Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Makalah Kepemimpinan dan Pendidikan Islam


Makalah Kepemimpinan dan Pendidikan Islam
Oleh: Didik Gunawan

BAB I
PENDAHULUAN

Di tengah persaingan global ini, diakui atau tidak, lembaga pendidikan atau sistem persekolahan Islam dituntut mengemuka dengan kinerja kelembagaan yang efektif dan produktif. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab pendidikan dan pembelajaran di sekolah hendaknya dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan baik, termasuk perencanaan dan implementasi kurikulum, penyediaan dan pemanfaatan sumberdaya murid, kerjasama sekolah dan orang tua, serta sosok out come sekolah yang prospektif. Untuk memenuhi tuntutan ini, kepala sekolah harus memiliki bekal yang memadai, termasuk pengetahuan profesional, kepemimpinan instruksional, ketrampilan administratif, dan ketrampilan sosial.

Bagaimanapun, kepala sekolah merupakan unsur vital bagi efektivitas lembaga pendidikan. Tidak akan pernah kita jumpai sekolah yang baik dengan kepala sekolah yang buruk atau sekolah yang buruk dengan kepala sekolah yang baik. Kepala sekolah yang baik akan bersikap dinamis untuk menyiapkan berbagai macam program pendidikan. Bahkan tinggi rendahnya suatu mutu sekolah akan dibedakan oleh kepemimpinan di sekolah.

Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerja sama dalam kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga pendidikan Islam.

Manajer sekolah adalah pemimpin yang berhubungan langsung dengan sekolah. Ia adalah panglima pengawal pendidikan yang melaksanakan fungsi kontrol berbagai pola kegiatan pengajaran dan pendidikan di dalamya. Suksesnya sebuah sekolah tergantung kepada sejauh mana pelaksanaan misi yang bebankan di atas pundaknya, kepribadian, dan kemampuannya dalam bergaul dengan unsure-unsur masyarakat. Oleh sebab itu, kepala sekolah harus berupaya mewujudkan kondisi social yang mendukung kegiatan sekolah yang dipimpinnya.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Kepemimpinan dan Pendidikan Islam

A. Pengertian Kepemimpinan dan Pendidikan Islam
Kepemimpinan dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja. Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga mau melakukan suatu tindakan dengan sukarela untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Mondy dan Premeaux bahwa “leadership or leading involves influencing others to do what the leader wants them to do”.[1] Pendapat ini berarti menekankan adanya pengaruh yang diberikan para pemipin terhadap anggota organisasi agar mereka melakukan suatu kegiatan yang diinginkan. Hal ini salah satu cara yang ditempuh oleh manajer pada suatu organisasi.

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu, yaitu tujuan bersama. Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, orang lain agar ia menerima pengaruh itu.[2]

Kepemimpinan harus ada jika suatu organisasi hendak berjalan efektif. Oleh sebab itu kepemimpinan dalam organisasi adalah kepemimpinan administratif atau kepemimpinan manajerial. Karena pemimpin dalam organisasi merupakan manajer yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen sejak dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating) dan pengawasan (controling) dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien.

Kepemimpinan dalam organisasi disebut juga kepemimpinan kedudukan (status leadership), dan kepemimpinan yang ada pada diri individu tanpa jabatan disebut kepemimpinan personal (kepemimpinan pribadi). Kouzes dan Posner menjelaskan “Leadership is relationship, one between constituent and leader what base on mutual needs and interest”.[3] Pendapat ini menekankan bahwa kepemimpinan itu terdiri dari adanya pemimpin (anggota) dan situasi saling memerlukan satu sama lain.

Dalam bahasa Arab, kepemimpinan sering diterjemahkan sebagai al-Ri’ayah, al-imaroh, al-qiyadah, atau al-zaamah. Kata-kata tersebut memiliki satu makna sehingga disebut sinonim atau murodif, sehingga kita bisa menggunakan salah satu dari keempat kata tersebut untuk menerjemahkan kata kepemimpinan. Sementara itu, untuk menyebut istilah kepemimpinan pendidikan, para ahli lebih memilih istilah qiyadah tarbawiyah.[4]

Dalam Islam, kepemimpinan begitu penting sehingga mendapat perhatian yang sangat besar. Begitu pentingnya kepemimpinan ini, mengharuskan perkumpulan untuk memiliki pimpinan, bahkan perkumpulan dalam jumlah yang kecil sekalipun Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang artinya:

Dari Abu Said dari Abu Hurairah bahwa keduanya berkata, Rasulullah bersabda, “apabila tiga orang keluar bepergian, hendaklah mereka menjadikan salah satu sebagai pemimpin”. (HR.Abu Dawud).[5]

Model keberadaan seorang pemimpin sebagaimana terdapat dalam hadis tersebut adalah model pengangkatan. Model ini merupakan model yang paling sederhana karena populasinya hanya tiga orang. Jika populasinya banyak, mungkin saja modelnya lebih sempurna karena ada beberapa model perwujudan pemimpin. Jamal Madhi menjelaskan bahwa “hasil studi menyatakan bahwa yang terbaik dalam pelaksanaan tugas adalah pemimpin yang dipilih langsung, selanjutnya pemimpin yang memenangkan suara terbanyak, lalu yang terakhir pemimpin yang diangkat.[6]

Kepemimpinan dalam defenisi di atas memiliki konotasi general, bisa kepemimpinan Negara, oraganisasi politik, organisasi social, perusahaan perkantoran, maupun pendidikan. Madhi selanjutnya menegaskan bahwa di antara jenis kepemimpinan yang paling spesifik adalah kepemimpinan pendidikan (qiyadah tarbiyah atau educative leadership), karena kesuksesan mendidik generasi, membina umat, dan berusaha dan membangkitkannya terkait erat dengan pemenuhan kepemimpinan pendidikan yang benar.[7]

Dengan demikian, jika kita memperhatikan keadaan pendidikan Islam sebaiknya melihat tipologi pemimpinnya. Dari tipologi pemimpin ini segera didapatkan gambaran tentang kualitas pendidikan Islam tersebut. Ismail Raji’ Al-Faruqi menegaskan, “ pemimpin-pemimpin pendidikan di dunia Islam adalah orang-orang yang tidak mempunyai ide, kultur, atau tujuan”.[8] Gambaran tipologi pemimpin seperti ini melambangkan pemimpin yang pasif, jauh dari kreativitas, solusi, inovasi, produktivitas dan lain sebagainya. Dengan pengertian lain, pemimpin-pemimpin yang hanya secara formalitas menduduki jabatannya sebagai pemimpin dan bekerja secara rutin meneruskan tradisi yang telah berjalan, merupakan pemimpin yang kontraproduktif bagi kelangsungan apalagi kemajuan lembaga pendidikan Islam.

B. Konsep Dasar Kepemimpinan Kepala Sekolah Islam
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Menurut Sutisna sebagaimana dikutip Sulistyorini merumuskan kepemimpinan sebagai “proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi mendefinisikan kepemimpinan sebagai “ kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien”. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya; adanya pengikut; serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Unsur-unsur yang terlibat dalam situasi kepemimpinan adalah: 1) orang yang dapat mempengaruhi orang lain di satu pihak, 2) orang yang dapat pengaruh di lain pihak, 3) adanya maksud-maksud atau tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai, 4) adanya serangkaian tindakan tertentu untuk mempengaruhi dan untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu itu.[9]

Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan yang dimiliki oleh kepala sekolah untuk memberikan pengaruh kepada orang lain melalui interaksi individu dan kelompok sebagai wujud kerjasama dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

C. Peran dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah Islam
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan dengan sebaik mungkin, termasuk di dalamnya sebagai pemimpin pengajaran. Harapan yang segera muncul dari kalangan guru, siswa, staf administrasi, pemerintah dan masyarakat adalah agar kepala sekolah dapat melaksanakan tugas dan kepemimpinannya dengan seefektif mungkin untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan yang diemban dalam mengoperasionalkan sekolah., selain itu juga memberikan perhatian kepada pengembangan individu dan organisasi.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas dan menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, pengawasan dan evaluasi. Pelaksanaan fungsi-fungsi pokok manajemen tersebut memerlukan adanya komunikasi dan kerja sama yang efektif antara kepala sekolah dan seluruh stafnya. Dengan demikian, kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dan menjadi kunci atas keberhasilan terhadap sekolah yang dipimpinnya. Oleh karena itu, seorang kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang mempunyai kemampuan manajerial yang handal dan visioner, yaitu mampu mengelola sekolah dengan baik dan mempunyai gambaran mental tentang masa depan yang diacu bagi sekolah yang dipimpinnya.[10]

Kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai; stateperson leadership, educational leadership, administrative leadership, supervisory leadership and team leadership. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa peran dan tanggung jawab kepala sekolah pada hakekatnya erat dengan administrasi atau manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan supervisi pendidikan.

1. Kepala Sekolah sebagai Pemimpin (Leader) Pendidikan
Perubahan dalam peranan dan fungsi sekolah dan statis di jaman lampau kepada yang dinamis dan fungsional-konstruktif di era pembangunan, membawa tanggung jawab yang lebih luas kepada kepala sekolah.

Menurut Hanson sebagaimana dikutip Sulistyorini, pada dasarnya istilah kepemimpinan itu dipahami sebagai suatu konsep yang didalamnya mengandung makna bahwa ada proses kekuatan yang datang dari seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun secara kelompok dalam organisasi. Adapun menurut Koontz, O’Donnel dan Weihrich antara lain dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan secara umum, merupakan pengaruh, seni atau proses mengetahui orang lain, sehingga mereka dengan penuh kemauan berusaha ke arah tercapainya tujuan organisasi.[11]

Dari konsep tersebut dapat dikembangkan lebih jauh makna yang terkandung di dalamnya. Makna kata, “kemauan keras berusaha” di dalamnya mencerminkan keinginan keras dengan penuh semangat dan percaya diri (confidence to work with real and). Arti kata “semangat” sebenarnya di dalamnya tercermin hasrat, kesungguhan dan intensitas dalam melaksanakan pekerjaan. Demikian pula di dalam kata “percaya diri” merefleksikan pengalaman dan kemampuan teknis (technical ability).

Kata “memimpin” mempunyai arti: memberikan bimbingan, menuntun, mengarahkan dan berjalan di depan (precede). Pemimpin berperilaku untuk membantu organisasi dengan kemampuan maksimal. Dalam mencapai tujuan.

Pemimpin tidak berdiri di samping, melainkan mereka memberikan dorongan atau memacu (to prod), berdiri di depan yang memberikan kemudahan untuk kemajuan serta memberikan inspirasi organisasi dalam mencapai tujuan. Seseorang pemimpin dapat dibandingkan dengan seorang pemimpin orkes (orchestra). Pemimpin orkes berfungsi menghasilkan bunyi yang terkoordinasi dan tempo yang betul, melalui usaha terpadu dari para pemain musik (instrumentalis). Kualitas kepemimpinan director orchestra akan mengalunkan suara suara yang tidak menentu (desultory fashion) atau dengan penuh kecermatan dan antusias.

Kepemimpinan adalah suatu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan, oleh sebab itu kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci untuk menjadi seorang manajer yang efektif. Esensi kepemimpinan adalah kepengikutan (followership), kemauan orang lain atau bawahan untuk mengikuti keinginan pemimpin, itulah yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin. Dengan kata lain pemimpin tidak akan terbentuk apabila tidak ada bawahan.

a. Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah
Koontz memberikan defenisi fungsi kepemimpinan sebagai berikut:[12]

“The function of leadership, therefore, is to induce or persuade all subordinates of followers to contribute willingly to organizational goals in accordance with their maximum capability”.

Mengacu pada definisi di atas, agar para bawahan dengan penuh kemauan serta sesuai dengan kemampuan secara maksimal berhasil mencapai tujuan organisasi, pemimpin harus mampu membujuk (to induce) dan meyakinkan (persuade) bawahan.

Hal ini berarti, apabila seseorang kepala sekolah ingin berhasil menggerakkan para guru, staf dan para siswa berperilaku dalam mencapai tujuan sekolah, oleh karenanya kepala sekolah harus:

Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap para guru, staf dan para siswa.
Sebaliknya kepala sekolah harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara:
  • Meyakinkan (persuade), berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa yang dilakukan adalah benar.
  • Membujuk (induce), berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dikerjakan adalah benar.
Pendapat berbeda mengenai peranan kepemimpinan, dibicarakan pula H.G. Hicks dan C.R Gulleti[13], ada delapan rangkaian peranan kepemimpinan (leadership functions), yaitu: adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan yang terakhir bersedia menghargai.

Kepala sekolah sebagai pemimpin seharusnya dalam praktek sehari-hari selalu berusaha memperhatikan dan mempraktekkan delapan fungsi kepemimpinan di dalam kehidupan sekolah.
  • Dalam kehidupan sehari-hari kepala sekolah akan dihadapkan pada sikap para guru, staf, dan para siswa yang mempunyai latar belakang kehidupan, kepentingan serta tingkat social budaya yang berbeda sehingga tidak mustahil terjadi konflik antar individu bahkan antar kelompok.
  • Sugesti dan saran sangat diperlukan oleh para bawahan dalam melaksanakan tugas.
  • Dalam mencapai tujuan setiap organisasi memerlukan dukungan, dana, sarana dan sebagainya. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk memenuhi atau menyediakan dukungan yang diperlukan oleh para guru, staf, dan siswa, baik berupa dana, peralatan, waktu, bahkan suasana yang mendukung.
  • Kepala sekolah berperan sebagai katalisator, dalam arti mampu menimbulkan dan menggerakkan semangat para guru, staf dan siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
  • Rasa aman merupakan salah satu kebutuhan setiap orang baik secara individu maupun kelompok. Oleh sebab itu seorang kepala sekolah sebagai pemimpin harus dapat menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah, sehingga para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas secara aman, bebas dari segala perasaan gelisah, kekhawatiran, serta memperoleh jaminan dari kepala sekolah.
  • Seorang kepala sekolah selaku pemimpin akan menjadi pusat perhatian, artinya semua pandangan akan diarahkan ke kepala sekolah sebagai orang yang mewakili kehidupan sekolah dimana dan dalam kesempatan apapun.
  • Kepala sekolah pada hakikatnya adalah sumber semangat bagi para guru, staf dan siswa. Oleh sebab itu kepala sekolah harus selalu membangkitkan semangat, percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, sehingga mereka menerima dan memahami tujuan sekolah secara antusias, bekerja secara bertanggung jawab kea rah tercapainya tujuan sekolah.
  • Setiap orang dalam kehidupan organisasi baik secara pribadi maupun kelompok, apabila kebutuhannya diperhatikan dan dipenuhi. Untuk itu kepala sekolah diharapkan selalu dapat menghargai apapun yang dihasilkan oleh para mereka yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Manajer Pendidikan
Peranan kepala sekolah sebagai administrator pendidikan pada hakikatnya bahwa seorang kepala sekolah harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan nyata masyarakat serta kesediaan dan keterampilan untuk mempelajari secara kontiniyu perubahan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga sekolah melalui program-program pendidikan yang disajikan senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru dan kondisi baru.[14]

Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolahnya hendaknya memahami, menguasai, dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan fungsinya sebagai administrator pendidikan. Dalam kegiatan administrasi terkandung di dalamnya fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengordinasian, pengawasan, kepegawaian, dan pembiayaan. Kepala sekolah sebagai administrator hendaknya mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi tersebut ke dalam pengelolaan sekolah yang dipimpinnya.

Peran kepala sekolah sebagai manajer pada suatu lembaga pendidikan Islam sangat diperlukan, sebab lembaga sebagai alat mencapai tujuan organisasi di mana di dalamnya berbagai macam pengetahuan, serta lembaga pendidikan yang menjadi tempat untuk membina dan mengembangkan karir-karir sumber daya manusia, memerlukan manajer yang mampu untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan agar lembaga dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Menurut Paul Hersey Cs. Dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas manajerial paling tidak diperlukan tiga macam bidang keterampilan yaitu: technical skills, human skills dan conceptual skill.[15]

Technical skills
a. Menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur, dan teknik untuk melaksanakan kegiatan khusus.
b. Kemampuan untuk memanfaatkan serta mendayagunakan sarana, peralatan yang diperlukan mendukung kegiatan yang bersifat khusus tersebut.

Human skills
a. Kemampuan untuk memahami perilaku manusia dan proses kerja sama;
b. Kemampuan untuk memahami isi hati, sikap dan motif orang lain, mengapa mereka berkata dan berperilaku;
c. Kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan efektif;
d. Kemampuan menciptakan kerjasama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatis;
e. Mampu berperilaku yang dapat diterima.

Conceptual skills
a. Kemampuan analisis
b. Kemampuan berfikir rasional
c. Ahli atau cakap dalam berbagai macam konsepsi
d. Mampu menganalisis berbagai kejadian, serta mampu memahami berbagai kecendrungan;
e. Mampu mengatasipasikan perintah
f. Mampu mengenali macam-macam kesempatan dan problem-problem social.

4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Supervisi adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan, bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru-guru dan pegawai-pegawai sekolahnya.

Sehubungan dengan itu, maka kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan pendidikan di sekolah itu tercapai dengan maksimal.

Dalam melaksanakan tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  • Supervisi harus bersifat konstruktif dan kreatif sehingga menimbulkan dorongan untuk bekerja.
  • Realitas dan mudah dilaksanakan
  • Menimbulkan rasa aman kepada guru/ karyawan
  • Berdasarkan hubungan professional
  • Harus memperhitungkan kesanggupan dan sikap guru/ karyawan
  • Tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan kegelisahan bahkan sikap antipati dari guru.
  • Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan pangkat, kedudukan dari kekuasaan pribadi.
  • Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan (supervisi berbeda dengan inspeksi).
  • Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharap hasil
  • Supervisi hendaknya juga bersifat prefektif, korektif dan kooperatif.
Cepat lambatnya hasil supervise tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor:
  • Lingkungan masyarakat sekitar sekolah.
  • Besar kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.
  • Tingkatan sekolah
  • Jenis sekolah
  • Keadaan (kondisi) guru dan pegawai yang ada.
  • Kecakapan dan kemampuan kepala sekolah sendiri dalam tugasnya sebagai supervisor.
Khususnya dalam bidang pembinaan kurikulum, tugas kepala sekolah sebagai supervisor sangat penting karena justru bidang ini adalah factor yang “strategis” untuk menentukan keberhasilan sekolah itu.

Beberapa langkah yang perlu dikerjakan antara lain:

1. Membimbing guru agar dapat memilih metode mengajar yang tepat.
2. Membimbing dan mengarahkan guru dalam pemilihan bahan pelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak dan tuntutan kehidupan masyarakat.
3. Mengadakan kunjungan kelas yang teratur, untuk observasi pada saat guru mengajar dan selanjutnya didiskusikan dengan guru.
4. pada awal tahun pelajaran baru, mengarahkan penyusunan silabus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5. Menyelenggarakan rapat rutin untuk membawa kurikulum pelaksanaannya di sekolah.
6. Setiap akhir pelajaran menyelenggarakan penilaian bersama terhadap program sekolah.

Selanjutnya sebagai implikasi tugas supervisor tersebut beberapa hal yang perlu dilakukan kepala sekolah sebagai pemimpin adalah:
  • Mengetahui keadaan/ kondisi guru dalam latar belakang kehidupan lingkungan dari social ekonominya, hal ini penting untuk tindakan kepemimpinannya.
  • Merangsang semangat kerja guru dengan berbagai cara.
  • Mengusahakan tersedianya fasilitas yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan guru.
  • Meningkatkan partisipasi guru dalam kehidupan sekolah
  • Membina rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah antar kepala sekolah, guru dan pegawai.
  • Mempercepat hubungan sekolah dengan masyarakat, khususnya BP 3 dan orang tua murid.[16]
Pelaksanaan supevisi di sekolah selalu berkaitan dengan tipe manajemen pendidikan di sekolah. Dalam hubungan ini penjelasan Dr. Oteng Sutisna[17] perlu kita perhatikan ialah bahwa dalam manajemen pendidikan di sekolah yang demokratis, sekolah baru akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang demokratis, dimana para guru sebagai pribadi-pribadi ikut serta dalam mengatur sekolah dan program pengajaran yang demokratis.

Disamping itu penggunaan prosedur yang demokratis akan membuat personal sekolah lebih kooperatif dan memberi semangat korps, karena kebanyakan personal sekolah menginginkan untuk ikut dalam perencanaan kebijaksanaan sekolah.

Manajemen pendidikan Islam yang demokratis mendatangkan pertukaran pikiran dan pandangan dari para guru sehingga mendorong mereka untuk berinisiatif. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai supervisor dan sekaligus sebagai pemimpin sekolah/ sekolah Islam perlu memilih penggunaan manajemen pendidikan di sekolah yang demokratis ini karena dengan demikian kepala sekolah akan banyak dibantu dengan datangnya banyak saran-saran yang berharga dari anak buahnya (para guru) dan kepala sekolah yang bijaksana pasti mampu memilih pikiran yang terbaik yang berasal dari guru.

E. Karakteristik Kepala Sekolah Islam yang Efektif
1. Sifat-sifat kepemimpinan Islami. Kepala sekolah Islam yang efektif hendaknya:
  • Memiliki keinginan untuk memimpin dan kemauan untuk bertindak dengan keteguhan hati dan melakukan perundingan dalam situasi yang sulit.
  • Memiliki inisiatif dan upaya yang tinggi.
  • Berorientasi kepada tujuan dan memiliki rasa kejelasan yang tajam tentang tujuan instruksional dan organisasional.
  • Menyusun sendiri contoh-contoh yang baik secara sungguh-sungguh.
  • Menyadari keunikan guru dalam gaya, sikap, keterampilan dan orientasi mereka mendukung gaya-gaya mengajar yang berbeda.
  • Menjadual tuntutan-tuntutan waktu staff secara fleksibel
  • Mampu memunculkan guru sebagai pemimpin.
  • Menjelaskan peranan mereka dalam kaitannya dengan penyiapan kepemimpinan pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar. Mereka kurang peduli dengan rutinitas administratif.
  • Menyadari dimensi kepemimpinan informal di sekolah, yaitu kepemimpinan berdasarkan kekuasaan, prestise, atau kepribadian yang mungkin sesuai dengan atau tidak dengan struktur kepemimpinan formal sekolah.
  • Yang paling penting, mereka proaktif dari pada reaktif mereka menguasai pekerjaan dan bukan pekerjaan menguasai mereka.[18]
2. Kemampuan Memecahkan Masalah
Kepala sekolah Islam yang efektif hendaknya memiliki toleransi yang tinggi dalam memecahkan masalah. Misalnya, pengabdian keputusannya didasarkan kepada criteria praktek pendidikan, kebijaksanaan politik, kekerabatan, efisiensi, kenyamanan, atau yang lain, sebagaimana didasarkan oleh Greenfield.[19] Ia mendekati masalah berdasarkan perspektif analitik yang tinggi, dengan mencari hubungan sebab akibat yang mungkin dapat menunjukkan solusi menghindari pendekatan emosional.

Wujud toleransinya ditunjukkan oleh kerjasama dengan pihak-pihak terkait lain dalam penyelesaian masalah, tidak harus di tangan sendiri. Tidak kalah pentingnya, untuk memecahkan masalah kepala sekolah hendaknya memanfaatkan sistem komunikasi yang memberi kesempatan informasi dan gagasan “mengalir ke atas dan ke bawah secara dinamis”.[20]

3. Keterampilan Sosial
Secara normatif, Islam menganjurkan kepada umatnya untuk menciptakan hubungan social (shilah al rahiem) cara sungguh-sungguh. Kepala sekolah di lingkungan social sekolah membutuhkan keterampilan dan kemampuan social, sebagai aktualisasi nilai hubungan manusiawi Islam. Kepala sekolah seharusnya bersikap ramah dengan staf sekolah, bahkan memelihara otoritas kepemimpinan dan memperoleh rasa hormat dan kemauan untuk bekerja sama, kepala sekolah juga harus bekerjasama dengan instansi pusat dan memelihara hubungan dengan baik pihak lain dalam masyarakat.

Untuk itu, kepala sekolah islam hendaknya memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi. Yakni, mereka kuat dalam keterampilan social dan kepemimpinan yang membuahkan dukungan dan kerjasama. Mereka tinggi dalam keamanan pribadi dan memiliki rasa pengembangan diri yang baik sebagai individu. Mereka memiliki fleksibilitas personal untuk menjadi dirinya sejati apakah dengan mengawasi dan mengarahkan aktifitas yang lain atau menunjukkan rasa iba dalam rangka memuaskan kebutuhan guru secara individual.

4. Pengetahuan dan Kompetensi Profesional
Kepala sekolah Islam hendaknya mengetahui dan dapat menerapkan prinsip-prinsip belajar dan mengajar. Pelaksanaan pembelajaran yang efektif dapat dicontohkan atau dilukiskan oleh kepala sekolah. Mereka mempertimbangkan implikasi-implikasi belajar dan mengajar pada saat pengambilan keputusan tentang jadual, anggaran, perlengkapan dan bahan, tugas-tugas pembelajaran, dan pemanfaatan guru. Kepala sekolah yang baik seirama dengan tujuan sekolah dan memadukan ke dalam tujuan sekolah dan perencanaan pendidikan.[21]

Dengan visinya, kepala sekolah Islam hendaknya menyadari bahwa dirinya tidak terlahir dengan keterampilan dan sifat sentral. Semuanya dipelajari dan dikembangkan tidak patut baginya tidak merasa the best. Budaya ingin tahu atau haus informasi hendaknya ditumbuhkan terus dalam diri kepala sekolah Islam.

BAB III
KESIMPULAN
Makalah Kepemimpinan dan Pendidikan Islam

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu, yaitu tujuan bersama. Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan orang lain agar menerima pengaruh itu.

DAFTAR PUSTAKA
  • al-Faruqi. Ismail Raji, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. Anas Mahyuddin, Bandung: Pustaka: 1984.
  • Associaes. Peterfreud, Innovation and Change in Public School System, Englewood Cliffs: Author, 1970.
  • Dirawat dkk., dalam Muwahid Shulhan, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Bina Ilmu, 2004.
  • Gullet, C., Ray. Hick, Herbert G., Organization: Theory and Behavior, by Mc Graw-Hill, Inc., 1975.
  • Madhi. Jamal, Menjadi Pemimpin yang efektif dan Berpengaruh: Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, terj. Anang Syafruddin dan Ahmad Fauzan, Bandung: Syaamil Cipta Media, 2002.
  • Paul. Hersey, et. Al: Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources, third edition, New Jersey: Prentice-Hall Englewood Cliffs, 1977.
  • Posner, B. Z and Kouzes J. M, Credibility, San Francaisco: Jossey Bass Publishers, 1993.
  • Premeaux, S.H. and Mondy, R. W., Managemen: Concepts, Practices and Skills. New Jersey: Prentice Hall Inc Englewood Cliffs, 1995.
  • Qomar. Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Gelora Aksara Pratama, 2007.
  • Sanusi. Akhmad, dkk., Produktifitas Pendidikan Nasional, Bandung: IKIP Bandung, 1986.
  • Soetopo. Hendiet, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: Bina Aksara, 1982.
  • Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, Jakarta: Teras, 2009.
  • __________, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, Jakarta: Teras, 2009.
  • Suryabroto. B, Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
  • Sutisna. Oteng, Supervisi dan Administrasi Pendidikan, Bandung: Yemmars, 1979.
_________________________
[1]Mondy, R. W. and Premeaux, S.H, Managemen: Concepts, Practices and Skills. (New Jersey: Prentice Hall Inc Englewood Cliffs, 1995), h. 345.
[2]Hendiet Soetopo, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1982), h 1.
[3]Kouzes J. M and Posner, B. Z, Credibility, (San Francaisco: Jossey Bass Publishers, 1993), h. 11.
[4]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Gelora Aksara Pratama, 2007), h. 268-269.
[5]Abu Dawud Sulaiman Ibnu al-Asy’ats al-Sajistami al-Azdiy, Sunan Abi Dawud, (Indonesia: Maktabah Dahlan, tt), h. 125.
[6]Jamal Madhi, Menjadi Pemimpin yang efektif dan Berpengaruh: Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, terj. Anang Syafruddin dan Ahmad Fauzan, (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2002), h. 14.
[7]Ibid., h. 2.
[8]Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. Anas Mahyuddin, (Bandung: Pustaka: 1984), h. 15.
[9]Dirawat dkk., dalam Muwahid Shulhan, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Ilmu, 2004), h. 53.
[10]Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Jakarta: Teras, 2009), h. 170.
[11] Koontz, et. Al, Management, (New York: Mc. Grow Hill, Inc., Seventh Edition, 1980), h. 659-686.
[12]Koontz., et. Al, Management…, h. 662
[13]Hick, Herbert G., Gullet, C., Ray, Organization: Theory and Behavior, (by Mc Graw-Hill, Inc., 1975), h. 306-307.
[14] Akhmad Sanusi, dkk., Produktifitas Pendidikan Nasional, (Bandung: IKIP Bandung, 1986), h. 117.
[15] Hersey Paul, et. Al: Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources, third edition, (New Jersey: Prentice-Hall Englewood Cliffs, 1977), h. 6-7.
[16] B. Suryabroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 188.
[17] Oteng Sutisna, Supervisi dan Administrasi Pendidikan, (Bandung: Yemmars, 1979), h. 156.
[18] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Jakarta: Teras, 2009), h. 195-196.
[19] Greenfield, W.D. Moral Imagination and Interpersonal Competence: Antecedents to Instructional Leadership. In W.D Greenfield (Ed.). Instuctional Leadership:Concept, Issues and Controversies, (Boston: Allyn and Bacon, 1987), h. 98.
[20]Peterfreud Associaes, Innovation and Change in Public School System, (Englewood Cliffs: Author, 1970), h. 54.
[21] Peterfreud Associates, Innovation…, h. 60.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis