Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Long Live Education In Islam


Makalah Long Live Education In Islam
Oleh : Retno Widiarti


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

“Long Live Education In Islam”, dalam pikiran penulis didefinisikan sebagai pendidikan seumur hidup di Islam. Saat ini mengenyam pendidikan merupakan salah satu kebutuhan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dalam artian untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang layak, manusia harus mempunyai suatu keahlian tertentu dan hal ini didapat dari suatu proses pendidikan. Pendidikan mengajarkan berbagai hal positif yang nantinya akan berguna tidak hanya untuk sekarang tetapi juga di masa mendatang. Suatu hal yang dapat dibanggakan bila seseorang telah mendapatkan pendidikan yang tinggi dan disertai dengan akhlak yang mulia. Akan tetapi jika dengan pendidikan yang tinggi dan akhlak yang mulia tidak mendapatkan suatu perkerjaan yang baik dan sesuai maka hal tersebut menjadi sesuatu yang sia - sia belaka.

Islam mengajarkan bahwa manusia diwajibkan untuk bekerja keras dan mengenyam pendidikan sekalipun sampai ke liang lahat. Namun kenyataannya saat ini sulit untuk mendapatkan suatu pendidikan bagi orang yang kurang mampu. Sehingga membuat mereka berpikir lebih memilih bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah untuk meemnuhi kebutuhan sehari-hari, daripada mengenyam pendidikan.

Kembali pada masalah mengenai pendidikan seumur hidup di Islam. Pendidikan dalam agama Islam mempunyai suatu kedisiplinan yang tinggi, yang artinya dalam mengenyam pendidikan haruslah dari dalam hati dan niat yang tinggi supaya tidak terputus ditengah jalan. Pendidikan di Islam sendiri mengajarkan suatu hal tentang kehidupan kelak di akhirat dan kehidupan sekarang. Keduanya berimbang satu sama lain, tidak saling berat sebelah. Pada zaman modern saat ini, banyak generasi muda yang seakan lupa akan pendidikan khususnya pendidikan dalam Islam. Generasi muda muslim sekarang enggan untuk mengenyam pendidikan Islam dikarenakan sudah terpengaruh dari berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dan anggapan tidak mempunyai identitas lagi mengenai agamanya sendiri. Mereka malah bangga terhadap pendidikan yang kurang berguna bagi dunia akhirat kelak. Maka dari itu penulis akan memberikan sebuah gambaran tentang seberapa pentingkah mengenyam pendidikan seumur hidup di Islam.


BAB II
PEMBAHASAN
Long Live Education In Islam

A. Pengertian Long Live Education

Pendidikan adalah proses yang mengandung spirit untuk membawa peserta didik menuju pada sebuah harapan. Hal ini bisa dipahami karena manusia memiliki keinginan-keinginan untuk menjadi baik dan maju dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga pada tataran praktis pendidikan betul-betul dibutuhkan dengan kenyataan bahwa pendidikan adalah proses yang paling efektif untuk terpenuhinya kebutuhan tersebut.

John Dewey sebagai tokoh pendidikan dari Barat menawarkan konsep pendidikan yang tidak mengenal kata "terlambat", "terlalu tua", atau "terlalu dini" untuk memulainya. Menurutnya "Educational process has no end beyond it self in its own and end". Konsep serupa dikenal kemudian dengan istilah life long education atau pendidikan seumur hidup. Islam sebagai agama terakhir yang paling sempurna memiliki ajaran bahwa kehidupan manusia berlangsung pada dua dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat. Dari pola hidup yang sedemikian luasnya, secara pasti, Islam menawarkan pendidikan yang berlangsung tanpa batas. Tulisan ini secara rinci dan praktis akan membahas lebih dalam konsep tersebut. Melalui cara pikir reflektif dikemukakan bahwa pendidikan Islam berlangsung sejak ruh ditiupkan ke jasad dan berakhir sampai masa berusaha di dunia usai.

Akhir-akhir ini banyak para ahli yang mulai menyebarkan paham Long Live Education atau dengan kata lain pendidikan sepanjang hayat. Seruan tentang pendidikan proses tanpa akhir diupayakan oleh siapapun, terutama (sebagai tanggung jawab) negara. Sebagai sebuah upaya dalam meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya peradaban manusia itu sendiri. Dalam hal inilah, letak pendidikan dalam masyarakat sebenarnya mengikuti perkembangan corak sejarah manusia itu sendiri. Tak heran jika R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education menandaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat.

Ideologi kapitalis dalam dunia pendidikan dapat dilihat dari pelajaran yang dipecah-pecah menjadi kepingan-kepingan ilmu yang semuanya berujung dan berpangkal pada hubungan jual-beli. Hal ini secara nyata dapat dilihat dalam pelajaran ekonomi mulai tingkat SD, SMP, SMU, hingga perguruan tinggi (S1, S2, S3) prinsip ekonomi yang selalu dihafal dalam pelajaran ekonomi adalah dengan modal sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Sehingga semua substansi pelajaran ekonomi adalah bagaimana membuat produk bagus yang dapat dijual untuk mencari keuntungan, bagaimana menciptakan pasar, hingga bagaimana agar orang hanya bisa beli. Menurut penulis hal ini merupakan perspektif murni kapitalis (pemilik dan penumpuk modal) yang merusak substansi pendidikan sebagai upaya mewujudkan kemanusiaan universal.

Berbeda dengan Islam yang mengajarkan tentang pola belajar yang memang seharusnya diusahakan oleh manusia dalam sepanjang hayatnya (Long Live Education). Mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitas kita sehari-hari adalah wajib hukumnya, sehingga Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat yang cerdas dalam memandang kehidupan, problematika, dan solusinya. “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”. Kadang-kadang kita lupa untuk apa sebenarnya kita menuntut ilmu, dan kita juga lupa apa hukumnya menuntut ilmu dalam agama Islam.


B. Hukum Menuntut Ilmu

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan bertanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW: Artinya “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)

Dari hadist ini diperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala permasalahan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad SAW bersabda: Artinya “Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia wajiblah ia memiliki ilmunya, dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula, dan barang siapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua duanya pula” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik, dan setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah SWT. Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah, yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’.

Hukum wajib perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib ‘ain dan adakalanya wajib kifayah. Ilmu yang wajib ‘ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan ‘aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin dan yang perlu diketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Disamping itu perlu dipelajari ilmu akhlak untuk mengetahui adab sopan santun yang perlu kita laksanakan dan tingkah laku yang harus kita tinggalkan. Disamping itu harus pula mengetahui kepandaian dan keterampilan yang menjadi tonggak hidupnya. Adapun pekerjaan-pekerjaan yang tidak dikerjakan sehari-hari maka diwajibkan mempelajarinya kalau dikehendaki akan melaksanakannya, seperti seseorang yang hendak memasuki gapura pernikahan, seperti syarat-syarat dan rukun-rukunnya dan segala yang di haramkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya. Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya.


C. Menuntut Ilmu Sebagai Ibadah

Dilihat dari segi ibadah, menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: Artinya “Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun”. Dalam hadist lain dinyatakan: Artinya “Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”. Menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadah .

Namun jika amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, maka amalnya akan sia- sia. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan: Artinya “Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.


D. Derajat Orang Yang Berilmu

Jika kita telah mempelajari dan memiliki ilmu-ilmu itu, apakah kewajiban kita yang harus ditunaikan? Kewajiban yang harus ditunaikan ialah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Agar bermanfaat bagi orang lain hendaklah ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada mereka yang membutuhkan.

Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal di hadapan mereka, atau dengan jalan menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya. Mengajarkan ilmu kecuali memang diperintah oleh agama, sudah tidak dapat disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutama-utamanya. Nabi diutus ke dunia inipun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya: Artinya : “Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi). Sekiranya Allah tidak membangkitkan rasul untuk menjadi guru manusia, guru dunia, maka yang terjadi pada mnusia adalah kebodohan sepanjang masa. Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang diluar akal manusia. Untuk itulah Rasul Allah dibangkitkan di dunia ini. 

Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi para guru dan ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi Artinya: ”Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka”.(HR Ahmad).


BAB III

PENUTUP

Islam telah mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Hal ini di maksudkan agar umat Islam mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, sehingga Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat yang cerdas dalam memandang kehidupan, problematika, dan solusinya. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi semua umat.Pahala dari menuntut ilmu sangat besar, menurut sabda Rosul, orang yang menuntut ilmu walaupun hanya satu ayat pahalanya ibarat ibadah yang dilakukan lebih dari satu tahun. Dengan adanya ilmu manusia menjadi manusia yang cerdas sehingga terangkatlah derajat manusia, menjadikan derajat manusia lebih tinggi dibanding makhluk ciptaan Allah yang lain.


DAFTAR PUSTAKA
  • Salim Bahreisy, H. 1980. Sejarah Hidup Nabi-Nabi. Bina. Surabaya: Bina Ilmu
  • Syed Ali Asraf. 1996.The Propets Ta-Ha Publishers Ltd.Surabaya: CV Bintang Timur
  • Taufiq Ahmad,dkk. 2011. Pendidikan Agama Islam. Surakarta : Yuma Pustaka
  • http://www.smk-mbp.webnode.com/news/kedudukan-ilmu-pengetahuan-dalam-islam

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis