Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Arti Manusia, Kedudukan dan Proses Penciptaannya


Makalah Arti Manusia, Kedudukan dan Proses Penciptaannya Menurut Islam
Oleh: Ibrahim Lubis, M.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN

Allah menciptakan manusia, yang mana akan berperan sebagai pemimpin atau pengendali dari alam semesta yang telah diciptakan oleh Allah. Dan dalam pandangan filsafat pendidikan islam, manusia diciptakan mempunyai kedudukan tertentu, yaitu sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-baqarah ayat 30 – 32. Dimana kedudukannya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari segala apa yang ada di muka bumi ini. Dimana semua itu tergantung pada akhlak dan akal ( ilmu ) nya.

Dalam perspektif ontologisnya, kedudukan ilmu pengetahuan dalam filsafat pendidikan islam adalah sebagai hasil dari olah jiwa, indera, dan daya penalaran manusia yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber kebenaran ilmiah. Dan di dalam Alquran juga disebutkan bahwa kedudukan orang yang berilmu lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu. Jadi di dalam islam, sangat ditekankan dalam mencari ilmu pengetahuan, yaitu melalui pendidikan, baik secara formal, informal dan nonformal. 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Manusia menurut perspektif Alquran
Di dalam Alquran disebutkan bahwa manusia sebagai umat, diciptakan dari diri yang satu dan pasangannya, kemudian dari keduanya berkembang biaklah anak keturunannya. Di dalam Alquran, terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada kata manusia, antara lain :

1. Al-nash.
Dalam Alquran, Al-nash tidak pernah digunakan untuk pengertian manusia secara fisik. Kata al-nash di dalam Alquran disebutkan sebanyak 240 kali adalah sebagai nama jenis untuk keturunan adam.

2. Al-Basyar
Al-basyar berarti kulit yang tampak. Dalam Alquran, kata ini muncul sebanyak 35 kali. Kata al-basyar selalu dihadirkan Alquran dalam arti fisik biologis manusia yang tampak jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai ungkapan Alquran yang konteksnya selalu merujuk kepada manusia sebagai makhluk biologis.

3. Bani Adam
Bani adam bisa dimaknai sebagai generasi yang dibangun, diturunkan, atau dikembangkan dari adam. Dalam Alquran, kata-kata bani adam selalu merujuk pada konsep kesamaan kemanusiaan, yaitu sama-sama keturunan nabi adam dan sama-sama memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama.

B. Proses Penciptaan manusia
Bila diteliti secara cermat, dalam Alquran akan ditemukan informasi, bahwa ada dua macam proses penciptaan manusia, yaitu :

1. Penciptaan secara primordial, yaitu berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yaitu adam.
2. Proses penciptaan seluruh manusia atau generasi yang diturunkan dari adam.[1]

Dari dua macam proses penciptaan manusia diatas, ini menunjukkan bahwa manusia pertama, yaitu adam tercipta dari tanah. Dimana Alquran tidak menguraikannya secara rinci, tentang bagaimana proses penciptaan adam. Adapun keturunan adam, tercipta melalui proses pertemuan benih laki-laki dengan sel telur wanita, melalui pancaran sperma, kemudian bertemu dengan sel telur, akhirnya terjadilah pembuahan. 

Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari inti sari pati tanah yang ditransformasi menjadi air mani, kemudian disimpan dalam tempat yang kokoh, yaitu rahim ibu. Setelah melalui proses pembuahan, air mani tersebut selanjutnya berproses menjadi darah beku, dan kemudian berproses menjadi segumpal daging, yang kemudian dibalut dengan tulang belulang dan akhirnya Allah menjadikannya sebagai makhluk yang berbentuk.[2] Kepada makhluk yang berbentuk inilah, kemudian allah meniupka ruh.[3] Setelah ditiupkan kedalam jasad, Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud memberikan penghormatan.[4]

C. Kedudukan Manusia
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sejumlah keistimewaan bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Secara umum, keistimewaan tersebut, yaitu :

a. Bentuk fisik yang terbaik
b. Fakultas psikhis
c. Fitrah

Dalam konteks yang lebih luas , Alquran mengemukakan sejumlah potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain :

a. Potensi naluriah
b. Potensi inderawi
c. Potensi menalar
d. Potensi beragama

Allah menciptakan manusia, tentunya memiliki tujuan, dimana tujuannya yaitu untuk mengenal Tuhannya. Sedangkan fungsi penciptaan manusia adalah sebagai makhluk ibadah yang diperintahkan untuk mengabdi atau menghambakan diri secara kontinu dengan tulus dan ikhlas hanya kepada Allah semata. Selanjutnya, dalam konteks tugas dari penciptaan manusia dalam perspektif filsafat pendidikan islam, manusia adalah khalifah Allah yang diberi tugas sebagai pemimpin serta memakmurkan kehidupan dibumi. Alquran menjelaskan bahwa bumi beserta isinya yang diciptakan oleh Allah adalah untuk kepentingan manusia, oleh karena itu merupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber yang tersedia di alam untuk memenuhi keperluan hidupnya. Namun semua itu harus didasarkan pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Untuk dapat mengelola bumi beserta isinya manusia telah memilki potensi yang diberikan Allah kepadanya, potensi inilah yang membuat manusia layak menjadi khalifah.

BAB III
PENUTUP

Kedudukan manusianya adalah sebagai khlaifah yang akan mengatur atau mengelola alam ini, yang tentunya harus dibarengi dengan ilmu dan iman. Tanpa adanya ilmu dan iman, bagaimana bisa manusia dapat mengatur dan mengelola alam ini untuk kebutuhan hidup manusia sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau hukum Allah. Dimana di dalam Alquran dan hadist, banyak menjelaskan tentang pentingnya menunutut ilmu, sehingga kedudukan ilmu ini sangat tinggi bagi manusia, dimana ilmu ini datangnya dari Allah swt. Sehingga dengan adanya ilmu, manusia dapat mencari kebenaran. dapat membedakan antara baik dan buruk, dan juga dapat membedakan derajat manusia.

DAFTAR PUSTAKA
  • Al-saibani,Omar Mohd. Al-Thoumiy, Filsafat Pendidikan Islami.1979.jakarta: Bulan Bintang
  • Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami.2008.Bandung: Citapustaka media perintis
  • Basyir,Ahmad Azhar, Refleksi Atas Persoalan Keislaman.1994.Bandung:Mizan.
  • Basri,Hasan, Filsafat pendidikan Islam.2009.Bandung: Pustaka Setia
  • Masruri,Hadi dan Rossidi, Imran, Filsafat Sains dalam Alquran.2007. Malang: UIN Malang Press.
  • Naik,Zair dan Gary Miller, Keajiban Al-quran Dalam Telaah Sains Modern.2008.Yogyakarta: Media Ilmu.
  • Syafaruddin, Filsafat Ilmu.2008.Bandung: Cita Pustaka Media Perintis
  • Syarqawi,Effat Asy ,Filsafat Kebudayaan Islami. 1985.Bandung: pustaka.
________________________
[1] Al-rasyidin, Filsafat Pendidikan Islami. H. 19
[2] Lihat QS Al-Mukminun (23) : 12 - 14
[3] Lihat QS Al-Hijr ( 15 ) : 29 dan QS Shad (38) : 72
[4]Lihat kembali QS Al-Hijr (15) : 28 - 29 dan QS Shad (38) : 71-72

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis