Mencari...

Pengertian Spirit dan Arsitektur Islam

11:31 AM
Makalah Pengertian Spirit dan Arsitektur Islam
Oleh: Ibrahim Lubis, MA

BAB I
PENDAHULUAN

Adalah hal yang sulit mencari hubungan antara spiritualitas Islam dengan arsitektur. Kesulitan itu berasal dari adanya perbedaan yang mencolok dari kedua masalah tersebut. Di satu sisi, spiritualitas berkenaan dengan masalah penyucian jiwa manusia, tingkah laku dan segala hal yang berkaitan dengan unsur-unsur batiniahnya dalam memandang eksistensi ketuhanan, alam semesta dan dirinya. Sementara seni arsitektur adalah hasil karya cipta manusia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam menjadikan suatu bangunan menjadi sebuah karya seni dan memiliki nilai arsitektur.

Namun bila diteliti secara mendalam, harus diakui bahwa seni arsitektur Islam memang telah dipengaruhi oleh nilai-nilai tasawuf, sebagaimana tasawuf telah mempengaruhi seni musik dan seni sastra dalam Islam. Sebagai dasar fikiran yang bisa dikemukakan mengenai adanya hubungan tersebut, Ernst menjelaskan bahwa dalam sumber-sumber nonakademik, termasuk yang dipublikasikan oleh tarekat-tarekat, menggambarkan sufi sebagai spirit universal sufisme yang merupakan inti dari semua agama. Istilah sufisme dalam hal ini menjadi lebih luas pengertiannya, mencakup bukan hanya orang-orang yang mendeskripsikan dirinya atau dideskripsikan oleh orang lain sebagai sufi, melainkan juga seluruh tradisi historis, teks, artefak kultural, serta praktik yang berhubungan dengan para sufi.[1] Sufisme dalam pengertian luas ini, akhirnya memasuki berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk juga ke dalam seni bangunan atau arsitektur.

Hanya saja, perbedaan yang jelas menunjukkan bahwa dalam seni sastra dan musik sebagaimana terdapat dalam data-data sejarah diketahui dengan jelas bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi seni musik dan seni sastra oleh nilai-nilai tasawuf dikarenakan para sufi terjun langsung dalam mengubah karya-karya seni tersebut masuk dalam pengaruh tasawuf yang kuat sebagai bentuk apresiasi atau pengungkapan dari setiap yang mereka rasakan dalam hubungannya kepada Tuhan, sehingga kita dapat mengenal adanya musik sufi atau sastra sufi. Hal ini ditunjukkan dengan tampilnya sufi-sufi yang terkenal seperti Jalal ad-Din Rumi, Ruzbihan Baqli, atau Hamzah Fansuri yang mereka itu disebutkan sebagai penyair dan pujangga sufi terkenal. Sementara dalam seni arsitektur, nyaris kita tidak mengenal dan mengetahui adanya sufi-sufi yang ahli dalam bidang arsitektur,[2] khususnya dalam arsitektur Islam. Karena itu, penulis agak kesulitan dalam menemukan kaitan yang jelas antara tasawuf dan arsitektur Islam di samping minimnya literatur-literatur yang membahas hal tersebut.

Makalah ini mencoba menjelaskan hubungan antara tasawuf dengan arsitektur Islam. Perlu dicatat bahwa ilmu tasawuf tidak berhubungan secara langsung dengan arsitektur Islam, tetapi nilai-nilai atau dimensi tasawuf itu yang mempengaruhi seni arsitektur Islam. Dimensi spiritualitas yang bisa disebut sebagai pandangan-pandangan batiniah kepada sang Ilahi tercermin atau disimbolkan ke dalam seni bangunan arsitektur dari masa awal Islam hingga saat ini. Kita akan melihat dari berbagai bentuk atau pola yang ada dalam setiap arsitektur Islam, yang diawali dari Ka’bah sebagai bangunan suci pertama kaum Muslim, masjid-masjid, istana/keraton, rumah, dan bahkan dalam berbagai bangunan yang ada dalam sebuah kota Islam, memiliki nilai-nilai spiritualitas dan memiliki arti-arti dari setiap bentuknya yang mengacu kepada nilai-nilai Islam dan mencerminkan rasa ketuhanan yang kuat.

Dalam makalah ini tidak akan dibicarakan lagi mengenai defenisi-defenisi tasawuf, sufisme atau spiritualitas karena sudah diangggap maklum. Yang sedikit perlu dijelaskan nanti bahwa seni arsitektur Islam memiliki hubungan yang kuat dengan dimensi mistik dan nuansa kebatinan yang dipengaruhi paham-paham mistis dalam tradisi Persia kuno (ajaran Zoroaster) dan Hinduisme. Sebagai contoh, penulis akan sedikit memaparkan tentang bangunan arsitektur keraton di Jawa. Pengaruh paham-paham dari luar tersebut berbaur dengan nilai-nilai spiritualitas Islam, namun tetap dalam kerangka spiritualitas Islam. Semoga makalah ini bermanfaat.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Spirit dan Arsitektur Islam

A. SENI ARSITEKTUR ISLAM

Seni adalah produk aktivitas yang dilakukan secara sadar yang bertujuan untuk mendapatkan atau mencapai nilai estetika. Karena itu, seni seringkali berkonotasi estetika atau keindahan. Bicara tentang seni, maka akan meliputi pembahasan yang luas. Seni juga terbagi dalam beberapa jenis seperti seperti seni musik, seni sastra, seni pahat dan ukir, seni tari, seni suara, seni arsitektur dan sebagainya.

Dalam konsep Islam, Allah merupakan pusat dari nilai-nilai estetika ini. Allah menyukai keindahan dan menciptakan segala sesuatu dengan indah menurut porsinya. Tujuan kesenian dalam konsep Islam adalah sama dengan tujuan hidup seorang Muslim, yakni pencarian kebahagiaan material dan spiritual di dunia serta akhirat di bawah naungan keridhaan Allah swt. Seni Islam diabadikan pada tujuan hidup manusia Muslim yang senantiasa mencari ridha Allah. Karena itu, konsep-konsep seni Islam lebih bersifat teosentrik, berbeda dengan konsep-konsep seni non-Islam yang bersifat antroposentrik.[3]

Arsitektur (architecture) sebagai bagian dari seni, merupakan seni atau ilmu yang berkaitan dengan desain dan pembuatan sebuah bangunan.[4] Arsitektur dalam bahasa Arab biasa disebut `umran, bunyan, yang artinya bangunan atau gedung. Untuk seni arsitektur atau teknik bangunan disebut “handasah al-mi`mar”. Sementara al-muhandis adalah sebutan bagi seorang arsitek, pembuat bangunan atau seseorang yang ahli geometri. [5]

Dilihat dari defenisinya, arsitektur Islam ialah arsitektur yang dibuat untuk dan oleh orang Islam untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT, juga menunjukkan keterikatan makhluk dengan khaliknya, baik yang mempunyai fungsi keagamaan maupun fungsi sekuler, yang dihasilkan di negeri-negeri Islam.[6] Arsitektur yang memiliki fungsi keagamaan, misalnya masjid, madrasah, makam dan bangunan-bangunan yang dijadikan sebagai tempat ibadah. Sementara yang memiliki fungsi sekuler, seperti istana, rumah, benteng dan sebagainya. Istilah yang analog untuk menyebutkan jenis-jenis tersebut ialah bangunan yang bersifat sakral dan bangunan yang bersifat profan.

Nilai-nilai spriritualitas dalam arsitektur Islam biasanya diimbangi dengan nilai-nilai estetika yang dimilikinya. Sebuah kolaborasi yang baik antara keindahan lahiriah dengan nilai-nilai batiniah yang terdapat di dalamnya, menjadikan arsitektur Islam sebagai salah satu yang terbaik dalam jajaran pengembangan arsitektur-arsitektur lainnya di luar Islam. Mengenai hal ini, kidwai menjelaskan: “Bangunan Islam adalah contoh terbaik perpaduan dari berbagai perbedaan ekspresi estetika dalam sebuah pandangan yang luas. Berbagai macam pengembangannya tetap berada di bawah satu payung dari seni bangunan Islam. Tiap-tiap arsitekturnya memiliki keistimewaan tersendiri, namun semuanya menyatu pada level yang terkemuka sebagai sesuatu yang islami, di mana pun saja di dunia ini.”[7]

B. DIMENSI SPIRITUALITAS DALAM ARSITEKTUR ISLAM

Arsitektur Islam adalah arsitektur yang berkaitan dengan pengaturan ruang dan desain bangunan. Seluruh arsitektur suci Islam senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan dasarnya yaitu menempatkan manusia di hadapan Tuhan melalui sakralisasi ruang yang dibentuk, diatur dan disesuaikan dengan berbagai teknik arsitektural. Dalam arsitektur Islam, sakralisasi tersebut umumnya dicapai dengan menetapkan polarisasi ruang dengan adanya Ka’bah, yakni pusat bumi yang dikelilingi oleh jutaan Muslim setiap musim haji dan menjadi kiblat seluruh Muslim ketika melakukan salat setiap hari. Bahkan dipemukiman Islam, sakralisasi arsitektur Islam diperkuat dengan penggunaan bahan-bahan bangunan serta dekorasi yang mampu menggemakan firman Tuhan.[8]

Sebagaimana dalam aspek-aspek Islam yang lain, dalam arsitektur pun prinsip Unitas (at-tauhid) sangat penting. Di dalam arsitektur, unitas menyiratkan keterpaduan unsur-unsur arsitektur, kesalingterkaitan fungsi-fungsi dan maksud-maksud ruang dan keserbaadaan hal-hal sakral dalam semua bentuk arsitektur, dengan maksud meninggalkan gagasan yang sekular sebagai kategori yang bertentangan dengan yang sakral.[9] Arsitektur Islam mengekpresikan beberapa hal: pertama, mengekpresikan Tauhid (unitas), sebagai intisari dari ajaran Islam. Kedua, mengekpresikan sikap pengabdian kepada Allah. Ketiga, mengekpresikan pandangan hidup kaum Muslim.

Pengaruh tauhid dalam arsitektur tanpak, misalnya, pada ikonoklasme atau anikonisme, yaitu larangan agama untuk menggambar makhluk bernyawa. Menggambar makhluk bernyawa berarti menyaingi Tuhan, karena yang berhak menciptakan makhluk bernyawa adalah Tuhan. Larangan tersebut merupakan kehati-hatian agar tidak ada yang disembah selain Allah. Larangan ini termanifestasi pada hiasan atau dekorasi dinding bangunan yang bersih dari gambar makhluk bernyawa. Konsekuensinya, dekorasi yang digemari dalam arsitektur Islam adalah kaligrafi sebagai sarana untuk mengungkapkan ayat-ayat Tuhan, bentuk-bentuk geomatris (geometrical patterns), dan bentuk-bentuk arabesque.[10]

Dalam dekorasi interior, pengaruh spiritualitas tidak hanya terdapat dalam bangunan-bangunan sakral, tetapi juga bangunan yang bersifat profan. Misalnya dalam sebuah rumah Muslim, dengan keteraturan perabot rumah dan kebersihan lantai yang terus dijaga, maka interior rumah Muslim tradisional, sebagaimana halnya dengan masjid, membangkitkan rasa kesucian melalui keheningan yang meskipun tidak-wujud, namun mengejawantahkan kehadiran Ruh. Udara yang masuk berperan sebagai roda tranmisi ayat Tuhan yang bergema setiap saat dalam lingkungan tempat tinggal Islam. Ketika seseorang memasuki sebuah masjid atau rumah tradisional, keheningan ruang benar-benar mengingatkan kepada Yang Gaib.[11] Dengan demikian, nilai-nilai spiritual ini pararel dengan esensi tasawuf bagi para sufi di mana Tuhan selalu dirasakan hadir di setiap waktu dan tempat.

Seni spiritual dan filsafat keindahan yang terkandung dalam karya-karya seni, termasuk seni arsitektur, kebanyakan berakar dari kepercayaan seorang seniman terhadap nilai-nilai religius. Orang yang memiliki kepercayaan keagamaan yang sangat kuat dan kental, kepercayaannya itu akan tercermin dalam semua dimensi kehidupannya. Sebagai contoh, dapat dilihat dari seni arsitektur Masjid Imam di kota Isfahan, yang sangat kaya dengan peninggalan seni Islam. Masjid Imam terletak di Maidam Imam, dibangun pada abad ke-16. kubah masjid yang didominasi hiasan berwarna biru ini merupakan salah satu karya seni Islam terbesar di dunia. Hiasan kaligrafi pada masjid itu dibuat oleh seniman besar iran bernama Ali Reza.[12]

Salah satu konsep utama seni yang dianut di Iran adalah konsep “metaindividual”. Melalui konsep ini, seorang seniman sama sekali tidak ingin menampilkan dirinya dalam karya seni itu, melainkan ingin menyatukan dirinya dengan Sang Pencipta melalui karyanya. Tak heran bila banyak seniman Iran yang mengaku menjalani kehidupan keagamaan yang dalam, dengan tujuan untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Para seniman semacam ini meyakini bahwa semakin banyak mereka menggali hakikat penciptaan, semakin tinggi pula kualitas penciptaan seni mereka.[13]

Pernyataan di atas, kemungkinan bisa jadi indikasi penting dalam menemukan jawaban ketika penulis sulit menemukan adanya sufi yang terkenal sebagai arsitektur. Bagi para sufi yang juga seniman, barangkali menyembunyikan dirinya dalam sebuah karya seni ciptaannnya dapat meningkatkan rasa kedekatannya kepada Tuhan. Bagi mereka, penghargaan dari orang-orang yang mengagumi karya-karyanya bukanlah tujuan, tetapi tujuan akhir yang ingin mereka raih adalah untuk mengabdi kepada Tuhan melalui hasil-hasil karya seni yang mereka hasilkan.

C. KA`BAH

Arsitektur suci Islam yang paling awal adalah Ka’bah, dengan titik poros langit yang menembus bumi. Monumen primordial yang dibangun oleh Nabi Adam dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim ini, merupakan refleksi duniawi dari monumen surgawi yang juga terpantul dalam hati manusia.[14] Ka’bah adalah sebuah bangunan batu dengan bentuk menyerupai kubus berukuran 12 m2 dan tinggi 15 m. Ia biasanya ditutupi dengan kiswah hitam. Banyak penyair membandingkan bangunan berselubung hitam ini seorang mempelai wanita yang telah lama dirindukan untuk diraih dan dicium. sebagaimana banyak terdapat dalam puisi Persia.[15]

Mitologi membicarakan tentang adanya sebuah batu yang membentuk landasan bagi kosmos; berwarna hijau, berada jauh di bawah tanah dan merupakan landasan poros vertikal sumbu putar seluruh alam raya, yang titik pusatnya di atas bumi adalah Ka’bah. Batu hitam—sebuah meteor—di sudut tenggara Ka’bah di Mekkah itu adalah titik ke mana orang-orang beriman berpaling. Batu ini, sebagaimana di katakan dalam legenda, telah ada sejak dulu. Pada awalnya ia berwarna putih, namun kemudian berubah menjadi hitam akibat sentuhan tangan orang-orang yang berdosa tahun demi tahun.[16] Sementara bagi para sufi, Ka’bah merupakan orientasi dalam ibadah salatnya. Ka’bah melambangkan esensi ketuhanan dan batu hitam dilambangkan sebagai esensi spiritual manusia.[17]

Namun, batu hitam ini, bukanlah satu-satunya batu yang penting di dunia Muslim. Kubah batu (Qubah al-Sakhrah atau Dome of the Rocks) di Jerussalem juga sangat dikeramatkan, sebab, demikian dikatakan orang, semua Nabi sebelum Nabi Muhammad berdiam di sana, dan Rasulullah bertemu dengan mereka pada awal perjalanannya ke langit untuk mendapat perintah salat. Batu di bawah kubah itu diberkahi oleh jejak kaki nabi Muhammad, dan beberapa tradisi bahkan menyatakan bahwa batu itu mengapung bebas di udara. Pada akhir zaman nanti, Izrafil sang malaikat, akan meniupkan terompet untuk mengumumkan kebangkitan batu itu. Kaitan ruhaniah di samping kaitan historis antara kedua tempat keramat itu dengan batu-batuan (Mekkah dan Jerussalem) tampak jelas dari gagasan puitis Persia bahwa Ka’bah tampil sebagai mempelai bagi Kubah batu itu.[18]

Ada anggapan yang kuat dari umat Islam bahwa Ka’bah adalah pusat dunia. Dunia Islam diibaratkan terbentang seperti sebuah roda raksasa dengan Makkah sebagai pusatnya, dan garis-garis yang ditarik dari semua masjid ke arah Ka’bah di kota Makkah sebagai jari-jarinya. Ka’bah adalah axis mundi (poros dunia) dalam kosmologi Islam. Sebagai pusat dunia, Ka’bah adalah simbol primordial titik persilangan antara poros vertikal spirit dan bidang horizontal eksistensi fenomenal. Selama upacara haji, para haji bertawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Gerakan berputar para haji tersebut, akan berbentuk cairan bila dilihat dari atas, menyerupai pusaran air yang besar sekali.[19]

Kesederhanaan bentuk Ka’bah sebagai Baitullah tidak mengurangi nilai-nilai spiritual yang muncul dari bangunan tersebut. Bangunan yang berbentuk persegi empat itu, tetap jadi kerinduan bagi seluruh umat Islam di dunia untuk dapat melihat dan memegangnya. Setiap musim haji, jutaan umat Muslim datang dan berkunjung ke Ka’bah. Ketika Ka’bah telah hadir di depan mata, keharuan muncul dan tanpa terasa air mata dapat mengalir membasahi pipi. Kota Mekkah dan Ka’bah, merupakan tempat di mana Tuhan dirasakan benar-benar dekat sehingga doa-doa umat Muslim begitu dekat dengan pendengaran Tuhan sehingga doa diyakini terkabul dengan segera.

D. MASJID

Arsitektur suci Islam par excellence adalah masjid. Masjid adalah bangunan agama yang luar biasa yang tidak hanya dijadikan sebagai pusat peribadatan, tetapi juga digunakan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan. Masjid bagi seorang sufi merupakan tempat “pembentukan kembali” dan “ikhtisar” dari keselarasan, ketertiban, kedamaian alam semesta yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai rumah peribadatan abadi kaum Muslim. Dengan melakukan salat di dalam sebuah masjid, seorang Muslim berarti kembali ke pusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan masjid dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam.[20] Melalui perintah-Nya yang menetapkan bahwa bumi adalah masjid kaum Muslim, arsitektur suci Islam menjadi perluasan alam karya cipta Yang Maha kuasa di dalam lingkungan yang dibangun oleh manusia. Arsitektur Islam membentuk satu kesatuan sekaligus keanekaragaman, keselarasan di mana pun, baik di lingkungan kota maupun di desa.

Pola arsitektur masjid pada masa awal-awal Islam masih cukup sederhana namun memiliki kegunaan yang optimal dan fungsional. Bangunan masjid terdiri dari tanah lapang yang diberi dinding sekelilingnya sehingga membentuk halaman dalam seperti Masjid Nabawi ketika pertama kali dibangun. Meskipun bentuknya sederhana namun terdapat suasana keintiman dan suasana demokratis.[21] Pusat-pusat perjuangan umat Islam saat itu adalah Madinah dan Makkah, sedangkan masjid yang pertama kali didirikan Nabi adalah masjid Quba yang memiliki pola arsitektur yang sederhana.

Masjid adalah pusat arsitektur Islam. Pemahaman mengenai masjid menunjukkan bahwa tiada satu pun bentuknya yang pasti, yang biasanya merefleksikan gaya kedaerahan masing-masing. Konsep dasar dari seluruh masjid menunjukkan pada hal yang sama yaitu seluruhnya diatur menghadap ke Ka’bah. Pada sebagian besar masjid, mihrab dibuat sebagai miniatur yang dihias pada dindingnya seperti hiasan-hiasan yang terdapat di dinding Ka’bah.[22]

Ketika seseorang memasuki masjid, perasaan yang dapat timbul mengibaratkan bahwa seseorang bisa berada dekat dengan Tuhan dan dapat beribadah dengan tenang dan khusyu’. Dr. John S. Badean, Presiden Universitas Amerika di Kairo telah mengungkapkan bahwa Masjid Ibnu Thulun dengan kemegahan dan kesederhanaannya adalah sebuah tempat di mana dia dapat bersembahyang dan beribadah serta merasakan dekatnya diri kepada Tuhan.[23]

Mihrab, dalam sebuah masjid, di arahkan menghadap ke ka’bah, dan itu adalah tempat di mana pemimpin dalam salat (imam) berdiri memimpin para jemaah dalam ibadah salat. Di mihrab, imam membacakan ayat-ayat Tuhan kepada para jemaah. Ayat-ayat suci Tuhan yang berkumandang dari mihrab, adalah simbol dari kehadiran Tuhan. Hal ini menimbulkan motivasi bagi para sufi dalam beribadah. Merupakan keajaiban Islam dalam mentransformasikan ayat-ayat Tuhan sehingga Alquran dihapal dan dijadikan doa oleh setiap Muslim.[24]

Bagian dari bangunan masjid lainnya yaitu menara, yang dalam bahasa Arab di sebut al-manarah, yang secara literal berarti tempat cahaya. Nama menara itu sendiri dalam bahasa Islam mengidentikkan cahaya Tuhan dengan firmannya. Mengenai bentuk-bentuknya memiliki perbedaaan di berbagai masjid di dunia Islam. Masuknya berbagai unsur-unsur lokal dalam tiap-tiap masjid dan menara menjadi hal yang diketahui bersama sebagai bentuk variasi dan kreatifitas seni arsitektur Islam.

Menara masjid lama tidak memiliki bentuk yang tetap dan kehadirannya tidak menjadi kesatuan arsitektur dengan bangunan masjid. Kebiasaan untuk azan di Jawa tidak memerlukan menara sebab untuk memberi tahu masyarakat akan waktu salat dibunyikan bedug. Bentuk menara masjid lama bersumber pada tradisi kebudayaan setempat, antara lain dari seni bangunan Hindu dan tradisi seni bangunan Barat. Bentuk menara masjid Kudus misalnya mengingatkan pada bentuk candi zaman Majapahit, sementara menara masjid demak lebih menyerupai bentuk menara mercusuar.[25] Sebagian besar menara masjid di dunia Muslim mengikuti pola-pola masjid di Turki yang dipengaruhi oleh arsitektur Bizantium. Menara-menara yang menjulang tinggi bagaikan jarung di angkasa juga melambangkan syiar Islam yang tiada taranya.[26]

E. ISTANA

Istana adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal oleh orang-orang kerajaan atau penguasa di suatu daerah. Ia terdiri dari berbagai macam dan bentuk ruangan yang terdapat dalam sebuah kompleks. Contoh istana yang memiliki seni arsitektur tinggi ialah al-Hambra, di Granada, Spanyol yang didirikan abad ke-14 adalah contoh yang paling sempurna dari arsitektur Islam di Barat.[27] Ia merupakan suatu contoh bangunan istana yang kaya dan baik. Bangunan ini tanggap dengan alamnya yang sub tropis dengan lingkungan yang berbukit-bukit batu dan bertanah liat. Tentang Alhambra, Burckhardt dalam karyanya The Art of Islam menuliskan, “Di antara contoh arsitektur Islam yang berada di bawah kekuasaan cahaya, Alhambra di Granada menempati urutan pertama. Halaman singa secara khusus membuat contoh batu yang telah diubah menjadi suatu getaran cahaya; gang-gang yang beratap lambriquin, hiasan-hiasan pada stalaktit, kehalusan tiang-tiang yang tampaknya untuk menahan goncangan, kegemerlapan genteng-genteng yang berwarna hijau dan juga pancaran air mancur, semua itu mendukung kesan ini…Melalui analogi seseorang dapat mengatakan bahwa ia mengubah batu menjadi cahaya, yang pada akhirnya, juga diubah menjadi kristal-kristal. Stalaktit-stalaktit dari halaman singa di Alhambra ini tidak hanya berfungsi praktis untuk menyangga atap, tetapi juga melambangkan turunnya cahaya ke dunia bentuk material. Semua itu seperti cahaya dari dunia samawi yang menyinari kegelapan duniawi.[28]

F. GAPURA/PINTU GERBANG

Pintu gerbang atau gapura, dalam arsitektur Islam, mengekspresikan perpindahan dan masuknya seseorang ke tempat yang lain. Perasaan yang timbul ketika memasuki sebuah pintu gerbang, membawa kepada awal dari sebuah perjalanan.[29] Gapura dalam hal ini mengekspresikan sebuah perpindahan dari alam material menuju alam spiritual. Jiwa manusia ketika melewati sebuah pintu gerbang dianalogikan sebagai perpindahan menuju alam ruhaniah, sebuah perjalanan baru yang menuntut kesucian jiwa manusia untuk dapat kembali kepada Tuhan dengan spiritual yang bersih. Contoh pintu gerbang yang memiliki dimensi spiritual adalah pintu gerbang masjid Syaikh Lutfullah di Isfahan, Iran.

Sementara jembatan dilambangkan sebagai mediator antara surga dan bumi, sebagai penghubung antara manusia dan kekuatan alam; dan itu menghubungkan dengan fitrah kemanusiaan sebagai wakil Tuhan di bumi, bertanggung jawab untuk memelihara alam, dan sebagai pelayan Tuhan serta melakukan apa yang Tuhan inginkan. Dalam perjalanan spiritual ini, dua konsep harus dapat terjembatani. Jadi, salah satu menjadi penahan keseimbangan dari satu kepemilikan alam, ketika pada saat yang sama, merealisasikan bahwa itu semua adalah kepunyaan Tuhan.[30]

Bangunan yang bernilai arsitektur tinggi di dunia Timur adalah Mauseleum. Ia hadir sebagai bangunan yang penting setelah masjid dan istana. Mauseleum seringkali dibangun untuk menunjukkan kepada masyarakat mengenai kekuatan politik atau keistimewaaan dalam suatu bidang bagi seseorang yang telah wafat.[31] Ia memiliki bentuk yang bermacam-macam, terkadang menyerupai sebuah masjid dan terkadang menyerupai sebuah istana. Mauseleum juga hadir sebagai bangunan yang didirikan untuk memperingati wafatnya seseorang yang berpengaruh di suatu masyarakat.

G. ARSITEKTUR ISLAM DI JAWA

Keraton merupakan pusat kota. Arsitektur dan ikonografi yang sangat kompleks. Ia mensimbolisasikan eksplanasi-eksplanasi Sufi mengenai siklus kehidupan, hubungan jalan mistik antara Allah dan manusia, dan antara kesalehan normatif dan doktrin mistik. Konsep masuknya unsur-unsur simbolisme dan ikonografi Hindu dan Budha ke dalam Islam di Jawa sama seperti Islam di Timur tengah menyerap unsur-unsur tradisi Hellenistik dan Persia. Hal ini juga membuktikan bahwa tidak ada tradisi keagamaan dan kebudayaan yang eksis secara terisolir.[32]

Ikonografi, simbolisme dan arsitektur keraton menggambarkan struktur kosmos Muslim dan hubungan antara sufisme dan syari’ah. Dalam kompleks keraton terdapat alun-alun, pohon, bangunan, paviliun terbuka, tembok, dan pintu gerbang yang masing-masingnya memiliki satu atau lebih makna keagamaan yang berbeda.[33] Keraton dipercayai sebagai daerah yang suci yang mendefinisikan negara dan masyarakat. Dalam hal ini, ia analog dengan Ka’bah di Mekah, yang menjadi pusat dunia Muslim sebagai suatu keseluruhan. Keraton adalah pusat mistis dan badan spiritual kesultanan yang berperan sebagai wadah untuk perwujudan esensi ilahiah yang diwakili oleh Sultan.[34]

Masjid-masjid lama di Indonesia dibangun berdasarkan tradisi seni bangunan lama, baik tradisi seni bangunan kayu atau batu bata alam. Masjid pada umumnya menempati daerah lingkungan istana raja atau pembesar tertinggi setempat, tepatnya di sisi barat dari alun-alun.

Pada masa awal perkembangan agama Islam, hubungan anatara masjid dengan pusat pemerintahan itu menyatu dan sangat berdekatan. Masjid sengaja dibangun berdekatan dengan istana dan alun-alun. Tujuannya, ialah untuk menghindari praktek pemerintahan yang sewenang-wenang. Jadi, masjid sebagai lembaga negara ibarat institusi yang selalu mengingatkan penguasa ke arah kebijakan yang benar dan mendapat ridho Allah. Struktur seperti ini, misalnya dapat dilihat di Madinah, Damaskus, Basrah dan Kufah. Demikian pula masjid Agung Yogyakarta dibangun berdekatan dengan keraton kesultanan. Dan di kota kabupaten, masjid selalu berada di sebelah Barat alun-alun dan berada satu komplek dengan gedung kabupaten.[35] Yang menarik dari bahwa di dalam komplek kerajaan, di depan alun-alun ditanam dua pohon beringin (waringin) yang konon merupakan salah satu kreasi Sunan Kalijaga.[36] Sampai saat ini, penulis belum dapat menemukan literatur yang dapat menunjukkan maksud ditanamnya dua pohon beringin tersebut di depan pintu masuk alun-alun keraton.

Dalam membangun langgar dan masjid para wali sembilan ini tidak menerapkan bentuk dan pola masjid yang ada di negeri Islam. Tidak ada bentuk masjid yang dibangun dengan berkubah dan menara tinggi yang menjulang. Yang dibangun justru selalu memanfaatkan potensi setempat dari bangunan-bangunan ibadah agama Hindu dan bangunan umum yang berdenah luas (joglo). Atap bangunan langgar dapat dikatakan mengambil bentuk bangunan suci agama Hindu yang bertiang satu dan beratap tajug. Bangunan masjid juga mengambil bentuk bangunan wantilan, tempat upacara pengorbanan (sakramen) dengan mengadu ayam dan sekaligus juga sebagai bangunan umum dan pertemuan. Sebagai contoh adalah masjid Agung Yogya yang berbentuk joglo.[37]

Masjid Agung Demak didirikan pada awal abad ke-15 oleh Raden Fatah (Sultan Fatah) sebagai sultan yang pertama dari kerajaan Islam Demak. Dalam pembangunan Masjid Demak, para wali (Wali Songo) turun memberi andil dalam pembangunannya dan dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah Islam di Demak. Bangunan induk masjid ini memiliki empat buah tiang utama (soko guru), konon masing-masing tiang dibuat oleh para wali. Keempat tiang utama tersebut merupakan penopang atap yang berbentuk tumpang susun tiga, dan pada puncaknya terdapat mustaka. Tiang pokok atau soko guru beserta tiang-tiang lainnya berdiri di atas satu pondasi. Hubungan antara soko guru dengan kerangka atap meliputi sistem tiga peletakan lambang trisula, yaitu alam fisik, perasaan dan kewajiban manusia.[38] Salah satu dari tiang-tiang tersebut, ada yang dibuat dari tatal atau serpihan-serpihan kayu, konon sebagai lambang persaudaraan perdamaian dan persatuan umat Islam. Tiang-tiang yang menjulang tinggi katanya menyiratkan pengarahan yang menuju pada satu tujuan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tali yang mengikat tatal, diibaratkan sebagai pimpinan yang selalu melayani masyarakat tanpa membedakan satu sama lain.[39]

Di Indonesia, susunan bentuk atau pola-pola dalam sebuah komplek keraton dan istana mengikuti tradisi akhir Indonesia-Hindu, mengikuti pola-pola pembangunan candi dan pura di Bali. Beberapa keraton atau istana seperti di Siak Inderapura, istana Maimun di Medan yang merupakan istana Deli, kemudian istana Langkat dan istana-istana lainnya yang tersebar di penjuru nusantara semuanya memperlihatkan pola-pola yang berbeda. Namun, pada saat yang sama, juga terdapat persamaan yang bersifat magis-religius atau kosmologis.

BAB III
PENUTUP

Arsitektur Islam merupakan bagian dari kebudayaan Islam yang patut di banggakan. Dibanggakan dalam arti bahwa arsitektur Islam yang tersebar di belahan penjuru dunia, mengambil peranan penting dalam pengembangan seni yang berkualitas tinggi dan diakui sebagai buah peradaban yang gemilang. Arsitektur Islam tidak hanya benilai seni semata “art for art”, tetapi memiliki makna-makna batiniah yang disimbolkan dalam bentuk-bentuk yang penuh makna dan imajinasi.

Pengaruh tasawuf akhirnya masuk dalam bidang seni arsitektur sebagai mana tasawuf telah mempengaruhi seni sastra dan musik. Setiap bentuk dan pola-pola yang dikembangkan mengacu kepada nilai-nilai spiritual yang bersifat teosentrik. Makna-makna batiniah dalam arsitektur Islam, memiliki beragam makna dan arti yang kesemuanya disandarkan kepada nilai-nilai ilahiah dan sebagai pusat imajinasi dan inspirasi arsitektur-arsitektur Islam.

DAFTAR PUSTAKA
  • Afzalur Rahman, Al-qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. M. Arifin, cet. 2 Jakarta: Rineka Cipta, 1992
  • Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, cet. 14 Surabaya: Pustaka Progressif, 1997
  • Annemarie Schimmel, Rahasia Wajah Suci Ilahi, terj. Rahmani Astuti Bandung: Mizan, 1996
  • Azra Kidwai, Islam, New Delhi: Lustree Press, 1998
  • Carl W. Ernst, Ajaran dan Amaliah Tasawuf, terj. Arif Anwar Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003
  • David James, Islamic Art: An Introduction, London: The Hamlyn Publishing Group Limited, 1974
  • Dewan Editor, Ensikopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2002
  • Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998
  • Judi Pearsall &Bill Trumble (ed), The Oxford English Reference Dictionary, second edition, New York: Oxford University Press, 1996
  • Laleh Bakhtiar, Sufi Expressions of the mystic Quest, (New York: Thames and Hudson, 1997
  • Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj. Hairus Salim, Yogyakarta: LkiS, 1999
  • Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, terj. Luqman Hakim Bandung: Pustaka, 1994
  • Seyyed Hossein Nasr, Spiritualitas Dan Seni Islam, terj. Sutejo, cet. 2 Bandung: Mizan, 1993
  • Tugiyono KS, dkk, Peninggalan Situs dan Bangunan Bercorak Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara Sumber Widaya 2001
  • Zein. M. Wiryoprawiro, Perkembangan Arsitektur Masjid Di Jawa Timur Surabaya: Bina Ilmu, 1986
______________________
[1] Carl W. Ernst, Ajaran dan Amaliah Tasawuf, ter. Arif Anwar (Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003), hlm. xxix
[2] Minim sekali informasi atau data-data yang menunjukkan seorang sufi yang juga ahli dalam bidang arsitektur Islam. Untuk menyebutkan hampir-hampir tidak ada, cuma Sunan Kalijaga yang bisa disebut sebagai sufi yang juga ahli dalam bidang arsitektur. Ia disebutkan ikut merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. “Tiang tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu tiang utama masjid tersebut adalah kreasi Sunan Kalijaga. Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/tasawuf
[3] Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998) hlm. 181-189
[4] Judi Pearsall & Bill Trumble (ed), The Oxford English Reference Dictionary, second edition (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 69
[5] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, cet. 14 (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) hlm. 971-972
[6] Tim Editor, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002) jilid IV, hlm. 305
[7] Azra Kidwai, Islam, (New Delhi: Lustree Press, 1998), hlm. 74
[8] Seyyed Hossein Nasr, Spiritualitas Dan Seni Islam, terj. Sutejo, cet. 2 (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 58
[9] Nasr, Islam tradisi, hlm. 245
[10] Ensiklopedi tematis, h. 306
[11] Nasr, Spiritualitas.., hlm. 61
[12] http://indonesian.irib.ir/perspektif/2005/juli2005/seni.htm
[13] Ibid.
[14] Ibid., hlm. 54
[15] Schimmel, Rahasia Wajah Suci Ilahi, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1996) hlm. 106
[16] Ibid., hlm. 33-34
[17] Laleh Bakhtiar, Sufi Expressions of the mystic Quest, (New York: Thames and Hudson, 1997), hlm. 47
[18] Schimmel, Rahasia., hlm. 34
[19] Ensiklopedi tematis, hlm. 312
[20] Nasr, Spiritualitas., hlm. 50-51
[21] Zein. M. Wiryoprawiro, Perkembangan Arsitektur Masjid Di Jawa Timur (Surabaya: Bina Ilmu, 1986) h. 15
[22] Azra Kidwai, Islam.,; Bakhtiar, Sufi Expressions., hlm. 47
[23] Afzalur Rahman, Al-qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. M. Arifin, cet. 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm. 255
[24] Bakhtiar, Sufi Expressions., hlm. 47
[25] Ambary, Menemukan., hlm. 196-197
[26] Wiryoprawiro, Perkembangan., hlm. 59
[27] David James, Islamic Art: An Introduction, (London: The Hamlyn Publishing Group Limited, 1974) hlm. 17
[28] Nasr, Spiritualitas., hlm. 64-65
[29] Laleh Bakhtiar, Sufi Expressions., hlm. 43
[30] ibid
[31] James, Islamic Art., hlm. 92
[32] Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj. Hairus Salim, (Yogyakarta: LkiS, 1999) h. 25
[33] Ibid, h. 294
[34] Ibid, h. 295
[35] Tugiyono KS, dkk, Peninggalan Situs dan Bangunan Bercorak Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widaya, 2001), hlm. 13; lihat juga, Ambary, Menemukan., hlm. 196
[36] http://indonesian.irib.ir/perspektif
[37] Wiryoprawiro, Perkembangan., hlm. 125
[38] Ambary, Menemukan., hlm. 196
[39] Tugiyono KS, Peninggalan., hlm. 58


0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih