Aneka Ragam Makalah

Metode Dalam Penelitian Eksperimen


Makalah Metode Dalam Penelitian Eksperimen
Oleh : Nurprapti Wahyu Widyastuti

BAB I
PENDAHULUAN 

Metode penelitian eksperimen merupakan salah satu metode penelitian kuantitatif. Dalam metode penelitian ini, peneliti bertujuan melihat hubungan antar variabel yang diteliti. Seringkali peneliti mengalami kesulitan apakah suatu akibat disebabkan oleh variable tertentu apakah oleh variable lain. Oleh karena itu peneliti memerlukan variable kontrol. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa suatu akibat hanya disebabkan oleh variabel bebas tertentu (variable X) dan tidak oleh variable lainnya.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Eksperimen

Metode eksperimen ditujukan untuk meneliti hubungan sebab akibat dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel pada satu (atau lebih) kelompok eksperimental, dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi. Manipulasi berarti mengubah secara sistematis sifat-sifat (nilai-nilai) variabel bebas. Setelah dimanipulasikan, variabel bebas itu biasanya disebut garapan (treatment).

Untuk meneliti efek adegan kekerasan dalam televisi pada sifat agresif anak, kita dapat memperlihatkan dua macam acara televisi. Kepada satu kelompok dipertunjukkan acara yang penuh adegan kekerasan, seperti membunuh, memukul, merusak dan sebagainya. Kepada kelompok lain kita sajikan acara ringan, seperti rekreasi, atau komedi. Kelompok pertama disebut kelompok eksperimental, yang kedua kelompok kontrol. Adegan kekerasan kita sebut garapan, sebab kelompok eksperimen kita garap dengan variabel yang kita manipulasikan. Katakanlah, agresi anak diukur dengan mengamati tingkah laku mereka setelah menonton acara televisi tersebut dalam periode tertentu. Terbukti, misalnya, bahwa anak yang terbuka (exposed) pada adegan kekerasan lebih agresif dari kelompok anak yang lain.

Penelitian eksperimen dalam kenyataannya tidak sesederhana itu. Peneliti harus memperlihatkan, apakah tidak ada variabel luar yang ikut serta menimbulkan efek. Misalnya, secara kebetulan pada kelompok eksperimen terdapat lebih banyak anak yang mengalami frustasi dalam keluarganya. Frustasi mungkin yang menjadi sebab, dan bukan adegan kekerasan. Karena itu, sedapat mungkin peneliti mengusahakan agar perbedaan hasil pengamatan itu tidak disebabkan oleh hal-hal lain kecuali variabel bebas yang diteliti. Upaya ini disebut control.

B. Tujuan Penelitian Eksperimen

Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian eksperimental dapat mengubah teori-teori yang telah usang. Percobaan-percobaan dilakukan untuk menguji hipotesa serta untuk menemukan hubungan-hubungan kausal yang baru. Tetapi, walaupun hipotesa telah diuji dengan metode percobaan, tetapi penerimaan itu atau penolakan hipotesa bukanlah merupakan penemuan suatu kebenaran yang mutlak. Eksperimentasi atau percobaan bukanlah merupakan titik akhir atau tujuan yang diinginkan dalam penelitian. Eksperimen hanya merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan. Karena itu, maka seringkali ada kritik-kritik terhadap metode eksperimen karena interpretasi yang salah dari hasil percobaan, atau karena salahnya asumsi yang digunakan ataupun karena desain eksperimen yang kurang sempurna.

1. Pengertian Kontrol 
Secara singkat, eksperimen ditandai tiga hal:
(1) manipulasi – mengubah secara sistematis keadaan tertentu,
(2) observasi – mengamati dan mengubah hasil manipulasi, 
(3) kontrol – mengendalikan kondisi-kondisi penelitian ketika berlangsungnya manipulasi.

Kontrol merupakan kunci penelitian eksperimental sebab, tanpa kontrol, manipulasi dan observasi akan menghasilkan data yang confounding (meragukan). Kondisi penelitian yang ideal terjadi bila semua hasil pengamatan pada variabel tak bebas disebabkan oleh variabel bebas. Dengan mengontrol kondisi penelitian, kita mengusahakan agar variasi skor pada variabel tak bebas betul-betul merupakan akibat variabel bebas.

Variasi skor pada variabel bebas biasanya disebut ragam (variace). Ada tiga macam ragam:
  • ragam yang ditimbulkan oleh variabel bebas (ragam yang dikehendaki oleh peneliti):
  • ragam yang timbul karena variabel luar yang secara sistematis mempengaruhi hasil eksperimen (ragam luar tidak dikehendaki); dan ragam galat (error variance) 
  • ragam yang timbul karena faktor-faktor tertentu, seperti alat ukur atau prosedur penelitian yang menyebabkan pengamatan yang tidak konsisten.

Tugas pelaku eksperimen ialah mengatur kondisi sehingga ia memperoleh data yang jelas menunjukkan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas. Ini dilakukan dengan (1) mempertinggi ragam pertama, (2) mengurangi ragam galat atau ragam acak, dan (3) mengendalikan ragam kedua (Kerlinger, 1977: 306). Inilah hakikatnya yang disebut prosedur kontrol.

2. Prosedur Kontrol

Dalam eksperimen, kita berharap variabel eksperimental yang menimbulkan ragam dalam skor. Karena itu, wajar kalau perbedaan diantara kondisi eksperimental dan kondisi kontrol diusahakan sejauh mungkin. Misalnya kita ingin meneliti apakah tikus yang lapar lebih cepat belajar dengan diberi upah makanan ketimbang tikus yang kenyang. Untuk itu kelompok 1 harus diusahakan dalam keadaan hampir kenyang, dan kelompok 2 dalam keadaan yang betul-betul lapar. Ini diharapkan membuat skor yang betul-betul berbeda. Bila tingkat kelaparan itu hanya berbeda sedikit saja, kemungkinan perbedaan ragam diantara kedua kelompok itu akan sedikit pula. Inilah prosedur kontrol pertama.

Prosedur kontrol yang kedua adalah mengurangi galat. Ragam galat yang timbul karena kekeliruan dalam pengukuran tentu diatasi dengan selalu mempertinggi reliabilitas pengukuran. Dalam penelitian sosial, ini berarti mempertegas batasan konstruk yang diteliti. Untuk mengukur partisipasi dalam kelompok, indikator partisipasi harus tegas tujukan dan harus secara konsisten dipergunakan. Cara lain untuk mengurangi ragam galat ialah menambah jumlah sampel. Bila besarnya sampel memadai, efek faktor kebetulan dapat dihilangkan.

Prosedur kontrol yang ketiga adalah mengendalikan ragam kedua. Seperti telah disebutkan dimuka, ragam kedua adalah ragam yang ditimbulkan oleh variabel luar (atau variabel sekunder) diluar variabel bebas. Seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh berbagai jenis media pada pengetahuan dan sikap para siswa. Jadi, ia membagi para siswa menjadi empat kelompok sesuai dengan media komunikasi yang dipergunakan: kelompok video, kelompok slides, kelompok pita rekaman, dan kelompok ceramah.
Setiap kelompok mendapat penjelasan – lewat media masing-masing – tentang ilmu komunikasi. Sesudah itu responden diukur dalam pengetahuan-nya tentang ilmu komunikasi dan sikapnya (senang atau tidak senangnya) terhadap ilmu komunikasi. 
Sebelum penelitian dilanjutkan, peneliti harus merenung dahulu (bisa sebentar, bisa lama). Ia, misalnya, ingat berapa hal: kecerdasan siswa, pengetahuan sebelumnya tentang komunikasi, latar belakang sosial ekonomi. Andaikan kelompok video ternyata memiliki skor tertinggi dalam pengetahuan. Dapatkah kita diyakinkan bahwa skor tersebut disebabkan oleh penggunaan video? Siapa tahu, kelompok video ternyata terdiri dari siswa-siswa yang cerdas. Siapa tahu, mereka telah pernah mendengar atau membaca ilmu komunikasi sebelumnya. Siapa Tahu, mereka berasal dari latar belakang sosioekonomi yang tidak asing dengan dunia komunikasi. Sekarang, bagaimana caranya agar “siapa tahu” ini dapat dibungkam – secara ilmiah, tentu saja. (Pembungkaman dengan kekuasaan adalah musuh ilmuwan atau ilmuwan adalah musuh kekuasaan!)

Ada lima cara untuk – sekali lagi, secara ilmiah – mendiamkan pertanyaan-pertanyaan usil di atas: (1) eliminasi, (2) konstansi, (3) randomisasi, (4) variabel bebas kedua, dan (5) kontrol statistik. Eliminasi adalah menyingkirkan variabel luar sama sekali, dengan mengusahakan agar subjek-subjek bersifat sehomogen mungkin dalam variabel tersebut. Pada contoh penelitian di atas, peneliti hanya mengambil para siswa yang tingkat IQ-nya berkisar antara 100-110. Siswa-siswa yang memiliki IQ di atas atau di bawah itu dikeluarkan dari sampel. Sayangnya, cara ini sering lebih enak diucapkan ketimbang dilakukan. Lagipula, kita tidak dapat menggeneralisasikan penelitian kepada para siswa yang lain. Nanti kita hanya dapat berkata: Video adalah media yang paling berpengaruh pada siswa-siswa yang cerdas. Pada siswa-siswa yang bodoh bagaimana? Jawabannya pendek: Tidak tahu!

Akhirnya peneliti memilih mengikutsertakan siswa-siswa dengan latar belakang IQ yang beragam. (Mungkin peneliti menggumamkan sila kelima: keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.) Tetapi, bagaimana caranya mengontrol variabel kecerdasan? Konstansi. Disini kita mengusahakan agar rata-rata kecerdasan keempat kelompok itu tidak berbeda. Yang kita lakukan adalah menjodohkan (matching) atau mengeblok (blocking). Agar tidak membosankan dan untuk memudahkan, kita gunakan contoh yang lain. Peneliti ingin mengetahui teknik persuasi mana yang paling efektif untuk mengubah sikap. Siswa dibagi ke dalam dua kelompok: kelolmpok I dipersuasi dengan imbauan takut (fear appeals), kelompok II dipersuasi tanpa imbauan takut. Ada dua puluh orang subjek dengan skor IQ yang berkisar antara 128 dan 86. Skor IQ mereka diperingatkan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Dengan menggunakan uang receh Rp 100,00 Anda memasukkan setiap siswa ke dalam kelompoknya. Bila yang tampak gambar burung, siswa pertama masuk ke dalam kelompok I dan siswa kedua tentu masuk ke dalam kelompok II. Bila yang tampak aksara, siswa pertama masuk ke dalam kelompok II dan siswa kedua tentu masuk ke dalam kelompok I. Begitulah seterusnya sehingga siswa-siswa terbagi merata ke dalam kedua kelompok.

Kelompok I Kelompok II
127
121
113
_ _ _ _ _ _
86

Perlu diketahui bahwa cara menjodohkan ini tidak menghilangkan pengaruh IQ, tetapi hanya menyebarkan secara merata di antara kedua kelompok sehingga perbedaan para variabel terikat di antara kedua kelompok tidak disebabkan oleh variabel IQ. Pada eliminasi, efek variabel IQ itu sama sekali dihilangkan.

Bila variabel kedua tidak dapat dieliminasi dan tidak dapat didistribusikan secara merata dengan cara menjodohkan atau mengeblok, kita melakukan randomisasi. Randomisasi berarti memilih subjek secara random, mengelompokkannya secara random dan mengenakan garapan (treatment) secara random pula. Bila randomisasi dilakukan secara sempurna, maka kelompok-kelompok yang diteliti secara statistik sama dalam berbagai karakteristiknya. Variabel latar belakang sosial ekonomi – karena sukar dieliminasi atau dijodohkan – dapat kita samakan dengan randomisasi. Menurut ahli-ahli statistik, responden yang dipilih secara random akan menunjukkan sebaran distribusi yang normal. Bila Anda adalah peneliti mahasiswa yang harus meneliti mahasiswi, tanpa randomisasi Anda akan cenderung meneliti mahasiswi-mahasiswi yang cantik saja. Subjek-subjek Anda menyebar secara “menceng” (skewed). Soalnya, Anda tidak lagi meneliti, tetapi ngeceng (Maaf!). Kalau Anda memilih subjek secara random, Anda akan menemukan dalam sampel Anda sedikit yang cantik, sedikit yang jelek, dan kebanyakan rata-rata.

Seringkali variabel kedua itu tidak dapat kita atasi – dengan eliminasi, menjodohkan atau randomisasi. Dalam keadaan begitu, kita harus menjadikan variabel kedua itu variabel bebas kedua. Apalagi kalau secara teoretis variabel kedua itu memang menjadi variabel penyebab yang penting. Misalnya, kita ingin meneliti efek film kekerasan pada tingkat agresi anak-anak. Setelah kita mengendalikan bermacam-macam variabel kedua, kita ternyata masih mempunyai variabel kedua yang belum terkontrol -yaitu jenis kelamin. Secara teoretis, laki-laki diduga lebih agresif daripada perempuan. Karena itu, kita jadikan jenis kelamin sebagai variabel bebas kedua. Semula kita mempunyai dua kelompok saja: kelompok yang menonton film kekerasan dan yang tidak menonton film kekerasan. Sekarang, kita mempunyai empat kelompok: kelompok I (laki-laki, menonton film kekerasan), kelompok II (laki-laki, tidak menonton film kekerasan), kelompok III (perempuan, menonton film kekerasan), kelompok IV (perempuan, tidak menonton film kekerasan).

Adakalanya setelah berlangsung penelitian, ditemukan ada variabel kedua yang tidak terkontrol atau sejak semula variabel itu tidak dapat dikontrol dengan cara-cara di atas. Untuk mengatasinya kita melakukan kontrol statistik, yaitu pengendalian dengan menggunakan “kiat” statistik. Salah satu cara yang mudah untuk itu adalah analisis kovarians. Pada contoh kita yang pertama – pengaruh media pengetahuan dan sikap – peneliti menemukan bahwa semua kelompok, kecuali kelompok video, menunjukkan rata-rata skor yang sama dalam pre-test (prauji) pengetahuan komunikasi. Karena kolompok video menunjukkan rata-rata skor yang lebih rendah, perbedaan antara kalompok video dengan kelompok-kelompok yang lain kita perhitungkan dalam menghitung perbedaan skor pengetahuan pada pottest (pascauji).

Tidak mungkin di sini diuraikan analisis kovarians. Anda dapat membacanya dalam buku-buku statistik. Tetapi – sekedar memberikan gambaran – saya ambil contoh yang sederhana. Kita ingin membandingkan efek dua metode komunikasi instruksional dalam mengajarkan matematika – metode konvensional dan metode CBSA (cara belajar siswa aktif). Pascauji matematika siswa ternyata menunjukkan rata-rata yang berbeda. Kelas konvensional menghasilkan rata-rata skor matematika 60 dan kelas CBSA mempunyai rata-rata skor matematika 80. Akan tetapi, dalam prauji kita ketahui bahwa rata-rata IQ kelas konvensional adalah 90, dan rata-rata IQ kelas CBSA sama dengan 100. Oleh karena itu, kita harus menyesuaikan rata-rata skor matematika kelas CBSA dengan rata-rata skor matematika kelas konvensional. Penyesuian ini dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara rata-rata IQ kedua kelas tersebut. Sebelum penyesuaian, yang kita bandingkan adalah perbedaan antara 80 dan 60. Karena perbandingan rata-rata IQ adalah 90 : 100, maka skor matematika kelas CBSA kita sesuaikan. Rata-rata skor matematika kelas CBSA tidak lagi 80, tetapi 90/100 x 80 = 72. Jadi, yang kita perbandingkan dan kita uji perbedaannya secara statistik adalah angka rata-rata 72 dan 60 (bukan lagi 80 dan 60).

Secara singkat ada lima cara untuk mengontrol variabel kedua: eliminasi, konstansi, randomisasi, variabel bebas kedua, dan kontrol statistik. Kelima cara itu menentukan desain penelitian eksperimental.


C. Langkah-langkah Eksperimen

Kempthorne (1962) memberikan langkah-langkah dalam merencanakan eksperimen sebagai berikut:
  • Rumusan permasalahan.
  • Formulasikan hipotesa.
  • Pengaturan teknik serta desain eksperimen.
  • Penyelidikan atas kemungkinan-kemungkinan hasil yang diperoleh dari percobaan dan menghubungkan kembali kepada alasan-alasan mengapa percobaan harus dilakukan. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan bahwa eksperimen-eksperimen yang akan dilakukan benar-benar akan memberikan keterangan-keterangan yang dikehendaki.
  • Memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap teknik dan prosedur statistik yang akan digunakan untuk meyakinkan bahwa kondisi yang diperlukan untuk menggunakan teknik di atas cukup valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Laksanakan percobaan.
  • Aplikasikan teknik statistik tehadap eksperimen tersebut.

dapat Tarik kesimpulan dari estimasi-estimasi yang diperoleh serta dari tiap kuantitas yang diperoleh serta dari tiap kuantitas yang dievaluasikan dengan ukuran-ukuran reliabilitas yang lazim digunakan. Pertimbangan secara hati-hati validitas dari kesimpulan serta pada populasi mana kesimpulan tersebut ingin diinferensikan. Berikan evaluasi terhadap seluruh penelitian dan bandingkan dengan eksperimen-eksperimen lain yang telah dilakukan dengan masalah yang serupa atau hampir serupa.


D. Desain Eksperimen

Desain eksperimen adalah step-step atau langkah yang utuh dan berurutan yang dibuat lebih dahulu sehingga keterangan yang ingin diperoleh dari eksperimen akan mempunyai hubungan yang nyata dengan masalah penelitian. Dengan adanya desain eksperimen ,maka keyakinan akan diperoleh data yang cocok serta dapat dianalisa secara objektif semakin bertambah, dan inferensi yang vailid terhadap populasi yang diinginkan akan terjamin diperoleh. Karena desain eksperimen diperlukan untuk sedapat mungkin memaksimumkan dan memperoleh keterangan-keterangan yang berhubungan dengan masalah penelitian, maka desain eksperimen harus sederhana, efesien, serta efektif, sesuai dengan waktu, uang, tenaga kerja serta material yang digunakan dalam eksperimen tersebut. Ciri-ciri eksperimen yang baik adalah sebagai berikut:
  • Desain yang baik dapat mengatur variabel-variabel dan kondisi eksperimen secara utuh dan ketat, baik dengan manipulasi, randomisasi dan kontrol.
  • Perlakuan-perlakuan yang dilakukan dapat dibandingkan secara nyata dengan kontrol.
  • Desain yang baik dapat memaksimisasikan variance dari variabel-variabel yang berkaitan dengan hipotesa yang ingin di uji, serta dapat meminisasikan variance dari variabel penggangu serta variabel yang berada di luar penelitian. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan adanya randomisasi terhadap perlakuan serta replikasi.
  • Desain yang baik harus dapat menjawab dua pertanyaan pokok, yaitu validitas internal, atau apakah manipulasi eksperimen memang benar-benar menimbulkan perbedaan, dan kedua, validitas eksternal, atau sampai berapa jauh penemuan-penemuan eksperimen cukup representatif untuk dibuat generalisasi pada kondisi yang sejenis.
  • Desain yang baik, secara simultan dapat memberikan keterangan tentang efek variabel perlakuan, variasi yang berkaitan dengan variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi serta dapat diketahui interaksi antara kombinasi variabel bebas dan/atau variabel-variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi tertentu.

Dengan adanya desain yang baik, maka variabel-variabel yang relevan dapat dikontrol. Tetapi dengan adanya manipulasi serta pengontrolan tersebut, kondisi menjadi artifisial. Jika metode eksperimen ini dilakukan terhadap barang hidup, lebih-lebih manusia, maka pembatasan-pembatasan artifisial ini merupakan kelemahan dari metode eksperimen.


E. Melaksanakan Eksperimen

Setelah perencanaan rampung, dan desain yang cocok telah terpilih, maka tibalah saatnya untuk melakukan eksperimen. Hal yang pertama-tama perlu diperhatikan dalam pelaksanaan eksperimen, adalah pengenalan terhadap material yang digunakan dalam eksperimen. Jika material yang digunakan cukup banyak, ,maka diperlukan adanya check list dari material yang digunakan. Jika digunakan bahan-bahan kimia, maka harus jelas dicatat sumber, furifikasi, grading dari bahan-bahan tersebut. Misalnya, jika dalam perlakuan dipakai insektisida, maka perlu dijelaskan apakah insektisida tersebut dalam formulasi tertentu seperti 50 WP, 20 e.c. dan sebagainya.

Pengamatan terhadap performance eksperimen harus dilakukan secara periodik sesuia dengan jadwal yang telah diatur. Adanya kelainan-kelainan harus dicatat serta dilakukan pengukuran-pengukuran. Observasi harus dilakukan dengan teliti, di samping menggunakan indera mata, maka gunakan tangan dan otak. Dalam pengamatan, maka diperlukan satu buku catatan, ,yang dinamakan record book. Data yang diperlukan secepatnya dimasukkan dalam record book tersebut pada waktu observasi dilakukan. Jangan lakukan penundaan catatan dengan mempercayai ingatan. Hindarkan mencatat sementara di lembaran-lembaran lepas yang kemudian akan dimasukkan dalam record book. Tiap entry, harus diberi tanggal yang terang.

Buku catatan berisi kolom-kolom dengan kriteria yang diperlukan dalam observasi. Selain kolom-kolom untuk mengisi data kuantitatif dari pengukuran, maka harus ada kolom tempat catatan kualitatif tentang performance eksperimen. Dalam menggambarkan sifat-sifat kualitatif, maka gunakan kata-kata dan kalimat yang terang dan mudah dimengerti. Jika perlu dibuat sketsa, diagram dan lain-lain, maka lukisan, sketsa serta diagram harus jelas. Observasi menghendaki kesabaran. Pengamatan yang tergesa-gesa tidak ada gunanya sama sekali. Data harus dimasukkan dalam record book dalam bentuknya yang paling primer, dan jangan data yang sudah diadakan kalkulasi atau transformasi.

Suksesnya eksperimen tidak saja tergantung pada sumber fisik, tetapi juga dari sumber manusia itu sendiri. Masalah sikap, kecepatan bekerja, semangat, kepercayaan terhadap diri-sendiri sangat mempengaruhi keberhasilan eksperimen. Dua sifat penting dari tiap peneliti adalah sifat percaya kepada diri sendiri dan sifat antusias. Kesungguhan bekerja sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri sendiri, di samping perlunya dorongan serta bimbingan dari atasan ataupun dari pembimbing penelitian. Antusian adalah produk dari keadaan lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA
  • Anders Hansen, Simon Cottle, Ralph Negrine, and Chris Newbold. Mass Communication Research Methods. Macmillan Press LTD. England. 1998.
  • Malo, Manase, Prof., Dr. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka, 1998.
  • Nazir, Mohammad. Ph.D. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia Jakarta. 1988.
  • Neuman, W. Laurence. Social Research Methods, Qualitatif & Quantitatif Approache. Allyn & Bacon. USA. 1997.
  • Rakhmat, Jalaluddin, Drs., M.Sc. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya – Bandung 2002.
  • Rangkuti, Freddy. Riset Pemasaran. Gramedia Pstaka Utama. Jakarta. 1997.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis