Aneka Ragam Makalah

Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan


Makalah Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan
Oleh: Ibrahim Lubis

BAB I
PENDAHULUAN

Pelaksanaan pendidikan keagamaan bermuara pada praktek dan latihan yang dilakukan pendidik kepada peserta didik. pentingnya latihan-latihan dibidang ibadah khususnya merupakan proses pelatihan yang harus sedini mungkin dilakukan. kurangnya praktek dan latihan yang dilakukan guru bisa mempengaruhi perkembangan afektif serta psikomotorik anak terhadap pengetahuan agama Islam dan berkurangnya nilai-nilai ajaran agama yang dapat membentuk kepribadian mereka kelak.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan

Pelaksanaan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai proses, cara, perbuatan melaksanakan,[1] Sedangkan dalam pengertian yang lebih rinci menurut E. Mulyasa mengatakan bahwa pelaksanaan adalah kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien[2]. Pelaksanaan merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu badan atau wadah secara berencana, teratur dan terarah guna mencapai tujuan yang diharapkan. Implementasi atau pelaksanaan merupakan aktifitas atau usaha-usaha yang dilaksanakan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijaksanaan yang telah dirumuskan dan ditetapkan dengan dilengkapi segala kebutuhan, alat-alat yang diperlukan, siapa yang melaksanakan, dimana tempat pelaksanaannya mulai dan bagaimana cara yang harus dilaksanakan. Sedangkan Pendidikan Keagamaan Dalam peraturan pemerintah RI telah dijelaskan bahwa pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.[3]

Pelaksanaan Pendidikan Keagamaan adalah bentuk proses pembelajaran dan latihan-latihan yang bermuara dalam hal ibadah seperti Shalat, doa, membaca Al-Qur`an, melafalkan Ayat-ayat dan surat pendek, shalat berjamaah dan lain sebagainya yang harus diajarkan dan dibiasakan sejak dini, sehingga akan menumbuhkan rasa senang dan ikhlas tanpa ada paksaan dalam melakukan ibadah[4]. Dalam hal itu pula, pelaksanaan pendidikan keagamaan yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial (hubungan manusia dengan Manusia) yang sesuai dengan ajaran agama, merupakan hal yang utama dan lebih penting dari pada penjelasan kata-kata. Dalam hal ini perlu dilakukan latihan dengan praktek langsung melalui contoh dari orang tua dan guru.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa pelaksanaan pendidikan Keagamaan merupakan sebuah proses pembelajaran pendidikan agama yang sesuai dengan ajaran Agama Islam yang kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk latihan dengan praktek langsung melalui contoh dari pendidik kepada peserta didik guna mewujudkan peserta didik agar mampu menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Untuk dapat mewujudkan peserta didik yang mampu menjalankan peranan dalam menguasai pengetahuan ajaran agama serta menjadi ahli ilmu agama kemudian mengamalkannya dengan baik dan benar, maka diperlukan beberapa langkah dalam mewujudkan tujuan tersebut. Adapun untuk mewujudkan tujuannya, maka perlu adanya startegi, metode, persiapan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, penulis akan menguraikan beberapa langkah guna mewujudkan tujuan dari pelaksanakan pendidikan keagamaan tersebut.


B. Pembentukan Sikap Keagamaan

Sikap keagamaan mencakup semua aspek yang berhubungan dengan keagamaan sepanjang yang bisa dirasakan dan dijangkau oleh anak dilingkungan keluarga dan sekolah, seperti sikap yang berhubungan dengan aspek keimanan, ibadah, akhlaq dan muamalah. Sikap keagamaan adalah suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. Ada tiga komponen sikap keagamaan[5]:
  • Komponen kognisi, adalah segala hal yang berhubungan dengan gejala fikiran seperti ide, kepercayaan dan konsep 
  • Komponen afeksi, adalah segala hal yang berhubungan demgan gejala perasaan (emosional, seperti: senang, tidak senang, setuju, tidak setuju) 
  •  Komponen konasi, adalah merupakan kecenderungan untuk berbuat, seperti memberi pertolongan, menjaukan diri, mengabdi dan seterusnya. 
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong sisi orang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan ajaran agama.[6] Pendidikan agama yang bersifat menggugah akal serta perasaan sangat memegang peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan. Menurut siti partini sebagaimana yang dikutip oleh ramayulis menjelaskan bahwa pembentukkan dan perubahan sikap dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
  • Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan mengolah atau menganalisis pengaruh yang datang dari luar termasuk disini minat dan perhatian.
  • Faktor eksternal, berupa faktor di luar diri individu yaitu pengaruh lingkungan yang diterima.
Dengan demikian walaupun sikap keagamaan bukan merupakan bawaan, akan tetapi dalam pembentukkan dan perubahannya ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal individu.[7] Pembentukan sikap keagamaan saat erat kaitannya dengan perkembangan agama. Pentingnya pembentukkan sikap keagamaan dalam melaksanakan pendidikan keagamaan merupakan hal yang penting yang harus diajarkan pendidik kepada peserta didik, sebab dengan menanamkan sikap keagamaan ini sedini mungkin, maka peserta didik akan terdorong dan termotivasi untuk bersikap sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama (Agama Islam).


C. Pembentukan Tingkah Laku Keagamaan

Tingkah laku keagamaan adalah segala aktivitas manusia dalam kehidupan didasarkan atas nilai-nilai agama yang diyakininya, tingkah laku keagamaan tersebut merupakan perwujudan dari rasa dan jiwa keagamaan berdasarkan kesadaran dan pengalaman beragama pada diri sendiri.[8]

Pembentukan tingkah laku keagamaan pada peserta didik adalah guna mewujudkan sikap keagamaan secara kompleks yang terintegrasi antara pengetahuan agama, perasaan agama dan tindak keagamaan dalam diri peserta didik sehingga lahirlah tingkah laku keagamaan sesuai dengan kadar ketaatan terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam dengan baik. Dalam perspektif Islam, nilai merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, dan dalam pendidikan Islam, kualitas peserta didik tidak hanya diukur dari penguasaan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai yang menyatu dari diri dan berkepribadian. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari keyakinan dan mendasari seluruh prilaku baik dalam konteks personal maupun sosial (al-Akhlaq al-Karimah).[9]

Pembentukkan tingkah laku keagamaan pada peserta didik ini juga diharapkan akan membentuk pribadi yang terdidik dalam lingkup keagamaan[10], ajaran-ajaran Agama yang mereka peroleh melalui proses pendidikan juga diharapkan agar tertanam dalam bentuk prilaku mereka sehari-hari. Adanya tingkah laku keagamaan seseorang terjadi dari berbagai faktor, baik faktor lingkungan, Biologi, Psikologi rohaniah, unsur fungsional, unsur fitrah atau karunia Tuhan, maka dari itulah, perlu adanya proses pendidikan yang mampu membahas masalah terkait dengan bentuk empiris, non-empiris serta rohaniah dan pendidikan tersebut adalah Agama.[11]

Kesimpulan dari penulis adalah bahwa pembentukan tingkah laku keagamaan pada peserta didik merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh pendidik dalam pelaksanaan pendidikan keagamaan, hal ini bertujuan untuk membentuk sikap dan tingkah laku peserta didik menjadi pribadi yang sesuai dengan nilai dan ajaran agama Islam.


D. Langkah-Langkah dalam pelaksanakan Pendidikan Keagamaan

     a. Pemberian Teladan

Peserta didik memandang guru sebagai teladan utama bagi mereka, dimana ia bercita-cita agar menjadi fotokopi dari gurunya. Sebagai contoh teladan yang ideal, guru harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip yang diakui mereka dengan nilai-nilai yang mereka jelaskan, keutamaan yang mereka lukiskan dan apa saja yang mereka gambarkan tentang teladan yang bersumber pada akhlak.

Dalam Islam, mendidik pada dasarnya adalah tugas keagamaan, karena pendidikan berhubungan dengan proses membimbing dan mengarahkan manusia untuk mengenal kembali, mengakui dan mengaktualisasikan perjanjian yang telah dibuat oleh Tuhannya.karena itu, untuk menjadi guru yang teladan maka seorang guru sebagai pendidik yang beradab, dengan adab tersebut ia mampu mendisiplinkan jiwa, hati, pemikiran dan jasmaninya. Karena dalam pandangan Islam ilmu pengetahuan, sifat-sifat rabbaniyyah dan adab merupakan syarat-syarat personalitas yang harus dimiliki dan menjadi bahagian dari kepribadian seorang pendidik.[12] 

Kesadaran terhadap esensi mendidik sebagai panggilan keagamaan yang disertai dengan pemahaman terhadap karakteristik personalitas pendidik dan proses kependidikan, pada gilirannya akan memunculkan kepekaan normatif dan motivasi internal dari dalam diri seorang guru sehingga memunculkan rasa tanggung jawab, kesungguhan dan keikhlasan dalam melaksanakan tugas kependidikannya.

      b. Cara Praktis

Materi pengajaran agama meliputi beberapa cabang, dalam hal ini guru harus mengajarkannya dengan penggunaan cara yang praktis. Metode yang baik ketika mengajarkan materi agama adalah langsung membawa peserta didik terkait dengan materi yang diajarkan, seperti pelajaran fiqih dalam tema berwudhu, maka dalam hal ini guru dalam mengajarkan dengan membawa peserta didik langsung ke mushalla atau masjid guna untuk melatih anak-anak untuk berwudhu dan sekaligus melaksanakan praktek shalat.[13] Bila guru ingin melatih anak-anak untuk berwudhu dan shalat, maka guru harus mempraktekkannya terlebih dahulu sebagai peragaan kepada peserta didik. Setelah itu, peserta didik dianjurkan untuk memperagakan kepada teman-teman lainnya.

     c. Kisah/Cerita

Cerita termasuk salah satu media pengajaran yang sukses, karena metode ini merupakan cara yang sangat disenangi anak-anak juga orang dewasa. boleh jadi metode cerita menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan keagamaan dalam menumbuhkan sikap, menyeru kebaikan,serta menghias diri dengan pribadi yang luhur dan prilaku akhlak mulia. Tujuan akhir dari metode ini adalah memberikan pembelajaran kepada peserta didik berkenaan dengan materi yang terkait guna untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka serta mampu untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, guru dihimbau untuk memberikan cerita-cerita yang terkait dengan cerita yang ada dalam Al-Quran kepada peserta didik, karena cerita yang terkandung dalam Al-quran merupakan cerita-cerita lengkap dengan seni dan metode.[14]

    d. Mendidik Melalui Kebiasaan

Faktor ini perlu diterapkan pada peserta didik sejak dini. Contoh sederhana misalnya membiasakan mengucapkan salam pada waktu masuk dan keluar rumah, membaca basmallah setiap memulai sesuatu pekerjaan dan mengucapkan hamdalah setelah menyelesaikan pekerjaan.[15] Faktor pembiasaan ini hendaknya dilakukan secara kontiniu dalam arti dilatih dengan tidak jemu-jemunya, dan faktor inipun harus dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan buruk. Ada dua jenis pembiasaan yang perlu ditanamkan melalui proses pendidikan yaitu: 1). Kebiasaan yang bersifat otomatis, 2). Kebiasaan yang dilakukan atas dasar pengertian dan kesadaran akan manfaat atau tujuannya.


4. Metode Mengajar pendidikan Keagamaan

Umat islam sebagai umat yang dianugerahkan Allah suatu kitab suci Al-Quran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal, sudah barang tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber kepada filsafat hidup yang bersumber dari Alquran. Berkenaan dengan hal ini, metode dalam melaksanakan pendidikan keagamaan tentu tidak terlepas dari metode yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Adapun metode mengajar pendidikan Keagamaan yaitu[16]:

a. Metode Ceramah
b. Metode tanya jawab
c. Metode Diskusi
d. Metode Pemberian Tugas
e. Metode demontrasi
f. Metode Aksperimen
g. Metode Kerja kelompok


DAFTAR PUSTAKA
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001)
  • E. Mulyasa, Manajemen berbasis Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004)
  • Pemerintah RI, Undang-Undang No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan, Pasal 1 ayat 2
  • Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang: 2005)
  • Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Rajawali Press, 1996)
  • Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta: Media Grafika, 2009)
  • Al Rasyidin, Demokrasi Pendidikan Islam: Nilai-Nilai Intrinsik dan Instrumental (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011)
  • Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009)
  • Muhammad abdul Qadir Ahmad terj. H. A. Mustofa, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)
  • Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011)
___________________________
[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 627
[2] E. Mulyasa, Manajemen berbasis Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h.21
[3] Pemerintah RI, Undang-Undang No 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan, Pasal 1 ayat 2
[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, h. 75
[5] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), h. 212
[10] Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta: Media Grafika, 2009), h. 97
[11] Ramayulis, Psikologi Agama, h. 98
[12] Ramayulis, Psikologi Agama, h. 100
[13] Al Rasyidin, Demokrasi Pendidikan Islam: Nilai-Nilai Intrinsik dan Instrumental (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2011), h. 158
[14] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 30
[15] Ramayulis, Psikologi Agama, h. 101
[16] Al Rasyidin, Percikan Pemikiran Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2009), h. 138
[19] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 65
[20] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 70
[21] Ramayulis, ilmu pendidikan Islam, h. 198
[22] Ramayulis, ilmu pendidikan islam, h. 193-196

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis