Aneka Ragam Makalah

Hakikat Alam semesta

Hakikat Alam semesta
Hakikat alam semesta merupakan fenomena yang ajaib. hakikat alam semesta sebagai wahana ilmu bagi manusia.  hakikat alam semesta mengajarkan kepada kita apa yang dapat dijadikan pelajaran bagi manusia. alam semesta merupakan tanda dari kekuasaan Allah. hakikat alam semesta adalah suatu ilmu yang mempelajari apa sebenarnya fungsi alam semesta bagi kita, apa sebenarnya tujuan diciptakannya alam semesta, apa menfaat alam semesta bagi kita dan lain-lain.



Dari Makalah  hakikat alam semesta ini menganalisis secara mendalam bagaimana kejadian dan awal proses alam semesta ada. Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya. 

A. Pendahuluan

Alam semesta merupakan realitas yang dihadapi oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat diketahui dan diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta, akan tetapi menjadikannya sebagai fasilitas dan sarana ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan dari potensi manusia yang sudah ada saat ajali.

Proses pendidikan yang berlangsung di dalam interaksi yang pruralistis (antara subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan cultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subyek didalam masyarakat, bahkan didalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi diri manusia. Manusia mengemban amanat untuk membimbing masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. bahkan manusia terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity).

Di dalam perspektif Islam, alam semesta merupakan sesuatu selain Allah Swt. Oleh sebab itu, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, namun meliputi seluruh yang ada dan berada di antara keduanya. Bukan hanya itu, di dalam perspektif Islam alam semesta tidak saja mencakup hal-hal yang konkrit yang dapat diamati melalui panca indera manusia, tetapi alam semesta juga merupakan segala sesuatu yang keberadaaannya tidak dapat diamati oleh panca indera manusia.

alam semesta merupakan ciptaaan Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk menjaga dan memeliharaan alam semesta ini, selain itu alam semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses melalui pendidikan. Dari itulah pemakalah khusus membahas tentang Esensi Alam Semesta menurut Persfektif Filsafat Pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian, proses penciptaan Alam Semesta, tujuan dan fungsi penciptaan Alam Semesta dan implikasi Alam Semesta terhadap pendidikan islam

B. Pembahasan

1. Alam Semesta dalam perspektif Falsafah Pendidikan Islam

Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (مة علا, pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan.[1] Dalam bahasa Yunani, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis. Karena alam itu diciptakan dalam keadaan teratur dan tidak kacau. Alam atau cosmos disebut sebagai salah satu bukti keberadaaan Tuhan, yang tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai sumber pokok dan menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.[2]

Istilah alam dalam alqur’an datang dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali yang termaktub dalam 30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk jamak dari keterangan al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran bagi manusia.[3]

Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya Falsafah pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah sesuatu selain Allah Swt.[4]

Dari satu sisi alam semesta dapat didefenisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk), yang dapat diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud Abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa juga dibagi ke dalam beberapa jenis seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat), dan manusia.[5]

Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam menyatakan bahwa alam semesta atau alam jagat ialah selain dari Allah swt yaitu cakrawala, langit, bumi, bintang, gunung dan dataran, sungai dan lembah, tumbuh-tumbuhan, binatang, insan, benda dan sifat benda, serta makhluk benda dan yang bukan benda. Beliau juga menuturkan bahwa sebahagian ulama Islam mutaakhir membagi alam ini kepada empat bahagian yaitu ruh, benda, tempat dan waktu. Sedangkan manusia menjadi salah satu unsur alam semesta sebagai makhluk baharu dengan fungsi untuk memakmurkan alam semesta serta meneruskan kemajuaannya.[6]

Menurut Shihab sebagaimana yang dikutip oleh Al-rasyidin dalam bukunya falsafah pendidikan Islam menerangkan bahwa semua yang maujud selain Allah Swt baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia disebut alam. Kata `alam terambil dari akar kata yang sama dengan `ilm dan `alamah, yaitu sesuatu yang menjelaskan sesuatu selainnya. Oleh karena itu dalam konteks ini, alam semesta adalah alamat, alat atau sarana yang sangat jelas untuk mengetahui wujud tuhan, pencipta yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui. Dari sisi ini dapat dipahami bahwa keberadaaan alam semesta merupakan tanda-tanda yang menjadi alat atau sarana bagi manusia untuk mengetahui wujud dan membuktikan keberadaan serta kemahakuasaan Allah Swt.[7]

Di dalam Al Qur'an pengertian alam semesta dalam arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa"[8]. Istilah ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu: Dalam surat maryam ayat 64 dan 65   

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?(65)

Dalam surat ar-rum ayat 22 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui.

Dalam surat al-anbiya ayat 16 

Dan tidaklah kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa alam semesta bermakna sesuatu selain Allah Swt, maka apa-apa yang terdapat di dalamnya baik dalam bentuk konkrit (nyata) maupun dalam bentuk abstrak (ghaib) merupakan bahagian dari alam semesta yang berkaitan satu dengan lainnya.

Untuk dapat Memahami dan meneliti alam yang kemudian menghasilkan science yang benar, haruslah melalui pendidikan yang benar dan berkualitas. Oleh karena itu, Islam mempunyai ajaran yang sangat penting dalam pendidikan, dalam rangka menghasilkan para scientist, ilmuwan atau ulama, yang kemudian akan memelihara dan memakmurkan alam ini.

2. Proses penciptaan alam semesta

Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. Gambaran jelasnya, bahwa semua proses alam semesta ini mengikuti dan merujuk pada segala yang tertuang dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya oleh manusia.

Dengan kata lain, kejadian dunia ini adalah sebagai “cermin manifestasi” dan “kenyataan lahir” dari rencana Allah yang sebenarnya sudah diberitahukan kepada manusia lewat Al Qur’an, sebelum kejadian tersebut terjadi, dengan tidak ada tekanan apakah manusia mau atau tidak memahaminya guna mendapatkan takwil isyarat-Nya.[9]

Mengenai proses penciptaan alam semesta, Al-Qur'an telah menyebutkan secara gamblang mengenai hal tersebut, dan dapat dipahami bahwa proses penciptaan alam semesta menurut al-Qur`an adalah secara bertahap. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat Al Anbiya ayat 30:

óOs9urr& t�tƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrã�xÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u‘ $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?"

Apabila dikaitkan dengan sejumlah teori seputar terjadinya kosmos menurut sains modern, maka konsep penciptaan semesta yang tertera dalam Al-Qur'an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya.

Adanya kumpulan kabut gas dan terjadinya pemisahan-pemisahan kabut gas tersebut atau dikenal dengan proses evolusi terbentuknya alam semesta, sudah dipaparkan secara jelas oleh Al-Qur'an jauh sebelum sains modern mengemukakannya[10]. Berkenaan Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula terdapat dalam surat fushilat ayat 9 sampai 12 yaitu: 

Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".(9) Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.(10) Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".(11) Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(12)

Dapat ditarik kesimpulan melalui ayat-ayat diatas, yaitu: Disebutkan bahwa antara langit dan bumi (kosmos) semula merupakan satu kesatuan lalu mengalami proses pemisahan. Disebutkan adanya kabut gas (dukhan) sebagai materi penciptaan kosmos. Disebutkan pula bahwa penciptaan kosmos (alam semesta) tidak terjadi sekaligus, tetapi secara bertahap.

Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa Allah Swt menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan tetapi melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah, al-Qur`an selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan dalam arti enam hari, enam masa atau enam periode.[11] Adapun ayat yang menceritakan tentang penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada surat yunus ayat 3 dan surat Al-Araf ayat 54 adalah: 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah . Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam.

Dalam surat An-Naaziat ayat 27-33 menerangkan proses penciptaan bumi dan alam semesta. 

Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah Telah membinanya(27), Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28), Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang (29), Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30), Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31), Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32), (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (33).

Proses penciptaan alam semesta diungkapkan dengan menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa, Fatara, Sakhara, Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini mengandung makna mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak meniscayakan waktu dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan alam semesta tidak mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu.[12]

Dalam diskursus keagamaan dan kefilsafatan, hakikat penciptaan telah terjadi perdebatan panjang yang bermuara pada adanya perbedaan interpretasi etimologis terhadap terma-terma yang digunakan oleh AlQur`an. Para teolog muslim berpendapat bahwa ala mini diciptakan dari ketiadaaan (al-khalq min `adam) atau creation ex nihillo. Bagi mereka, karena Allah maha kuasa, maka dalam menciptakan sesuatu dari ketiadaaan bukanlah suatu kemustahilan.[13] Di pihak lain, dengan berdasarkan logika dan ilmu serta dengan pengamatan terhadap fenomena alam secara alamiah, para filosof berpendapat bahwa penciptaan terjadi atas dasar pengubahan bahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.[14]

Terlepas dari perdebatan panjang mengenai penciptaan alam semesta ini, maka Al-Qur`an telah menerangkan bahwa alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan proses, dan tidak terjadi sekaligus. Dalam hal ini pemakalah mengambil kesimpulan bahwa:

a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara bertahap dan berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam masa atau enam hari atau enam periode

Dari keterangan di atas pemakalah mengindikasikan bahwa keterkaitan tentang proses penciptaan alam semesta bagi manusia dalam pendidikan, adalah manusia yang sudah mempunyai potensi dari Allah Swt dalam mengembangkan potensi tersebut tidak dapat dilakukan secara spontan, namun harus dilakukan dengan proses dan tahapan panjang melalui alam ini, sebagai sarana dan fasilitas yang menghantarkan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya.

3. Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta

Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt.[15] Keberadaaan alam semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaaan Allah Swt. Oleh karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah Swt adalah Zat yang menciptakan alam semesta.

Omar menjelaskan bahwa alam semesta tercipta diperutukkan untuk manusia sebagai penerima amanah dengan menjadi khalifah di muka bumi ini. Alam dapat menjadi sumber ilham melalui potensi akal yang diberikan Allah swt kepada manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan hakikat-hakikat yang terdapat di dalam alam semesta ini.[16] Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa manusia akan memperoleh manfaat dan keuntungan yang amat besar apabila manusia tersebut mampu dan mengerti dalam memanfaatkan apa saja yang terdapat di alam semesta ini.

Al-qur`an dalam hal ini menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta bertujuan bukan menjadi seteru bagi manusia, bukan menjadi penghambat manusia dalam berpikir dan berkembang, juga bukan menjadi musuh manusia, akan tetapi alam semesta diciptakan oleh Allah Swt untuk bekerjasama dengan manusia dengan menggunakan alam sebagai sumber dan mediasi untuk mendapatkan respon ilmu, yang dapat membantu mereka dalam menjalankan amanah yang telah diberikan Allah Swt sebagai khalifah dalam menjalankan roda kehidupan dan serta dalam menjalankan kemaslahatan umat manusia seluruhnya.[17] Kemudian juga di terangkan bahwa alam semesta merupakan ladang ilmu bagi manusia yang darinya dapat diperoleh berbagai manfaat dalam memenuhi segala kebutuhan manusia yang pada akhirnya manusia itu akan dituntut untuk dapat mensyukuri atas apa-apa yang mereka peroleh dan mereka nikmati dari pemberian Allah swt. Hal ini terlihat dari firman Allah swt dalam surat an-nahl:14 yaitu:

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

Manusia mengemban amanat dari Allah Swt sebagai khalifah untuk mengelola bumi secara bertanggungjawab. Peran penting yang diamanahkan kepada manusia adalah memakmurkan bumi (al ‘imarah) dan memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan (ar-ri’ayah). Manusia mempunyai kewajiban kolektif untuk mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu. Melihara bumi termasuk memelihara aqidah dan akhlak manusianya, memelihara dari kebiasaan jahiliyah (merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat) karena sumber daya manusia yang rusak akan sangat potensial merusak alam. [18]

Untuk lebih jelas bagaimana hakikat dari tujuan serta fungsi penciptaan alam semesta adalah sebagai berikut:
  • Penciptaan alam semesta bertujuan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa Allah swt adalah Maha Pencipta seluruh alam dengan segala kemuliaanNya dan segala kekuasaanNya[19]. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Dukhan ayat 38-39
Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.
  • Al-qur`an secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan alam semesta ini adalah untuk memperlihatkan kepada manusia akan tanda-tanda (ayah) atas keberadaan dan kekuasaan Allah Swt[20]. Sebagaimana firmanNya dalam surat Fushshilat ayat 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

  • Alam semesta diciptakan sebagai bahan dan sumber pelajaran serta pengamatan bagi manusia untuk menggali khazanah rahasia Allah Swt dengan akal dan pengamatan untuk dapat menyumbangkan suatu kebajikan dan faedah manusia seluruhnya yang pada akhirnya manusia akan memahami apa hakikat diciptakannya alam semesta ini[21]. Hal ini tertera dalam surat Yunus : 4 
Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah , Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya Kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.
  • Alam semesta diciptakan Allah Swt untuk kepentingan manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia selama hidup di permukaan bumi ini. Oleh karenanya alam telah ditundukkan oleh Allah Swt untuk mereka, sebagai tempat tinggal bagi manusia, ini dimaksudkan agar manusia mudah dalam memahami alam semesta dan tahu bagaimana cara memanfaatkannya untuk kepentingan mereka[22]. Salah satu ayat yang menerangkan akan hal ini terdapat dalam surat Ibrahim ayat 33 
Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan siang.
  • Alam semesta ini diciptakan bertujuan untuk menunjuk manusia sebagai Khalifah yang mengemban amanah dari Allah Swt, dalam mengemban amanah tersebut apakah manusia mampu menjalankannya dengan menghadapi berbagai ujian dan cobaan atau sebalikya, manusia justru mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya dengan berbuat kerusakan dimuka bumi ini[23]. Ini tercantum dalam surat Al-baqarah ayat 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dari keterangan di atas pemakalah mengambil kesimpulan dengan keterkaitannya terhadap pendidikan Islam adalah alam semesta tercipta sebagai sesuatu yang khusus bagi manusia untuk mengemban amanah dari Allah Swt sebagai khalifah yang akan memimpin, memelihara, menjaga serta menjadikan alam ini sebagai sarana dalam berkehidupan dengan meraih berbagai wawasan ilmu pengetahuan. Dengan memamfaatkan sebaik-baiknya apa saja yang terkandung dari penciptaan alam ini. Dari itulah manusia akan tahu apa hakikat tujuan diciptakannya alam semesta bagi mereka yang pada intinya akan menghantarkan manusia menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.

4. Implikasi penciptaan alam semesta terhadap pendidikan islam

Islam menegaskan bahwa esensi alam semesta adalah selain dari Allah Swt. Dia adalah al-Rabb, yaitu Tuhan Maha Pencipta yang menciptakan seluruh Makhluk yang makro dan mikro kosmos. Al-syaibany sebagaimana yang tertera dalam bukunya Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam menjelaskan bahwa proses pendidikan adalah menyampaikan sesuatu kepada titik kesempurnaannya secara berangsur-angsur. Karenanya, implikasi filosofi terhadap pendidikan islam adalah bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses atau tahapan dimana peserta didik diberi bantuan kemudahan untuk mengembangkan potensi jismiyah dan ruhaniyahnya sehingga fungsional untuk melaksanakan fungsi dan tugas-tugasnya dalam kehidupan di alam semesta.[24] oleh karena pendidikan merupakan proses dan tahapan, maka pendidikan Islami akan berlangsung secara kontiniu sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini.

Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.[25]

Seorang pendidik muslim yakin bahwa pendidikan sebagai proses pertumbuhan dalam membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitarserta dengan alam sekeliling, tempat ia hidup. Omar[26] berpendapat bahwa makhluk, benda dan apa yang ada di sekelilignya adalah bahagian alam luas dan insan itu sendiri dianggap sebagai sebahagian dari alam ini. Sebab itu proses pendidikan manusia dan peningkatan mutu akhlaknya bukan sekedar nyata terbentuk dari alam yang bersifat sosial, akan tetapi dapat juga terbentuk melalui alam alamiah yang bersifat material.

Perbedaaan dalam watak, akhlak, adat, tradisi dan cara hidup manusia adalah sangat berpengaruh dalam sebuah pembentukan karakter. Penduduk pesisir umpamanya, mempunyai watak dan cara hidup tersendiri. Demikian juga halnya dengan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pegunungan atau sahara. Dalam hal ini juga dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan sifat dan watak manusia yang bertempat tinggal di daerah perkotaan dan pedesaaan. [27]

Dari keterangan di atas mengindikasikan bahwa alam juga dapat memberikan pengaruh besar bagi setiap individu atau kelompok manusia yang berbeda-beda melalui tempat tinggal, daerah atau iklim. Sehingga secara tidak langsung akan membentuk sebuah watak dan sifat yang berbeda-beda.

Meskipun alam diciptakan dan ditundukan Allah Swt untuk manusia, bukan berarti manusia dapat mengetahui dan memahami apa-apa yang terdapat dari padanya, karena sampai sekarang pun fenomena alam dengan segala kerahasiaan Allah Swt dalam menciptakannya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan secara tuntas. Oleh dasar inilah Al-Quran mengajurkan kepada manusia untuk terus menggali khazanah yang terdapat dari penciptaan alam semesta ini. Anjuran dan kemungkinan untuk mempelajari alam semesta tertuang di berbagai ayat-ayat al-quran yang di antaranya:

Surat Yunus ayat 101  

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

Dalam surat al-Ankabut ayat 20 

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam surat At-Tariq ayat 5 

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?

Mahdi Ghulsyani menegaskan bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa memahami dan mempelajari alam adalah mungkin, apabila tidak, maka Allah Swt dalam ayat-ayatNya tidak akan menganjurkan untuk mempelajarinya.[28]

Dalam perspektif Islam, manusia harus merealisasikan tujuan kemanusiaanya di alam semesta, baik sebagai Syahid Allah , `abd Allah maupun Khalifah Allah . Dalam konteks ini menurut Al-Rasyidin bahwa Allah Swt menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan keberadaaan dan kemahakuasaan-Nya. Wujud nyata yang menandai syahadah itu adalah penuaian sebagai makhluk `ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai khalifah. Beliau juga menjelaskan bahwa alam semesta merupakan institusi pendidikan, yakni tempat di mana manusia dididik, dibina, dilatih, dan dibimbing agar berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya sebagai `abd Allah dan khalifah dalam menerapkan amal ibadah dan amal shalih kepada Allah Swt. Melalui proses pendidikan di alam semesta inilah, kelak Allah Swt akan menilai siapa diantara hamban-Nya yang mampu meraih markah atau prestasi terbaik.[29]

Sebagaimana yang diketahui bahwa selain Allah Swt adalah alam semesta, dari keterangan tersebut menjelaskan bahwa alam semesta terwujud dari bentuk-bentuk yang konkrit (alam nyata) dan bentuk-bentuk yang Abstrak ( alam Ghaib). Oleh karena itu pendidikan islam dalam penyusunan dan pengembangan kurikulumnya harus mengacu kepada konsepsi islam tentang alam semesta. Alam semesta terbagi kedalam dua bahagian yaitu alam nyata dan ghaib, alam nyata adalah alam yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia melalui pengamatan dan fenomena alam ini, sedangkan alam ghaib adalah alam yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Kepercayaan mengenai keberadaaan alam ghaib hanya dapat diyakini dengan keimanan yang bersumber dari Allah Swt melalui ayat-ayat yang termaktub di dalam Al-Qur`an.

Wilayah studi objek pendidikan islam tidak saja berkaitan dengan hal-hal yang dapat diamati oleh indera manusia ( fenomena) saja, tetapi mencakup segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera manusia (noumena). Yang berhubungan dengan hal-hal yang konkrit, maka keberadaaan alam syahadah sebagai objek kajian pendidikan islam menghendaki aktivitas pengamatan inderawi, penalaran rasional, dan eksperimentasi ilmiah. Sementara itu, yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib, untuk dapat memahami dan mengetahuinya dibutuhkan aktivitas supra inderawi dan supra rasional. Karenaya dalam pendidikan islam , ilmu-ilmu pengetahuan yang akan ditransformasikan ke dalam diri peserta didik tidak hanya terbatas pada pengetahuan inderawi dan rasional, tetapi juga mengenai ilmu-ilmu laduny, isyraqi, ilumunasi, dan kewahyuan[30].

Proses pendidikan menghantarkan manusia untuk dapat memahami dengan benar tentang keberadaaan alam semesta bersamaan dengan apa yang terkandung di dalamnya, bagaimana manusia mampu menggunakan alam sebagai institusi dan objek dalam mengembangkan potensi yang sudah ada. Di sisni pemakalah memaparkan bagaimana manusia dapat memahami alam dengan proses pendidikan. banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk menggali khazanah alam semesta ini, namun, hanya beberapa hal yang dapat pemakalah paparkan.
  • Dalam al-quran dijelaskan cara-cara memahami alam. Salah satu cara memahami alam raya ini dapat dilakukan lewat indera penglihatan, pendengaran, perasa, pencium dan peraba[31]. Artinya, semua alat utama ini dapat membantu manusia untuk melakukan pengamatan dan eksperimen. Hal ini terdapat pada surat An-Nahl ayat 78 
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
  • Panca indera belumlah cukup atau satu-satunya jalan memahami alam, tetapi dibutuhkan lagi yaitu penalaran atau akal.[32] 
  • Di samping alat indera dan akal manusia, ada lagi cara lain yaitu melalui wahyu dan ilham (inspirasi)[33].

C. Penutup

1. Simpulan dan Saran

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa pada hakikatnya Allah swt sebagai pencipta dan sekaligus sebagai penunjuk jalan bagi manusia (maha guru) Tuhan didalam menciptakan manusia di muka bumi ini adalah semata-semata untuk mengabdi kepada-Nya dan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Dalam hal manusia dapat mengelola alam semesta , maka manusia perlu mendapatkan pendidikan (Subyek pendidikan dan sekaligus sebagai obyek pendidikan).

Dalam pemikiran filsafat pendidikan Islami. Allah menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan absolut untuk melestarikan dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhluk-Nya yang patut diberi amanat itu, yaitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya ini adalah amanat Allah yang kelak akan meminta pertanggungjawaban dari seluruh manusia dalam menjalankan amanat itu.

Manusia diberi hidup oleh Allah tidak secara outomatis dan langsung, akan tetapi melalui proses panjang yang melibatkan berbagai faktor dan aspek. Ini tidak berarti Allah Swt tidak mampu atau tidak kuasa menciptakannya sealigus, Akan tetapi justru karena ada proses itulah maka tercipta dan muncul apa yang disebut “kehidupan” baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi mahluk lain yang juga diberi hidup oleh Allah Swt, yakni flora dan fauna. Kehidupan yang demikian adalah proses hubungan interaktif secara harmonis dan seimbang yang saling menunjang antara manusia, alam dan segala isinya.

Daftar Pustaka dan Footnote
DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997)

Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al-Qur`an (Bandung: Mizan, 1993)

H.M.Hadi Masruri dan H.Imron Rossidy, Filsafat Sains Dalam AlQur`an: Melacak Kerangka Dasar Integrasi Ilmu dan Agama (Malang: UIN Malang Press, 2007)

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. Ke-1



an-Nahlawi, Abdurrahman, Ushulut tarbiyah Islamiyah wa asalibiha fil baiti wal madrasati wal mujtama` terj shihabuddin (Beirut: dar al-fikr al-mu`asyir, 1983)



Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi Praktik Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008)



Zar, Sirajuddin, Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an (Jakarta: RajaGrafindo Perkasa, 1999)



Syam, Mohammad Noor, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filasafat Pendidikan Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1986)



al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)



Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991)




---------------------

[1] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. Ke-1, hal. 289

[2] ibid

[3] Sirajuddin Zar, Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an (Jakarta: RajaGrafindo Perkasa, 1999), hal. 19

[4] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi Praktik Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), hal. 3

[5] Al-Rasyidin, Ibid., h. 4

[6] Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 58

[7] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah kutipan Al-Rasyidin, Op Cit., h. 4-5

[8] Al-Rasyidin, Ibid.

[9] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987), h. 185

[10] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 32

[11] Al-Rasyidin, Op Cit., h. 6

[12] H.M.Hadi Masruri dan H.Imron Rossidy, Filsafat Sains Dalam AlQur`an: Melacak Kerangka Dasar Integrasi Ilmu dan Agama (Malang: UIN Malang Press, 2007), h. 91

[13] H.M.Hadi Masruri dan H.Imron Rossidy, ibid., h. 93

[14] Al-Rasyidin, Op Cit.

[15] Al-rasyidin, ibid., h. 8

[16] Omar, Op Cit., h. 75-76

[17] Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur`an (Bandung: Mizan, 1993), h. 95

[18] Abdurrahman an-nahlawi, Ushulut tarbiyah Islamiyah wa asalibiha fil baiti wal madrasati wal mujtama` terj shihabuddin, (Beirut: dar al-fikr al-mu`asyir, 1983), h. 52

[19] Mahdi Ghulsyani, Op Cit., h. 78

[20] Al-Rasyidin, Op Cit., h. 9

[21] Omar, Op Cit., h. 77

[22] Al-Rasyidin, Op Cit., h. 10

[23] Langulung, Op Cit., h. 185

[24] Al-Rasyidin, Op Cit., h. 11

[25] Mohammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filasafat Pendidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), h. 153.

[26] Omar, Op Cit., h. 57

[27] Ibid., h. 58

[28] Mahdi Ghulsyani, Op Cit., h. 79

[29] Al-rasyidin, Op Cit., h. 12

[30] Ibid

[31] Mahdi, Op Cit., h. 83

[32] Akal sangat berfungsi untuk menjawab pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan melalui pengamatan panca indera manusia. Mahdi, Ibid., h. 84

[33] Ibid

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijinkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Hakikat Alam semesta, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini. Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com
Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis