Aneka Ragam Makalah

Perekonomian Masyarakat melalui Kolam Pemancingan


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia hubungan antara sektor pertanian dengan pembangunan nasional pada dasarnya merupakan hubungan yang saling mendukung. Pembangunan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sedangkan mayoritas masyarakatnya hidup di pedesaan dengan jumlah terbesar bermata pencaharian di sektor pertanian. Salah satu tujuan Pembangunan Nasional lebih diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan melalui pembangunan sektor pertanian.[1]

Daerah pedesaan di Jawa Tengah merupakan wilayah yang memiliki potensi alam yang besar, akan tetapi potensi yang besar itu hanya sebagian kecil yang telah dikembangkan menjadi aktivitas perekonomian. Penduduk pedesaan Jawa Tengah lebih banyak tertuju pada sektor primer, sehingga lebih banyak kegiatan mengolah tanah untuk kegiatan pertanian. Sementara produksi alam lainnya belum banyak dimanfaatkan, kondisi ini menyebabkan besarnya ketergantungan masyarakat kepada keadaan alam. Suatu desa memiliki tanah yang subur dengan pengairan yang lebih, maka dapat dipastikan kalau secara ekonomi penduduk desa itu ekonominya lebih baik. Sebaliknya apabila lingkungan alamnya kurang menunjang, pertaniannya kurang subur, maka ekonomi penduduk desa dapat dipastikan sebagian masyarakat desa masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.[2] Penyebab dari permasalahan (kemiskinan) adalah kondisi alam desa dan manusianya sendiri. Secara geografis kondisi suatu desa, tanahnya subur tetapi belum diolah secara maksimal karena penduduknya yang jarang dan berpindah-pindah. Ada juga suatu desa yang kurang subur tetapi penduduknya padat sehingga menimbulkan berbagai permasalahan. Dari berbagai permasalahan yang kompleks, pemerintah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan tujuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di pedesaan, disamping mengurangi kesenjangan sosial antara masyarakat desa dengan masyarakat kota. Pembangunan itu sendiri merupakan rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan berencana yang dilakukan secara sadar oleh masyarakat bersama pemerintah menuju modernisasi dalam rangka pembinaan bangsa.[3]

Masyarakat desa dalam kehidupan sehari-harinya menggantungkan pada alam. Alam merupakan segalanya bagi penduduk desa, karena alam memberikan apa yang dibutuhkan manusia bagi kehidupannya. Mereka mengolah alam dengan peralatan yang sederhana untuk dipetik hasilnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alam juga digunakan untuk tempat tinggal.[4] Seperti diketahui masyarakat pedesaan sering diidentikkan sebagai masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang kegiatan ekonominya terpusat pada pertanian. Sektor ini belum bisa melahirkan bermacam pekerjaan, untuk itu mereka tidak bisa mengandalkan pendapatan dari hasil pertanian. Sektor ini merupakan sektor penting dalam perekonomian kebanyakan negara berkembang. Hal ini dapat dilihat pada peranannya dalam menciptakan pendapatan nasional, walaupun besar peranan sektor pertanian di negara berkembang pada taraf permulaan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun perhatian pemerintah untuk mengadakan perubahan dibidang perikanan sangat terbatas. Ada kecenderungan untuk mengabaikan sektor ini hal ini bersumber pada pandangan yang meragukan kemampuan sektor perikanan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.[5] Pemerintah menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi khususnya ekonomi pertanian dengan tujuan meningkatkan produksi pertanian dan perekonomian masyarakat sekaligus peningkatan pembangunan desa dalam bidang kependudukan ditekankan sekecil mungkin angka kelahiran dengan keluarga berencana. Pembangunan pedesaan dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan pedesaan mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat pedesaan yang terdiri dari berbagai sektor serta program yang saling berkaitan. Pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah melalui departemen dengan aparatnya di daerah. Selanjutnya pembangunan pedesaan dilakukan untuk meletakkan dasar pembangunan nasional yang sehat dan kuat. Pedesaan merupakan landasan ekonomi, politik budaya, serta pertahanan dan keamanan.[6]

Desa Jimbaran di Kecamatan Bawen merupakan desa yang memiliki ciri khas kondisi alamnya sama dengan desa-desa lain di wilayah Kabupaten Semarang. Sejak tahun 1995 penduduk Desa Jimbaran telah mengembangkan usaha pemancingan ikan.[7] Hal ini karena peranan dari Dinas Perikanan dan Pariewisata Kabupaten Semarang dalam mengembangkan desa Jimbaran menjadi desa yang mandiri. Usaha pemancingan di desa Jimbaran memiliki konstribusi yang besar bagi perekonomian desa, sehingga kegiatan ini berdampak pada peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, jaringan ekonomi dan lain-lain. Penduduk desa Jimbaran sekarang telah memiliki taraf hidup yang baik, kondisi ini dibuktikan dengan pembangunan jalan beraspal, kondisi rumah penduduk yang membaik, pembangunan sarana ibadah, dan lain-lain.[8]

Kondisi Desa Jimbaran sekarang berbeda dengan periode sebelum tahun 1990. sebelum tahun 1990 kondisi masyarakat Desa Jimbaran taraf ekonominya masih rendah, sedangkan kondisinya sekarang jauh lebih maju. Peningkatan kondisi ekonomi terlihat dari membaiknya keadaan fisik desa, kekayaan penduduk dan lain-lain. Peningkatan di bidang sosial terlihat dari luasnya hubungan sosial ekonomi penduduk, kemajuan pendidikan, organisasi, wawasan dan lain-lain. Sejak tahun 1995 penduduk Desa Jimbaran berusaha keras meningkatkan taraf hidupnya dengan mengembangkan potensi alam yang ada semaksimal mungkin, sehingga berakibat bertambah baiknya kondisi sosial ekonominya sekarang. Dibandingkan desa-desa lain di Kecamatan Bawen, Desa Jimbaran memiliki keunggulan utama, yaitu adanya usaha kolam pemancingan.

Awal ide pengembangan usaha pemancingan ini adalah adanya pembinaaan dari Dinas Perikanan dan Dinas Perikanan Kabupaten Semarang mengenai pengembangan usaha perikanan, ide ini kemudian direalisasi dengan lomba memancing. Sejak itulah bisnis pemancingan di Desa Jimbaran mulai berkembang.[9]

Keberadaan kolam pemancingan ini sangat membantu dalam meningkatkan pendapatan penduduk Desa Jimbaran dan menopang kegiatan ekonomi penduduk. Usaha kolam pemancingan seperti ini tidak dimiliki desa lain disekitar Jimbaran, karena penduduk sekitar sebagian besar masih menggantungkan penghidupanya dari hasil pertanian. Hal inilah yang membedakan Jimbaran dengan desa-desa disekitarnya, sehingga di saat terjadi penurunan hasil pertanian, penduduk Desa Jimbaran lebih kuat dalam mempertahankan ekonominya. Keberadaan kolam pemancingan juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah. Dengan banyaknya kolam pemancingan ikan sekarang menyebabkan desa Jimbaran menjadi desa yang banyak menyediakan kesempatan kerja dan menjadi salah satu alternatif tujuan wisata di Kabupaten Semarang.

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah:
  • Faktor-faktor apa yang mendorong kemajuan sosial ekonomi Desa Jimbaran 1995-2005?
  • Bagaimana perkembangan usaha kolam pemancingan di Desa Jimbaran Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang?
  • Apa dampak usaha sebelum dan sesudah adanya kolam pemancingan bagi kehidupan sosial ekonomi penduduk Desa Jimbaran 1995-2005?

B. Ruang Lingkup

Setiap penelitian dan penulisan sejarah diharuskan untuk menentukan batasan-batasan topik yang akan menjadi pokok pembahasan, dengan maksud agar pembahasan lebih praktis dan mempunyai kemungkinan untuk dikaji secara empiris, dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.[10] Batasan-batasan yang dimaksud adalah ruang lingkup spasial, ruang lingkup temporal, dan ruang lingkup keilmuan. Ruang lingkup juga membantu agar tidak terjerumus kedalam pembahasan yang terlalu luas.[11]

Ruang lingkup spasial yang diambil penulis adalah Desa Jimbaran Kecamatan Bawen, maka penelitian ini termasuk sejarah lokal. Penulisan tingkat lokal dalam sejarah adalah penulisan kesan masa lalu dari kelompok masyarakat yang pada tempat atau geografis terbatas.[12] Dipilihnya desa ini sebagai daerah penelitian, karena berkembangnya usaha kolam pemancingan di Desa Jimbaran dapat dipakai salah satu perkembangan desa yang miskin menjadi desa yang maju. Usaha penggalian potensi yang ada telah berhasil meningkatkan taraf hidup penduduknya, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi dibidang sosial ekonomi juga lebih menarik untuk dikaji.

Lingkup temporal pada penelitian ini adalah tahun 1995 sampai 2005. Tahun 1995 diambil karena merupakan awal ide pengembangan usaha pemancingan ini adalah adanya peranan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan Kabupaten Semarang mengenai pengembangan usaha perikanan, ide ini kemudian direalisasi dengan lomba memancing. Sejak itulah bisnis pemancingan di Desa Jimbaran mulai berkembang, sedangkan tahun 2005 dipilih sebagai batas akhir penelitian karena kurun waktu sepuluh tahun sudah tampak berbagai perkembangan yang terjadi di Desa Jimbaran. Hal ini dapat dilihat dari wujud fisik yang telah dilakukan berupa bertambahnya jumlah pengusaha kolam pemancingan, pembangunan jalan beraspal, dan pembangunan masjid. Pengaruh dari pembangunan ini terutama dapat dilihat pasda perubahan di bidang sosial ekonomi.[13]

Lingkup keilmuan yang diambil penulis adalah sejarah sosial ekonomi. Sejarah sosial ekonomi adalah sejarah yang mengkaji perkembangan sosial ekonomi masyarakat dengan menguraikan gajala-gejala yang terdapat di sekitar permasalahan ekonomi masa lalu dan masa kini.[14] Hal ini mengingat fokus kajiannya melingkupi perubahan sosial masyarakat di pedesaan. lingkup keilmuan skripsi ini termasuk dalam kategori sejarah sosial ekonomi. Seluruh aspek sosial yang menjadi obyek penelitian penulis, baik itu dalam bidang interaksi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, struktur kelembagaan, dan lain sebagainya.


C. Tinjauan Pustaka

Sebagai acuan untuk menganalisa permasalahan dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa buku. Pertama Djoko Suryo, R.M. Soedarsono dan Djoko Soekiman yang berjudul Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan.[15] Antara lain membahas tentang kehidupan sosial ekonomi dan dinamika masyarakat Pedesaan Jawa selama periode 1900-1930 an. Bagi masyarakat pedesaan Jawa ditandai dengan adanya perubahan sosial yang cepat. Berbagai faktor telah menyebabkan keketatan (regidity) stuktur sosiaal desa yang tradisional dan kecenderungan desa yang semakin melepas ikatan komunalitasnya. Perkenalan ekonomi uang telah mengubah berbagai hubungan kontrak yang bersifat komersial. Perubahan tersebut melandasi perubahan yang lebih mendalam pada masa berikutnya.

Ketimpangan-ketimpangan yang muncul di pedesaan telah menunjukkan bahwa di daerah pedesaan mulai terjadi pergeseran-pergeseran kegiatan, dari kegiatan disektor pertanian kesektor non pertanian. Keadaan ini menunjukkan bahwa di pedesaan mulai timbul berbagai ragam jenis mata pencaharian atau pekerjaan, yang tidak lagi bergantung pada usaha pertanian dan pemilikan tanah. Pada akhir-akhir ini terjadi pergeseran-pergeseran baru atau kecenderungan baru yang terjadi di daerah pedesaan yang menggambarkan, bahwa desa agraris pada masa sekarang mulai tidak utuh lagi, karena adanya pergeseran ke arah orientasi non agraris. Alasan sifat dinamis dan elastis dari masyarakat pedesaan menunjukkan keselarasan pertemuan unsur-unsur budaya dari dalam dan budaya dari luar, sehingga masih terwujud adanya kelangsungan dan perubahan dalam kehidupan sosial budaya di pedesaan. Dapat dikatakan bahwa satu pihak terjadi pembaharuan, namun tidak berarti nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tradisional lenyap sama sekali. Dilain pihak ada kecenderungan bahwa unsur-unsur budaya lama masih dapat hidup dalam taraf tertentu.

Relevansi buku tersebut dengan permasalahan yang ditulis cukup erat. Dalam permasalahan yang dibahas oleh penulis dipaparkan bagaimana peranan dan dampak adanya usaha kolam pemancingan terhadap masyrakat desa Jimbaran.

Kedua yang dijadikan acuan adalah karangan B.N. Marbun yang berjudul Pembangunan Desa.[16] Pustaka ini berisi tentang pembangunan desa harus dimulai dengan perbaikan aparat pelaksana, yaitu orang yang merealisasi rencana serta mampu mewujudkan menjadi manfaat dan kenikmatan bagi orang desa melalui proses yang wajar. Pembangunan desa dapat berhasil dengan tersedianya sumber tenaga manusia, modal dan sumber daya lainnya, serta adanya organisasi yang mampu mewujudkan rencana menjadi hasil. Pembukaan Industri pada dasarnya guna menyerap tenaga kerja, namun harapan ini tidak terpenuhi. Karena pada umumnya industri yang sudah ada intensif modal, tidak banyak menyerap tenaga manusia. Praktek pembangunan industri sekarang tidak menolong pembangunan desa dan bahkan menambah beban baru yaitu arus urbanisasi.

Pembukaan lokasi industri menengah dan kecil di kota dan desa secara otomatis akan mendekatkan desa dengan kota atau sebaliknya, sehingga industrialisasi ini akan menyerap tenaga kerja dari desa maupun kota tersebut. Kebijakan ini mempunyai tujuan mengurangi beban urbanisasi dan sekaligus menjembatani jurang pemisah antara desa dengan kota. Terserapnya tenaga kerja yang semula sebagai buruh tani dari desa ke industri menengah dan kecil merupakan pemecahan masalah pembangunan desa. Kurangnya jumlah areal pertanian diantara tuan tanah dan petani merupakan biang keladi dari penderitaan para petani di desa. Merealisasi pembangunan pertanian yang industrial dan produktif, digariskan suatu kebijaksanaan agar pemerintah menetapkan harga patokan padi dan beras sesui dengan harga dalam pasar internasional. Selain itu perlu dibuka industri kerajinan dan industri lainnya.

Penelitian ini sangat relevan dengan permasalahan yang ingin dibahas dalam skripsi ini, selain digunakan sebagai sumber karena obyek yang dibahas sama dengan skripsi ini, penelitian ini juga memberikan gambaran awal tentang pengembangan desa Jimbaran.

Ketiga adalah karya Daniel Lerner dalam bukunya Memudarnya Masyarakat Tradisional.[17] Buku ini menjelaskan tentang proses perubahan di masyarakat tradisional ke masyarakat modern pada masing-masing negara cenderung mempunyai percepatan yang berbeda. Hal ini tergantung pada latar belakang kondisi sosial-ekonomi, budaya dan politik dari masing-masing negara. Proses memudarnya masyarakat tradisional dimulai sejak dilaksanakannya modernisasi pembangunan pedesaan terutama dibidang pertanian. Dari pertanian tradisional ke pertanian modern telah menghasilkan kemajuan. Seperti diperkenalkannya teknologi pertanian baru menggeser cara bertani konvensional sehingga dapat diperoleh hasil panen yang lebih baik.

Relevansi buku ini dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tahap transisi masyarakat tradisional ke masayarakat modern, dengan ditandai perubahan dalam aspek kehidupan ekonomi, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Buku ini juga membahas kecepatan perubahan dalam masing-masing bidang kehidupan baik ekonomi, politik, sosial, serta budaya.. Buku ini relevan sekali karena terdapat pola yang kurang lebih sama yaitu adanya perkembangan usaha / industri merupakan jalan keluar dari masalah terbatasnya kesempatan kerja disektor pertanian.

Keempat adalah karya St. Sutrisno dalam Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”[18]. Artikel ini mewnjelaskan tentang profil Suharno, petani kecil yang pernah dibuang ke Pulau Nusa Kambangan sebagai tahanan politik (Tapol) itu, bisa mengubah nasib kampungnya yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang, kini menjadi daerah tujuan wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sekitar tahun 1965, tanpa proses pengadilan, Suharno dijebloskan ke Nusa Kambangan, sebuah pulau kecil di sebelah selatan pulau Jawa, pulau yang memang dikenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik, khususnya mereka yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Maklum, saat itu PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh rezim Suharto. Setelah sekitar tiga tahun berada di Nusa Kambangan, Suharno berhasil kembali dan menjalani kehidupan ”normal”-nya di kampung halamannya, Dusun Blater, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Bawen Ceritanya mulai berubah ketika tahun 1995, Dinas Perikanan Kabupaten Semarang melakukan penyuluhan dan pembinaan pemeliharaan ikan. Maka dibentuklah kelompok perikanan Ngudi Mulyo. Kelompok tersebut diberi bantuan bibit ikan dan perbaikan kolam. Meskipun tidak menjabat sebagai ketua kelompok, Suharno bisa dibilang paling getol mengupayakan keberhasilan kelompok ini. Maklum, awalnya kelompok tersebut menderita kerugian, maka Suharno pun bekerja keras untuk bisa membuktikan bahwa kelompok perikanan tersebut memiliki masa depan. Kini keberhasilan sudah bisa dinikmati tidak hanya oleh keluarga Suharno, tetapi juga oleh penduduk setempat. Kampung di dekat daerah wisata Bandungan, yang dulunya ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi daerah wisata kuliner paling ramai di Kabupaten Semarang, khususnya di hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya.

Kini, di sana terdapat 15 kolam pemancingan, tiga di antaranya adalah milik Suharno. Omzet dari tiga kolam tersebut mencapai Rp. 100 juta lebih per bulan. Dengan asumsi pendapatan kolam yang lain sama, maka total omzet mereka bisa mencapai Rp. 500 juta/bulan. Belum lagi pemasukan dari parkir sepeda motor dan mobil yang mencapai tidak kurang dari Rp. 3 juta/bulan. Sedangkan hasil retribusi mobil yang bisa disumbangkan ke kampung mencapai Rp. 700.000,- lebih per bulan. Pemasukan ini dipakai untuk pembangunan kampung, di antaranya untuk pengaspalan jalan dan perawatannya. Berkat kerja keras Suharno dan rekan-rekannya di kelompok perikanan Ngudi Mulyo-lah Kampung Blater yang dahulu ibarat tidak pernah dilirik orang itu kini menjadi kampung yang sangat asri, ramai, mandiri, dan menjadi kampung tujuan wisata banyak orang untuk mancing, menikmati pecel lele, gurami bakar dan sebagainya. Meskipun perannya yang sangat besar terhadap kemajuan kampung ini, dan dia barangkali bisa disebut sebagai ”Pahlawan”, tetapi Suharno tetap merendah, sebagaimana disampaikan putra sulungnya berikut ini: ”Semua tidak lepas dari bantuan dan penyuluhan dari Dinas Perikanan Kabupaten Semarang. Khususnya Bapak yang fotonya ada bersama Bapak saya itu,” katanya.


D. Kerangka Teoritis dan Pendekatan

Dalam penelitian sejarah diperlukan peralatan berupa pendekatan yang relevan untuk membantu mempermudah usaha dalam mendekati realitas masa lampau.[19] Guna mempertajam analisa dalam permasalahan ini digunakan pendekatan ilmu sosial yaitu ilmu Sosiologi dan Ekonomi. Pendekatan Sosiologi ini digunakan untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat dan memahami kelompok sosial khususnya berbagai macam gejala kehidupan masyarakat.[20]

Penelitian sejarah tidak semata-mata bertujuan menceritakan kejadian, tetapi bermaksud menulis kejadian itu dengan mengkaji sebab-sebab kondisi lingkungan konteks sosial budaya. Dalam membuat analisis sejarah diperlukan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup pelbagai konsep dan teori yang masih dipakai dalam membuat analisis itu.[21]

Secara konseptual pengertian perkembangan adalah suatu proses evolusi dari yang sifatnya sederhana kearah sesuatu yang lebih kompleks melalui berbagai taraf diferennsiasi yang sambung menyambung. Dimulai dari perubahan-perubahan yang ditelusuri, semuanya itu ada proses transformasi dari yang homogen ke heterogen dan ada faktor-faktor yang mempengaruhi.[22]

Dalam sosiologi, istilah perkembangan mencakup suatu proses perubahan yang berjalan terus menerus, terdorong oleh kekuatan-kekuatan, yakni yang berasal dari dalam maupun luar masyarakat itu sendiri dan mempunyai variabel-variabel sebagai latar belakang.[23]

Suatu proses perubahan sosial dapat terjadi secara sengaja dan tidak sengaja. Perubahan yang disengaja adalah perubahan yang telah direncanakan sebelumnya oleh anggota masyarakatnya. Perubahan yang tidak disengaja adalah perubahan yang terjadi diluar pengawasan masyarakat dan menimbulkan akibat yang tidak disangka sama sekali.[24] Kita sering menyebut desa untuk menunjuk pada suatu wilayah administrasi terkecil yang penduduknya, sebagian besar menggantungkan hidup dari usaha pertanian. Karakteristik umum masyarakat desa adalah kemiskkinan dan keterbelakangan yang disebabkan beberapa hal, yaitu; pendapatan yang rendah, antara kesenjangan yang dalam antara yang kaya dan miskin, yang miskin adalah mayoritas, dan partisipasi rakyat yang minim dalam usaha-usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah.[25] Masyarakat desa merupakan persekutuan hidup dengan segala keteraturan dalam tata kehidupan dan penghidupan. Salah satu fungsi utama sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia adalah melakukan kegiatan berbagai produksi, terutama sektor pertanian, dengan orientasi hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik ditingkat desa sendiri atau tingkat lain yang lebih luas. Dengan demikian mudahlah dimengerti, apabila kegiatan utamanya dalam kegiatan pengolahan dan pemanfaatan lahan-lahan pertanian, karena fungsi sosial ekonomi utama masyarakat pedesaan seperti hal tersebut di atas, maka sumber daya fisik utama yang paling penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan tersebut adalah tanah atau lahan pertanian.[26] Kolam pancing adalah suatu usaha yang menyediakan fasilitas untuk memancing ikan dan dapat dilengkapi penyediaan jasa pelayanan makan dan minum.[27]

Kondisi ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal sebagai akibat dari perubahan masyarakat yang terjadi dalam segala segi kehidupan. Perubahan itu juga akibat dari adanya inovasi di bidang seni dan ekonomi yang merupakan proses perubahan tenaga kerja, desain-desain, manajemen dan penggunaan teknologi baru.[28] Usaha kolam pemancingan merupakan alternatif usaha dalam mengatasi persoalan ekonomi. Usaha kolam pemancingan merupakan usaha yang sesuai dengan kondisi alam yang ada dan kemampuan penduduk. Ini berarti masyarakat Desa Jimbaran telah menggabungkan aset pembangunan, sebab pembangunan memerlukan aset pokok, baik sumber daya alam, maupun sumber daya manusia.[29] 

Menurut Keesing, lazimnya suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk menopang kehidupannya merupakan suatu pilihan yang melibatkan proses-proses pengambilan keputusan dalam menghadapi dunianya, bahkan dengan cara yang paling praktis dan mempunyai tujuan langsung. Manusia tentu akan membuat pilihan, dan pilihan ini tergantung pada keadaan materi, kepentingannya dan sistem nilai.[30] Sehingga dapat terjadi pada suatu kawasan lingkungan yang sama dijumpai perbedaan-perbedaan kegiatan masyarakat.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus melakukan aktifitas ekonomi yang meliputi bidang yang berhubungan langsung dengan alam, seperti pertanian, perikanan, pertambangan dan sebagainya.[31] Secara tidak langsung bahwa sistem sosial budaya memiliki sifat pendorong maupun membatasi perilaku yang dapat berubah. Dapat dikatakan bahwa variasi-variasi atau keputuan-keputusan individu merupakan bentuk inovasi yang dapat memicu perubahan. Disamping itu unsur-unsur internal tersebut tidak dapat sepenuhnya terlepas, namun diwarnai oleh unsur-unsur eksternal yang berasal dari lingkungan di luar yang menyebabkan sistem perekonomian menjadi semakin kompleks. Unsur-unsur eksternal seperti kondisi sosial dan ekonomi yng berupa keadaan pendidikan, kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah. Kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan nampaknya menjadi sebab sebab perubahan yang kesemuanya merupakan variabel-variabel yang saling berkait dalam hubungannya dengan tumbuh dan berkembangnya usaha kolam pemancingan Desa Jimbaran.

Upaya yang dicapai oleh masyarakat Desa Jimbaran dalam mengembangkan usaha kolam pemancingan di desanya mendorong terjadinya perubahan sitem perekonomian dan akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada sistem hubungan atau kehidupan sosial. Faktor lingkungan sebagai unsur eksternal secara tidak langsung juga telah mempengaruhi aktivitas ekonomi yang telah memicu munculnya pengembangan usaha pemancinngan itu sendiri. Pembuatan kolam ikan di pekarangan merupakan salah satu usaha pemanfaatan lahan secara intensif.[32] Lahan untuk kolam ikan yang dipakai penduduk Desa Jimbaran adalah lahan pekarangan, namun tidak menutup kemungkinan digunakannya lahan sawah. Aktivitas kerja yang dilakukan oleh masyarakat Jimbaran kiranya merupakan upaya pencapaian dalam pengembangan yang didukung oleh etos kerja yang tinggi.

Masyarakat dalam melakukan aktivitasnya didorong oleh motivasi kerja yang akan membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang bersangkutan. Semua unsur tersebut diatas tampaknya menyebabkan berubahnya pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Desa Jimbaran.

Proses perkembangan yang terjadi telah membawa dampak sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat pendukungnya. Perubahan itu tidak hanya terjadi di kalangan buruh-buruhnya serta masyarakat luar. Itulah sebabnya dalam studi ini digunakan pendekatan sosiologis-ekonomis dengan menggunakan konsep sosial dan ekonomi. Kegunaan sosiologi adalah untuk menjelaskan sesuatu hal antar hubungan manusia itu sendiri, manusia dengan kelompok yaitu gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat dalam hubungan manusia itu sendiri, manusia dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok yaitu gejala-gejala sosial yang ada pada masyarakat dalam hubungan antar manusia itu sendiri yang berkecimpung dalam usaha kolam pemancingan.

Ekonomi dipakai untuk mengetahui perkembangan usaha dilihat dari faktor-faktor produksi dan hubungan interaksi antar masyarakat sebagai pengusaha, serta antara buruh dan majikan. Selain itu objek penelitian ekonomi akan diteliti hubungan aktivitas tingkah laku masyarakat yang berhubungan dengan penghasilan, hubungan antara produksi dan permintaan pasar (supply and demand).

Sesuailah kiranya apabila teori yang pinjam adalah dari disiplin sosiologi dan teori ekonomi, karena keduanya merupakan disiplin yang sangat erat hubunganya dengan aktivitas manusia dalam dalam hubungannya dengan perkembangan kolam pemancingan Desa Jimbaran.

Penelitian ini bersifat sosial ekonomi lokal, karena dengan membahas aspek sosial ekonomi diharapkan uraiannya akan mengena dengan memperhatikan aspek-aspek struktural, dengan melihat perubahan sosial yang diakibatkan oleh adanya pertumbuhan ekonomi masyarakat desa tersebut.


E. Metode Penelitian dan Penggunaan Sumber

Metode penelitian adalah suatu cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan kemudian penelitian untuk menyimpulkan, mengorganisasikan dan menafsirkan apa saja yang dapat dimanfaatkan dalam khasanah ilmu pengetahuan manusia.

Adapun tahapan-tahapan metode sejarah kritis adalah sebagai berikut
  • Heuristik yaitu proses pengumpulan data dan menemukan sumber berupa dokumen-dokumen tertulis dan lisan dari peristiwa masa lampau sebagai sumber sejarah.
Adapun sumber sejarah tertulis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Surat kabar Suara Merdeka, Surat Kabar Kompas, Arsip Kecamatan Bawen mengenai data statistik yang memberikan gambaran tentang keadaan sosial dan ekonomi di Kecamatan Bawen. Metode yang dilakukan dalam mengumpulkan sumber tertulis adalah studi pustaka dilakukan sebelum ke lapangan untuk mengumpulkan sumber sekunder yang relevan dengan masalah yang dikaji. Studi arsip dilakukan untuk mengumpulkan sumber primer tertulis yang ada di Kantor Kecamatan Bawen, Kantor Kelurahan Jimbaran, Biro Pusat Statistik Kabupaten Semarang, Bappeda Kabupaten Semarang .

Selain pengumpulan sumber tertulis, dilakukan juga pengumpulan sumber lisan. Metode ini dilaksanakan melalui wawancara terhadap sejumlah saksi sejarah di daerah penelitian meliputi tokoh-tokoh masyarakat, pejabat instansi yang mengetahui seluk-beluk peristiwa dan beberapa penduduk di kelurahan Jimbaran yang menjadi saksi awal pembangunan usaha kolam pemancingan. Metode sejarah lisan berguna untuk mengungkapkan keterangan-keterangan penting yang tidak ditemukan dalam sumber tertulis. Desa-desa kita tidak banyak yang menyimpan dokumen tua, kekurangan itu tentu harus diisi oleh sejarah lisan.[33]

Kritik Sumber, merupakan tahap kedua setelah sumber-sumber yang diperlukan terpenuhi. Kritik ekstern dilakukan untuk menguji sumber guna mengetahui keotentikan atau keaslian bahan dan tulisan dalam sumber tertulis. Kritik intern diperlukan untuk menilai isi sumber yang dikehendaki untuk mendapatkan kredibilitas sumber. Beberapa sumber yang penulis peroleh dan dilakukannya kritik sumber diperoleh beberapa sumber yang teruji keotentikannya, sebagian diantaranya melalui kritik intern dan penelusuran sumber melalui wawancara dapat diketahui kebenaran isi sumber yang penulis kehendaki.

Sintesa atau interpretasi yaitu tahapan untuk menafsirkan fakta serta membandingkannya untuk diceritakan kembali. Sumber yang telah diseleksi selanjutnya dilakukan tahapan sintesa untuk mengurutkan dan merangkaikan fakta-fakta serta mencari hubungan sebab-akibat.

Historiografi atau Penulisan Sejarah yaitu proses mensintesakan fakta atau proses menceritakan rangkaian fakta dalam suatu bentuk tulisan yang bersifat historis secara kritis analitis dan bersifat ilmiah berdasarkan fakta yang diperoleh. Dengan demikian perkembangan yang terjadi pada masyarakat desa Jimbaran dapat terungkap secara kronologis.


F. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam sistematika penulisan disajikan pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas yaitu :

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang dan Permasalahan, Ruang Lingkup, Tinjauan Pustaka, Kerangka Teoritis dan Pendekatan, Metode Penelitian dan Penggunaan Sumber, Sistematika Penulisan

Bab II Latar Belakang Desa Jimbaran sebelum adanya usaha kolam pemncingan. bab ini menjelaskan Kondisi Geografis, Kondisi Demografis, Kondisi Sosial Ekonomi dan Kondisi Sosial Budaya Masyarakat meliputi bidang pendidikan, agama dan kesehatan.

Bab III Perkembangan usaha kolam pemancingan desa Jimbaran Kecamatan Bawen tahun 1995-2005. perkembangan ini dibagi menjadi ; asal mula berdirinya usaha kolam pemancingan, perkembangan usaha kolam pemancingan tahun 1995-2005, yang meliputi; awal usaha kolam pemancingan, berkembangnya kolam pemancingan, munculnya warung makan ikan, berdirinya paguyuban pangudi mulyo.

Bab IV Pengaruh usaha kolam pemancingan terhadap Perkembangan Sosial dan Ekonomi Masyarakat desa Jimbaran Kecamatan Bawen tahun 1994-2004. Pengaruh terhadap bidang Ekonomi yaitu penyediaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat, sedangkan pengaruh terhadap bidang sosial berupa perubahan taraf hidup, perubahan status dan peranan dan solidaritas masyarakat.

Bab V akan disajikan Penutup yaitu berupa kesimpulan dari pembahasan ini. Kesimpulan disini merupakan jawaban atas permasalahan dan pembahasan berupa faktor-faktor yang mendukung perkembangan usaha kolam pemancingan serta pengaruh yang ditimbulkan dari keberadaan usaha kolam pemancingan pada tahun 1995-2005.

Footnote
[1]Entang Sastraatmadja, Ekonomi Pertanian Indonsia: Masalah, Gagasan, dan Strategi, (Bandung: Bumi Angkasa, 1985), hlm. 35.
[2]Sri Saadah Soepono, et al, Corak dan Pola Kehidupan Sosial Ekonomi Pedesaaan: Studi tentang Kewiraswastaan Pada Masyarakat di Plered, (Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1995), hlm 1.
[3]Sondang P. Siagian, Administrasi Pembangunan, (Jakarta: Gunung Agung, 1974), hlm. 21.
[4]I. N. Beratha , Teknologi Desa, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm.13.
[5]Sadono Soekirno, Beberapa Aspek Dalam Persoalan Pembangunan Daerah, (Jakarta: Lembaga Penerbit UI, 1985), hlm. 85.
[6]R. Bintarto, Interaksi Desa, Kota dan Permasalahannya, (Jakarta, 1989), hlm. 9.
[7]Kecamatan Bawen terdiri dari 12 Desa ; Asinan, Bawen, Doplang, Harjosari, Jimbaran, Kandangan, Lemahireng, Pakopen, Polosiri, Poncoruso, Samban, Sidomukti. Desa Jimbaran terdiri dari 4 Dusun ; Blater, Jimbaran, Krasak, dan Manggung.
[8]Wawancara dengan Suko Prayogo, 14 Desember 2008.
[9]Wawancara dengan Burhanudin Harahap, 11 Desember 2008.
[10]Taufik Abdullah, ed., Sejarah Lokal di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985), hlm. 10.
[11]Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1977), hlm. 28.
[12]Koentjaraningrat , op.cit. , hlm. 15.
[13]Wawancara dengan Suko Prayogo, 14 desember 2008
[14]Winardi, Pengantar Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi, (Bandung: Alumni, 1982), hlm. 50.
[15]Djoko Suryo, R.M. Soedarsono, Djoko Soekiman, Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan, (Jakarta: DEPDIKBUD Dirjen Kebudayaan Proyek penelitian dan pengkjian kebudayaan Nusantara. 1985)
[16]B. N. Marbun, Proses Pembangunan Desa, (Jakarta: Erlangga, 1983)
[17]Daniel Lerner, Memudarnya Masyarakat Tradisional, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983).
[18] St. Sutrisno, “Suharno, Mantan Tapol yang Kini Menjadi ”Pahlawan”, www.kabarindonesia.com
[19]Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi: Suatu alternative (Yogyakarta: Gramedia, 1982), hlm.5.
[20]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Djakarta: PT Radja Grafindo, 1990), hlm. 395.
[21]Sartono Kartodirdjo, Penelitian Ilmu Sosial dalam Metode Sejarah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm. 2.
[22]Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, (Djakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm.66.
[23]Mayor Polak, Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, ( Jakara: PT.Ikhtiar Baru Press, 1979), hlm.399-400.
[24]Soerjono Soekanto, Op.cit., hlm.90.
[25]Peter Hagul et. al, Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat, (Jakarta: Yayasan Dian Desa, 1992), hlm. 4.
[26]Sri Saadah Soepono, op. cit, hlm. 1.
[27]Peraturan Daerah Kabupaten Semarang no. 31 tahun 2001 tentang Penyelengaraan Usaha Rekreasi dan Hiburan. Hlm. 7.
[28]Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru, 1985, hlm. 256.
[29]Soekidjo Notoatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), hlm. 3.
[30]Roger M. Keesing, Antropologi Budaya: Suatu Perspektfi Kontemporer, ( Jakarta: Erlangga,1989), hlm. 166-168.
[31]Ruslan H. Prawiro, Ekonomi Sumber Daya, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1982), hlm. 19.
[32]Supriyono, et.al, Membuat Pekarangan Produktif, (Surakarta: PT Trubus Agiwijaya, 1997), hlm. 15.
[33] Kuntowijiyo, Metodelogi sejarah, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1994), hlm. 30.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis