Mencari...

Tasawwuf | Mencari Makna

5:40 PM
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan lain-lain. Dari suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan dan sebagainya.

Melihat pentingnya peranan tasawuf dalam kelangsungan hidup manusia seutuhnya, maka tidak mengherankan jika tasawuf akrab dengan kehidupan masyarakat Islam setelah masyarakat tersebut membina akidah dan ibadahnya melalui ilmu tauhid dan ilmi fiqih.


B. Pengertian Tasawuf

Banyak defenisi tasawuf yang dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh. Hal ini disebabkan karena para ahli tasawuf tidak ada memberikan defenisi tentang ilmu sebagaimana para ahli filsafat. Ahli tasawuf hanya menggambarkan tentang sesuatu keadan yang dialaminya dalam kehidupan tasawuf pada waktu keadaan tertentu.1 Disamping itu, perbedaan cara memandang kegiatan tasawuf juga melahirkan defenisi yang berbeda.

Dari segi kebahasaan terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu al Suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan salat berjama’ah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos (bahasa Yunani : hikmah), dan suf (kain wol kasar).2

Jika diperhatikan secara seksama, nampak kelima istilah tersebut bertemakan tentang sifat-sifat dan keadaan yang terpuji, kesederhanaan dan kedekatan dengan Tuhan. Dengan demikian, dari segi kebiasaan tasawuf menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang lebih mulia disisi Allah.

Dari segi istilah, tasawuf dapat didefenisikan dari tiga sudut pandang. Pertama, sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, kedua, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan ketiga, sudut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan.

Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat didefenisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia akan memusatkan perhatian hanya kepada Allah. Selanjutnya jika sudut pandang yang digunakan adalah pandangan bahwa manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefenisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dan jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk bertuhan, maka tasawuf dapat didefenisikan sebagai keadaan fitrah (perasaan percaya kepada Tuhan) yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju pada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.3

Kata sufi atau sufiah diartikan sebagai orang yang selalu mengamalkan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, sufi berarti orang yang telah mensucikan hatinya dengan mengingat Allah (zikrullah), menempuh jalan kembali kepada Allah dan sampai pada pengetahuan hakiki (ma’rifah).4

Sangat erat kaitannya dengan tasawwuf adalah tariqat. Istilah tariqat berasal dari kata al-tariq yang berarti jalan menuju kepada hakikat. Menurut istilah adalah tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah dan karena ingin berjumpa dengan-Nya.5

C. Sumber dan Perkembangan Pemikiran Tasawuf

Di kalangan para orientalis Barat biasanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang menbentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.6 Kelima unsur ini secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Unsur Islam

Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pada unsur kehidupan bersifat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) (QS. Al-Maidah 54), perintah agar manusia senantiasa bertaubat, membersihkan diri dan memohon ampunan (QS. Al-Thamrin 8), petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada (QS. Al-Baqarah 110). Selanjutnya al-Qur’an mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak dunia dan harta benda (QS. Al- Hadid dan al-Fatir 5), dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah (QS. Ali Imran).

Sejalan dengan apa yang dibicarakan al-Qur’an diatas, Sunnahpun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah antara lain :

Aku adalah perbendaharaan yang bersembunyi, maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.

Selanjutnya didalam kehidupan Nabi Muhammad juga terdapat petunjuk yang menggambarkannya sebagai seorang sufi. Nabi telah melakukan pengasingan diri ke Gua Hira’ menjelang datangnya wahyu. Selama di Gua Hira’ ia tafakkur, beribadah dan hidup sebagai seorang yang zahid. Beliau hidup sederhana, tidak memakan atau meminum minuman kecuali yang halal.

2. Unsur Luar Islam

Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh unsur agama Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. Hal ini secara akademik bisa saja diterima, namun secara akidah perlu kehati-hatian. Para orientalis Barat menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam. Tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu.

Unsur-unsur luar Islam yang diduga mempengaruhi tasawuf Islam itu adalah sebagai berikut :

a. Unsur Masehi

Dalam ajaran Kristen ada faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara. Dalam literatur Arab yang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabiah. Dikatakan bahwa zahid dan sufi dalam Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri adalah atas pengaruh rahib Kristen.7

b. Unsur Yunani

Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi, menurut sebagian orang inilah yang mempengaruhi Zuhud dan tasawuf dalam Islam.8 Filsafat mistik Phytagoras mengatakan bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Kesenangan roh yang sebenarnya berada di alam samawi.

c. Unsur Hindu/Budha

Dalam ajaran Budha dinyatakan bahwa untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham fana’ yang terdapat dalam tasawuf hampir serupa dengan faham nirwana.

Dalam ajaran Hindu juga dianjurkan agar manusia meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan.

d. Unsur Persia

Diantara para orientalis ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari Persia, karena sebagian tokohnya berasal dari Persia, seperti Ma’ruf al-Karkhi dan Abu Yazid al-Bustami. Pendapat ini tidak mempunyai pijakan yang kuat, karena perkembangan tasawuf tidak sekedar upaya mereka saja. Banyak para sufi Arab yang hidup di Syria, bahkan di kawasan Afrika (Maroko), seperti al-Darani, Zu al-Nun al-Misri dan lain-lain.9

Perkembangan tasawuf dalam Islam telah mengalami beberapa fase, yaitu

Pertama, yaitu fase asketisme (zuhud) yang tumbuh pada abad pertama dan kedua hijriyah. Pada fase ini terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat. Tokoh yang sangat populer dari kalangan mereka adalah Hasan al-Basri (w.110H) dan Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H).10

Pada abad ketiga hijriyah, ahli tasawuf mencoba menyelidiki ajaran tasawuf yang berkembang pada masa itu, sehingga mereka membaginya menjadi tiga bagian yaitu :

a. Tasawuf yang berisikan ilmu jiwa, yaitu tasawuf yang berisi metode yang lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengonsentrasikan kejiwaan menusia kepada Khaliqnya sehingga ketegangan jiwa akibat pengaruh keduniaan dapat teratasi dengan baik.

b. Taswuf yang berintikan ilmu akhlak, yaitu didalamnya terkandung petunjuk-petunjuk tentang cara-cara berbuat baik.

c. Tasawuf yang berisikan metafisika, yaitu didalamnya terkandung ajaran yang melukiskan ketunggalan Ilahi yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak.11

Di akhir abad ketiga Hijriyah, mulai timbul pertimbangan baru dalam sejarah tasawuf, yang ditandai dengan munculnya lembaga pendidikan dan pengajaran yang didalamnya terdapat kegiatan pengajaran tasawuf dan latihan-latihan rohaniah. Maka dari sini muncullah istilah tarekat.

Pada abad keempat Hijriyah, ilmu tasawuf maju lebih pesat jika dibanding dengan abad ketiga. Para ulama mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Sehingga kota Bagdad sebagai kota satu-satunya yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf yang paling besar sebelum masa itu, tersaingi oleh kota-kota besar lainnya. Ulama yang mengembangkan ajaran tasawufnya tersebut antara lain :

1. Musa al-Ansary, mengajarkan tasawuf di Khurasan (Iran). Wafat tahun 320 H.

2. Abu Hamid bin Muhammad al-Rubazy, mengajar disalah satu kota di Mesir. Wafat tahun 322 H.

3. Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab al-Saqafy, mengajar di Naisabur. Wafat tahun 328 H.

Pada abad kelima Hijriyah muncullah Imam al-Gazali yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang tasawuf dikajinya dengan mendalam. Di sisi lain, ia melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof.

Pada abad keenam Hijriyah muncul kelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Disebut murni tasawuf bukan, murni filsafatpun bukan. Mereka itu antara lain al-Suhrawardi al-Maqtul (w. 549 H) Muhyiddin Ibnu al-‘Arabi (w. 638 H), Umar Ibnu al-Farid (w. 632 H)

Dengan munculnya para sufi yang juga filosof, orang mulai membedakannya dengan tasawuf yang mula-mula berkembang, yaitu tasawuf akhlaki yang identik dengan tasawuf sunni. Dengan demikian, aliran tasawuf terbagi menjadi dua, tasawuf sunni dan tasawuf falsafi.

Pada abad ketujuh tercatat dalam sejarah, bahwa menurunkan gairah masyarakat Islam untuk mempelajari tasawuf. Hal ini disebabkan :

1. Semakin gencarnya serangan ulama syari’at memerangi tasawuf

2. Adanya tekad penguasa (pemerintah) pada masa itu untuk melenyapkan ajaran tasawuf di dunia Islam, karena kegiatan ini dianggap sebagai sumber perpecahan umat Islam.12

Tasawuf pada masa-masa akhir (kurang lebih dari abad ke delapan hijriyah sampai saat ini) mengalami kemunduran. Dengan habisnya abad ketujuh dan masuknya abad kedelapan, tidak didengar lagi perkembangan atau fikiran yang baru dalam tasawuf. Meskipun banyak pengarang sufi yang menyatakan fikiran seperti al-Kasani (w. 739 H) tetapi beliau tidak lagi mengeluarkan pendapat baru. Begitu juga dengan tokoh sufi Abdul Karim al-Jaili pengarang kitab “Insan Kamil”. Buku ini isinya tidak lebih dari menjelaskan dan memperindah buah fikiran Ibnu ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi.13

C. Tujuan Tasawwuf.

Ilmu tasawwuf adalah tuntunan yang daoat menyampaikan manusia untuk mengenal Allah swt., dan dengan tasawwuf ini pula seseorang dapat melangkah sesuai dengan tuntutan yang paling baik dan benar dengan akhlak yang indah serta akidah yang kuat. Oleh sebab itu, seorang mutasawwif tidak mempunyai tujuan lain dari mencapai ma’rifat billah (mengenal Allah) dengan sebenar-benarnya dan tersingkapnya dinding hijab yang membatasinya dengan Allah.[14] Bagi mereka, mendekatkan diri kepada Allah selalu dilandasi semangat beribadah dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan ma’rifah.

Adapun yang dimaksud dengan ma’rifatullah adalah melihat tuhan dengan hati secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatan dan kebesarannya tapi tidak dengan kaifiyat. Artinya tuhan tidak digambarkan sebagai benda atau seperti manusia ataupun bentuk tertentu sebagai jawaban tentang bagaimana dzat tersebut.[15]

Sedangkan yang dimaksud dengan kesempurnaan hidup adalah tercapainya martabat dan derajat kesempurnaan atau insan kamil. Insan kamil dalam pandangan ahli sufi berbeda-beda. Di antaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Arabi bahwa insan kamil adalah manusia yang sempurna karena adanya realisasi wahdah asasi dengan Allah yang mengakibatkan adanya sifat dan keutamaan tuhan pada dirinya.[16]

Dengan demikian, maka ilmu tasawwuf yang pada intinya adalah sebagai usaha untuk menyingkap hijab yang membatasi antara manusia dengan Allah swt. Dengan sistem yang tersusun melalui latihan ruhaniyah dan riyadhah an-nafs yang mengandung empat unsur pokok:

1. metafisika, yakni hal-hal yang berkenaan dengan luar alam dunia atau bisa juga dikatakan sebagai ilmu ghaib.

2. etika, yakni ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan yang buruk dengan melihat pada amal manusia sejauh yang dapat dicari oleh akal dan pikiran manusia.

3. psikologia, yakni masalah yang berhubungan dengan jiwa. Psikologi dalam tasawwuf tentu sangat berbeda dengan psikologi modern. Dalam tasawwuf yang menjadi objek psikologi adalah diri sendiri.

4. estetika, yakni ilmu keindahan yang melahirkan seni. Untuk meresapkan seni, harus ada keindahan dalam diri. Puncak keindahan itu adalah cinta.

D. Maqam dan Ahwal.

al-maqam adalah sebuah istilah duni sufi yang menjukkan arti tentna suatu nilai etika yang akan diperjuangkan oleh seorang salik (orang yang sedang dalam perambahan kebenaran spritual dalam praktek ibadah) dengan melalui beberapa tingkatan mujahadah dari suatu tingkatan laku batin menuju tingkatan maqam berikutnya.

Secara sederhana, maqam ini dapat diartikan sebagai stasiun-stasiun yang akan dilalui oleh seorang salik dalam perjalanan spritual untuk mencapai ma’rifatullah.

Untuk mencapai sebuah maqam, seseorang harus mengamalkan dan menjiwai nilai-nilai yang terkandung dalam maqam tersebut, oleh karena itu ia akan selalu sibuk dengan riyadhah-riyadhah.[17] Artinya bahwa seseorang yang berada di dalam sebuah maqam harus menegakkan dan mengatualisasikan suatu nilai moral.

Sementara al-hal menurut kaum sufi adalah makna nilai atau rasa yang hadir dalam diri secara otomatis, tanpa unsur kesengajaan, upaya, latihan dan pemaksaan, seperti rasa gembira, sedih dan lain-lain. Ahwal datang dari sesuatu yang ada dengan sendirinya, sementara maqam didapatkan dengan pencurahan perjuangan yang terus menerus. Pemilik maqam memungkin ia menguasai maqamnya secara konstan, sementara pemilik ahwal sering mengalami naik turun di hati.

Tingkatan maqam ini tidak selalu sama, dan tidak selalu di alami secara persis oleh orang salik. Kurun waktu yang diperlukanpun tidak sama antara seorang dengan yang lain. Hal itu dikarenakan bahwa tasawwuf adalah pengalaman spritual, dan pengalaman spritual seseorang tidak akan pernah sama.

Menurut al-Kalabadzi, tingkatan maqam itu aldalah: tobat-zuhud-sabar-kefakiran-kerendahan hati-taqwa-tawakkal-kerelaan-cinta-ma’rifat. Sementara menurut Imam al-Ghazali adalah: tobat-sabar-fakir-zuhud-tawakkal-cinta-ma’rifat.[18]

Pada umumnya, maqamat terakhir dalam pertapaan sufi adalah ma’rifat. Untuk sampai ke maqam tersebut, seorang salik harus melewati beberapa maqam. Dalam perjalanan panjang tersebut mereka mengalami berbagai keadaan bathin (ahwal) yang merupakan kekhususan dari maqam-maqam tersebut.

E. Penutup.

Defenisi tasawwuf pada umumnya mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh hanya menggambarkan tentang sesuatu keadan yang dialaminya dalam kehidupan tasawuf pada waktu keadaan tertentu. Hal ini dikarenakan pengalaman spritual memang selalu berbeda. Disamping itu, perbedaan cara memandang kegiatan tasawuf juga melahirkan defenisi yang berbeda. Selain dari ajaran Islam, dalam tasawwuf juga terdapat beberapa unsur dari luar Islam, seperti Masehi, Yunani, Hindu, Budha, dan persia.

Tujuan tasawwuf adalah ma’rifatullah. Dengan ma’rifatullah, seseorang akan menjadi isan kamil sesuai konsep ilmu tasawwuf. Ma’rifatullah adalah merupakan maqam terakhir dalam pertapaan salik. Dalam menjalani maqam-maqam untuk mencapai ma’rifatullah, para salik akan mengalami ahwal (keadaan jiwa) yang merupakan kekhususan dari maqam-maqam yang dilaluinya.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Tasawwuf | Mencari Makna, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.
Daftar Pustaka dan Footnote
Daftar Pustaka



Anwar, Rosihan, Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, Bandung, 2000.



As, Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994.



Basuni, Ibrahim, Nas’ah al-Tasawuf al- Islam. Mekkah: Dar al-Ma’rifat, 1119.



Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993.



Mahyuddin, Kuliah Akhlah Tasawuf. Jakarta: Kalam Mulia, 2001.



Muhammad Saifullah al-Aziz, Risalah Memahami Ilmu Tasawwuf. Surabaya: Terbit Terang, 1998.



Mz, Lahib, Rahasia Ilmu Tasawuf. Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2001.



Nasrullah, M.S., Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung: Mizan, 1996.



Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1983.



Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.



_____________, Akhlak Tasawuf . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.



Qusairi, Risalah Qusairiyah. Jakarta: Pustaka Amani, 1998.


Footnote

1 Ibrahim Basuni, Nas’ah al-Tasawuf al- Islam (Mekkah: Dar al-Ma’rifat, 1119), hal. 17

2 Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hal. 56

3 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 240

4 M.S. Nasrullah, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf (Bandung: Mizan, 1996), hal. 289

5 Ibid, hal. 262

6 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 181

7 Lahib Mz, Rahasia Ilmu Tasawuf (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2001), hal. 21

8 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme, hal. 58

9 Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 190

10 Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, Bandung, 2000), hal. 50

11 Mahyuddin, Kuliah Akhlah Tasawuf (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal. 70

12 Ibid, hal. 88

13 Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hal. 181

[14] Muhammad Saifullah al-Aziz, Risalah Memahami Ilmu Tasawwuf (Surabaya: Terbit Terang, 1998), hal. 39.

[15] Ibid.

[16] ibid.

[17] al-Qusairi, Risalah Qusairiyah (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), hal. 57.

[18] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 62.
Ibrahim Lubis

Penulis:

Judul Makalah: Tasawwuf | Mencari Makna
Semoga Makalah ini memberi manfaat bagi anda, tidak ada maksud apa-apa selain keikhlasan hati untuk membantu anda semua. Jika terdapat kata atau tulisan yang salah, mohon berikan kritik dan saran yang membangun. Jika anda mengcopy dan meletakkannya di blog, sertakan link dibawah ini sebagai sumbernya :

0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih