Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Makalah Wayang Sebagai Media Pendidikan dan Pengajaran


Makalah Wayang Sebagai Media Pendidikan dan Pengajaran
Oleh: Sutaryo
Editor: Ibrahim Lubis, M.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Kesemuanya merupakan laku budaya. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa dalam sistem pendidikan nasional terdapat pendidkan formal, nonformal dan informal (lihat Lampiran). Dalam konteks yang mirip, Ki Hadjar Dewantara mempunyai istilah yang lebih sederhana, yang sangat mudah dicerna, sangat filosofis, yaitu dengan istilah Tri Pusat Pendidikan, pendidikan dan pengajaran berpusat pada tiga lingkungan, yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di perguruan atau sekolahan. Dalam pendidikan dan pengajaran, wayang dapat dipergunakan sebagai medium pembelajaran di ketiga ranah tersebut sekaligus.

Menurut Bung Karno, dalam kuliah pendahuluan kursus Pancasila tahun 1958, dengan mengutip pendapat Prof. Brandes, wayang merupakan salah satu tinggalan budaya pra-Hindu, seperti halnya budaya menanam padi di sawah. Sehingga dapat dikatakan bahwa (lakon) wayang mencerminkan karakter budaya yang berkembang dalam masyarakat.

Prof. Timbul Haryono dari Fakultas Ilmu Budaya, dalam presentasi di Kongres Pewayangan II menyebutkan bahwa wayang sebagai local genius bangsa Indonesia. Sama halnya dengan pengertian dari Prof. Brandes, Bung Karno, dan Prof Timbul Haryono, bahwa wayang bukan dari Hindia, tetapi susastra Hindu menambah khasanah cerita, seberti Ramayana Mahabarata. Dunia internasional, yang direpresentasikan oleh UNESCO, mengakui dan menetapkan wayang sebagai masterpiece of the oral and intagible herritage of humanity. Dalam konteks ini wayang tidak hanya dimaknai sebagai perwujudan fisik dari wayang (puppet), melainkan sampai pada sisi lakon dan ritus yang menyertainya. Wayang sebagai hasil olah budaya manusia Indonesia yang adiluhung telah ikut membentuk budaya nasional Indonesia saat ini sebagai bagian dari budaya dunia.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Wayang Sebagai Media Pendidikan dan Pengajaran

A. Pendidikan dan Pengajaran
Pendidikan dan pengajaran menurut Ki Hadjar Dewantara adalah laku yang semata-mata bersifat kultural. Yang dimaksud kultural disini adalah layaknya ilmu bercocok tanam atau kultur tanaman yang dimulai dari cara menanam, cara memelihara, cara memperbaiki pertumbuhannya yang dalam tanam-tanaman itu akan dapat menambah hasilnya tanaman itu. Disamping itu, dalam kultur tanaman adalah usaha memperbaiki jenisnya. Dalam konteks yang sama, pendidikan dan pengajaran dengan demikian bertujuan mempertinggi derajat kemanusiaan dari anak-anak yang dididik. Jadi, jenis kemanusiaan yang dipertinggi oleh pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, pendidikan dan pengajaran disebut sebagai pekerjaan kultural.

Menurut pengertian ilmu pengetahuan, kultur dibagi menjadi 3 jenis yang menyangkut cipta, rasa, dan karsa. Dengan demikian, usaha pendidikan informal tidak bisa dilepas dari pendidikan non-formal, informal dan formal, dengan istilah Ki Hadjar Dewantara tidak bisa dilepas antara pendidikan keluarga, masyarakat, dan sekolahan. Upaya itu bertujuan untuk menimbulkan kemasakan budi anak didik, yaitu kehalusan perasaan (moral), kemudian menghasilkan kecerdasan pikiran, dan membuahkan kekuatan kehendak. Dengan demikian, pendidikan akan membuat manusia masak budinya, mempunyai sifat indah, serta berfaedah. Hal itu berakibat pada keselamatan serta kebahagiaan atau rahayu didalam hidup manusia di dunia ini. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya dengan “salam dan bahagia”.

B. Wayang Sebagai Media Pendidikan dan Pengajaran
Untuk mendidik perasaan, Ki Hadjar Dewantara mengatakan ada 2 hal yang harus dilalui, pertama pendidikan kehalusan hidup kebatinan yang dinamakan pendidikan moral dan yang kedua adalah pendidikan estetis, yaitu pendidikan kesenian. Dengan pendidikan tersebut, anak-anak akan berkembang perasaaannya, yaitu perasaan religius, sosial, individuil, dan lain-lainnya yang semuanya itu berarti kecintaan terhadap agama, terhadap hidup kemanusiaan, termasuk pada dirinya sendiri. 

Wayang oleh Ki Hadjar Dewantara dimasukkan sebagai pendidikan estetis yang dapat menghaluskan perasaan keindahan terhadap segala benda lahir. Pendidikan estetika ini akan berbentuk kesenian, seni suara, seni musik, seni gambar, seni garis, seni warna, sandiwara, wayang, tari, dll. Dengan pendidikan wayang, Ki Hadjar Dewantara mengharapkan anak didik bisa halus perasaannya, mendapat kecerdasan yang luas dan sempurna dari rohnya, jiwanya, budinya hingga mereka mendapat tingkatan yang luhur sebagai manusia. Dalam mempergunakan wayang sebagai media pembelajaran, setidaknya terdapat beberapa unsur sebagai berikut:

1. Seni suara
Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa pelajaran seni suara untuk anak berusia kurang dari 8 tahun (kehidupan windu pertama) sebaiknya tidak mempergunakan noot. Karena pada umur tersebut pelajaran suara/menyanyi masih dipakai sebagai pendidikan panca indera untuk menyempurnakan pendengaran. Sebagai contoh kalau ibu sambil menyuapi anak bayi, nembang lagu “kuwi opo kuwi, eee kembang melati, sing tak pujo puji ojo dho korupsi, margo yen korupsi negarane rugi….”. Kontak batin ibu dan anak terlaksana, pancaindera berkembang, dan makna korupsi secara budaya di mulai sejak awal.

Melalui gending-gending pewayangan, anak-anak diajarkan untuk dapat membandingkan berbagai macam suara dan irama. Sesuai dengan ciri khasnya, irama yang cepat sangat disenangi oleh anak-anak. Lagunya, wiletnya, dan cengkoknya harus sesuai dengan watak anak-anak; sederhana, mudah disuarakan, nada jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sebagai contoh dapat dipergunakan lagu-lagu dolanan. Didalam wayang, anak-anak dilatih untuk membedakan suara laki-laki dan perempuan, membedakan suara yang berat dan rendah semisal Werkudoro/Bimo yang berat dan Arjuna yang halus, dan Dursosono yang sombong dan keras. Dan lebih dari itu, melalui wayang pula anak diajarkan untuk memahami karakter orang melalui karakter suara.

2. Seni tonil (drama)
Dalam pegajaran seni drama, sebaiknya orang tua dan guru mulai dengan cerita-cerita wayang yang menggambarkan keluhuran budi, baik dan jelek, semangat bekerja keras dsb. yang disajikan dalam waktu dalam 5-10 menit. Ki Hadjar Dewantara memberi contoh ceritera Sugriwo Subali

3. Seni gambar (sungging)
Seni gambar dalam wayang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan diperlukan kesabaran dan kesadaran. Mulai dari tahap mewarnai hingga melukis pola akan mengajarkan arti keindahan yang diperoleh dari laku sabar dan sadar kepada anak. Dari seni menggambar itu akan muncul segala keindahan dari kodrat alam.

4. Seni gerak
Seni gerak ini diaplikasikan dalam tari dan permainan anak-anak. Tari dan permainan anak (atau yang biasa disebut dengan dolanan) bisa digabungkan menjadi satu. Sehingga tari bersama dolanan hendaknya gembira dan cepat. Konsep ini harus diimbangi dengan lagu-lagu pengiring yang juga gembira dan cepat, memakai wiromo sampak, wiromo playon, wiromo sabrangan atau tropongan, dsb., jangan digunakan wiromo ladrang, wiromo ketawang dsb.

C. Aplikasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Pada Saat Ini
Wayang sebagai warisan budaya asli Indoneisa harus diteruskan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini tidak boleh terputus (kontinyu) dan dikembangkan dengan mengadopsi kemajuan teknologi dan budaya diluar wayang (konvergen) tetapi sifat budaya wayang tetap harus ada (konsentris).

1. Berkelanjutan (Continiu)
Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa kebudayaan bersifat kontinyu, bersambung tak terputus-putus, berkembang maju, bukan loncatan terputus-putus dari titik asal. Bagi Ki Hadjar Dewantara, loncatan putus akan menyebabkan suatu proses akan kehilangan pangkal asal untuk maju selanjutnya dan menyebabkan kesesatan karena kehilangan pegangan. Kemajuan suatu bangsa adalah lanjutan garis hidup asalnya yang ditarik terus dengan menentukan nilai-nilai baru dari bangsa sendiri maupun dari luar.
Sebagaimana halnya dengan wayang, sebagai medium pendidikan pengembangan wayang harus dilakukan, baik dari segi narasi cerita atau lakon hingga musik yang pengiringnya. Namun, kesemua perubahan atau perkembangan itu harus berada dalam satu arus yang tidak melupakan titik pangkal. Sebagai salah satu contoh kasus adalah penggunaan animasi wayang, yang masih tetap mempergunakan naskah maupun karakter wayang purwa.

2. Konvergen
Konvergensi ini juga disebut sebagai dasar kemasyarakatan, yaitu sambung hubungan kita dengan masyarakat yang lebih luas. Semangat memencil dan penyakit “kemurni-murnian” atau isolasi dan purisme akan membawa ke kematian. Dalam konteks pendidikan wayang, pendidikan wayang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus berhubungan dengan pendidikan lainnya, semisal teknologi informasi. Dengan perhubungan yang lebih luas dengan bidang keilmuan lain maupun ranah pendidikan lainnya akan berimplikasi pada semakin berkembangnya khazanah wayang nusantara. Berbagai macam variasi wayang dalam kerangka seni modern yang menggunakan sentuhan teknologi secara jelas akan mengembangkan seni wayang itu sendiri. Termasuk wayang dari daerah lain akan sangat berguna untuk memupuk dan mengembangkan khasanah pewayangan.

3. Konsentris
Menurut Ki Hadjar Dewantara, alam hidup manusia merupakan “alam hidup berbulatan” yang digambarkan sebagai lingkaran-lingkaran besar kecil yang semuanya bersatu titik pusat dimana orang duduk atau berdiri di atas titik pusat itu. Lingkaran terkecil adalah alam diri pribadi, lingkaran diluarnya adalah alam keluarga, lingkaran diluarnya yang lebih luas adalah alam bangsa dan kebangsaan, dan yang terluas adalah alam manusia dan kemanusiaan. Sama halnya dengan pendidikan wayang, keseluruhan aspek ataupun ranah, baik formal, informal, ataupun formal harus bersinergi satu sama lain untuk mempertinggi derajad kemanusiaan anak didik.

Dalam pelaksanaan pendidikan, menurut Ki Hadjar Dewantara, dibagi menjadi windu, windu pertama sampai 8 tahun, windu kedua sampai 16 tahun, windu ketiga sampai 24 tahun, dan windu selanjutnya. Nama dan karakter wayang dapat mulai dikenalkan sejak kecil. Kemudian ceritera wayang disesuaikan dengan windu kehidupan.

Misalnya pada windu pertama anak dikenalkan pentas wayang, cerita wayang, dan gambar wayang. Anak-anak disuruh menirukan gerak wiromo atau solah bowo, membaca cerita dan melakukan adegan-adegan wayang. Seni sastra pada windu pertama diwujudkan dalam percakapan atau ucapan-ucapan yang mengandung keluhuruan budi. Lagu-lagu pun yang sederhana, yang bisa menghidupkan pancaindera. Pada windu kedua sebaiknya cerita-cerita kepahlawanan yang disampaikan, misalnya cerita tentang Gatotkoco (lakon Aji Norontoko), Permadi (lakon Mintorogo), Bimo Seno (lakon Dewo Ruci), dsb.

Untuk mendukung program wayang dalam ranah pendidikan formal, informal, dan nonformal diperlukan orang-orang yang mencintai wayang dan mampu melakukan transfer ilmu dan kecintaan pada wayang. Selanjutnya, perlu fasilitasasi, misalnya perangkat wayang, gamelan, dan tempat pentas. Dan yang terakhir adalah cara-cara pengajaran wayang, misalnya melalui buku atau majalah wayang, kaset, situs jejaring sosial, dll. yang sesuai dengan konteks jaman sekarang. Teknologi bisa digunakan dengan membuat cerita atau gambar wayang melalui teknologi informasi yang saat ini sangat canggih, misalnya melalui teknik animasi, melalui media sosial facebook, twitter, email, dsb.

Budaya wayang harus sudah harus masuk dan masak sejak remaja, khususnya remaja putri. Hal ini ditujukan supaya ketika menjadi sosok ibu, seorang perempuan sudah siap mentransferkan ilmu wayang kepada anaknya. Menurut Bung Karno, sosok ibu adalah sumber awal budaya dan moral anak. Lebih dari itu, sosok ibu adalah sumber peradaban. Dengan alasan itu pula semasa revolusi Indonesia Bung Karno mendidik ibu-ibu supaya melek politik. Demikian halnya dengan Ki Hadjar Dewantara yang mencipta lagu Wasito Rini, yang berpesan bahwa sejak jaman dulu sampai sekarang sebenarnya wanita atau perempuan memiliki kewajiban yang sama, yaitu membentuk budaya keluarga yang akan membentuk budaya bangsa. Pendidikan dan pengajaran harus beralaskan rasa kebangsaan.

D. Integrasi Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal
Kekisruhan pendidikan dan pengajaran di Indonesia saat ini karena melupakan hakekat dasar bahwa pendidikan dan pengajaran itu adalah laku budaya. Di sisi lain, saat ini penekanan kebijakan pendidikan pemerintah adalah pada pendidikan formal. Sedangkan pendidikan dan pengajaran, menurut Ki Hadjar Dewantara, harus serasi seimbang di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolahan. Contoh yang mudah, kalau di sekolahan ada gamelan, seharusnya semua guru juga dapat menjadi penabuh gamelan, nembang dan menjadi pelatih.  Kurikulum pendidikan dan pengajaran formal, nonformal, dan informal harus saling mengisi dan bersinergi satu sama lain. Kurikulum pendidikan akan terasa lebih mudah dan efisien jika disusun berdasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara, yaitu semua kurikulum disesuaikan dengan umur atau windu kehidupan, dan dimana letak pelaksanaannya, yaitu di lingkungan keluarga, masyarakat atau sekolahan.

E. Kekuataan Pendidikan Nonformal dan Informal
Di Negari Ngayogyakarto Hadiningrat pendidikan formal dalam bentuk sekolahan secara resmi baru muncul sekitar tahun 1755. Wayang sudah ada sebelum jaman Hindu, artinya wayang justru bisa bertahan lama karena keberadaan pendidikan non formal dan informal. Kekuatan pendidikan non formal dan informal adalah di keluarga dan masyarakat. Pendidkan dalang yang turun temurun tetap eksis sampai sekarang, padahal sudah lebih dari 2000 tahun. Ceritera wayang dalam bentuk buku atau naskah tulis lain sangat terbatas jumlahnya, tetapi kenyataannya wayang dapat masuk ke masyarakat.

Jaman teknologi informasi sekarang ini, pengaruh media sosial sangat menentukan sesuatu pengetahuan. Oleh karena itu, negara harus mempunyai kebijakan pendidikan dan pengajaran khususnya melalui media massa yang ada di negara ini. Dalam pendidikan informal yang dilakukan oleh para ibu dan bapak (dalam keluarga) merupakan kunci kesuksesan melanjutkan budaya wayang. Di pengajian, di kegiatan pemuda pemudi calon bapak ibu, arisan, kursus dll. akan menurunkan generasi yang tahu wayang.

Pendidikan nonformal, misalnya dalam pengajian, konsep budaya dan agama Kyai Jazir ASP dari Majelis Ulama Indonesia sangat baik sekali. Jadi, tidak ada pengajian yang mengisi ceramahnya dengan wayang adalah haram. Yang memahami wayang sebagi barang haram tidak boleh disalahkan seratus persen, karena sejak kecil tidak mengenal wayang.

Dalam pameran wayang di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada, dalam rangka Kongres Pewayangan II, 21-25 Agustus 2013, ada banyak hal yang dapat dinikmati dan digunakan sebagai materi untuk pendidikan nonformal dan informal. Pada acara tersebut gambar wayang dalam batik dikembangkan dan hasilnya sangat bagus. Ini memerlukan upaya pendidikan untuk bisa melukis wayang dan membuat batik. Industri wayang batik ini akan menyangkut banyak pihak, sejak industri bahan batik, bahan kain, seniman batik, penjual sampai penjahit pakaian akan ikut menikmati manfaat budaya, tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga karakter masyarakat. Dalam pameran itu ada banyak materi pembelajaran, misalnya wayang kayu, wayang kulit, wayang bolong latar belakang warna hitam, wayang sulaman, wayang kaca, dan berbagai macam material lainnya untuk mengekspresikan seni wayang. Contoh media wayang pada pendidikan nonformal adalah contoh kehidupan yang bisa mengambil setting lakon wayang karakter wayang. Termasuk di dalamnya ada gending atau lagu yang menggugah rasa, misalnya lagu anti korupsi, lagu semangat bekerja dll.

BAB III
PENUTUP
Makalah Wayang Sebagai Media Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan pengajaran wayang adalah laku budaya. Melalui unsur-unsur yang terdapat dalam (pertunjukan) wayang, karakter sekaligus budaya bangsa dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Transfer pengetahuan dan nilai yang terkandung dalam wayang harus dilakukan sejak anak usia dini, dimulai dengan hal-hal yang bersifat dasar dan sederhana semisal nyanyian, dolanan, cerita, dan menggambar. Wayang sebagai medium pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat (mengacu pada UU Sisdiknas) harus didukung oleh seluruh ranah pendidikan, baik formal, non formal, maupun informal. Diantara ketiga ranah pendidikan tersebut harus dalam kerangka saling melingkupi dan saling mendukung, tidak boleh justru bertentangan satu sama lainnya. Hal seperti ini harus diimbangi dengan pembuatan kebijakan yang tepat oleh negara.

DAFTAR PUSTAKA
  • Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama; Pendidikan, 2013, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Yogyakarta.
  • Muchammad Tauchid, Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara, 2004, Majelis Luhur Tamansiswa, Yogyakarta.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.uu

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis