Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Urgensi Bahasa Arab


Makalah Urgensi Bahasa Arab
Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Islam 


BAB I
PENDAHULUAN

Bahasa Arab (اللغة العربية) al-lughah al-‘Arabīyyah, atau secara ringkas عربي ‘Arabī) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semitik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur'an. Berdasarkan penyebaran geografisnya, bahasa Arab adalah sebuah percakapan yang memiliki banyak variasi (dialek), beberapa dialeknya bahkan tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Bahasa Arab modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam Bahasa Arab Baku (kadang-kadang disebut Bahasa Arab Sastra) diajarkan secara luas di sekolah dan universitas, serta digunakan di tempat kerja, pemerintahan, dan media massa.

Bahasa Arab Baku berasal dari Bahasa Arab Klasik, satu-satunya anggota rumpun bahasa Arab Utara yang saat ini masih digunakan, sebagaimana terlihat dalam inskripsi peninggalan Arab pra-Islam yang berasal dari abad ke-4. Bahasa Arab Klasik juga telah menjadi bahasa kesusasteraan dan bahasa peribadatan Islam sejak lebih kurang abad ke-6. Abjad Arab ditulis dari kanan ke kiri. Bahasa Arab telah memberi banyak kosakata kepada bahasa lain dari dunia Islam, sama seperti peranan Latin kepada kebanyakan bahasa Eropa. Semasa Abad Pertengahan bahasa Arab juga merupakan alat utama budaya, terutamanya dalam sains, matematik adan filsafah, yang menyebabkan banyak bahasa Eropa turut meminjam banyak kosakata dari bahasa Arab. mengawali seluruh bahan komunikasi bahasa Arab yang hendak disajikan dalam makalah ini, perlu dikemukakan sekedar penjelasan tentang duduk persoalan yang se­sungguhnya dari Bahasa Arab. Tujuannya, agar para mahasiswa terhindar dari kemungkinan terjadinya salah pengertian yang menganggap kecil dan remeh akan pentingnya mempelajari Bahasa Arab. Sebaliknya, dengan pengertian yang benar maka akan tumbuh semangat dan usaha yang tak mengenal lelah untuk mempelajarinya sampai benar-benar berhasil.

Bahasa Arab, dapat diartikan sebagai bahasa yang mula-mula berasal, tumbuh, dan berkembang di negara-negara Arab kawasan Timur-Tengah. Dari satu segi, bahasa Arab memang merupakan bahasa agama, bahasa persatuan bagi umat Islam di seluruh dunia. Dengan bahasa inilah Al-Qur’an kitab suci umat Islam diturunkan, dan dengannya pula Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan tugas risalahnya kepada umat manusia. Akan tetapi, perkembangan selanjutnya telah menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa internasional seperti halnya Bahasa Inggris yang terkenal itu, sehingga di samping untuk keperluan agama Bahasa Arab juga dapat dipakai sebagai media komunikasi biasa dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Bahasa Arab adalah bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari Islam. Bahasa ini sering juga disebut sebagai bahasa Islam. Selain itu, bahasa ini dikatakan pula sebagai bahasa al-Qur‘an, karena al-Qur‘an ditulis dengan bahasa tersebut. Bahasa Arab kini dipakai sebagai bahasa resmi Islamic World League (Rabithah Alam Islam!), dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 45 negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. akan tetapi, bukan berarti bahasa Arab hanya digunakan oleh umat Islam saja. Seperti diketahui bahwa kawasan Urubah, yakni kawasan yang meliputi 21 negara Arab yang meliputi Arab Afrika, Arab Asia, maupun Arab Teluk yang tergabung dalam Liga Arab dan berbahasa resmi bahasa Arab, tidak semuanya memeluk Islam. Bahasa Arab sekarang juga merupakan bahasa resmi kelima di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1973. Selain itu, bahasa Arab juga dipakai sebagai bahasa resmi Organisasi Persatuan Afrika, OPA (Hadi, 1994: 2-3). Dengan demikian, bahasa Arab merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh berbagai bangsa di dunia. Di samping itu, bahasa Arab juga merupakan bahasa ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh bukan hanya umat Islam saja. jika dihitung jumlah negara yang memakai dan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi ( bahasa nasional ), niscaya akan diketahui betapa luasnya Timur-Tengah. Dapat disebutkan, antara lain bahasa Arab adalah merupakan bahasa resmi di : Saudi Arabia, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libia, Mesir, Sudan, Libanon, Siria, Yordania, Irak, dan Persatuan Emirat Arab (Bawani, 1997: 23). Bahasa Arab tidak dapat dipisahkan dengan Islam karena sumber hukum Islam adalah al-Qur‘an dan al-hadis, keduanya berbahasa Arab. Pelaksanaan sholat, baik sholat wajib maupun sunat, juga harus dilakukan dengan bahasa Arab. Sholat tidak sah apabila dilakukan dengan bahasa lain, bukan bahasa Arab. Selanjutnya, perlu dikemukakan pula bahwa kendati pun doa-doa di dalam Islam boleh dilakukan dengan bahasa selain bahasa Arab, namun kenyataannya kebanyakan doa dilakukan juga dengan bahasa Arab.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Islam

Pengertian:

Bahasa arab adalah suatu bahasa dari rumpun bahasa semit selatan yang digunakan oleh orang-orang yang mendiami semenanjung Arabia, di bagian barat daya benua Asia. Setelah menempuh perjalanan berabad-abad, bahasa Arab kini menjadi bahasa resmi di berbagai Negara, seperti Al-Jazair, Irak, Libanon, Libya, Maroko, Mesir, Arab Saudi, Sudah, Suriah, Tunisia, Yordania, dan Negara-negara lain di semenanjung Arabia.[1]

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia, namun keadaannya pada awal pertumbuhan dan perkembangannya tidak diketahui dengan pasti. Teks bahasa Arab tertua yang ditemukan hanya dimulai sesudah abad ke-3, sedangkan teks tertua dalam bahasa Arab yang kita kenal sekarang ini dapat diperoleh hanya dari masa dua abad sebelum Islam datang, yaitu dinamakan Sastra Jahiliah ( Al-Adab Al-Jahili ).

Dari teks yang sampai kepada kita, bahasa Arab dapat dibagi menjadi dua bagian, Pertama, bahasa Arab yang sudah punah ( Al-‘Arabiyah Badi’ah ), yaitu bahasa yang telah digunakan oleh keluarga-keluarga Arab yang tinggal di bagian utara Hedjaz dan yang berdekatan dengan batas-batas wilayah Armenia. Karena pembauran bahasa Arab ini dengan bahasa Armenia begitu jauh dari pusat-pusat bahasa Arab yang asli, maka bahasa Arab ini lama kelamaan didominasi oleh bahasa Armenia dan menjadi punah sebelum Islam datang. Yang ditemukan di daerah-daerah itu hanya ukiran-ukiran belaka. Karena itu bahasa Arab yang punah itu disebut bahasa Arab ukiran ( al-‘arabiyyah an-nuqusy). Kedua, bahasa Arab yang masih hidup ( al-‘arabiyyah al-baqiyah ), yaitu bahasa yang sampai sekarang masih digunakan oleh orang-orang Arab sebagai bahasa sastra, bahasa lisan, dan bahasa tulisan. Bahasa ini tumbuh di negeri Hedjaz dan Nejd, kemudian berkembang ke seluruh Negara-negara Arab.


B. Pengaruh Arab pada bahasa lain

Seperti dengan bahasa Eropa lain, banyak kata-kata Inggris diserap dari bahasa Arab, selalunya melalui bahasa Eropa lainnya, terutama dari Spanyol dan Italia, di antaranya kosakata harian seperti "gula" (sukkar), "kapas" (quṭn) atau "majalah" (makhzen). Kata-kata lain yang sangat terkenal misalnya "aljabar", "alkohol" dan "zenith"[2]. Pengaruh Arab telah menjadi paling mendalam di mana pada negara yang dikuasai oleh Islam atau kuasa Islam. Arab adalah sumber kosa kata utama untuk bahasa yang berbagai seperti bahasa Berber, Kurdi, Persia, Swahili, Urdu, Hindi, Turki, Melayu, dan Indonesia, baik juga seperti bahasa lain di negara di mana bahasa ini adalah dituturkan. Contohnya perkataan Arab untuk buku /kita:b/ digunakan dalam semua bahasa yang disenaraikan, selain dari Melayu dan Indonesia (di mana ia spesifiknya bermaksud "buku agama").

Istilah jarak pinjaman dari terminologi agama (seperti Berber taẓallit "sembahyang" /salat), istilah akademik (seperti Ilmu mantiq "logika kalam"), barang ekonomik kata hubung (seperti Urdu lekin "tetapi".) Kebanyakan aneka Berber (seperti Kabyle), bersama dengan Swahili, pinjam setengah bilangan dari Arab. Kebanyakan istilah agama yang digunakan oleh Muslim seluruh dunia adalah pinjaman dari bahasa Arab, seperti salat untuk 'sembahyang' dan imam untuk 'ketua sembahyang'. Dalam bahasa yang tidak berhubungan langsung dengan Dunia Arab, banyak pula kosa kata bahasa Arab yang diserap melalui bahasa lain yang berhubungan dengan bahasa Arab; contohnya, banyak kata dalam bahasa Urdu yang diserap dari bahasa Persia yang berasal dari bahasa Arab, dan banyak kosa kata dalam bahasa Hausa yang diserap dari bahasa Arab melalui Kanuri.

"Arab Umum" atau "Al-'Arabiyyah Al-'Ammiyah" adalah bahasa Arab yang dipakai dalam percakapan sehari-hari di dunia Arab, dan amat berbeda dengan Bahasa Arab tulisan. Perbedaan dialek paling utama ialah antara Afrika Utara (Arab Magrib) dan bagian Timur Tengah (Hijaz). Faktor yang menyebabkan perbedaan dialek bahasa Arab ialah pengaruh substrat (bahasa yang digunakan sebelum bahasa Arab datang). Seperti misalnya pada kata yakūn (artinya "itu"), di Irak disebut aku, di Palestina fih, dan di Magribi disebut kayən.

Daftar dialek utama di Arab adalah sebagai berikut:
  • Dialek Mesir مصري : Dipakai oleh sekitar 76 juta rakyat Mesir.
  • Dialek Maghribi مغربي : Dipakai oleh sekitar 20 juta rakyat Afrika Utara.
  • Dialek Levantine : Disebut juga Dialek Syam. Dipakai di Syria, Palestina, Lebanon dan Gereja Maronit Siprus.
  • Dialek Iraq عراقي : Mempunyai perbedaan khusus, yaitu perbedaan dialek di utara dan selatan Iraq
  • Dialek Arab Timur بحريني : Dipakai di Oman, di Arab Saudi dan di Irak bagian Barat.
  • Dialek Teluk خليجي : Dipakai di daerah Teluk, yaitu di Qatar, Unu Emirat Arab dan Saudi Arabia.

Sementara beberapa dialek lainnya adalah:
  • Hassānīya حساني : Dipakai di Mauritania dan Sahara Barat
  • Dialek Sudan سوداني : Dipakai di Sudan dan Chad
  • Dialek Hijazi حجازي : Dipakai di daerah barat dan utara Arab Saudi dan timur Yordania
  • Dialek Najd نجدي : Dipakai di Najd, Arab Saudi
  • Dialek Yamani يمني : Dipakai di Yaman
  • Dialek Andalus أندلسي : Dipakai di Andalus sampai abad ke-17
  • Dialek Sisilia سقلي : Dipakai di Sisilia[3]

3. Pengaruh Dialek Quraisy

Dialek dalam bahasa Arab sangat beragam, karena setiap suku Arab pada masa jahiliah mempunyai dialek-dialek yang berbeda satu sama lain, termasuk di dalamnya dialek Quraisy. Sementara itu Mekkah yang pada masa sebelum Islam telah menjadi pusat kegiatan perdagangan, keagamaan, dan kesusasteraan menjadi sangat ramai dikunjungi oleh berbagai suku. Melalui kegiatan-kegiatan ini dialek Quraisy menyebar dan mempengaruhi dialek suku-suku lainnya. Ada beberapa factor yang menyebabkannya. (1) factor agama. Mekkah yang didiami oleh suku Quraisy adalah tempat suci bagi berbagai suku Arab untuk melaksanakan ibadah haji di Baitullah dan tempat bagi berhala-berhala yang mereka sembah. (2) factor ekonomi. Orang-orang dari suku Quraisy pada masa itu menguasai sumber-sumber ekonomi Arab, tidak hanya di Mekkah dan sekitarnya, tetapi juga di Syam (Suriah) bagian utara dan Yaman bagi selatan. (3) kekuasaan politik yang besar berada di tangan orang-orang Quraisy. (4) dialek Quraisy merupakan dialek yang paling luas di antara dialek-dialek Arab lainnya, paling padat materinya, paling dalam gaya bahasanya, dan paling lengkap.


C. Fakto-Faktor yang Mendorong Perkembangan Bahasa Arab.

Perkembangan bahasa Arab pada masa sebelum Islam didorong oleh hal-hal sebagai berikut[4]. (1) adanya dominasi bahasa Quraisy dalam pencampuran dengan bahasa lain sehingga meninggalkan pengaruh yang besar ke dalam dialek-dialek lainnya[5]. (2) adanya pertemuan-pertemuan khusus yang dilakukan pada masa itu antara suku-suku yang ada untuk bermuzakarah (bertukar pikiran untuk suatu masalah) dan bermusyawarah dalam berbagai persoalan dengan mempergunakan bahasa Arab. (3) adanya pasar-pasar (Aswaq) perdagangan dan sastra yang diadakan pada bulan-bulan tertentu setiap tahunnya yang juga menuntut penggunaan bahasa Arab Quraisy, seperti Suku Ukaz, Majannah, dan zu al-Majaz, dekat kota mekkah.

Turunnya Al-Qur’an dalam bahasa Arab memberikan dukungan yang besar dalam pengembangan bahasa Arab pada masa-masa berikutnya. Pada masa Islam perkembangan bahasa Arab juga sangat didukung oleh beberapa factor. Di antaranya ialah: (1) penaklukkan Arab atas bangsa-bangsa lain dengan membawa ajaran Islam yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang menggunakan bahasa Arab dan (2) kuatnya hubungan politik, ekonomi, dan kebudayaan Arab dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.


D. Kelompok Penggunaan Bahasa Arab.

Penggunaan bahasa Arab dapat dibagi dua. Pertama, bahasa Arab ‘amiyah, yaitu bahasa Arab yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa ini terdiri dari: (1) kelompok dialek Hedzjat-Nejd, yang mencakup dialek Hedzjat, Nejd dan yaman; (2) kelompok dialek suriah, yang mencakup dialek-dialek Arab yang digunakan di suriah, Libanon, Palestina, dan Yordania Timur; (3) kelompok dialek Irak, yang mencakup dialek-dialek Arab yang digunakan di Negeri-negeri Irak; (4) kelompok dialek Mesir, yang mencakup dialek-dialek Arab yang digunakan di Mesir dan Sudan; dan (5) kelompok dialek Maroko, yang mencakup dialek-dialek Arab yang digunakan di Afrika Utara.

Kedua, bahasa Arab fusha (fasih ), yaitu bahasa Al-Qur’an dan hadist. Bahasa ini dipergunakan sebagai bahasa tulisan atau bahasa sastra dalam buku, surat-surat kabar, majalah, dalam permasalahan hukum, administrasi, penyusunan puisi (Syair) dan prosa, dalam ceramah-ceramah ilmiah, pengajaran, dan khotbah-khotbah.


E. Kebijakan Pemerintah Dalam Penguatan Kurikulum Bahasa Arab di Madrasah

Institusi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, secara umum dapat dikategorikan menjadi dua: yaitu institusi yang menyelenggarakan pendidikan formal di bawah naungan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional dan institusi yang menyelenggarakan pendidikan non formal. Institusi pendidikan formal pembelajaran bahasa Arab di bawah naungan Departemen Agama dimulai dari jenjang pra sekolah/ TK berjumlah 15.528, MI berjumlah 23.164, MTs berjumlah 11.706 dan MA yang jumlahnya mencapai 4.439 sampai PTAI, demikian juga Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren[6]. Sedangkan institusi pendidikan formal yang mengajarkan bahasa Arab di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional adalah SMA baik sebagai muatan lokal maupun sebagai program pilihan di samping Universitas baik negeri maupun swasta[7].

Institusi pendidikan formal yang mengajarkan bahasa Arab di Indonesia juga didapati lembaga pendidikan asing, a.l: Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta di bawah naungan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi, Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) yayasan pendidikan yang memperoleh pendanaan dari Uni Emirat Arab. Yayasan ini membuka tujuh lembaga pendidikan bahasa Arab di Indonesia, yaitu: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Solo, Makassar, Malang dan MI Al Azhar Cairo di Jakarta. Di samping lembaga- lembaga formal ini, juga ada beberapa institusi non-formal yang berkiprah dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia seperti: majlis ta’lim, masjid, lembaga kursus, dll.

Pengembangan pendidikan madrasah tidak dapat ditangani secara parsial atau setengah-setengah, tetapi memerlukan pemikiran pengembangan yang utuh, terutama ketika dihadapkan pada kebijakan pembangunan nasional bidang pendidikan yang mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah ( baca penjelasan UU. No. 20/2003 tentang Sisdiknas).

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pada periode H.A. Mukti Ali ( mantan menteri Agama RI), ia menawarkan konsep alternatif pengembangan madrasah melalui kebijakan SKB 3 menteri, yang berusaha menyejajarkan kualitas madrasah dengan non-madrasah, derngan porsi kurikulum 70% umum dan 30 % agama. Pada periode Menteri Agama Munawir Sadzali menawarkan konsep MAPK. Dan pada periode menteri Agama RI. H. Tarmizi Taher Menawarkan konsep madrasah sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam[8].

Untuk kedangkalan pengetahuan agama lulusan madrasah, Menteri Agama Munawir Sadzali mencoba menawarkan MAPK ( Madrasah Aliyah Program Khusus). Hal ini dimaksudkan untuk menjawab problem kelangkaan ulama dan/atau kelangkaan umat yang menguasai kitab-kitab berbahasa Arab serta ilmu-ilmu keislaman.


Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 Tanggal 23 Mei 2006 tentang Standard isi adalah:

PENDAHULUAN 

Yakni Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut. pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional[9]. Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun[10]. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusiaIndonesia seutuhnya melalui olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan[11].

Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan,standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.Dalam dokumen ini dibahas standar isi sebagaimana dimaksud oleh PeraturanPemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara keseluruhan mencakup:1. kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan, 2. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah, 3. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi, dan 4. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yangdibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.

Peraturan menteri agama Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 tentang standard kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab di Madrasah bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan pasal 5 ayat (1) dan (2), pasal 25 ayat (1) dan pasal 27 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Bahwa Departemen Agama memandang perlu melaksanakan pengembangan standar kompetensi dan kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam untuk madrasah sebagaimana amanat peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301. Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standard Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 No 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4496. Keputusan Menteri Agama Nomor 372 tahun 1993 tentang kurikulum Pendidikan dasar berciri khas agama Islam. Keputusan Menteri Agama Nomor 373 tahun 1993 tentang Kurikulum Madrasah Aliyah. Keputusan Menteri Agama Nomor 374 tahun 1993 tentang Kurikulum Madrasah Aliyah Keagamaan dengan memperhatikan hasil pembahasan bersama Departemen Agama dan Organisasi-organisasi Penyelenggara Pendidikan Madrasah tentang Pengembangan Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah pada tanggal 22 Agustus 2007. Dan hasil perumusan bersama Departemen Agama, Badan Standar Nasional Pendidikan Perguruan Tinggi Agama Islam, Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan, dan organisasi-organisasi penyelenggara madrasah pada tanggal 29 Januari 2008[12].

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah 1. menetapkan standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab di Madrasah. 2. Menetapkan standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah-Madrasah. 3. Menetapkan standar kompetensi lulusan pendidikan agama Islam dan bahasa Arab untuk pendidikan dasar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, serta untuk pendidikan menengah pada Madrasah Aliyah. 4. Standar isi pendidikan agama Islam dan bahasa Arab untuk pendidikan dasar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, serta untuk pendidikan Menengah pada Madrasah Aliyah meliputi struktur mata pelajaran pendidikan agama Islam dan Bahasa Arab, lingkup materi minimal, dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal.


Daftar Pustaka dan Footnote
  • Abdul alim Ibrahim, Al-muwajjahu al-fanni limudarrisi al-lughatul al-‘arabiyyah,( Daar al-ma’arif:cetakan ke-17,2002),
  • Ali ahmad markur, tadris funun al-lughatul al-‘arabiyyah,( Daar as-syawaf linnasyri wattauzikh:Mesir, 1999)
  • ------1994. “Keberadaan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia: Tinjauan atas Sumbangannya bagi Perkembangan Bahasa Indonesia”. (Makalah Seminar Pekan Budaya Arab). Yogyakarta: IMABA UGM.
  • Hadi, Syamsul. “Bahasa Arab dan Studi Sastra Melayu Lama. Makalah untuk Penataran Ilmu Sastra Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM Yogyakarta ( Bandung: citapustaka Media Perintis, 1979)
  • —— . 1994. “Bahasa Arab dan Komunikasi Intemasional”, makalah untuk Seminar Nasional Budaya Arab. IMABA UGM: Yogyakarta.
  • —— . 1995. “Bahasa Arab dan Khazanah Intelektual Islam di Indonesia”, makalah untuk Seminar Kontribusi Sastra Arab dalam Khazanah Intelektual Islam Masa Kini: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 6 Mei 1995.
  • ———–1995 “Bahasa Arab dan Khazanah Sastra Keagamaan di Indonesia”. Jurnal Ilmiah Humaniora. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM
  • Ikram, A. “Pengaruh Dunia Budaya Islam Terhadap Sastra Klasik Nusantara” makalah Untuk Seminar Nasional Sastra Arab dan Islam. Program Studi Arab, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indo­nesia.( Jakarta: PT.Rineka Aksara, 2003)
  • Izzan Ahmad, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Humaniora, 2009).
  • Mukhtar Baisuni Al-Fisyawi, Al-lughatul ‘arabiyyah bidayatan wa nihayatan, qiraatan fi kutubi at-tarikh,(Al-Azhar Al-Sharif Islamic Research Academy General Department, 2002)
  • Makruf Imam, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif, (Semarang: Need’s Press, 2009)
  • Ruswandi Uus, Media Pembelajaran, (Bandung: CV. Insan Mandiri, 2008)
  • Yusuf alhamadi, asalibut at-tadris at-tarbiyyah al-islamiyyah,(Daarul marikh linnasyri:Riyadh,1987)
________________________
[1] Mukhtar Baisuni Al-Fisyawi, Al-lughatul ‘arabiyyah bidayatan wa nihayatan, qiraatan fi kutubi at-tarikh,(Al-Azhar Al-Sharif Islamic Research Academy General Department, 2002), hal.13.

[2] Yusuf alhamadi, asalibut at-tadris at-tarbiyyah al-islamiyyah,(Daarul marikh linnasyri:Riyadh,1987),hlm.4.

[3] Ali ahmad markur, tadris funun al-lughatul al-‘arabiyyah,( Daar as-syawaf linnasyri wattauzikh:Mesir, 1991), hlm.52.

[4] Ikram, A. “Pengaruh Dunia Budaya Islam Terhadap Sastra Klasik Nusantara” makalah Untuk Seminar Nasional Sas­tra Arab dan Islam. Program Studi Arab, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.( Jakarta: PT.Rineka Aksara, 2003), hlm. 23

[5] Abdul alim Ibrahim, Al-muwajjahu al-fanni limudarrisi al-lughatul al-‘arabiyyah,( Daar al-ma’arif:cetakan ke-17,2002), hlm 187.

[6] Ikram, A. “Pengaruh Dunia Budaya Islam Terhadap Sastra Klasik Nusantara” makalah Untuk Seminar Nasional Sas­tra Arab dan Islam. Program Studi Arab, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.( Jakarta: PT.Rineka Aksara, 2003),hlm.57

[7] Izzan Ahmad, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Humaniora, 2009), hlm. 34

[8] Lihat di 1994. “Keberadaan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia: Tinjauan atas Sumbangannya bagi Perkembangan Bahasa Indonesia”. (Makalah Seminar Pekan Budaya Arab). Yogyakarta: IMABA UGM.

[9] Hadi, Syamsul. “Bahasa Arab dan Studi Sastra Melayu Lama. Makalah untuk Penataran Ilmu Sastra Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM Yogyakarta ( Bandung: citapustaka Media Perintis, 1979),hlm.45

[10] Ruswandi Uus, Media Pembelajaran, (Bandung: CV. Insan Mandiri, 2008),hlm. 323

[11] lihat di tahun 1995. “Bahasa Arab dan Khazanah Intelektual Islam di Indonesia”, makalah untuk Seminar Kontribusi Sastra Arab dalam Khazanah Intelektual Islam Masa Kini: Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 6 Mei 1995.

[12] Makruf Imam, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif, (Semarang: Need’s Press, 2009),hlm.92

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis