Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Hubungan Kausalitas Jangka Panjang Investasi Pendidikan dengan Pertumbuhan Ekonomi


Makalah Hubungan Kausalitas Jangka Panjang Investasi Pendidikan dengan Pertumbuhan Ekonomi : Studi Kasus Provinsi Aceh melalui Analisis Vector Autoregression (VAR)

Oleh: Riswandi

BAB I 
PENDAHULUAN

1 Latar Belakang 

Investasi pendidikan atau modal manusia (human capital) telah menjadi salah satu determinan penting keberhasilan pembangunan ekonomi jangka panjang. Investasi pendidikan merupakan mesin perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge-driven economy) yang memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja, penurunan pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, peningkatan daya saing perdangangan, teknologi, kesehatan, stabilitas politik, hak asasi manusia dan demokrasi. Serangkaian penelitian[3] telah dilakukan untuk menghubungkan bagaimana investasi modal manusia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan manusia. Mayoritas hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara investasi modal manusia dan pertumbuhan ekonomi, meskipun sebagian kecil lagi gagal menjelaskan hubungan tersebut karena masalah metodologi dan data.

Salah satu implikasi hasil temuan di atas adalah reorientasi kebijakan pembangunan ekonomi jangka panjang berbasis modal manusia di hampir sebagian negara di dunia. Tidak saja negara maju tetapi juga negara miskin mulai melakukan investasi modal manusia dalam jumlah yang relatif besar dengan cara peningkatan alokasi anggaran pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan, dan program magang. Sejalan hal tersebut, di Indonesia, UUD 1945 pasal 31 ayat 4 dan dan UU Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 pasal 49 mengamanatkan pemerintah dan pemerintah daerah untuk mengalokasikan sebesar 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan daerah untuk pendanaan pendidikan.

Berbeda dengan provinsi lain di Indonesia, Pemerintahan Aceh sedikit lebih maju dalam hal pendanaan pendidikan. Sumber pendanaan pendidikan di Aceh mengalami peningkatan yang sangat besar sejak tahun 2001 dengan diberlakukannya UU No 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Naggroe Aceh Darussalam[4]. Bahkan, pada tahun 2004, Aceh memiliki belanja pendidikan per kapita tertingi kedua setelah Provinsi Papua (Bank Dunia, 2006). Selanjutnya, seiring perubahan situasi politik dan perdamaian di Aceh, pendanaan pendidikan Aceh terus memperoleh tambahan anggaran yang sangat signifikan[5] setelah UU No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh diberlakukan. Dengan UU yang baru ini, alokasi anggaran pendidikan Aceh tidak saja bersumber dari 20% APBA (Angaraan Pendapatan dan Belanja Aceh) dan APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota) tetapi juga memperoleh tambahan sebesar 30% dari tambahan Dana Bagi Hasil minyak dan gas bumi yang diperoleh dari dana transfer pemerintah pusat.

Bagaimana pemanfaatan dana pendidikan yang relatif cukup besar tersebut mampu menghasilkan produktivitas tenaga kerja yang lebih baik dan selanjutnya menjadi motor penggerak perekonomian Aceh adalah masalah utama yang sedang dihadapi bukan saja pemerintah Aceh tetapi juga pemangku kepentingan bidang pendidikan. Di satu sisi, anggaran pendidikan yang berlimpah menjadi sumber daya yang sangat penting untuk mencapai empat pilar pendidikan Aceh sebagaimana termaktub dalam Rencana Strategis Pendidikan Aceh[6], namun di sisi lain capain-capain indikator utama pendidikan khususnya kompetensi lulusan serta tata kelola pendidikan menunjukkan hasil yang bervariasi[7]. Tanpa adanya lulusan yang bermutu dan proses pendidikan yang efisien, pertumbuhan ekonomi yang bersinambungan dalam jangka panjang sulit untuk dicapai.

Oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk menganalisis secara lebih dalam bagaimana hubungan kausalitas jangka panjang antara anggaran pendidikan dan pertumbuhan ekonomi Aceh. Selain itu penelitian ini diharapkan mampu mendeteksi seberapa besar kontribusi peningkatan anggaran pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh. Hanya sistem pendidikan yang bermutu mampu menghasilkan lulusan yang memiliki produktivitas tinggi dan mampu bersaing di pasar tenaga kerja. Selanjutnya, pasar tenaga kerja yang terlatih dan terdidik (educated and skilled-abundant-labour market) mampu menggerakan perekonomian secara signifikan dan berkelanjutan.


BAB II
PEMBAHASAN

1 Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi

Ilmu ekonomi pendidikan (economics of education) merupakan salah satu cabang ilmu ekonomi yang mengalami perkembangan cukup pesat sejak tahun 1960-an. Pada awal perkembangnya, Schultz (1961) menganalisis bahwa peningkatan pendapatan riil per kapita masyarakat America pada pertengahan abad ke-20 disebabkan pertumbuhan modal manusia. Selanjutnya, Lucas (1988) mempresentasikan sebuah model yang menjelaskan bahwa kekuatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah tingkat akumulasi modal manusia. Bahkan sebuah konferensi ekonomi Internasional yang diselenggarakan tahun 1963 telah menghasilkan sebuah prosiding yang berisi tentang beberapa hal penting berkaitan dengan kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi, profitabilitas investasi pendidikan (termasuk estimasi tingkat pengembalian sosial dan individu), peranan tenaga kerja terdidik dalam pembangunan ekonomi, perencanana dan pembiayaan pendidikan, dan efek pendidikan terhadap distribusi pendapatan dan kekayaan (Psacharopoulos, 1987).

Sementara itu, bagaimana investasi pendidikan memberikan kontribusi positif dan langsung terhadap pertumbuhan ekonomi telah dibuktikan oleh berbagai hasil penelitian. Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara maju lebih didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja, bukan pertumbuhan tanah dan modal fisik per pekerja. Terbukti bahwa negara-negara yang mengalami pertumbuhan pendapatan secara persisten juga memiliki pengeluaran yang besar di bidang pendidikan dan pelatihan untuk angkatan kerja mereka (Becker, 1993).

Belassi dan Musila (2004) menggunakan prosedur estimati kointegrasi dan kesalahan residual (error correction model=ECM) untuk menginvestigasi dampak pengeluaran pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) riil Uganda selama periode 1965-1999. Penelitian ini juga memasukkan modal fisik dan tenaga kerja sebagai salah variabel penting yang mempengaruhi pertumbuhan dalam jangka panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan model ECM, dalam jangka pendek, secara rata-rata setiap kenaikan 1% pengeluaran pendidikan per tenaga kerja akan mendorong output nasional sekitar 0,04%. Sementara itu, dengan estimasi kointegrasi, dalam jangka panjang, secara rata-rata setiap kenaikan 1% pengeluaran pendidikan per tenaga kerja akan meningkatkan output nasional sekitar 0,6%.

Berbeda dengan pendekatan yang dilakukan penelitian di atas, Nour dan Muysken (2006) menggunakan pendekatan lain untuk menjelaskan bagaimana defisiensi sistem pendidikan dan banyaknya pekerja lokal dan asing yang tidak terlatih di negara-negara semenanjung Arab, khususnya Uni Emirat Arab, merupakan hambatan serius untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri dan merestrukturisasi perekonomian dari ketergantungan mereka terhadap ekspor minyak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa interaksi antara sistem pendidikan yang tidak memadai dan tingginya pasokan tenaga kerja asing yang tidak terlatih memiliki konsekuensi serius, seperti; tingkat keahlian yang rendah, penyelenggaraan pelatihan yang rendah, ketidaksesuain keahlian, transfer pengetahuan yang rendah, usaha-usaha yang terbatas untuk pengembangan teknologi lokal, ketergantungan terhadap teknologi luar negeri dan penurunan produktivitas. Mereka juga menemukan bahwa kuliatas pendidikan dan pelatihan yang rendah, kurangnya insentif untuk memotivasi interaksi yang efektif antara pemilik pengetahuan dan penerima pengetahuan, dan ketidaksesuaian keahlian merupakan faktor penting penghambat transfer pengetahuan.

Sementara itu, Al-Yousif (2008) meneliti hubungan kausalitas antara pengeluaran pendidikan sebagai proksi modal manusia dan pertumbuhan ekonomi di 6 negara GCC[8] dengan menggunakan uji Granger Causality. Hasil penelitian menyatakan hasil yang beragam namun di hampir semua negara hanya terdapat hubungan kausalitas satu arah (unidirectional causality) yaitu dari manusia ke pertumbuhan ekonomi, tidak sebaliknya. Keragaman hasil penelitian ini disebabkan oleh karakteristik masing-masing negara dan penggunaan proksi modal manusia yang berbeda-beda.

Lebih spesifik, Nomura (2007) meneliti bagaimana kontribusi investasi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat berubah-ubah jika tingkat pendidikan dan pemerataan pendidikan berbeda. Dengan menggunakan rata-rata tahun sekolah (average number of years of schooling) dan koefisien Gini masing-masing sebagai proksi tingkat pendidikan dan pemerataan pendidikan, hasil penelitian menunjukkan, pertama, kontribusi investasi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi lebih besar dan secara statistik lebih signifikan di negara-negara dengan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan di negara-negara dengan pemerataan pendidikan yang lebih baik. Meskipun dalam kenyataan peningkatan rata-rata tahun sekolah di negara tersebut relatif lebih rendah disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik dan infrastuktur pendidikan, biaya pendidikan yang tinggi, dan pasar modal yang tidak sempurna. Implikasi dari temuan ini adalah kebijakan pendidikan sebaiknya dirancang untuk meningkatkan pemerataan pendidikan sebab peningkatan rata-rata tahun sekolah tanpa disertai peningkatan pemerataan pendidikan akan memiliki dampak yang kecil terhadap pertumbuhan ekonomi.


2 Keuntungan Individu dan Sosial Investasi Pendidikan

Tidak satupun negara dapat mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan tanpa investasi modal manusia secara substansial. Pendidikan memperkaya pemahaman manusia dan dunia. Pendidikan juga meningkatkan kualitas hidup manusia dan manfaat sosial yang lebih luas baik untuk individu maupun masyarakat. Pendidikan meningkatkan produktivitas dan kreativitas tenaga kerja serta meningkatkan kewirausahaan dan kemajuan teknologi. Bahkan, pendidikan memainkan peran yang penting dalam menyelamatkan kemajuan sosial dan ekonomi dan meningkatkan distribusi pendapatan (Ozturk, 2001).

Dampak positif investasi pendidikan tidak hanya memberikan keuntungan individu (private benefits) tetapi juga keuntungan sosial (social/public benefits). Investigasi dampak menyeluruh (total effect) investasi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi terus berlangsung dan mengalami perkembangan baik dari sisi metodologi maupun variabel yang diukur. Peneliti tidak hanya berfokus pada efek langsung (direct effect) atau manfaat individu (individual benefits) dari investasi pendidikan terhadap peningkatan pertumbuhan melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan angkatan kerja tetapi juga menganalisis efek tidak langsung (indirect effect) investasi pendidikan terhadap kesehatan, pertumbuhan penduduk, demokrasi, HAM, stabilitas politik, kemiskinan, ketidakmeraan distribusi pendapatan, lingkungan dan tingkat kriminal.

Mayoritas hasil penelitian mendukung tesis bahwa investasi pendidikan tidak saja memberikan keuntungan individu tetapi juga dampak sosial (spillover benefit atau social benefit atau externalities). Bahkan, Pscharopoulos dan Patrinos (2002) berkesimpulan bahwa tingkat pengembalian keuntungan sosial atau ekternalitas positif mungkin lebih baik dibandingkan tingkat pengembalian individu untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah, sedangkan untuk tingkat pendidikan tinggi justeru sebaliknya. Hasil ini juga didukung oleh temuan Keller (2006) bahwa tingkat partisipasi pendidikan dasar tidak memberikan signal keuntungan langsung (direct benefits) terhadap pertumbuhan perkapita, tetapi partisipasi pendidikan dasar menunjukkan indirect effect dengan menurunnya tingkat fertilitas yang cukup signifikan, menarik investasi modal fisik, meningkatkan angka partisipasi di tingkat pendidikan menengah, dan dampak tersebut selanjutnya meningkatnya pendapatan per kapita. 

Pada level pendidikan mana yang memberikan manfaat yang paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi juga menjadi topik kajian yang menarik. Papageorgiou (2003) menunjukkan hasil regresi bahwa pendidikan dasar memberikan kontribusi pada produksi output akhir saja sementara pendidikan tinggi memberikan kontribusi terhadap inovasi dan pengembangan teknologi. Atau dengan kata lain, sebagaimana yang ditemukan oleh Knowles (1997), bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan memberikan produktivitas yang tinggi karena semakin meningkatnya tambahan produk dari setiap tambahan tenaga kerja (marginal product of labour).

Survey di 44 negara oleh Pscharopoulos (1981) telah memperkaya studi tentang pengukuran manfaat individu dan sosial investasi pendidikan. Beberapa temuannya adalah sebagai berikut:
  • tingkat pengembalian pendidikan dasar adalah paling tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya, termasuk pendidikan tinggi;

  • tingkat pengembalian individu lebih besar dibandingkan pengembalian sosial, khususnya pada tingkat pendidikan tinggi/univesitas;
  • tingkat pengembalian investasi pendidikan lebih tinggi 10 persen daripada tingkat pengembalian investasi fisik; dan
  • tingkat pengembalian pendidikan di negara-negara berkembang lebih tinggi relatif terhadap pengembalian pendidikan di negara-negara yang lebih maju.

Dalam Makalah ini ada beberapa keterangan yang tidak ditampilkan seperti gambar dan Keterangan lainnya, Jika Anda ingin mendapatkannya dengan lengkap anda dapat mendownloadnya dalam format Doc di Sini.


Daftar Pustaka dan Footnote
  • Al-Yousif, Y.K. (2008), ‘Expenditure and Economic Growth: Some Empirical Evidence from the GCC Countries’, Journal of Developing Areas, vol. 42, iss. 1, pp. 69-80
  • Asteriou, D. dan Hall, S.G. (2007), ‘Applied Econometrics: A Modern Approach’, Revised Edition, Palgrave Macmillan, New York. 
  • Bank Dunia (2006), ‘Analisis Pengeluaran Publik Aceh: Pengeluaran untuk Rekonstruksi dan Pengentasan Kemiskinan’, Jakarta. 
  • Belasi, W. dan Musila, J.W. (2000), ‘The Impact of Education Expenditure on Economic Growth in Uganda: Evidence from Time Series Data’, The Journal of Developing Areas, vol. 38 (1), pp123-133.
  • Benson, C (1978) ‘Educational financing and government spending’, Theory into Practice, vol. 17, No. 4, pp. 341-347.
  • Blis, M. and P. Klenow, P. (2000), ‘Does schooling cause growth’, American Economic Review, vol. 90, pp. 1160-1183.
  • Boyte, L. (2005), ‘Female Education and Religiosity: Their Institutional Impacts on Economic Growth’, Atlantic Economic Journal, vol. 33, pp. 361–362.
  • Brempong, G.K (1998), ‘The political economy of budgeting in Africa, 1971-1991’, Public Budgeting and Financial Management, vol. 9(4), pp. 590-616.
  • Gujarati, D.N (2004), ‘Basic Econometric’, Fourth ed., McGraw-Hill, UK.
  • Hicks, N.L. and Kubisch, A. (1984), ‘Cutting government expenditure in LDCs’, Finance and Development, vol. 21(3), pp. 37-39.
  • Keller, K.R.I (2006), ‘Investment in Primary, Secondary, and Higher Education and the Effects on Economic Growth, Contemporary Economic Policy, vol. 24 (1), pp. 18-34.
  • Knowles, S. (1997), ‘Which level of Schooling has the Greatest Economic Impact on Output?’, Applied Economics Letters, vol. 4, pp. 177-180. 
  • Looney, R.W. (1987), ‘The impact of political change, debt servicing and fiscal deficits on Argentinian budgetary priorities’, Journal of Economic Studies, vol. 14(3), pp. 23-40.
  • Lucas, R. (1988), ‘On the Mechanisms of Economic Development’, Journal of Monetray Economics, vol. 22 (1), pp. 3-42.
  • Nomura, T. (2007), ‘Contribution of Education and Educational Equality to Economic Growth’, Applied Economics Letters, vol. 14, pp. 627-630.
  • Nour, S. dan Muysken, J. (2006), ‘Deficiencies in Education and Poor Prospects for Economic Growth in the Gulf Countries: the Case of the UAE’, Journal of Development Studies, vol. 42 (6), pp. 957-980.
  • Ozturk, I. (2001), ‘The Role of Education in Economic Development: A Theoretical Perspective’, Journal of Rural Development and Administration, vol. 33 (1), pp. 39-47.
  • Papageorgiou, C. (2003), ‘Distinguishing between the Effects of Primary and Post-Primary Education on Economic Growth’, Review of Development Economics, vol. 7 (4), pp. 622-635. 
  • Psacharopoulos, G. (ed.) (1987), ’Economics of Education: Research and Studies’, Pergamon Press, New York, pp. 1.
  • Psacharopoulos, G. (1981), ‘Returns to education: an Updated International Comparison’, Comparative Education, vol. 17 (3), pp. 321-41.
  • Psacharopoulos, G. dan Patrinos, H.A. (2002), ‘Returns to Investment in Education’, Policy Research Working Paper, The World Bank, Latin America and the Caribbean Region. 
  • Pemerintah Aceh (2008), ‘Qanun Pemerintah Aceh Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan’.
  • Pemerintah Aceh (2005), ‘Rencana strategis (Renstra) pendidikan Nanggore Aceh Darussalam 2007-2012’, CV Guruminda, Banda Aceh.
  • Pemerintah Indonesia (2006), ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh’.
  • Pemerintah Indonesia (2004), ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah’.
  • Pemerintah Indonesia (2003), ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional’.
  • Pemerintah Indonesia (2001), ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Naggroe Aceh Darussalam’.
  • Schultz, T.W. (1961), ’Investment in Human Capital’, American Economic Review, vol. 51 (1), pp. 1-17.
_____________________-
[3] Penelitian dengan topik investasi modal manusia mulai berkembang sejak pertengahan 1950-an sebagai respon lahirnya Teori Ekonomi Baru (new growth theory or endogenous growth theory) oleh Robert Solow. Teori ini menempatkan modal manusia sebagai faktor kunci dan dianggap sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi (engine of growth).

[4] Menurut UU ini, pemerintah Aceh sekurang-kurangnya mengalokasikan 30% dari tambahan dana bagi hasil migas Aceh untuk biaya pendidikan.

[5] Tahun 2009, anggaran pendidikan Aceh mengalami kenaikan cukup signifikan menjadi sebesar 1,82 triliun atau sebesar 182 persen dibandingkan anggaran yang sama tahun 2007.

[6] Empat pilar pendidikan Aceh yaitu peningkatan dan pemerataan akses, peningkatan mutu, tata kelola, dan pendidikan islami sebagaimana termaktub dalam visi Rencana Strategis Pendidikan Aceh, 2007 – 2011 yaitu “Terwujudnya pendidikan di Aceh yang merata untuk semua anak, berkualitas tinggi, bersifat islami, dan mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif”.

[7] Capaian indikator pendidikan khususnya di bidang perluasan akses pendidikan semakin membaik dan bahkan lebih tinggi dari target nasional. Per 2007, APM SD sebesar 94,66% sedikit lebih rendah dibandingkan target nasional sebesar 94,81%, sementara itu, APK SMP dan SMA sederajat berturut-turut, 96,59% dan 73,86% jauh lebih baik dibandingkan target nasionalnya berturut-turut sebesar 95% dan 64,20%. Di bidang peningkatan mutu dan daya saing pendidikan, capaian indikator nilai rata-rata UN SD sebesar 5,84 sedikit lebih baik dibandingkan target nasional sebesar 5,00, sedangkan di tingkat SMP/SMA sederajat sebesar 6,15 dan 6,33 masih jauh tertinggal dibandingkan target nasional sebesar 7 untuk keduannya (Dinas Pendidikan Aceh, 2008).

[8] GCC (Gulf Cooperation Council) adalah kerjasama negara-negara semenanjung Arab meliputi Saudai Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman dan Qatar, tidak termasuk Yaman.

[9] Ada tiga kriteria utama pendanaan pendidikan meliputi kecukupan (adequacy of funding), effisiensi (efficiency), dan pemerataan (equity).

[10] Gujarati (2004, 359) menjelaskan bahwa multikolineariti mungkin saja meyebabkan masalah yang serius jika koefisien korelasi antara dau regresor lebih tinggi dari 0,8.

[11] Hampir sebagian besar variabel makroekonomi menggambarkan trend sehingga kemungkinan besar dalam model ekonometrik yang dibangun dari variabel tersebut menghasilkan regresi yang salah (spurious regression). Oleh sebab itu, uji akar-akar unit wajib dilakukan sehingga hasil regresi terhadap model yang dibentuk terbebas dari spurious regression.

[12] Pada dasarnya, analisis lanjutan dari hasil estimasi model VAR meliputi analisis, variance decomposition, impulse response, dan uji Granger Causality. Dalam penelitian ini, analisis yang digunakan hanya dua analisis terakhir.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis