Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Makalah Kamus Hadist


Munazarah

Munazarah adalaha salah satu factor penyangga dinamisme dunia akademis Muslim. Pendapat yang berbeda, lengkap dengan segala argumentasi pendukungnya, akan terungkap dengan sendirinya dalam suatu munazarah. Seorang ilmuan dituntut tidaka hanya tahu tentang satu pendapat, tidak pula cukup dengan mengetahui alasan pendukungnya. Dia juga dituntut untuk mengembangkan argument-argumen baru untuk mendukung pendapatnya. Ini akan dapat menjadi sangat perlu manakala dia terlibat dalam suatu munazarah.[1]

Munazarah biasanya dipergunakan sebagai sarana untuk perdebatan mengenai suatu masalah oleh para ulama. Menurut Syalabi, khalifah Muawiyah sering mengundang para ulama berdiskusi diistananya demikian juga khalifah Al-Makmun dari dinasti Abbasyiah. Di luar istana munazarah ini ada yang dilaksanakan secara kontiniu dan spontanitas bahkan ada berupa kontes terbuka dikalangan ulama untuk model ini biasanya hanya dipakai untuk mencari popularitas ulama saja.[2]

Muzakarah

Muzakarah merupakan inovasi dari murid-murid yang belajar hadits. Muzakarah ini diseleggarakan sebagai sarana untuk berkumpul dan saling mengingat dan mengulang pelajaran yang sudah diberikan sambil menunggu kehadiran guru. Pada perkembangan berikutnya muzakarah ini dibedaka berdasarkan materi yang didiskusikan yaitu meliputi sanad hadis, materi hadits, perawi haidts, hadits-hadits dhoif, dan korelasi hadis dengan ilmu-ilmu lainnya.[3]

Munazarah adalah salah satu wujud formal dari kebebasan akademis di kalangan Muslim klasik adalah seni munazarah. Munazarah (debat terbuka) tidak saja dipraktekkan secara luas, malah menjadi semacam criteria kualitas keilmuan. Munazarah berfungsi sebagai arena penajaman pandangan dan pembuktian kekuatan dalil yang dimiliki seorang ilmuan dalam mendukung pandangannya. Melalui munazarah, kebebasan berpendapat memperoleh medium formal yang diakui oleh kalangan ilmuan. Para syaikh bahkan menganjurkan mahasiswa senior mereka untuk terlibat dalam munazarah, sesamanya, maupun dengan yang lain. Aspek penting dari munazarah ini adalah bahwa pelaksanaannya hanya bermanfaat jika didasari oleh sikap keterbukaan terhadap perbedaan pendapat. Kebenaran mestilah menjadi tujuan utama dari keseeluruhan proses. Sebagian ulama mengkritik munazarah, karena potensinya untuk menimbulkan pertentangan dalam artian negatif. Sayang sekali bahwa tradisi ini kemudian pupus dalam sejarah intelektualisme Muslim, hingga hampisr tidak lagi dikenal pada zaman sekarang.[4]


Rihlah Ilmiah

Rihlah ilmiah digunakan untuk setiap perjalanan guna menuntut ilmu, mencari tempat belajar yang baik, mencari guru yang lebih otoritatif atau juga perjalanan seseorang ilmuan keberbagai tempat, apakah dia secara formal melakukan aktivitas formal akademis atau tidak. Dengan demikian rihlah ilmiah ini bias saja mencakup sebuah perjalanan yang memang direncanakan untuk tujuan ilmiah (belajar,mengajar, berdiskusi, mencari kitab, dan lain-lain), atau perjalanan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ilmuan.[5]

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa informasi tentang beberapa ulama muslim terdahulu yang mempunyai mobilitas dan dinamisme.[6]

1. Abu Hamid Al-Ghazali (450/1058-505/1111)

Ilmuan multi disipliner yang sanagt popular ini lahir pada tahun 1058 di Tus pada masa yang masih dini dia telah merantau ke Jurjan 1073 kemudian setelah petualangan di daerah Khurasan dia diketahui menjadi guru besar Madrasah Nizamiyah di Bagdad pada tahun 1091, tetapi kemudian dia meninggalkan ibu kota peradaban ini dan pada tahun 1095 memutuskan menuju Damaskus dan di sini, sepanjang 1095 dia mengunjungi Jerusalem, Iskandariyah, lalu ke Madinah dan Mekkah dan kembali lagi ke Damaskus pada tahun 1097 Al-Ghazali telah diketahui kembali ke Bagdad dan kemudian kembali ke kampong halamannya di Tus 1196 dan menjadi guru besar di Madrasah Nizamiyah Nisyapur untuk waktu singkat, akhirnya ia memutuskan untyuk kembali ke kampungnya Tus dan menetap di sana pada tahun 1111.


2. Muhy Al-Din b. ‘Arabi (560/1165-638-1240)

Sufi-filosof Ibn ‘Arabi lahir pada tahun 1165 di Murcia, Andalusia. 1173 pindah ke Seville, kota Andalusia lainnya 1194 dia menyeberangi selat Giblaltar dan diketahui berada di Tunis (Afrika Utara), kemudian pada tahun 1195 di Fez (Afrika Utara), 1199 dia menyinggahi Kordova dan Almeria (kembali ke Andalusia) pada tahun yang sama (1199), dia menyeberang kembali ke Tunis (Afrika Utara); 1202, menuju ke Timur; Kairo (Mesir); 1202, Jerussalem (Palestina); 1202-1204 lebih jauh dari Timur lagi, Mekkah (Hijaz); sepanjang 1204-1205, menjelajahi berbagai kota penting Bagdad (Irak), Mosul, Malatya; 1204-1209, Konya (Anatolia); 1205-1209, Kairo Jerussalem, Mekkah; 1211, Bagdad; 1212, Aleppo 1215, Aksaray. Sivas (Anatolia); 1216-1229, Malatya; 1229-1240, periode akhir dari petualangannya dihabiskan di Damaskus hingga dia wafat.


3. ‘Abd Al-Rahman b. Khaldun (732/1332-808/1406)

Ilmuan yang sangat terkenal karena bukunya Al-Muqaddimah ini lahir pada tahun 1332 di Tunis Afrika Utara; 1349 dia diketahui pindah ke salah satu kota intelektual afrika Utara, Fez; 1352 ke Biskarah; 1353 pindah ke Bijatah; 1354 kembali ke Fez untuk beberapa lama; 1362 dia menyeberangi Giblaltar menuju kota Andalusia, Granada; 1365, untuk kedua kalinya dia ke Bijayah; 1366, untuk kedua kalinya dia ke Biskarah, tetapi pada 1327 tokoh kita ini kembali dilaporkan di Fez; 1975 untuk waktu yang singkat dia kembali ke Granada, diseberang selat, namun pada tahun ayng sama dia menuju frenda hingga 1379; 1379-1382 Ibnu Khaldun kembali ke kota kelahirannya Tunis, sebelum memutuskan untuk rihlah kembali menuju arah timur; 1382 dia diketahui telah pindah ke Kairo, kota peradaban lainnya yang dia tempati cukup lama; 1400, dia memulai perjalanan singkat lebih ke timur lagi, kali ini dia ke Damaskus dan terus menuju Hijaz; dari perjalanan ke Hijaz dia memutuskan untuk kembali ke Kairo, dan hidup di sana hingga ajal menjemputnya pada 1406.


4. Al-Sayyid Al-Syarif Al-Jurjani (740/1339-816/1413)

Ilmuan ini lahir pada tahun 1339 disebuah kota kecil Taju, Jurjan, sebelah tenggara laut Kaspia; pada tahun 1365 dia diketahui telah merantau ke Heart; lalu pada tahun 1368 ke Kirman; untuk selanjutnya, 1371 ke Kairo, kota yang merupakan idaman ilmuan zamannya; dari sana kemudian ke barat menuju Konstatinopel 1378 ke Samarkhan, setelah beberapa lama, pada 1404, dia kembali ke Syiraz dan menetap di kota ini hingga wafatnya tahun 1413.

Dari penjelasan di atas, bukan berarti bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim dari belhan dunia lain tidak aktif dalam rihlah ilmiyah.


_____________________
[1]Hasan Asari, Menguak Sejarah Mencari Ibrah, Risalah Sejarah Sosial-Intelektual Muslim Klasik, (Bandung : CitaPustaka, 2006 ), h. 185

[2] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Rajawali Pers ,2004)

[3] ibid

[4]Hasan Asari, Modernisasi Islam (Tokoh Gerakan Dan Gagasan), (Bandung : Cita Pustaka , 2002), h.20

[5] Hasan Asari, Menguak Sejarah Mencari Ibrah, h. 198.

[6]Ibid, h. 202

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis