Aneka Ragam Makalah

MAKALAH PENDIDIKAN FUNDAMENTALISME AGAMA



Jika bermanfaat, Mohon di Share ya !. kalau sempat sumbang tulisannya ya !
Belakangan ini, istilah funmentalisme banyak dibicarakan di media massa. Tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Hal tersebut terjadi seiring merebaknya terorisme yang berlindung di bawah paham fundamentalisme agama, terutama Islam. Sehingga, istilah fundamentalis indentik dengan fundamentalisme Islam atau Islam fundamentalis yang memiliki kesan negative dan ekstremisme. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, fundamentalis yang berakar pada agama itu tidak hanya Islam, melainkan juga agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Yahudi, dan Konghucu. 

Bahkan, Itilah fundamentalisme pertama kali muncul di dunia Barat oleh gerakan Kristen Protestan Amerika. Mereka memerangi masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk, mengisolasi dari kehidupan bermasyarakat, dan memusihi akal pikiran hasil penemuan ilmiah. Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengoptimalkan kualitas kemanusiaan sesuai fitrahnya. Dan, hal itu akan bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. 


A. Pengertian Fundamentalisme

Fundamentalisme adalah fakta yang dimiliki semua agama. Fundamentalisme agama adalah fakta global yang muncul pada semua kepercayaan dna agama, tidak hanya Islam, terlihat juga pada Judaisme, Kristen, Hindu, Sikh dan bahkan Konfusianisme. Menurut bahasa (etimologi), fundamentalisme berasal dari kata fundamen yang berarti dasar, sedangkan menurut istilah (terminology)-nya, fundamentalisme merupakan aliran pemikiran yang sempit, cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid (kaku) dan literalis (tekstual). Selanjutnya dari gerakannya, kalangan ini memiliki ciri-ciri[1] antara lain:

Pertama, mereka cenderung melakukan interpretasi literal terhadap teks-teks suci agama, menolak pemahaman kontekstual atas teks agama, karena dalam pemahaman kalangan ini, pemahaman kontekstual hanya akan menodai kesucian agama yang mereka anut. Kedua, menolak pluralisme dan relativisme. Bagi mereka, pluralisme merupakan distorsi pemahaman terhadap agama.  Ketiga, memonopoli kebenaran atas tafsir agama. Di sini kalangan fundamentalisme umumnya menganggap diri mereka sebagai pemegang otoritas penafsiran agama yang paling abash dan paling benar, sehingga mereka biasanya suka memilih sikap mengkafirkan dan mengklaim sesat kelompok lain yang tidak sealiran. Dan  keempat, gerakan fundamentalisme agaknya selalu mempunyai korelasi dengan fanatisme, eklusivisme, intoleran, radikalisme dan militanisme; dan karena itu juga, kalangan fundamentalisme suka mengambil bentuk perlawanan pada semua bentuk ancaman yang dipandang membahayakan eksistensi agama yang mereka anut.


B. Sebab-sebab Munculnya Fundamantalisme

Penyebab bermunculannya kaum fundamentalis diakibatkan arus globalisasi yang tidak terbendung yang tidak terfiltrasi oleh masyarakat sehingga menyebabkan lahirnya perilaku masyarakat yang inmoral dan menyimpang dari norma-norma agama. Masuknya kebudayaan luar ke suatu daerah yang cenderung merusak tatanan hidup masyarakat yang telah terikat dengan nilai-nilai luhur religiutas. hal ini menyebabkan kekhawatiran akan tercabutnya akar-akar tatanan sosial masyarakat madani. kaum fundamentalis muncul sebagai penyaring dan pembendung dari hancurnya norma-norma agama[2].

Fundamentalisme berlebihan dari suatu golongan dapat berakibat radikalisme Karena keegoan golongan yang tidak jarang bahkan merugikan golongan yang lainnya.berikut ini adalah beberapa contoh dari fundamentalis yang berbuah fanatisme[3] :
  •  Kaum Kristen di bawah peter sang pertapa (peter the hermit) dan paus urban II dengan Pidato mereka yang berapi-api kepada masyarakat eropa berhasil menghapuskan perdamaian dengan kaum muslim dengan mengirimkan tentara dibawah pimpinan Godfroi de bouillon untuk merebut yerussalem.mereka berhasil merebutnya dengan darah kaum muslim dan yahudi yang membasahi bumi yerussalem.

  •  Masyarakat fundamental yahudi dengan pemimpinnya seorang yahudi jerman, Karl Heinz membentuk zionisme untuk mengusir dan merebut tanah palestina bahkan mengusir semua rakyat palestina untuk keluar dari negaranya.mereka berhasil merebut palestina melalui perjanjian belfour.bahkan pertumpahan darah masih terjadi hingga detik ini.

  • Kaum fanatisme India berperang pada tahun 1971 dengan kaum urdu sehingga terbentuklah negara Bangladesh. Begitupun perebutan antara India yang notabene adalah umat hindu dengan Pakistan yang mayoritas muslim untuk memperebutkan Kashmir.

C. Bentuk dan Ragam Fundamentalisme

Imam Khatami, mantan presiden Iran, tidak segan-segan mengkrtik kubu fundamentalisme yang secara kaku menerjemahkan prinsip-prinsip agama sebagai “ramuan” masa lalu. Baginya fenomena agama mempunyai historis sosiologis sendiri. Dalam lingkup ini, histories sosiologis membentuk doktrin agama dengan menyesuaikan karakteristik konteks sosiologis yang melingkupinya, kalangan garis keras kini tidak menyadari hal ini. Mereka masih menduga bahwa permasalahan sekarang dapat ditanggulangi rumusan klasik. Padahal genap diyakini histories sosiologis anatara dulu dan sekarang sudah jauh berbeda,Maka belum tentu racikan orang pendahulu bisa dipakai orang sekarang. Dalam orasinya ketika berkunjung ke cairo Mesir, Imam Khatami membagi Fundamentalisme ke dalam dua bagian[4]:

1. Fundamentalisme “yang keterlaluan”(Ushuliyyah mutharrifah)
2. Fundamentalisme “yang dikehendaki”(Ushuliyyah mathlubah).

Ulil Absar dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam pengantar pada buku karangan Sumanto Al-Qurtubi “Lubang hitam Agama” Mengkritik fundamentalisme agama, mengungat islam tunggal. Menurut beliau ada dua model fundamentalisme[5]:

1.fundamentalisme rejeksionis
2.Fundamentalisme eskapis-pietistik.

Model yang kedua menghendaki suatu cara hidup yang “lain” yang berbeda dari cara hidup sekuler sehigga menjadi jawaban atas problem keterasingan yang dialami manusia modern karena ia lahir dari perasaaan was-was,kawatir dan terancam dari sekularisme. Pada dasarnya fundamentalisme adalah kembali pada simbol-simbol keagamaan untuk mencari “rasa aman” dan ini terjadi pada pemeluk agama apapun. Pemeluk Islam mengenakan jilbab, orang nasrani memakai kalung salib, dan pemeluk agama yang lain pun memperjelas identitas keagamaan mereka. Muncul pula trend kaum lelaki muslim saling mencium pipi, dan umat nasrani saling mengucapkan “Syalom” ketia bertemu.

Sedangkan Fundamentalisme rejeksionis sangat bertentangan dengan pluralitas bangsa ini. Bahkan, bertentangan pula dengan kehendak tuhan tentang kebhinekaan,keberagaman.sebab itulah tuhan menciptakan manusia itu dari laki-laki dan perempuan,berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Fundamentalisme Rejeksionis memandang kehidupan ini dengan “kacamata kuda” Merasa paling benar sendiri, paling selamat sendiri, paling hebat sendiri, dan orang lain atau kelompok lain tidak ada yang benar. Fundamentalisme semacama ini yang kemudian melahirkan terror dan konflik dimana-mana, dan ini bukan monopoli pemeluk agama tertentu, melainkan dapat muncul dalam agama apapun karena agama bagi mereka sudah menjadi tujuan,bukan lagi sekedar jalan atau jembatan menuju tuhan.


D. Fundamentalisme Islam

Fundamentalisme Islam bukanlah bayi yang baru lahir abad ke 19 atau 18, melainkan ia sudah ada sejak abad ke 6 dan 7. Pada zaman-zaman awal perkembangan Islam, telah muncul perpecahan di tengah ummat. Perpecahan awal tersebut sudah terjadi ketika Nabi wafat. Ummat Islam saat itu terpecah setidaknya dalam tiga kelompok untuk menentukan siapa pengganti Nabi. Perpecahan itu semakin nyata ketika Khalifah Utsman memerintah dan akhirnya terbunuh oleh sebuah gerakan pemberontakan yang menganggap Utsman nepotis. Khalifah Utsman kemudian digantikan oleh Ali. Pada masa Ali inilah terjadi perang Siffin yang sangat terkena dengan arbitrasenya. Dari sana pula ummat Islam semakin terpecah dalam tiga kelompok besar. Salah satu kelompok yang sangat radikal adalah Khawarij. Kelompok Khawarij ini banyak disebut sebagai cikal bakal fundamentalisme Islam[6]. Kelahiran Khawarij sendiri disebut sebagai fitnatul qubro (fitnah besar). Khawarij melawan kelompok Muawiyah (pendukung Utsman) dan juga kelompok Ali.Maraknya terorisme dan radikalisme yang berasal dari fundamentalisme Islam membuat banyak kalangan ketakutan atas memudarnya citra Islam yang baik, damai, dan mengayomi semua ummat manusia. Lalu dibikinlah sebuah teori, bahwa fundamentalisme Islam tidak ada hubungannya dengan Islam itu sendiri;fundamentalisme Islam adalah fenomena baru yang muncul di abad 19 atau 18; fundamentalisme hanyalah semacam reaksi terhadap tatanan kehidupan yang lebih global saat ini[7]. Orang-orang menyebut fundamentalisme Islam sebagai gerakan pembebasan ketertindasan dari pihak Barat yang hegemonik dan dominatif[8]. Hampir senada dengan itu, Karen Amstrong dan kawan-kawan melihat fenomena fundamentalisme sebagai reaksi terhadap modernitas yang semakin meminggirkan peran agama dalam kehidupan.

Menurut Armstrong[9], The Beattle for God, perayaan modernitas dan pengagungan subjek manusia ternyata mengosongkan relung kultur manusia. Berbeda dengan kaum fundamentalis dari golongan lain,fundamentalis islam lahir dari keterpurukan akan kezhaliman dan penindasan.akar-akar imprealisme yang mencengkram jantung negeri-negeri ahli qur’an membuat bangkitnya pergerakan pergerakan yang mengatasnamakan pembelaan terhadap nilai-nilai agama dan akidah yang terancam oleh para penindas.Pembentukan ARAMCO (Arabian American oil company) di Saudi Arabia yang notabene menguntungkan pihak amerika dan merugikan rakyat Saudi telah melahirkan seorang Osama bin Ladin yang menentang imprealisme amerika di Saudi Arabia.pembentukan inggris di mesir melahirkan seorang Mujaddid Hasan al Banna yang mendirikan Ikhwanul Muslimin.konspirasi zionis di palestina telah Membakar semangat kaum muda palestina dengan HAMAS, brigader al aqsha. Kaum fasis Italia yang menginvasi libya telah membuat syeikh umar al mukhtar (lion du dessert) Mengangkat senjata. Seperti hukum Archimedes,jika sebuah benda di masukkan ke dalam air,maka Tekanan yang diberikan sama besarnya ke permukaan air,sama halnya,ketika kaum penindas menzhalimi kaum muslim,mereka tidak sadar bahwa mereka telah melahirkan pergerakan dan harakah-harakah yang dengan gigih mempertahankan nilai-nilai luhur akidah dan harga diri mereka.dan jelaslah jawaban islam terhadap hal ini,perlawanan dan pergerakan militansi.pengusiran,pengeksploitasian bangsa dan tanah air telah membangunkan kaum fundamentalis untuk bergerak.

E. Peranan pendidikan

Kesalahan persepsi itu telah menimbulkan paham-paham fundamentalisme yang akan merusak nilai universalitas agama. Untuk mengembalikan posisi paham fundamentalisme agama ke jalan yang benar. Posisi fundamentalisme agama yang mampu mengartarkan kebersamaan dan berdampingan hidup dalam sebuah perbedaan. Dan, posisi yang tetap memberikan kebebasan untuk menyebarluaskan ajaran agama dengan tetap memperhatikan ukhuwah atau persaudaraan serta kerukunan dengan penganut agama lainnya.

Maka dari itu, pendidikan sebagai bentuk pembinaan nilai-nilai agama secara benar untuk tindak kembali pada paham fundamentalisme sempit. Selain akan mengenalkann nilai dan prinsip agama, pendidikan juga merupakan langkah untuk membentuk kader-kader manusia yang religius serta memiliki spritualisme yang tinggi. Pendidikan dilakukan untuk mengoptimalkan kualitas kemanusiaan sesuai fitrahnya.

Pendidikan perlu melibatkan para pemuka dan tokoh agama sebagai pelaku utama dalam menyebarkan agama secara benar serta meluruskan fundamentalisme . sementara itu, pemerintah bersama masyarakat menegakkan pasal 29 dengan memberikan kebebasan setiap umat beragama untuk memeluk suatu agama sesuai dengan keyakinan masing-masing dan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah.


DAFTAR PUSTAKA
  • William Montgomery Watt, Fundamnetalime Islam dan Modrnitas, Jakarta: PT RajaGrafido Persada, 1997
  • Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi tentang Fundamentalisme Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2000
  • Karen Armstrong, Islam A Short History Sepintas Sejarah Islam, (Yogyakarta: IKON TERALITERA, 2002
  • Martin E. Marty dan R. Scoot Appleby dikutip dari Benjamin Barber 2002:335 dalam bukunya berjudul “JIHAD vs Mc WORLD,How Globalism and Tribalisn Are Rehaping The World.
--------------------
[1] William Montgomery Watt, Fundamnetalime Islam dan Modrnitas, (Jakarta: PT RajaGrafido Persada, 1997), hlm. 3-4.
[2] Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi tentang Fundamentalisme Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2000), hlm. 14.
[3] Karen Armstrong, Islam A Short History (Sepintas Sejarah Islam), (Yogyakarta: IKON TERALITERA, 2002), hlm. 193.)
[4] Harian Al-Fagr,Sabtu 31-03-07
[5] dikutip dari artikel Adi Ekopriyono di WACANA Koran suara Merdeka jum’at 25 februari 2005
[7]ensiklopedy islam,dr abdul mu’im al hafni,soegeng sarjadi syndicate
[8] http://www.apkasi.or.id
[9] http://dear.to//ppi


Makalah atau artikelnya sudah di share, makasih ya !

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Previous
Next Post »
Copyright © 2012 Aneka Makalah - All Rights Reserved