Mencari...

Fungsi Keluarga Dalam Pendidikan Budi Pekerti

12:41 AM
Makalah Fungsi dan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Budi Pekerti
Oleh : Agustinus Suyoto

BAB I
PENDAHULUAN

Jauh sebelum kita memasuki tahun 2000, sidang Pleno ke XI OIEC menyerukan empat nilai yang perlu ditekankan dalam menyongsong tahun 2000. keempat nilai universal tersebut adalah hormat kepada sesama, kreativitas, solidaritas yang bertanggung jawab dan kerohanian (Dick Hartoko, 1985:50). Apabbila himbauan itu kita refleksiakn kembali pada saat ini, rasa-rasanya tepatlah kekhawatiran banyak pihak yang terjadi saat itu, yaitu bahwa dunia akan dilanda degradasi moral secara global apabila nilai-nilai universal seperti disebutkan di atas tetap tidak mendapat perhatian lebih.

Dalam hubungan dengan kondisi kemanusiaan di Indonesia kita ketahui bahwa krisis ekonomi dan pilitik yang telah lebih dari tiga tahun ini, menimbulkan berbagai permasalahan. Permasalahan yang kian menajam dan perlu segera mendapat penanganan adalah masalah merosotnya moral sumber daya manusia. Banyak kasus yang menjadi bukti akan merosotnya moralitas manusia Indonesia misalanya saja kasus pemerkosaan, maraknya pemakaian obat-obatan terlarang, pembunuhan,amuk masa dan masih banyak lagi.

Masalah kemerosotan moral manusia Indonesia itu menjadi semakin terlihat ironis ketika kita sedang gencar-gencaarnya merencanakan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka menghadapi era globalisasi. Peningaktan kualitas sumber daya manusia merupakan kunci kemampuan kita menghadapi era globalisasi karena jika tidak memilki sumber daya manusia yang handal tentu kita akan kalah bersaing di negeri sendiri manakala sumber daya manusia dari negara asing bebas masuk ke negara kita. Maka dapat kita lihat betapa maraknya berbagai instansi maupun perguruan tinggi berlomba-lomba maningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Ternyata terbukti bahwa kita memang belum memiliki sumber daya manusia yang berkualitas karena sumber daya manusiakita gagal mengatasi krisis ekonomi , politik, sampai hampir-hampir mengakibatkan krisis moral bangsa. Jika masalah kemerosotan ini tidak segera diatasi, perlahan-perlahan bangsa ini kan terjerumus pada kehancuran yang lebih parah. Untuk itu perlu kiranya segera dicari cara pemecahan yang terstruktur, efektif dan tepat sasran. Dengan demikian dalam waktu yang relatif singkat kita mampu mengembalikan kualitas moral sumber daya manusia pada kondisi normal.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Dalam Era Reformasi

Rasa-rasanya kita sepakat bahwa reformasi membawa dampak dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagaimana semua perubahan , dampak perubahan ada yang cenderung ke arah positif , tapi ada pula yang cenderung ke arah negatif. Pengaruh positif yang selama ini dilihat adalah iklim demokrasi dan kebebasan yang lebih baik dari masa sebelumnya. Sampai-sampai orang tidak memahamii pengaruh negatif dari reformasi karena perhatian terfokus pada masalah demokrasi.

Jika saja reformasi tidak dibarengi dengan adanya krisis ekonomi, politik dan pada akhirnya krisis moralitas, pasti lah reformasi akan menghasilkan kejayaan bagi bangsa kita . namun, ketika perhatian terfokus pada masalah keuntungan politis dari reformasi, orang menutup mata kan adanya bahaya besar yang dihadapi bangsa kita. Bahaya besara dan mendasar tersebut adalah krisis moralitas bangsa.

Gejala-gejala ke arah krisis moralitas bangsa sudah tampak jelas. Kasus Ambon dan Aceh, kerusuhan , pembakaran , dan pemerkosaan merupakan kasus-kasus monumental yang mengindikasikan adanya krisis moral bangsa. Sedangkan kasus-kasus lainnya seperti narkotika, pemalsuan uang, utang konglomerat, lambannya penyelesaian masalah KKN, pembunuhan , tawuran, pemogokan dan asal demostrasi merupakan indicator lebih jauh merosotnya moral bangsa.

Rasanya kita sudah terlalu jenuhh dengan masalah krisis multidimensial ini. Untuk itu perlu segera dialakukan upaya agar bangsa kita kembali pada keadaan semula sehingga siap lebih cepat dalam menyambut perkemabangan dunia. Upaya yang sekiranya tepat dan langsung menyentuh hakikat dasar perkembangan suatu bangsa adalah upaya penanganan moralitas sumber daya manusia Indonesia. Masyarakat Indonesia perlu disapa sehingga moralitasnya normal kembali.

Pihak yang sekiranya masih terlihat netral dalam menangani masalah moralitas sumber daya manusia ini dalah lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan. Lembaga keagamaan tentu berkepentingan lansung dengan penigkatan kualitas moral umat manusia. Karena berkepentingan lansung maka dengan sendirinya mereka akan berupaya keras untuk menumbuhkan kesadaran dan meningkatakan kualitas moral umatnya. Namun upaya mereka terbatas pada kontels religius masing-masing agama.

Lembaga pendidikan rasanya lebih mampu menjangkau khalayak tanpa memandang golongan agama. Pendididikan yang selam ini menawarkan kebenaran-kebenaran ilmiah dan universal tampaknya lebih bisa masuk ke segala lapisan masyarakat. Lembaga ini juga bisa memainkan posisi strategi ketika masyarakat kita sudah mulai terpecah-pecah karena masalah keagamaan.

Karena pendidikan dipandang lebih masuk ke berbagai lapisan dan golongan tanpa mempedulikan unsur SARA maka sudah layak dan sepantasnya jika lembaga pendidikan dititipi masalah pendidikan budi pekerti. Dengan masuknya pendidikan budi pekerti dalam pendidikan secara umum, hal itu berarti bahwa pendidikan budi pekerti dapat dilaksanakan secara sistematis dan jangkauannya sangat luas.

Terlepas dari pro dan kontra masalah pendidikan budi pekerti yang jelas bagi praktisi pendidikan cara itulah yang menjadi sumbangan terbaik dari dunia pendidikan. Tentu saja pendidikan budi pekerti yang dimaksud bukan melulu pendidikan dalam arti formal, yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah, melainkan pendidikan dalam arti luas, yaitu bahwa pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.

B. Peran Keluarga Dalam Perkembangan Anak

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang memiliki tradisi kekerabatan yang panjang dan kompleks. Di beberapa daerah dikenal istilah nama marga yang menunjukkan adanya hubungan kekeluargaan. Di Jawa walaupun jarang sekali digunakan nama marga tetapi hubungan kekeluargaan tidak kalah eratnya dengan daerah yang mempergunakan nama marga.Bahkan dalam kebudayaan Jawa istilah yang digunakan untuk menyebut hubungan kekeluargaan bertingkat sampai tujuh turunan.

Eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat Indonesia merupakan indikator kuatnya dominasi keluarga dalam kehidupan seseorang. Norma-norma keluarga tampaknya masih dijunjung tinggi. Bahkan sampai seseorang membentuk keluarga sendiri pun, asal usul keluarganya masih selalu dibawa.

Dalam hubungannya dengan perkembangan seseorang, keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam perkembangan seseorang. Dikatakan tempat pertama karena seseorang pertama kali belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dalam lingkungan keluarga ( Kaswanti Purwo, 1990:101-103 ). Sejak masih dalam kandungan, kelahiran, masih bayi, masa kanak-kanak, remaja, samapai masa dewasa, seseoranng tentu berinteraksi secara intensif dengan keluarga. Interaksi dengan keluarga baru mulai terbagi ketika seseorang telah mengikatkan diri dengan orang lain dalam suatu perkawinan. Itu saja hubungan keluarga pasti tidak terputus seratus persen.

Dikatakan menjadi tempat utama karena pola komunikasi dan tatanan nilai dalam suatu keluarga memberikan pengaruh sangat besar terhadap perilaku seorang anak ( Gordon,1984; 6 ). Misalnya saja keluarga yang harmonis dan demokratis. Nilai keharmonisan dan demokratis yang dimiliki keluarga itu tentu diwarisi oleh anak-anaknya. Dalam bahasa Jawa ada peribahasa yang sangat sesuai dengan hal itu yaitu “Kacang mongso ninggali lanjaran”. Artinya, perilaku anak kurang lebih sama dengan perilaku orangtuanya.

Karena keluarga menduduki posisi sentral dalam perkembangan awal anak, banyak ahli memberikan perhatian pada masalah hubungan harmonis orangtua dan anak. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kasus ketidak harmonisan hubungan antara orangtua dan anak padahal dalam konteks perkembangan anak, orangtua berperan sangat besar ( Gordon,1984 : 1-9 ).

Dalam konteks konseling terhadap para remaja di SMU diketahui bahwa kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah budi pekerti anak biasanya dapat dilacak dari latar belakang keluarganya. Misalnya saja anak yang mempunyai penyimpangan pergaulan biasanya latar belakang ketidakharmonisan keluarga. Atau ada anak yang kecanduan narkoba karena kurangnya kasih sayang dari orangtua mereka.

C. Peran Keluarga Dalam Pendidikan Budi Pekerti

Seperti diketahui, pendidikan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal ( Tamsik Udin dan Sopandi, 1967 : 31-33 ). Pendidikan formal biasanya sangat terbatas dalam memberikan pendidikan nilai. Hal ini disebabkan oleh masalah formalitas hubungan antara guru dan siswi. Pendidikan non formal dalam perkembangannya saat ini tampaknya juga sangat sulit memberikan perhatian besar pada pendidikan nilai. Hal ini berhubungan dengan proses tranfornmasi budaya yang sedang terjadi dalam masyarakat kita (Moedjanto, Rahmanto, dan J. Sudarminto, 1992:141-142).

Pihak yang masih dapat diharapkan adalah pendidikan informal yang terjadi dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga sebenarnya menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan nilai karena keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang untuk berinteraksi dan memperoleh dasar-dasar budi pekerti yang baik (Ambroise, 1987: 28). Proses pendiduikan dalam keluarga terjadi secara wajar melalui tranformasi nilai ini terjadi secara perlahan-lahan tetapi sistematis. Hal ini berhubungan dengan hakikat nilai yang bukan pertama-tama merupakan kebiasaan- kebiasaan yang mengarah pada kebaikan.

Yang menjadi permasalahan sat ini adalah bagaimana keluarga berperan dalam memberikan pendidikan budi pekerti pada anak dididk. Hal ini tentu tidak mudah mengingat kondisi keluarga di negara kita sangat bervariasi. Secara umum kondisi keluarga di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam 3 variasi. Pertama, keluarga harmonis. Yang dimaksud keluarga harmonis disini adalah keluarga yang tidak memiliki masalah yang begitu berarti baik dari segi masalah hubungan antarpribadi maupun masalah finansial. Kedua, keluarga bermasalah. Yang dimaksud keluarga bermasalah disini adalah keluarga yang memiliki masalah baik masalah hubungan antar pribadi atau masalah finansial. Ketiga, keluarga gagal. Yang dimaksud keluarga gagal disini adalah keluarga ynag mengalami kegagalna dalam membangun keluarga sehinmgga keluarga menjadi terpecah belah.

Karena kompleknya permasalah keluarga di negara kita, pendidikan yang diberikan pun tidak dapat disamaratakan. Peran masing-masing keluarga dalam pendidikan budi pekerti pun tidak dapat disamakan satu keluarga dengan keluaga lain. Namun demikian, ada beberapa prinsip yang rasanya harus ada jika keluarha ingin berperan dalam pendidikan budi pekerti.

Pertama, komitmen keluarga untuk memperhatikan anak-anaknya. Terlepas dari apakha suatu keluarga merupakan keluarga harmonis, bermasalah, ataupun keluarga gagal , komitmen untuk memperhatikan anak-anaknya menjadi kunci pendidikan budi pekerti bagi keluarga. Walaupun suatu keluarga merupakan keluarga yang tampaknya sangat harmonis tetapi jika kedua orang tuanya tidak memilki komitmen untuk memperhatikan anak-anaknya maka anak-anaknya akan kekeringan perhatian dan pengarahan. Akibatnya bsa jadi anak akan mudah mendapat pengaruh negatif dari lingkungan pergaulannya yang pada akhirnya mengalami kemerosotan moral dan budi pekerti. Sebaliknya walaupun keluarga bermasalah, jika mereka punya komitmen besar untuk memperhatikan ank-anaknya, niscaya anak-anaknya akan berkembang sangat baik dan memiliki budi pekerti luhur.

Kedua, keteladanan. Proses pendidikan dalam keluarga mengandalkan pada masalah keteladanan orangtua. Hal ini berbeda dengan pola pendidikan sekolah yang lebih menekankan pada pola indoktrinasi dan peluasan wawasan. Jika dalam keluarga diberlakukan pola indoktrinasi dan peraturan, maka keluarga justru akan menjadi tidak harmonis. Bahkan bisa jadi anak justru akan menjadi agresif dan antipati terhadap keluarga. Akibatnya anak justru lebih kerasan tinggal di luar rumah daripada berada di rumahnya sendiri. Jika demikian artinya pendidikan budi pekerti dalam keluarga kurang berhasil.

Ketiga, komunikasi aktif. Kasus-kasus renggangnya hubungan antara anak dan orang tua lebih banyak disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara anak-orangtua. Karena kesibukan masing-masing, anggota keluarga jarang bertemua. Akibatnya walaupun mereka berada dalam satu rumah tetapi jarang sekali terjadi komunikasi langsung.

Jika ketiga prasarat pendidikan budi pekerti dalam keluarga di atas dapat terpenuhi, maka dapat diyakini bahwa keluarga mampu berperan dalam pendidikan budi pekerti. Permasalahannya sekarang adalah nilai budi pekerti yang manakah yang dapat ditanamkan dalam keluarga. Kiranya ada empat nilai yang dapat ditanamkan dalam keluarga.
  • Pertama, nilai kerukunan. Kerukunan merupakan salahsatu perwujudan budi pekerti. Orang yang memiliki budi pekerti luhur tentu lebih menghargai kerukunan dan kebersamaan daripada perpecahan. Jika dalam keluarga sudah sejak dini ditanamkan nilai-nilai kerukunan itu dan anak dibiasakan menyelesaikan masalah dengan musyawarah maka dalam kehidupan di luar keluarga mereka juga akan terbiasa menyelesaikan masalah perdasarkan permusyawarahan.
  • Kedua, nilai ketakwaan dan keimanan. Ketagkawaan dan keimanan merupakan pengendali utapa budi pekerti. Seseorang yang memiliki ketagwaan dan keimanan yang benar dan mendasar terlepas dari apa agamanya tentu akan mewujudkannya dalam perilaku dirinya. Dengan demikian sangat tidak mungkin jika seseorang memiliki kadar ketakwaan dan keimanan yang mendalam melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa dirinya itu memiliki budi pekerti yang sangat hina.
  • Ketiga, nilai toleransi. Yang dimaksud toleransi di sini terutama adalah mau memperhatikan sesamanya. Dalam keluarga nilai toleransi ini dapat ditanamkan melalui proses saling memperhatikan dan saling memahami antaranggota keluarga. Jika berhasil, tentu hal itu akan terbawa dalam pergaulannya.
  • Keempat, nilai kebiasaan sehat. Yang dimaksud kebiasaan sehat di sini adalah kebiasaan-kebiasaan hidup yang sehat dan mengarah pada pembangunan diri lebih baik dari sekarang. Penanaman kebiasaan pergaulan sehat ini tentu saja akan memberikan dasar yang kuat bagi anak dalam bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

BAB III
PENUTUP

Masalah degradasi moral sumber daya manusia Indonesia perlu segera mendapat penanganan khusus. Hal ini berhubungan dengan masalah kesiapan bangsa kita dalam menyongsong era globalisasi. Salah satu upaya penanganan khusus tersebut adalah melalui pendidikan budi pekerti. Karena pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan nilai, pihak pertama yang paling cocok memberikan budi pekerti adalah keluarga.

Permasalahannya adlah bagaimana keluarga dapat memberikan kontribusi pada pendidikan budi pekerti. Untuk dapat memberikan kontribusi.pada pendidikan budi pekerti. Untuk dapat melaksanakan pendidikan budi pekerti kita tidak dapat meminta setiap keluarga menjadi keluarga harmonis tanpa masalah. Oleh sebab itu, kita harus berangkat dari kondisi riil keluarga di Indonesia. Dimana ada keluarga yang sudah cukup harmonis, ada keluarga bermasalah, dan ada keluarga gagal. Namun demikian, ada beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki keluarga apabila mau memberi pendidikan budi pekerti secara efektif. Syarat tersebut adalah komitmen bersama untuk memperhatikan anak-anaknya, keteladanan, dan komunikasi aktif. Sedangkan niali budi pekerti yang dapat diberikan dalam keluarga adalah nilai ketrukunan, ketaqwaan, dan keimanan, toleransi, dan kepribadian sehat. Jika seseorang telah memiliki dasar budi pekerti yang luhur dalam keluarga, pastilah ia akan mampu mengatasi pengaruh yang tidak baik dari lingkungan sekitar. Dengan demikian peran keluarga dalam pendidikan budi pekerti sangatlah besar.


DAFTAR PUSTAKA
  • Ambroise, Yvon. 1987. “Pendidikan Nilai” dalam Pendidikan Nonformal sebagai Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta : LPPS-KWI.
  • Gordon, Thomas. 1984. Menjadi Orangtua Efektif. Jakarta : Gramedia.
  • Hartoko, Dick. Ed. 1985. Memanusiakan Manusia Muda. Yogyakarta : Kanisius.
  • Hurlock, Elisabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Jakarta : Erlangga.
  • Moedjanto, G, B. Rahmanto, dan J. Sudarminto. Ed. 1992. Tantangan Kemanusiaan Universal. Yogyakarta : Kanisius
  • Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. “Perkembangan Bahasa Anak dari Lahir Sampai Masa Prasekolah” dalam PELLBA 3, penyunting Bambang Kaswanti Purwo. Yogyakarta : Kanisius.
  • Sanggar Talenta. 1996. Biarkan Kami Bicara Tentang Orangtua dan Pergaulan. Yogyakarta : Kanisius.
  • Udin, AM. Tamsik dan Sopandi. 1987. Ilmu Pendidikan. Bandung : Epsilon Grup.


0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih