya:

Faktor internal, meliputi:

a. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya

b. Faktor psikiologis baik bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas:
a) Faktor intelektif yang meliputi:

1. Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat
2. Faktor kecapakan nyata yaitu prestasi yang pernah dimiliki
b) Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri

Faktor kematangan fisik maupun psikis. Yang tergolong faktor eksternal, yaitu:
a) Faktor sosial yang terdiri atas:
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
4) Lingkungan kelompok
b) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian
c) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim
d) Faktor lingkungan spiritual atau keamanan


4. Prinsip-Prinsip Mengajar

Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :
  • Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  • Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
  • Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
  • Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
Selanjutnya guru harus mampu mengetahui sampai seberapa jauh kemampuan siswanya, kelebihan dan kelemahannya, langkah-langkah yang ditempuh. Evaluasi ini senantiasa didasarkan kepada tujuan yang telah ditetapkan dan bila ternyata kurang berhasil, maka harus segera dicari factor-faktor penyebab baik dari pihak siswa maupun dari pihak guru yang seterusnya mencari dan memilih alternative pemecahan sepanjang yang memungkinkan dilaksanakan.

5. Media Dan Kegiatan Belajar-Mengajar

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.


Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.

Seorang guru dituntut untuk dapat menggunakan peralatan yang lebih ekonomis, efesien, dan mampu dimiliki oleh sekolah serta tidak menolak digunakannya peralatan teknologi modern yang relevan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Permasalahan pokok dan cukup mendasar adalah kesiapan guru-guru dalam menguasai penggunaan media pendidikan dan pengajaran disekolah untuk pembelajaran siswa secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.

Agar seorang guru dalam menggunakan media pendidikan yang efektif, setiap guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan atau pengajaran. Pengetahuan tersebut menurut Oemar Hamalik (1985:16), diantaranya:

1. Media sebagai alat komunikasi guru lebih mengefektifkan proses belajar mengajar
2. Media berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan
3. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar
4. Hubungan antara metode mengajar dengan media pendidikan
5. Nilai dan manfaat media pendidikan
6. Memilih dan menggunakan media pendidikan
7. Mengetahui berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan
8. Mengetahui penggunaan media pendidikan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan
9. Melakukan usaha-usaha inovasi dalam media pendidikan


IV. ANALISIS

Belajar adalah suatu usaha untuk melakukan sesuatu demi tercapainya apa yang diinginkan. Setelah belajar biasanya ada sesuatu yng beda, dimana yang sebelumnya tidak tahu akhirnya menjadi tahu. Belajar meruapakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, dari mulai sejak masa dini sampai masa tua. Sehingga dengan belajar hidup menjadi terasa terarah dan terkendali untuk kehidupan masa yang akan datang. Hadits Nabi yang berbunyi: ”carilah ilmu walaupun sampai negeri china”, itu membuktikan belajar tidak hanya dikelas akan tetapi dimana saja. Juga pepatah arab yang berbunyi: ”carilah ilmu dari ayunan bayi sampai ke liang lahat”, ini juga membuktikan orang hidup adalah untuk belajar. Belajar apa yang ada di bumi seisinya dan apa yang dilangit, ayat Allah SWT berfirman: ” Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah kepada-Ku”, pertanyaannya bagaimana cara kita untuk bisa atau tahu yang benar untuk menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, yaitu dengan belajar ilmu agama terutama agama Islam supaya bisa beribadah kepada Allah SWT dengan baik dan benar.

Belajar pada umumnya dilakukan di kelas atau diruangan yang dimana bersifat ceramah, akan tetapi sekarang dengan teknologi modern yang semakin maju, pendidikan juga tidak kalah akan memanfaatkannya demi tercapainya belajar yang efektif dan modern, peserta didik juga lebih akan bisa memahami materi yang disampaikan dari pendidik. Metode dan teknik pembelajaran juga bisa dilakukan diluar ruangan kelas, tidak hanya berceramah menyampaikan materi akan tetapi menggunakan media atau teknologi untuk proses pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Aktifitas belajar seperti itu peserta didik akan lebih mudah mencerna materi dan tidak cepat bosan, akan tetapi peserta didik lebih semangat untuk belajar.

Meskipun demikian juga tidak mudah pengajar menyampaikan materi kepada peserta, hambatan dalam ini juga dipengaruhi oleh peserta didik juga, yang meliputi: faktor internal dan eksternal. Jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi hambatan seperti itu adalah pengajar harus cerdik, waspada dan teliti mengamati peserta didik dan selalu memperhatikan dari segi fisik maupun psikis, agar peserta didik menjadi generasi yang cerdas, bermatabat dan berakhlakul karimah. Dan juga melalui metode pendekatan individual kepada peserta didik yang mungkin mempunyai masalah dalam pembelajaran atau materi.

Hal semacam ini dibutuhkan seorang pengajar yang profesional, selain memahami teknologi pendidikan, pengajar juga memahami psikiologi anak ditransfer ke psikiologi pendidikan supaya UUD yang berbunyi: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bisa tercapai. Kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesinal komponen-komponen itu harus dimiliki oleh semua pengajar.


DAFTAR PUSTAKA
  • Asnawir, Prof. Dr. H. dan Usman Basyiruddin, Drs. M. M.Pd, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
  • Supriyono Widodo Drs. Dan Abu Ahmadi H. Drs, Psikiologi Belajar, Solo: Rineka Cipta, 2003
  • Mustaqim, Drs. H. M.Pd, DIKTAT Psikiologi Pendidikan, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2007
  • Derek Wood dkk, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar, Jogjakarta: KATAHATI, 2007
  • http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/kegiatan-pembelajaran-dan-pemilihan-media-pembelajaran/
  • http://www.slideshare.net/guestc6f390/standar-kompetensi-guru

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis