Mencari...

Makalah Esensi Manusia dalam Pendidikan Islam

10:38 PM
Makalah Esensi Manusia dalam Pendidikan Islam

Oleh : Ibrahim Lubis


I. PENDAHULUAN:  Esensi Manusia dalam Pendidikan Islam

Falsafah pendidikan islam adalah aplikasi dari pandangan falsafah dan kaidah islam dalam bidang pengalaman manusia muslim yang disebut pendidikan[1]. Sebagai mana yang kita ketahui bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Fitrah yang terlahir sejak terciptanya manusia merupakan modal dasar manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk hidup lainnya[2]. Potensi yang berupa fitrah ini tidak akan berkembang jika tidak dibimbing dan dibina sedemikian rupa. Oleh karena itulah, melalui mediasi pendidikanlah potensi yang sudah terlahir itu akan terbina dan akan berkembang.

Keberadaan manusia sebenarnya sudah tercantum dalam ayat-ayat al-quran, berita mengenai manusia, proses penciptaan manusia sampai tatanan kehidupan manusia pun sudah diatur di dalam al-quran. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa pendidikan islam merupakan cara yang paling sempurna dalam mengembangkan potensi fitrah yang sudah ada sejak jaman ajali. Pendidikan islam akan memberikan bimbingan bagaimana menjadikan manusia sebagai manusia yang beriman sekaligus sebagai khalifah yang bertanggung jawab.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai esensi Manusia terhadap Pendidikan Islam, kajian ini diharapkan akan menghantarkan kepada kita untuk menjadi manusia yang berkepribadian muslim yang bertaqwa kepada Allah dengan pengamalan dari aplikasi kehidupan kita sehari-hari.



II. PEMBAHASAN : Esensi Manusia dalam pendidikan Islam


A. Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Dalam memahami manusia tentu harus dipedomani dengan pandangan islam sebagai tolak ukur yang mendasar untuk mengetahui sesungguhnya apa hakikat manusia. Dalam pandangan Islam manusia tercipta dari dua unsur yaitu unsur materi dan non materi. Dari pengertiannya bahwa dimensi materi bermakna manusia adalah al-jism dan dimensi non-materi bermakna al-ruh[3].

Dimensi materi memerlukan pendidikan yang berguna untuk mengembangkan potensi yang sudah terlahir, pembinaan dan pengembangan potensi yang dimiliki manusia berfungsi untuk menunjukkan bahwa manusia layak menjadi khalifah dimuka bumi ini. Perkembangan jaman yang terus-menerus semakin menunjukkan perkembangannya, harus diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang relevan guna untuk memberikan keseimbangan antara alam dengan manusia.

Jika pendidikan tidak mengambil perannya, maka manusia akan tertinggal dan tidak akan mampu mengelola kapasitas rahasia yang perlu diungkap yang berguna untuk menambah wawasan manusia dalam mengurus dan menjaga alam. Dimensi materi juga memiliki dua daya, yaitu: 

1. Daya Fisik atau jasmani seperti: melihat, meraba, mendengar, merasa, dan mencium
2. Daya gerak yaitu kemampuan manusia untuk menggerakkan tangan, mata, kaki dan sebagainya.

Sedangkan dimensi non materi bermakna tempat bagi segala sesuatu yang intelijibel dan dilengkapi dengan fakultas-fakultas yang memiliki sebutan berlainan dalam keadaan yang berbeda, yaitu ruh, nafs, qalb, dan aql[4]. Dimensi non-materi juga memiliki dua daya yaitu:

1. Daya berpikir yang disebut akal berpusat di kepala
2. Daya rasa disebut qalb atau hati yang berpusat di dada

Dapat disimpulkan bahwa manusia secara hakikatnya yang ditinjau dari kualitas dan kuantitas dalam pandangan pendidikan islam merupakan gabungan dua unsur yang terdiri dari unsur jasmani dan unsur rohani. Dua unsur tersebut telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi dan tingkat perubahan yang signifikan.


B. Tujuan Terciptanya Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

1). Menjadi Khalifah

Islam menempatkan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah. Kata khalifah bermakna sebagai pemimpin yang hakikatnya sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan titahNya di muka bumi ini[5]. Selain itu makna khalifah juga dapat dimaknai sebagai pemimpin yang diberi tugas untuk memimpin diri sendiri dan makhluk lainnya. Kepemimpinan yang harus dilaksanakan manusia sebagai khalifah adalah untuk menjaga, merawat, memelihara, mendayagunakan serta memakmurkan alam semesta guna kepentingan manusia secara keseluruhan[6].

Tujuan manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam terlahir kedunia ini tidak lain adalah untuk menjadi pemimpin atau khalifah, hal ini telah ditegaskan dalam Firman allah dalam surat Hud ayat 61:

“Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya”

Dari keterangan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Allah swt telah memberikan mandat kepada manusia untuk menjadi penguasa yang mengatur tatanan bumi dan segala isinya. Inilah kekuasaan yang bersifat umum yang diberikan Allah kepada manusia sebagai khalifah yakni untuk memakmurkan kehidupan di bumi[7].

2). Mengabdi Kepada Allah

Dalam Al-quran telah ditegaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada sang khaliq yaitu Allah swt. Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan tidaklah Ku-Ciptakan jin dan manusia,melainkan supaya mereka senantiasa mengabdikan diri (beribadah) kepada-Ku[8].

Dari keterangan ayat diatas menyatakan bahwa apa yang harus dilakukan manusia ketika terlahir kepermukaan bumi ini adalah hanya untuk mengabdi kepada allah. Dalam konteks ibadah dapat dimaknai bahwa segala aktifitas yang dilakukan manusia dalam keseharianya harus disandarkan dengan tujuan ibdah. Segala bentuk pengabdian harus disertai dengan niat dan tujuan hanya karena allah.

Makna ibadah tidak saja dapat diartikan dalam bentuk ritual keagamaan yang bersifat wajib saja, namun secara mendalam, konteks ibadah merupakan bentuk perlakuan dan perbuatan manusia yang disandarkan dengan niat dan tujuan hanya untuk mengabdi kepada allah semata.


C. Implikasi Esensi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Berdasarkan tujuan terciptanya manusia, maka tujuan pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam pendidikan adalah untuk mengenali dan meneguhkan kembali syahadah manusia terhadap tuhan[9]. Dalam hal ini, pendidikan haruslah merupakan suatu proses pemberi bantuan kemudahan atau bimbingan bagi seorang anak manusia untuk mengenali dan meneguhkan kembali syahadah primordialnya kepada Allah swt. Dalam pengertian ini, mengenali berarti menyadarkan manusia untuk mengetahui bahwa ia akan kembali kehadapan Allah, dan ia harus mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya kepada Allah swt.

Dalam konteks fungsi penciptaan manusia, implikasi esensi manusia sebagai Abdi Allah terhadap pendidikan islam adalah sebuah upaya untuk memberikan bantuan kemudahan bagi peserta didik dalam mengaktualitaskan daya-daya al-jism dan al-ruh ke arah ketundukan dan kepatuhan yang sepenuhnya kepada Allah swt. Dalam Perspektif Pendidikan Islam, pendidikan harus melatihkan dan membiasakan prilaku abid serta mengarahkan pikiran, emosi, nafsu dan perasaan peserta didik dan manusia umumnya untuk sepenuhnya taat dan tunduk terhadap perintah Allah swt.


III. PENUTUP

Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan yang mendasar bahwa tujuan akhir dari Esensi Manusia dalam pendidikan Islam adalah untuk menciptakan manusia muslim yang paripurna dalam konsep al-insan al-kamil, yaitu manusia yang selalu istiqomah dan kontinium terampil dalam memfungsikan daya jasmani dan ruhani mereka untuk selalu tunduk dan patuh kepada Allah swt. Pendidikan yang mengabaikan tujuan, fungsi dan tugas penciptaan manusia dari konsep pendidikan islam adalah satu bentuk konkrit jauhnya praktik pendidikan yang sesungguhnya.


REFERENSI
  • Omar mohammad al-Thoumy al-Syaibany, Falsafah al-tarbiyah al-Islamiyah, Bairut-Libanon: Dar al-Tarbiyah, 1975 
  •  Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009 
  •  M. Naquib al-attas, konsep Pendidikan Dalam Islam. Terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1990 
  •  Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 1, Bairut, Libanon: Dar al-Fikr, 1971
  •  Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman, Bandung: Mizan, 1994 
_______________
[1] Omar mohammad al-Thoumy al-Syaibany, Falsafah al-tarbiyah al-Islamiyah (Bairut-Libanon: Dar al-Tarbiyah, 1975)
[2] Pendapat Ibrahim Lubis, Mahasiswa Pascasarjana IAIN-SU
[3] Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009), h. 6
[4] M. Naquib al-attas, konsep Pendidikan Dalam Islam. Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1990), h. 5-7
[5] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 1 (Bairut, Libanon: Dar al-Fikr, 1971)
[6] Ibid.
[7] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman (Bandung: Mizan, 1994), h. 48
[8] Q.S, al-Dzariyat ayat 56
[9] Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan, ibid, h. 11



0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih