Aneka Ragam Makalah

Ibnu Khaldun | Pemikiran Pendidikan Islam


Makalah Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun


1. Pendahuluan

Jika kita berbicara tentang Ibnu Khaldun, beliau adalah seorang sejarawan sosiologi yang banyak dikagumi oleh kalangan intelektual yang cinta akan ilmu pengetahuan baik dunia bagian Timur maupun Barat. Hal ini disebabkan pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun yang banyak tertuang dalam buku karangannya Mukaddimah, buku pengantar sejarah yang sangat terkenal dan fenomenal. Dari masa Ibnu Khaldun sampai pada saat ini pemikiran beliau masih sangat relevan digunakan.

Dalam buku Mukaddimah ini selain memperkenalkan kepada kita tentang pribadi Ibnu Khladun, pemikiran tentang sosial, sarjana dan ‘ulama, diplomat dan politikus dengan pengalaman-pengalaman di istana sampai ke markas militer di Afrika Utara dan Spanyol, kita juga diperkenalkan tentang pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan.

Walaupun keadaan lingkungan ketika Ibnu Khaldun lahir tidak stabil, akan tetapi hal itu tidak menjadi penghambat bagi Ibnu Khaldun untuk terus belajar dengan kerja keras. Sehingga sampai saat ini pemikirannya sangat populer digunakan golongan intelektual di belahan dunia.

Selain Mukaddimah, masih banyak buah karya yang ditulis oleh Ibnu Khaldun. Serta pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun yang masih relevan digunakan sampai saat ini.

Untuk itu makalah ini akan membahas tentang biografi Ibnu Khaldun, Guru dn murid Ibnu Khaldun, karya-karya dan konsep pendidikan yang ditawarkan beliau.


II. Biografi Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun hidup pada awal periode Mamluk, yaitu periode sejarah keruntuhan peradaban Islam di Bagdad karena serangan Bani Tartar pada tahun 656 H s/d 923 H. Pada masa itulah Dinasti Usmani menaklukan Mesir dan menguasainya. Secara berangsur-angsur berpindalah kebudayaan Bagdad ke Kairo, sehingga kota Kairo menjadi pusat peradaban Islam dan berkembang pesat, terhindar dari kekejaman bangsa Tartar seperti yang terjadi pada Bagdad dan Syam ( Siria).[2]

Kaum Mamalik bukanlah berasal dari bangsa Arab asli sehingga mereka tidak dapat berbahasa Arab dengan fasih akan tetapi yang menakjubkan mereka membuka luas pengembangan ilmu pengetahuan dan para ulama . Hal ini disebabkan sultan-sultam Mamalik memiliki rasa keagamaan yang kuat dan peka serta menaruh perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, sehingga pada masa merekalah pemikiran pemikiran Islam berkembang dan berdirinya beberapa Madrasah.

Sejarah perjuangan Bangsa Arab Islam di tandai dengan kemenangan yang cemerlang diperoleh kaum Mamalik, membawa ketinggian kibaran bendera Arab selama 70 tahun. Akan tetapi pada akhir-akhir kejayaan tersebut Mamalik mengalami keruntuhan dan mengalami kelemahan, karena pengaruh dari faktor-faktor yang merusak dari dalam dan anarchism serta kegoncangan politik yang menggakibatkan perpecahan dan perselisihan pahaman.

Keluaraga Ibnu Khaldum mula-mula tinggal di Isbilah[3], pada masa pemerintahan bani Abbad. Ketika pemerintahan Muwahhidun di Andalusia menjadi lemah dan orang-orang Spanyol berusaha meruntuhkannya, maka keluarga Ibnu Khaldun berpindah ke Sabtah[4] dan akhirnya menetap di Tunis. Pada masa itu iklim kebebasan berpikir ditindas dan difitnah, desus-desus serta kegoncangan-kegoncangan kehidupan masyarakat memuncak. Pada masa inilah Ibnu Khaldun dilahirkan.

Nama lengkapnya Ibnu Khaldun adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H./27 Mei 1332 M. Ibnu Khaldun dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Selain itu, Ibnu Khaldun juga membahas tentang pendidikan Islam.

Wafi menguraikan silsilah leluhur Ibnu Khaldun berasal dari seorang sahabat Nabi, bernama Wail bin Hujr. Beliau dikenal sebagai sahabat Nabi, yang meriwayatkan lebih dari 70 Hadist. Ayah bernama Abu Abdullah Muhammad. Abu Abdulah Muhamad adalah seorang pribadi yang suka bergelut dalam dunia perpolitikan, sehingga tidak heran jika ayah mempunyai jabatan penting di pemeritahan. Setelah lama malang melintang dalam dunia perpolitikan ayah Ibnu Khaldun mengundurkan diri dan mengabdikan diri kepada dunia ilmu pengetahuan dan kesufian, ahli bahasa dan satra Arab.[5]

Pada waktu Ibnu Khladun baru berumur tujuh belas tahun ayahnya meninggal pada tahun 794 H/1384 M akibat wabah pes yang melanda Tunisia dan sebagain besar kota Masyriq dan Magrib[6]. Hal ini juga menyebabkan Ibnu Khaldun tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke Tunisia, akibat lainnya adalah pindahnya sebagian besar ulama dan sastrawan yang selamat dari wabah pes dariTunisia ke Magrib al-Aqsa.

Memasuki tahun ke-20 dari usianya, Ibnu Khaldun mulai tertarik dengan kehidupan politik, sehingga pada tahun 755 H./1354 M, karena kecakapannya Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretaris Sultan di Maroko, namun jabatan ini tidak lama di pangkunya, karena pada tahun 1357 Ibnu Khaldun terlibat dalam persekongkolan untuk menggulingkan Amir bersama Amir Abu Abdullah Muhammad, sehingga ia ditangkap dan dipenjarakan.[7] Tetapi tidak lama kemudian dia dibebaskan, yang kemudian pada tahun itu juga setelah Sultan meninggal dunia dan kekuasaan direbut oleh Al-Mansur bin Sulaiman dari menterinya Al-Hasan, maka Ibnu Khaldun menggabungkan diri dengan Al-Mansur dan dia diangkat menjadi sekretarisnya. Namun tidak lama kemudian Ibnu Khaldun meninggalkan Al-Mansur dan bekerjasama dengan Abu Salim. Pada waktu itu Abu Salim menduduki singgasana dan Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya dan dua tahun kemudian diangkat menjadi Mahkamah Agung. Di sinilah Ibnu Khaldun menunjukkan prestasinya yang luar biasa, tetapi itupun tidak berlangsung lama, karena pada tahun 762 H./1361 M., timbul pemberontakan di kalangan keluarga istana, maka pada waktu itu Ibnu Khaldun meninggalkan jabatan yang disandangnya.[8]

Kemudian tidak tahan lama Ibnu Khaldun bergelut dengan dunia politik dia ingin kembali ke dalam dunia ilmu pengetahuan yang pernah lama digelutinya. Akhirnya dia memutar haluan bertolak ke daerah Banu Arif bersama keluarganya, dan di tempat inilah Ibnu Khaldun dan keluarganya baru merasa hidup tenang dan tentram jauh dari kemunafikan politik. Dalam ketenangannya itu Ibnu Khaldun merenung ingin menumpahkan semua pengalaman dan liku-liku kehidupannya. Maka dari sinilah ia mengalihkan perjalanan hidupnya dari petualang politik kembali kepada dunia ilmu pengetahuan, dan mulailah ia menyusun karya besarnya yang kemudian dikenal dengan “Muqoddimah Ibnu Khaldun”.

Selama empat tahun tinggal di daerah Banu Arif Ibnu Khaldun juga menyusun sejarah besarnya Al-‘Ibar, akan tetapi karena kekurangan referensi maka ia pergi ke Tunisia, dan disanalah ia menyelesaikan karyanya. Rupanya ketenangan Ibnu Khaldun terganggu lagi ketika Sultan mengajaknya untuk mendampingi menumpas pengacau, namun karena Ibnu Khaldun sudah jenuh dengan kehidupan politik, maka kemudian ia pindah ke Mesir. Di Mesir Ibnu Khaldun disambut dengan hangat. Ilmuwan serta sarjanawan ini sudah tidak asing lagi di sana karena karya-karyanya sudah tersebar di sana. Sebagai orang baru Ibnu Khaldun langsung diberi dua jabatan penting yaitu sebagai hakim tinggi dan sebagai guru besar di perguruan Al-Azhar. 

Secara singkat ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalanan hidup Ibnu Khaldun yaitu:[9]

Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Al-quran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.

Periode kedua, pada usia 20 tahun ia bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez di Maroko. Akan tetapi setelah Tunisia dan sebagian kota masyrik dan Maghrib dilanda wabah pes yang dasyat pada tahun 749 H, mengakibat kan ia tidah dapat melanjutkan studinya. Bahkan, pada waktu itu ia kehilangan orang tuanya dan sebagian pendidikanya. Dengan kodisi yang demikian, maka pada tahun 13362 ia pindah ke Spanyol.

Diantara pendidik Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Saad Ibn Burral al-Anshari. Dari beliau ia belajar al-Qur’an dan Qiraat Sab’ah. Selain itu, guru Ibnu Khaldun yang lain adalah Syekh Abu Abdullah Ibnu Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwas al-Zarazli, Ahmad Ibnu al-Qassar, Syekh Syams al-Din Abu Abdullah Muhammad al-Wadisyasyi( belajar ilmu Hadis, bahasa Arab dan Fiqih), dan Abdullah Muhammad ibnu Abd al-Salam ( belajar kitab al-Muatha’ karya Imam Malik) dan banyak lagi guru Ibnu Khaldun yang tidak disebutkan dalam makalah ini.

Periode ketiga, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.

Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode keempat, kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya.

Ibnu Khaldun wafat pada tanggal 26 Ramadhan 808 H( 16 Maret 1406 M), tak lama setelah ditunjuk ke eman kalinya menjadi seorang hakim.[10]


III. Guru-Guru Ibnu Khaldun

Dibalik keberhasilan yang dicapai oleh Ibnu Khaldun tidak luput dari jasa guru-gurunya yang memberikan berbagai pelajaran dan mengajarkan pengalaman mereka kepada beliau. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa guru-guru yang ada dibalik keberhasilan Ibnu Khladun. Antara lain:

1) Abu Abdullah Muhammad yaitu ayahnya yang menjadi guru pertama Ibnu Khaldun. Dari ayahnya beliau belajar membaca, menulis dan bahasa Arab.

2) Abu Abdullah Muhammad Ibn Sa’ad Ibn Burral al-Anshari, ia termasuk pendidik Ibnu Khaldun dalam bidang al-Qur’an dan Qira’atul Sab’ah.

3) Syeikh AbdullahIbn al-‘Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-SAwwas al-Zarazli Ahmad Ibn al-Qassar, Syekh Syams al-Din Abu Abdullah Muhammad al-Wadisyasyi, mereka adalah pendidik /guru dalam bidang ilmu hadist, bahasa Arab dan Fiqh.

4) Abdullah Muhammad Ibn Abd al- Salam, ia adalah pendidik khusus kitab al-Muwattha’ karya imam Malik.

5) Muhammad Ibn Sulaiman al-Satti Abd al-Muhaimin al-Hadrami dan Muhammad Ibn Ibrahim al- Abili, mereka adalah pendidik ilmu pasti, logika dan seluruh ilmu tehnik, kebijakan dan pengajaran dan ilmu pokok al-Qur’an hadist.

6) Syekh Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad al-Wadiyasyi, ia mengajarkan ilmu hadis dan fiqih serta bahasa Arab pada Ibnu Khaldun.

Namun sebagaimana yang dikatakan Ramayulis dan Samsul Nizar dalam buku” ensiklopedi tokoh pendidikan” bahwa ada dua guru Ibnu Khaldun yang sangat berjasa kepada beliau yaitu Muhammad Ibnu Ibrahim al-Abili dalam bidang ilmu filsafat dan syekh Abd al-Muhaimin Ibn al-Hadramani dalam ilmu-ilmu agama. Dari kedua guru inilah beliau belajar al-Kutubu Sittah dan al-Muwattha’.[11]


IV. Murid-Murid Ibnu Khaldun

Keilmuan Ibnu Khaldun memberikan bias menjadi guru yang diakui keilmuan yang dimilikinya, hal ini terbukti dengan banyaknya murid-murid Ibnu Khaldun yang berhasil dalam keilmuannya. Para murid beliau belajar bersama beliau ketika di al-Azhar selain menjadi seorang pengajar beliau juga diangkat sebagai hakim tinggi. Ada dua orang murid Ibnu Khaldun yang terkenal dengan keilmuannya dan telah mengarang beberapa buku. Mereka adalah:

1) Taqiyuddin Ahmad Ibnu Ali al-Maqrizi, ia adalah sejarawan dan telah mengarang buku al-Suluk li Ma’rifah Duwal al-mulk. Buku tentang sejarah yang dikarang oleh Al-Maqrizi sampai sekarang menjadi rujukan para sejarawan modern.

2) Ibnu Hajar al- ‘Asqalani, ia adalah murid Ibnu Khaldun yang terkenal sebagai ahli hadis dan sejarawan terkemuka[12].


V. Karya Ibnu Khaldun

Adapun hasil karya-karyanya yang terkenal di antaranya adalah:[13]

a) Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.

b) Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-‘Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku dan beberapa jilid.

c) Kitab al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban atau disebut al-Ta’rif, dan oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibnu Khaldun. Dia menulis autobiografinya secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

d) Lubab al-Muhashshal fi Ushuluddin

e) Syifa ‘al syail li Tahdz.

Selain buku-buku yang disebutkan di atas masih ada beberapa buku yang telah dikarang oleh Ibnu Khaldun yang tidak dituliskan dalam makalah ini. Ibnu Khaldun merupakan sejarawan yang terkemuka karena teorisasi yang telah dihasilkannya. Teorisasi tersebut adalah konsep tentang sebuah negara. Menurut Ibnu Khaldun dalam suatu peradaban ataupun Negara itu biasanya usianya tidak lebih dari seratus tahun lamanya. Dari teori “tumbuh tenggelamnya suatu Negara” inilah Ibnu Khaldun dikenal sebagai bapak sosiologi yang termasyur pada masa beliau hidup sampai saat ini. Beliau mengatakan bahwa Negara sama dengan manusia. Konsep Negara yang telah dilahirkan Ibnu Khaldun adalah bahwa setiap Negara akan melewati tiga fase yaitu:

1) Fase generasi pendiri/ Permula
2) Fase generasi penjaga/ Pemelihara
3) Fase generasi peniknat/ lalai dan tenggelam dalam kemewahan.[14]


VI. Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun

Dalam hal pendidikan Ibnu Khaldun sejalan dengan Durkhem( 1858-1917), yang memusatkan perhatiannya pada mengajar dan secara teratur berceramah tentang pendidikan. Ibnu Khaldun merumuskan pemikiran pendidikan ini sesuai dengan pengalaman yang pernah ia lalui pada masa hidupnya. Adapun pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan antar lain:

1. Tujuan Pendidikan

Ibnu Khaldun adalah seorang sejarawan dan sosiologi yang sampai saat ini teori-teori beliau masih relevan digunakan pada masa ini. Selain itu, Ibnu Khaldun juga memberi perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pemikiran Ibnu Khaldun yang berkaitan dengan pendidikan di dalam buku beliau yang termasyhur yaitu Mukaddimah. Dalam hal pendidikan Ibnu Khaldun memberi defenisi secara umum, seperti dalam salah satu perkataannya dalam mukaddimah tentang definisi pendidikan yaitu:

“ Siapa saja yang tidak terdidik orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya siapa saja yang tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orangtua mereka yang mencakup guru dan orangtua, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarinya ”[15]

Manusia mempunyai kesamaan dengan semua makhluk hidup lainnya, seperti perasaan, bergerak, makan, bertempat tinggal, dan lain-lain. Namun manusia memiliki perbedaan dengan makhluk hidup lainnya, manusia memiliki akal pikiran yang memberi petunjuk kepadanya, menerima dan menjalankan ajaran agamanya. Disinilah peran pendidikan tersebut. Dengan pendidikan manusia akan mempergunakan akal pikiran yang telah dikaruniakan kepadanya ke arah yang baik atau yang buruk.

Dalam Mukaddimah, Ibnu Khaldun tidak menjelaskan secara mendetail tentang tujuan pendidikan. Menurut Abd Al-Rahman yang dikutif dari buku Prof. Dr. H. Ramayulis mengemukan ada tiga tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun. Antaralain:

a) Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan manusia dan kemampuan berpikir. Pendidikan memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dalam melakukan aktivitas. Dengan menuntut ilmu dan keterampilan, seseorang dapat meningkatkan potensi akalnya.

b) Pendidikan bertujuan untuk peningkatan kemasyarakatan. Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan dalam masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup manusia ke arah yang lebih baik lagi. Pendidikan juga menentukan kesejahteraan suatu masyarakat. Sebab semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka akan semangkin bermutu dan dinamis pula keterampilan pada masyarakat tersebut.

c) Pendidikan bertujuan meningkatkan kerohanian manusia. Dengan pendidikan manusia akan dapat melaksanakan dan menjalankan praktek ibadah dengan benar, zikir , khalwat( menyendiri), mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan beribadah sebagaimana yang dilakukan para sufi.[16]

Dari ketiga tujuan pendidikan di atas tampak jelas bahwa Ibnu Khaldun menganut prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat. Sebab tujuan dari pendidikan itu seutuhnya untuk melahirkan insanul kamil ( manusia yang sempurna), sempurna dari segi lahir dan bathin serta dapat menjadi manusi yang bahagia dunia dan akhirat.

2. Teori Belajar

Dalam karangan Mukaddimah yang ditulis oleh Ibnu Khaldun terdapat teori belajar yang ditawarkan. Semua konsep yang dikemukakannya, dibangun melalui konsep-konsep yang dikembangkan ahli psikolastik. Diantar teori belajar yang beliau tawarkan adalah:

a) Makalah

Secara bahasa makalah berarti menjadikan sesuatu untuk dimiliki atau dikuasai, suatu sifat yang mengakar pada jiwa. Sedangkan menurut Ibnu Khaldun makalah adalah “ sifat yang berurat berakal, segala hasil belajar atau mengerjakan sesuatu berulang kali, sehingga hasilnya dan bentuk pekerjaan itu dengan kokoh tertaman dalam jiwa”.[17] Makalah dalam proses belajar adalah suatu tingkat pencapaian( achievement) dari menguasaan suatu materi keilmuan, keterampilan dan sikap tertentu akibat dari suatu proses belajar secara intens, bersunggug-sungguh dan sistematis. Konsep makalah dalam belajar menurut Ibnu Khaldun bukan sekedar al-Fahmu( pemahaman) dan al-wa’yu( memori), akan tetapi makalah merupakan suatu yang dibaca, didengarkan, atau dapat memberikan contoh lain dari yang dicontohkan, atau dapat menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Sedangkan al-Wa’yu manurut Taxonomi Bloom daya simpan berbagai pengetahuan, informasi dan symbol-simbol.[18]

Menurut hasil penelitian Bigg yang dicantumkan Warul Walidin menyebutkan bahwa pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan pada tiga propotife yaitu: Pertama, pandekatan surface( pendekatan bersifat permukaan/ awal). Menurut Bloom siswa yang menggunakan surface misalnya belajar karena ada dorongan dari luar ( ekstrintik) yang mengakibatkan dia malu. Oleh karena itu, gaya belajar santai, asal hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam. Kedua, pendekatan deep( mendalam). Biasanya siswa yang mengunakan propotive ini termasuk siswa yang mempelajari materi pelajaran karena memang ia tertarik dan merasa membutuhkannya( instrintik). Dan yang ketiga, pendekatan schieving( pencapaian prestasi belajar). Pada umumnya pendekatan ini dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus disebut “ ego-enchament” yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi setinggi-tingginya.

Oleh sebab itu, teori makalah Ibnu Khaldun hanya bisa dicapai oleh siswa yang menggunakan pendekatan deep dan achieving. Hal ini membuktikan bahwa makalah dapat dimaknai dengan pencerahan( insight), akan tetapi pencerahan hanya menyentuh asfek kognitif saja. Sementara makalah meliputi aspek kogntif, afektif dan psikomotori( makalah al-Ilm, makala al-Iman dan makala al-Sina’ah). Ada dua cara yang ditawarkan Ibnu khaldun dalam pencapaian makalah yaitu:

1) Latihan al-Munawarah dan al-Munazarah. Metode yang paling mudah dalam pencapaian makalah adalah dengan latihan. Dengan menggangkat contoh konktrit tentang latihan dalam debat/diskusi ilmiah yaitu bagaimana menggungkapakan fikiran-fikiran dengan jelas dalam diskusi atau debat ilmiah.[19] Bagi seorang siswa yang pasif dan kurang perannya( umumnya diam dan tidak banyak bicara) serta tidak terlibat sepenuhnya meski rajin menghadirinya, lebih banyak menaruh perhatian pada hafalan daripada yang dibutuhkan, tidak akan memperoleh makalah secara maksimal.

2) Kontinuitas ( ittisal) belajar dapat memperkuat makalah. Kesinambungan antara materi dalam pelajaran akan mengikat satu sama lain dan membantu terlaksanakan proses belajar dan waktu yang relative singkat. Dengan metode yang paling tepat dan menghasilkan hasil yang paling utama, maka hendaknya jangan memutuskan pelajaran dalam tenggang waktu yang lama. Pemutusan ini akan mengakibatkan ilmu dan keterampilan yang sedang dipelajari tidak bulat dan utuh, serta mengakibatkan mudah lupa. Kemudian dalam menjelaskan pelajaran tidak boleh terarut dalam satu masalah atau satu buku tertentu, sehingga dapat menggangggu jadwal belajar yang semestinya. Selain itu, belajar yang tidak sistematis dan campur baur akan mepersulit mencapai makala tersebut.


b) Tadrij

Secara lugawi tadrij berasal dari kata tadarraja artinya naik/maju/meningkat secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Ibnu Khaldun menggunakan kata tadrij bukan hanya meningkat sedikit demi sedikit tapi juga kualitas. Frans Rosenthal menerjemahkan tadrij dengan gradual ( istilah Inggris)[20]. Menurut teori ini belajar yang efektif dilakukan dengan cara berangsur-angsur, setahap demi setahap dan terus menerus. Teori ini dibangaun berlandaskan asumsi, bahwa kemampuan manusia terbatas. Proses belajar harus bertahap memulai dari mengerti masalah-masalah yang palingsederhana dan mudah, kemudian meningkat perlahan mengerti dan menguasai hal-hal yang agak kompleks, kemudian lebih kompleks, sangat kompleks dan seterusnya. Berdasarkan sifat jiwa inilah maka pencapaian makalah ketrampilan motorik tertentu baru akan sempurna melalui latihan tadrij( bertahap) dan ittisal ( berkesinambungan).

Untuk mendukung teori makalah dan tadrij tersebut, Ibnu Khaldum mengutarakan hukum-hukum yang menyertainya. Antara lain:

1) Pengulanga(takrar) dan kebiasaan ( ‘adah). Untuk setiap pelajaran memerluakan pengulangan dan pembiasaan. Pengulangan tergantung pada pokok bahasan /skill, tingkat kemampuan dan kecerdasan subjek belajar. Ibnu Khaldun mendasarkan teorinya daripengamatan beliau terhadap beberapa fenomena, antaraa lain keterampilan tekhnik yang berkembang pada masa itu.

2) Sebab akibat dan implikasi dalam belajar[21]. Menurut Ibnu Khaldun, segala sesuatu yang ada di alam ini, baik berupa esensi ataupun tindakan-tindakan manusia dan binatang mempunyai sebab-sebab terdahulu. Sebab-sebab itu mengantar sesuatu ciptaan di dunia ini yang didominasi oleh kebiasaan mengakibatkannya terwujud. Sebab, akibat dari sebab-sebab tersebut adakah ciptaan yang baru, yang tentu memiliki sebab-sebab sebelumnya. Sudah menjadi tabi’at manusia keinginan untuk mengetahua sebab akibat dari masalah yang mereka hadapi dan peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka. Keingintahuan itu merupakan pembawaan manusia. Keingintahuan manusia kepada suatu akibat beranti mendaki seterusnya sampai kepada sebab-sebab yang agak tinggi, lebih tinggi dan tertinggi. Demikian seterusnya, hingga sampai kepada pemilik sebab yaitu Allah SWT.


3. Proses Pembelajaran

Menurut Ibnu Khaldun pengajaran dipandang suatu skill( sina’ah, craft). Karena itu, ia melakukan reaksi dan rekonstruksi terhadap keformalan kosong metodologi pengajaran pada zamannya. Metode yang lazim dipakai pada masa itu adalah drill dan hafalan, sehingga lahir budaya verbalistik dan membeo. Dari realitas yang terjadi ini, memunculkn gagasan pengajaran secara tiga tahap yaitu:

1) Penyajian global. Pertama guru menyajikan kepada subjek didik hak-hal pokok, problem-problem prinsipil dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab. Keteranga-keterangan juga diberikan secaa global dengan memperhatikan potensi intelek dan kesiapan subjek dalam menerima palajaran. Apabila dengan cara ini seluruh pembahasan pokok dikuasai, maka dia telah memperoleh satu makala dalam cabang ilmu yang ia pelajari yang masih bersifat persial.

2) Pengembangan( al-Syarh wal bayan). Guru menyajikan dan melatih kembali pengetahuan atau keterampilan dalam pokok bahasan itu kepada anak didik dalam taraf yang lebih tinggi. Pada tahapan ini guru harus menjelaskan asfek-asfek yang terjadi kontradiksi di dalamnya. Disertai dengan ragam pandangan teori yang terdapat pada mareti tersebut. Pada tahap ini pembahasan keseluruhannya sekali lagi diliput hunggi makalah subjek menjadi lebih sempurna.

3) Penyimpulan( takhallus). Pada tahapan terakhir ini guru secara mendalam menyajikan pokok bahasan lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang menyeluruh. Semua masalah yang dianggap urgen, sulit serta belum jelas dituntaskan pada tahapan ini. Pada tahapan penugasan memungkinkan pencapaian makalah subjek belajar lebih sempurna.

Ibnu Khaldum mengemukakan teori penstrukturan pengajaran tiga tahapan ini merupakan hasil analisis observasi terhadap metodologi pengajaran yang diterapkan pada masa itu.

4. Kurikulum dan Materi Pendidikan

Ibnu Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta didik. Ibnu Khaldun menyusun kurikulum sesuai dengan salah satu sarana untuk mencapai tujuan pendidikan. Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi tiga bagian yaitu:

a) Ilmu lisan( bahasa): ilmu tentang tata bahasa( gramatika), sastra serta bahasa yang tersusun secara puitis( syair).

b) Ilmu-ilmu yang bersifat naqliyyah (textual)[22]

Ilmu yang bersifat naqliyyah merupakan ilmu yang dinukilkan manusia dari yang merumuskan atau menetapkan landasannya dan diwariskan secara turun temurun. Ilmu-ilmu naqliyyah memberi informasi tentang aqidah yang mengatur kewajiban agama, serta memberlakukan undang-undang syara’. Secara keseluruhan dasar-dasar ilmu naqliyyah ialah al-syar’iyyat yaitu materi sah al-qur’an dan al-hadist. Menurut Ibnu Khaldun mempelajari ilmu naqliyyat wajib bagi setiap muslim. Sebab ilmu naqliyyat berkaitan dengan ad-din yang membantu individu untuk hidup dalam keadaan baik, utama dan terpelihara dari segala kesalahan serta menjalankan tugasnya sebagai kalifah dan ‘Abd di bumi .

Adapun yang termasuk dalam ilmu naqliyyah adalah ilmu tafsir, qira’at, ilmu hadis, ilmu ushul fiqih, ilmu kalam, ilmu tasawuf, dan ilmu tabir mimpi.

a) Ilmu-ilmu ‘aqliyyah( rasional)

Adapun yang dimaksud dengan ilmu aqliyyat adalah buah dari aktivitas fikiran manusia dan perenungannya. Ilmu ini telah ada dalam peradaban manusia sejak mula. Ibnu Khaldun menyebutnya dengan ilmu-ilmu filsafat dan hikmah. Ilmu ‘aqliyyah mencakup empat macam katagori:

(1) Ilmu Mantiq

Ilmu mantiq adalah ilmu yang menghindari kesalahan pemikiran dalam proses penyusunan fakta-fakta yang ingin diketahuai, yang berasal dari berbagai fakta tersedia yang telah diketahui. Fungsinya, memberi kemungkinan bagi subjek belajar untuk membedakan yang benar dan yang salah.

Ibnu Khaldun menegaskan agar tidak mengajarkan mantiq kepada anak-anak ditingkat pendidikan dasar. Sebab mantiq berbicara tentang kaedah-kaedah yang memungkinkan seseorang mampu membedakan antar yang benar dan yang salah, denngan mengunakan argumentasi logis berdasarkan penalaran.[23]

(2) Fisika

Para filosofi dapat mempelajari subtansi elemental yang dapat ditangkap oleh indera, seperti benda-benda tambang, tumbuh-tumbuhan, binatang yang diciptakan(subtansi-subtansi elemental), benda-benda angkasa, gerakan alami dan jiwa yang merupakan asal dari gerak dan lain-lain.

(3) Matematika

Matemalika adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran, mencakup beberapa macam yang disebut dalam matematika :

Ø Geometri( Ilmu Ukur) yaitu ilmu yang mempelajari ukuran-ukuran secara umum.

Ø Aritmatika ( al-aritmatiqi) yaitu pengetahuan tentang sifat-sifat essensial dari pada kuantitas yang terputus, yaitu angka.

Ø Musika ( al-Musiqa). Pengetahuan tentang ukuran suara dan nada serta pengukurannya dengan angka-angka. Hasilnya merupakan pengetahuan tentang nada-nada.

Ø Astronomi[24]yaitu ilmu yang menetapkan bentuk angkasa, posisi dan jumlah planet dan bintang tertentu. Melalui ilmu tersebut memungkinkan mempelajari semuanya ini berasal dari gerakan benda-benda lanngit.

1) Ilmu nujum Mengenai ilmu nujum Ibnu Khaldum menggangap ilmu ini tergolong pada ilmu yang tidak baik, sebab menurut Ibnu Khladun ilmu nujum dapat dipergunakan untuk meramal kejadian yang belum terjadi berdasarkan perbintangan.

2) Ilmu Metafisika

Masing-masing ilmu tersebut memiliki cabang-cabangnya. Salah satu cabang ilmu fisika adalah kedokteran, sedangkan aritmatika mempunyai cabang ilmu hitung, faraid. Diantara cabang astronomi tercatat tabel-tabel astronomi yang berisi hukum-hukum perhitungan gerakan bintang-bintang dan data untuk mengetahui berbagai posisi pada saat tertentu.

5. Objektif-Objektif dalam pendidikan

Ada beberapa objek pendidikan yang yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun antar lain:

a. Menyediakan pendidikan agama. Pandidikan agama yang dimaksud Ibnu Khaldun adalah pengajaran al-qur’an Karim. Mengajarkan al-Qur’an karim pada diri anak merupakan cirri khusus yang dimiliki umat Islam. Pengajaran al-Qur’an merupakan pengukuhan terhadap aqidah Islamiyah.

b. Menyediakan pendidikan akhlah. Ibnu Khaldum penitik beratkan akhlak dalam tulisan-tulisannya, misalnya dalam salah satu perkataannya dalam Mukaddimah: jiwa apabila berada dalam fitrah pertama maka ia akan menerima apasaja baik hal kebaikan maupun keburukan, maka ia akan terpola dari salah satu diantara keduanya itu. Sama halnya dengan makalah, ada yang berbentuk baik dan jahat. Tidak akan terbentuk kecuali dengan pengulangan.

c. Menyediakan pendidikan sosial. Pentingnya masyarakat dan bertambahnya peradaban akan menambah peningkatan pengajaran. Sebagaimana juga peningkatan pengajaranbeserta peranannya akan menyebabkan peningkatan masyarakat dan mendorong masyarakat memiliki kemajuan lebih.

d. Bimbingan untuk mendapatkan pekerjaan. Beliau menjelaskan manusia berusaha dan menilai kehidupannya dari pekerjaan. Begitu juga kepentingan pejerjaan sepanjang hidup manusia dan pengajaran menurut pandangannya merupakan ruang lingkup industry-industri.

e. Mendidik pemikiran individu. Obyek menyediakan individu dengan pemikiran adalah terang dan nyata melalui sebahagian ide-ide pendidikan yang menonjol mengarah beliau kepada akal adan pikiran.

f. Menyediakan pendidikan kesenian. Pendidkan kesenian sangat dibutuhkan oleh anaka didik. Sebab dengan kesenian misalnya music dapat membuahkan ma’rifah dalam hal melakukan suatu lagu. [25]

6. Metode dalam pembelajaran

Mengenai metode pembelajaram Ibnu Khaldun juga membahasnya dalam kitab Mukaddimah. Menurut Ibnu Khaldun ada beberapa metode pembelajaran yang harus dikuasai oleh seorang pengajara. Antara lain:

a) Metode Pentahapan dan Pengulangan( Tadarruj wat Tikraari)[26]

Mendikte atau menyampaikan ilmu secara bertahap, beranngsur-angsur, dan sedikit demi sedikit dengan memulai masalah-masalah mendasar dari setiap bab dalam ilmu pengetahuan merupakan metode yang pertama yang harus di lakukan pengajar. Pada tahap pertama, seorang guru harus mendekatkan pemahaman, dan menjelaskan secara global pada satu bab pembahasan. Hal ini bertujuan agar murid dapat memahami cabang ilmu yang dipelajari dan mampu memetakkan masalah-masalah yang dibahasnya. Akan tetapi, dalam hal ini guru harus memahami daya pikiran dan kesiapan murid untuk menerima pelajaran yang diajarkan hingga sampai pada pembahasan akhir dalam bab tersebut. Kemudian pada tahapan kedua, guru harus memberikan pengajaran yang lebih tinggi dari pada yang pertama, memberikan penjelasan dan keterangan yang lebih banyak, menguraikan poin-poin yang masih global, mengemukakan perbedaan pendapat yang ada disertai dengan pokok-pokok dasar perbedaannya hingga keseluruhan cabang ilmu tersebut, Hal ini akan mengasah naluri murid semangkin baik. Tahapan yang ketiga, menggulangi pelajaran dengan lebih tegas sehingga tidak ada kesulitan dan ketidakjelasan yang dibiarkan. Hal ini dapat membantu murid menguasai dan mengasah nalurinya.

Ibnu Khaldun juga menerangkan bahwa menyampaikan pelajaran dengan cara mendekatkan pemahaman secara bertahap dan global dengan memberikan contoh-contoh yang realitas dan dekat dengan murid. Seorang guru tidak dibenarkan memberikan tambahan pemahaman pada murid berdasarkan buku yang ia tekuni berdasarkan kemampuannya. Seorang guru juga tidak boleh mencampuradukkkan masalah yang satu dengan yang lain hingga murid memahaminya. Jika murid dipaksa untuk memahami permasalahan yang bercampuraduk dan tidak teratur, maka hal itu akan menyulitkan murid dalam memahaminya.

b) Menggunakan Saran Tertentu untuk Menjabarkan Pelajaran[27]

Ibnu Khaldun menganjurkan agar seorang guru harus mengunakan alat peraga dalam menyampaikan pelajaran. Sebab seorang murid dalam waktu mulai belajar lemah dalam memahami dan kurang daya pemahamnnnya dengan alat peraga ini akan memudahkan dalam memahami pelajaran yang diajarkan oleh guru. Dalam pekerjaan pengajar alat-alat peraga merupakan sarana pembuka cakrawala yang lebih luas dan menjadikan pengetahuan anak bersentuhan dengan pengalaman indrawi yang hakiki.


c) Widya-Wisata ( Rihlah)

Widya-wisata menurut Ibnu Khaldun adalah perjalanan untuk menemui guru-guru yang mempunyai keahlian khusus, dan belajar pada para ‘ulama dan ilmuan terkenal. Ibnu Khaldun juga menganjurkan perlawatan (rihla) untuk menuntut ilmu, karena dengan cara ini murid-murid akan mudah mendapat sumber-sumber pengetahuan sesuai dengan tabiat eksploratif anak, dan pengetahuan mereka berdasarkan observasi langsung sangat besar pengaruhnya dalam memperjelas pengetahuan lewat pengamatan indrawi. Hal ini sesuai dengan firman ALLAH dalam surah Ar-Rum:

Artinya: Adakanlah perjalanan kamu di atas bumi ini, maka lihatlah, bagaimana akibatnya orang-orang yang ( hidup) sebelumnya...( Ar-rum: 42)[28]

d) Hukuman ( Ta’zir)

Ibnu Khaldun sangat menganjurkan bersikap kasih sayang pada murid dan tidak memberikan kekerasan pada anak sebab menurut beliau kekerasan dan kekasaran dalam pendidikan membahayakan pada jasmani anak. Masih menurut Ibnu Khaldun “ Siapa yang terbiasa dididik dengan kekerasan diantara murid-murid atau pembantu, ia akan dipengaruhi oleh kekerasan, merasa sempit hati, pemalas, dan menyebabkan ia berdusta serta melakukan yang buruk-buruk karena takut oleh tangan-tangan yang kejam. Hal ini selanjutnya akan mengajarkannya untuk menipu dan berbohong sehingga sifat-sifat ini menjadi kebiasaan dan perangainya serta hancurlah arti kemanusiaan yang masih ada pada dirinya.”

Dalam hal hukuman ini Ibnu Khaldum mengikut pada nasehat Ar-Rasyid kepada juru didik anaknya Al-Amin[29]. Al-Rasyid berkata kepada Al-Amin agar tidak membiarkan waktu terbuang, kecuali ia memberi faedah pada si anak, tanpa perlu membuat ia kecil hati sehingga hatinya tertutup. Begitu juga tidak terlalu gampang memaafkan anak agar ia tidak merasa keenakan dengan kekosongan waktu. Hendaklah perbuatan si anak diluruskan dengan pendekatan yang baik dan lembut. Kalau cara ini tidak mampu membendung kenakalan anak, baru boleh digunakan kekerasan dan kekasaran.[30]Namun, jika dalam keadaan memaksa yang menuntut harus memukul murid, maka pukulan tersebut tidak boleh dari tiga kali, tidak boleh membahayakan, dan lebih menekankan aspek edukasi.[31]

Selain metode pembelajaran Ibnu Khaldun juga memberi beberapa penjelasan yang berkaitan dengan metode pembelajaran ini yaitu:

a) Tidak memberi presentase yang rumit kepada anak yang baru belajar permulaan
b) Harus ada keterkaitan dalam disiplin ilmu
c) Tidak mencampuradukan antara dua ilmu dalam satu waktu
d) Dalam pengajaran al-Qur’an harus dimulai pada anak yang tingkat kemampuan berfikir tertentu
e) Menghindari dari pengajaran ilmu dengan ikhtisarnya
6. Sifat-sifat pendidik

Seorang pendidik akan berhasil dalam tugasnya, apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung profesionalismenya. Adapun sifat-sifat tersebut adalah:

Ø Pendidik hendaknya lemah lembut, senantiasa menjauhi sifat kasar, serta menjauhi hukuman yang merusak fisik dan psikis murid terutama terhadap anak-anak yang masih kecil

Ø Pendidikan hendaknya menjadikan dirinya sebagai uswah al-Hasanah( suri tauladan) bagi peserta didik

Ø Pendidik hendakknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam memberi pelajaran sehingga metote dan materi sesuai dengan proporsional

Ø Pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktifitas yang berguna

Ø Pendidik harus professional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik khususnya berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kesiapan untuk menerima pelajaran.[32]


7. Hakikat peserta Didik

Menurut Ibnu Khladum pada dasarnya manusia adalah baik, pengaruh-pengaruh yang dating kemudianlah yang menentukan apakah jiwa manusia tersebut tetap baik atau menyimpang menjadi jahat. Dari dasar inilah Ibnu Khaldun berpendapat bahwa setiap anak didik itu memiliki sifat dasar baik/ fitrah. Pendidikanlah yang akan memelihara fitrah pada peserta didik agar tetap baik.

Daftar Pustaka dan Footnote
  • Al-Abrasi, Muhammad Athiyah, Prinsip-Prinsip dasar Pendidikan Islam, Bandung; Pustaka Setia, 2003
  • Audah, Ali, Ibnu Khaldun, Sebuah Penngantar, Jakarta: Pustaka Firdaus, TT
  • Depag, Al-Quran dan terjemahan, Bandung: Al-Kautsar, 2003
  • Enan , Muhammad Abdullah, Ibnu Khaldun: His Life and Work, New Delhi: Kitab Bhavan, 1979
  • Khaldun, Ibnu, Mukaddima Terj. Masturi Irham, ed.al, Mukaddimah Ibnu Khaldun, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 20011
  • Khaldun, Abdurrahman Ibnu, Tarikh Ibnu Khaldun (Diwan al-Mubtada’I wa al-Khobar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man A’shorohum min Zawi as-Syakni al-Akbar), Libanon : Dar al-Fikr, 1996.
  • Muhajir, Noeng, Pemahaman Tasomoni, Jakarta: Departement Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1984
  • Munandar, Arif, Buku Pintar Islam, bandung: Mizan, 2010
  • Al-Na’imy, Abdullah Al-Amin, al-Manhaj wa Turuq al-Ta’lim ‘Inda al-Qabisi wa Ibnu Khaldun, Terj. Mohd. Ramzi Omar , Kaedah dan Tehnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisi, Malaysia: Dewan Bahas Dan Pustaka, 1994
  • Nizar, Samsul dan Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Ciputat: Quantum Teaching, 2005
  • Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam mulia, 2009
  • Rosenthal, Frans, dkk, The Muqaddimah, an Introduction to History, New Rork: Stratford Inc, 1945
  • Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2001
  • Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiyar Baru, 1997
  • At-Tuwaanisi , Abdul Futuh dan Ali Al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam Jakarta: rineka Cipta, 1994
  • Walidin Warul, konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun, Yogyakarta: Nadiya Fondation, 2003
  • Wardi, Ali dan Fuad Baali, Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003
___________________
[1] Makalah ini disusun sebagai revisi dari makalah yang telah dipresentasikan.

[2] Kasmuri Selamat, Timbangan Emas Buat Menimbang Gunung; Pandangan Ibnu Khaldun terhadap Filsafat Ketuhanan,( Jakarta: Kalam Mulia, 2007), h. 121.

[3] Isbilih adalah sebuah kota besar di tepi sungai Waad Al-Kabir, bagian dari wilayah Andalusia, disanalah dibangun observasion ilmu falak pertama kali di Eropa.

[4] Sabtah adalah sebuah kota di Al-Magribi sebelah Barat Afrika Utara yang terletak di tepi pantai laut Zarqaq berhadapan denngan selat Gibraltar( Jabal Tarik) nama seorang perintis bangsa Arab ke Spanyol, Eropa yang diucapkan dengan bahasa latin Al-Afranji. Kota ini disebut dengan “ Tujuh” yang dalam bahasa Latin diucapkan dengan “ Sapta” karena dibangun di atas tujuh bukit.

[5] Ali Audah, Ibnu Khaldun, Sebuah Penngantar, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, TT)

[6] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), h. 19

[7]. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, ( Jakarta: Ichtiyar Baru, 1997), hlm. 158

[8]. Ibid, h. 200

[9]. Muhammad Abdullah Enan, Ibnu Khaldun: His Life and Work, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1979), TH.

[10]. Fuad Baali dan Ali Wardi, Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. 20.

[11] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op.Cit, 17.

[12] Ibnu Khaldun, Op.Cit

[13]. Ibn Kholdun, Abdurrahman, Tarikh Ibnu Khaldun (Diwan al-Mubtada’I wa al-Khobar fi

Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man A’shorohum min Zawi as-Syakni al-Akbar), (Libanon : Dar al-Fikr, 1996.), TH.

[14] Arif Munandar,Buku Pintar Islam, ( Bandung: Mizan, 2010), h. 443.

[15]. Ibid

[16] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Kalam mulia, 2009), h. 283.

[17] Ibnu Khaldun, Op. Cit, h. 400,

[18] Noeng Muhajir, Pemahaman Tasomoni, (Jakarta: Departement Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1984). H. 7.

[19] Ibnu Khaldun senngaja menggagkat contoh diskusi dan debat ilmiah sebab di dunia Arab pada masa itu dua hal ini pada masa itu paling popular sebagai metode belajar efektif serta paling digemari.

[20] Frans Rosenthal, dkk, The Muqaddimah, an Introduction to History, ( New Rork: Stratford Inc, 1945), h. 416

[21] Warul Walidin, konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun, ( Yogyakarta: Nadiya Fondation, 2003), h. 123

[22] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2001), h. 87

[23] Warul Walidin, Op.Cit. h. 138

[24] Ibid

[25] Abdullah Al-Amin Al-Na’imy, al-Manhaj wa Turuq al-Ta’lim ‘Inda al-Qabisi wa Ibnu Khaldun, Terj. Mohd. Ramzi Omar , Kaedah dan Tehnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisi,( Malaysia: Dewan Bahas Dan Pustaka, 1994), h. 76-85.

[26] Ibnu Khaldun, Op.Cit, h. 994.

[27] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam ( Jakarta: rineka Cipta, 1994), h. 201

[28] Depag, Al-Quran dan terjemahan, ( Bandung: Al-Kautsar, 2003)

[29] Muhammad Athiyah Al-Abrasi, Prinsip-Prinsip dasar Pendidikan Islam, ( Bandung; Pustaka Setia, 2003), h. 165

[30] Dapat dilihat juga pada buku Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, ( Jakarta: rineka Cipta, 1994), h. 201, masih senada dengan keterangan di atas akan tetapi dalam keterangannya “Ar-Rasyid memberi wasiat pada pendidik putranya Al-Amin: Hai Amirul Mukmini…….”

[31] Op. cit, 25

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis