Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Mainbitcoin

Makalah Integrasi Ilmu Pengetahuan Dan Islam: Perspektif Filsafat


Makalah Integrasi Ilmu Pengetahuan Dan Islam: Perspektif Filsafat
Oleh: Umi Mukaromah

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Islam, ilmu merupakan salah satu perantara untuk memperkuat keimanan. Iman hanya akan bertambah dan menguat, jika disertai ilmu pengetahuan. Seorang ilmuan besar, Albert Einsten mengatakan bahwa “science without religion is blind and religion without science is lame”, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam pandangan Islam, ilmu agama dan umum sama saja berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari setiap ilmu pengetahuan. hal ini dikarenakan Al-Qur’an merupakan sumber dan rujukan utama, ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama.

Pemikiran tentang integrasi atau islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini dilakukan oleh kalangan intelektual muslim. Secara totalitas, hal ini dilakukan di tengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa umat Islam akan maju dapat menyusul dan menyamai orang-orang Barat apabila mampu mentransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan. Di samping itu terdapat asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari negara-negara Barat dianggap sebagai sekuler, oleh karenanya ilmu tersebut harus ditolak, atau minimal ilmu tersebut harus dimaknai dan diterjemahkan dengan pemahaman secara islami.

BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Integrasi Ilmu Pengetahuan Dan Islam: Perspektif Filsafat

A. Integrasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur, serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Ilmu menurut Al-Qur’an adalah rangkaian keterangan yang bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui Rasul-Nya atau langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai ciptaan Allah yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya. Berbeda dengan pengertian di atas, Harold H. Titus sebagaimana termaktub dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan” karya Mahfud Junaedi, menjelaskan bahwa science atau ilmu adalah

1. A method of obtaining knowledge that is objective and veriviable;
2. A body of systematic knowledge built up through experimentation ang observation and having a valid theoretical base.

Dari definisi yang dikemukakan tersebut dapat dipahami bahwa “ilmu” meliputi tiga kompenen yang saling bertautan dan merupakan kesatuan logis yang mesti ada serta berurutan. (1) ilmu harus diusahakan dengan aktifitas manusia, (2) aktifitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan (3) akhirnya aktifitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Bagan di atas menggambarkan kesatuan dan interaksi antara aktivitas, metode, dan pengetahuan, sebagaimana digambarkan oleh The Liang Gie.[1][1]

Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu. Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan sesuatu yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Agama merupakan sumber ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran agama. Di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 750 ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan itu merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Marpuji Ali dalam karyanya yang berjudul “Buku Kultum: Integritas Iman, Ilmu, dan Amal” menjelaskan bahwa penopang utama kegemilangan peradaban ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban Barat berkembang dari perpaduan unsur-unsur kebudayaan-kebudayaan, filsafat, nilai-nilai, dan aspirasi Yunani dan Roma Kuno, fusi dengan agama Yahudi, agama Kristen, peradaban Barat. Perkembangan dan pembentukan lebih lanjut dilakukan oleh bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik, Nordik, dan Salvik.

1. Esensi Sains Islam
Wawasan tentang Dzat berkuasa atas segala sesuatu, yang telah dihilangkan dari “Konsepsi Barat” tentang sains merupakan kritik fokus utama dalam teori Islami. Sesungguhnya faktor pembeda cara berpikir Islami dari cara Barat ialah perihal keyakinan yang fundamental dari cara berpikir yang pertama, bahwa semua filsuf muslim, baik dari dunia Islam di Timur yang berpusat di Baghdad, Irak, seperti al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, para tokoh Ikhwan as Safa, Ibnu Maskawaih, dan Ibnu Sina, maupun dari dunia Islam belahan Barat yang berpusat di Cordova, Spanyol seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd, menyakini bahwa Allah berkuasa atas segala hal dan bahwa segala sesuatunya, termasuk pengetahuan, berasal dari satu-satunya sumber yang tidak lain, adalah Allah.


2. The Unity of Knowledge atau Integrasi Keilmuan
Lima ayat pertama surah Al-Alaq, menunjukkan perintah Allah terkait dengan sains, perintah membaca, menelaah, menghimpun pengetahuan dengan kalimat iqra’ bismi rabbik, menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekedar memerintahkan untuk membaca, tetapi “membaca” adalah lambang dari segala yang dilakukan oleh manusia baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Bisa aktif mengkaji sifat-sifat Allah, sifat Allah yang disebutkan dalam kitab suci merupakan sumber otentik pengetahuan tentang Allah. Salah satu sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an ialah Al-Alim, yang berarti “yang memiliki sains”. Karena memiliki sains yang membedakan dari malaikat dan dari semua makhluk lainnya, dan melalui sains orang dapat menggapai kebenaran, dan kebenaran adalah nama lain dari Yang Riil dan Al-Haqq.

Dari dimensi Al-Haqq sebagai sumber semua kebenaran. Sudah barang tentu Al-Qur’an sebagai mediumnya, filsafat Islam berupaya menjelaskan cara Allah menyampaikan kebenaran hakiki, dengan bahasa pemikiran yang intelektual dan rasional. Tujuan seorang filsuf, menurut Al-Kindi ialah “mendapatkan kebenaran dan mengamalkannya, sedangkan bagian paling luhur dari filsafat adalah filsafat pertama, yakni mengetahui kebenaran pertama (Tuhan) dinamakan filsafat pertama karena dalam pengetahuan tentang sebab pertama itu terkandung pengetahuan tentang semua bagian lainnya dari filsafat”. Dengan demikian The Unity of Knowledge atau kesatuan ayat Qur’aniyyah dengan ayat Kawniyyah, merupakan integrasi keilmuan yang dapat menjadi sarana penting meningkatkan keimanan dan haqqa tuqatih (taqwa yang sebenar-benarnya).[2][2]

Agama Islam memperhatikan pentingnya iman sama dengan pentingnya ilmu pengetahuan.

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Al-Baqarah: 255).

Allah juga memuliakan para ahli ilmu pengetahuan dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (۱۱)

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadalah: 11)

Kebudayaan Islam, pada masa jayanya dan masa perkembangannya memberikan warisan yang membanggakan pada umat manusia, berdasarkan atas observasi dan berpikir induktif, klasifikasi dan verifikasi serta konfirmasi. Orang Eropa menerima warisan tersebut, lalu melakukan loncatan-loncatan yang jauh ke depan dan melengkapi kegiatan penelitian-penelitian dengan alat-alat canggih.[3][3]

Teori pengetahuan menurut Islam tidak hanya menonjolkan sudut yang khusus dari mana kaum Muslim memandang ilmu, akan tetapi juga menekankan keharusan yang mendesak untuk mencari ilmu. Seperti diketahui perintah Allah yang pertama kepada Nabi melalui wahyu pertama yang diterimanya adalah “bacaan dengan (menyebut) nama Allah”, dan dari sudut pandang Islam, membaca itu bukan hanya pintu menuju ilmu, akan tetapi juga cara untuk mengetahui dan menyadari Allah. Oleh sebab itu, ilmu mempunyai dua tujuan, yakni tujuan Ilahi dan tujuan duniawi. Ilmu berfungsi sebagai pertanda Allah, sebab orang yang mempelajari alam dan proses-prosesnya dengan seksama dan mendalam akan menjumpai banyak kasus yang menunjuk kepada tangan yang tidak tampak, yang membina dan mengawasi semua kejadian di dunia.[4][4]

B. Ruang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang dikumpulkan dengan metode ilmiah (scientific methods). Dalam penjelasan lain, ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan yang sistematis yang dibangun melalui eksperimentasi dan observasi. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan hanya akan terwujud jika diusahakan, dibangun, dan dikembangkan. Ilmu tidak akan lahir dengan berpangku tangan. Sebuah statemen dalam dunia pengembangan ilmu, “tanpa ada penelitian, ilmu pengetahuan tidak akan bertambah maju”. Penelitian dalam konteks ini sebagai dasar untuk meningkat kembangkan ilmu pengetahuan.

Perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan mensyaratkan dan memutlakkan adanya kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian merupakan upaya untuk merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan jalan menemukan fakta-fakta dan memberikan penafsiran yang benar. Tetapi lebih dinamis lagi, penelitian juga berfungsi dan bertujuan inventif, yakni terus-menerus memperbaharui kesimpulan dan teori yang telah diterima berdasarkan fakta-fakta dan kesimpulan yang telah ditemukan.

Terkait dengan permasalahan ini, muncul beberapa pertanyaan yang koheren dengan pengembangan ilmu agama Islam. Apakah ilmu agama Islam juga tidak akan berkembang bahkan surut ke belakang jika tanpa penelitian? Apakah penelitian mutlak diperlukan untuk pengembangan ilmu agama Islam? Apakah ilmu agama Islam dapat diteliti secara ilmiah sebagaimana layaknya ilmu-ilmu lain? Tradisi pemikiran Islam abad pertengahan (periode klasik) menunjukkan bahwa ilmu-ilmu agama berhasil dikembangkan oleh ulama-ulama zaman klasik. Prestasi yang cukup membanggakan itu adalah hasil dari penelitian-penelitian yang tidak kenal lelah.

Pada tahap paling awal memang harus disadari benar bahwa penelitian agama sebagai usaha akademis berarti menjadikan agama sebagai sasaran penelitian. Secara metodologis agama haruslah dijadikan sebagai suatu fenomena yang riil, betapapun mungkin terasa agama itu abstrak. Dari sudut ini, maka dapat dibedakan tiga kategori agama sebagai fenomena. Yang menjadi subject matter penelitian, yaitu (1) agama sebagai doktrin; (2) dinamika dan struktur masyarakat yang dibentuk oleh agama; dan (3) sikap masyarakat terhadap doktrin. Kategori pertama, mempersoalkan substansi ajaran, kategori kedua, meninjau agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah, dan kategori ketiga, berusaha untuk mengetahui corak penghadapan masyarakat terhadap simbol dan ajaran agama.[5][5]

Ilmu pengetahuan tepatnya kebenaran ilmu pengetahuan adalah “it’s not final truth”. Ia bukan wahyu (kitab suci) yang kebenarannya adalah final dan absolut. Ilmu pengetahuan, dengan demikian bukan merupakan suatu monument abadi, yang sudah paten dan tidak boleh dikaji ulang. Ilmu (pengetahuan) adalah suatu proses yang terus menerus, “tidak akan pernah berakhir” (a never ending journey), ia akan terus dan selalu berproses selama kehidupan ini exist. Suatu upaya unik menjadikan ilmu (pengetahuan) agar tetap relevan dengan perkembangan zaman adalah pengembangan ilmu itu sendiri. Hal yang demikian koheren dengan ilmu agama Islam. Pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dapat dibedakan ke dalam tiga strategi, yang oleh Prof. Kunto dijelaskan sebagai berikut:

1. Ilmu dikembangkan dari konteks atau tertutup untuk ilmu dengan semboyannya “science for the sake of science only”, dalam konteks ini ilmuwan berada dalam menara gading dan tidak berpengaruh untuk siapapun dan apa yang ada di masyarakat. Sehingga yang terjadi adalah nilai-nilai komunalisme, universalisme yang tidak lebih dari keterkaitan dan keterkungkungan yang tiada batas hentinya.

2. Ilmu lebur dalam konteks, dengan demikian ilmu cenderung untuk berubah-ubah terkadang menjadi ideologi yang diabadikan kepada tercapainya tujuan tertentu, dengan semboyannya asimilasi, adaptasi, dan toleransi. Sehingga ilmu tidak mempunyai identitas dan jati diri yang spesifik adanya dan perannya adalah semu.

Dalam konteks ini, maka filsafat mengabadi pada agama sebagaimana pada abad pertengahan. Oleh karena itu kebenaran dan kenyataan di bawah hegemoni kelompok tertentu.

3. Ilmu dan konteks saling berpengaruh, melengkapi serta saling membutuhkan. Dalam konteks ini terjalin adanya hubungan fungsional science, etika, agama, seni, dan bahkan keterjalinan antara disiplin ilmu yang satu dengan lainnya. Konteks ini menjunjung tinggi “science for the sake of human progress”, ini adalah pendirinya.

Nampaknya strategi (konteks) ketiga inilah yang dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan agama Islam secara utuh dan konsisten. Strategi pengembangan ilmu agama Islam ini harus tetap berlandaskan pada dasar filsafat ilmu pengetahuan –tiga tiang penyangga ilmu pengetahun- yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Di samping dasar filosofis pengembangan ilmu agama Islam juga harus memperhatikan aspek operasional yaitu aspek penerapan teori-teori ilmu agama Islam dalam dunia empiris praktis di masyarakat.[6][6]. Islam menyamakan dirinya dengan ilmu pengetahuan. Islam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai syarat ibadah. Islam sangat memuji orang yang tekun mencari pengetahuan, karena dalam Islam ilmu disebut sebagai cahaya kebenaran dan diyakini sebagai kunci kesuksesan dunia dan akhirat.

Kamsul Abraha menilai bahwa sejarah peradaban manusia tidak pernah mengenal satu agama pun yang menaruh perhatian yang begitu besar dan sempurna terhadap ilmu pengetahuan selain Islam. Jadi prinsipnya Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dengan tetap mengoreksi terhadap cara-cara atau metode yang dianggap salah dalam menggali ilmu pengetahuan tersebut. Dan akal sebagai media atau alat untuk menggali pengetahuan.[7] Ilmu selalu mengalami pembaharuan dan perbaikan sesuai dengan kaidah atau norma kemajuan. Ilmu selalu berada antara yang kurang menjadi sempurna, yang kabur menjadi jelas, yang bercerai berai menjadi terpadu, yang keliru menjadi lebih benar dan yang masih rekaan menjadi lebih yakin.

Dengan demikian tidak diharapkan dari kitab-kitab akidah untuk menyesuaikan diri dengan masalah-masalah ilmu pengetahuan. Setiap kali munculnya masalah yang baru di dunia ilmu pengetahuan dalam suatu generasi manusia, maka tidaklah sepatutnya bagi umat Islam untuk berupaya menafsirkan atau memperlihatkan dari kitab sucinya perincian apa yang telah diperoleh dalam ilmu itu.[8][8] Tidak ada suatu keutamaan yang mengangkat martabat seseorang manusia selain daripada keutamaan ilmu. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (۱۱)

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadilah:11)

Jadi, Al-Qur’an tidak berlawanan atau bertentangan dengan ilmu, terutama ilmu alam dengan pengertian yang sejalan dengan ajaran akidah. Kelebihan Islam yang terbesar adalah bahwa ia membuka bagi umat Islam pintu-pintu ilmu pengetahuan seraya menghimbau mereka untuk masuk mencari dan mengembangkan ilmu itu. Bukanlah kelebihannya dalam membuat mereka malas mencari ilmu dan melarang mereka memperluas penelitian dan penalaran karena semata-mata mereka menyangka bahwa mereka telah memiliki semua jenis ilmu. Umat Islam dihimbau oleh Al-Qur’an untuk maju dalam kehidupan dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah di bumi ini.[9][9]

C. Islamisasi Ilmu
Menurut Zianudin Sardar, islamisasi ilmu pengetahuan adalah suatu usaha untuk menciptakan ilmu pengetahuan Islami yang berdasarkan pada nilai-nilai Islam yang terlepas dari pengaruh ilmu pengetahuan yang ada di Barat. Pengertian islamisasi ilmu pengetahuan juga disampaikan oleh Abudin Nata, menurutnya islamisasi dalam makna yang luas menunjukkan pada proses pengislaman, di mana objeknya adalah orang atau manusia, bukan ilmu pengetahuan maupun objek lainnya. Dari sini bisa diketahui bahwa islamisasi ilmu pengetahuan merupakan upaya untuk membangun paradigma keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, baik itu secara ontologis, epistimologis, maupun aksiologisnya. Berdasarkan analisis Ismail Razi Al-Faruqi, upaya mengatasi masalah umat Islam adalah dengan islamisasi ilmu pengetahuan, yang ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memadukan sistem pendidikan Islam. Dikotomi pendidikan umum dan agama harus dihilangkan.
2. Meningkatkan visi Islam dengan cara mengukuhkan identitas Islam melalui dua tahap; pertama, mewajibkan bidang studi sejarah peradaban Islam; kedua, Islamisasi pengetahuan.
3. Untuk mengatasi persoalan metodologi ditempuh langkah-langkah berupa penegasan prinsip-prinsip pengetahuan Islam sebagai berikut:

a) The Unity of Allah
b) The Unity of Creation
c) The Unity of Truth and Knowledge
d) The Unity of Life
e) The Unity of Humanity

4. Menyusun langkah kerja sebagai berikut:

a) Menguasai disiplin ilmu modern
b) Menguasai warisan khazanah Islam
c) Membangun relevansi yang Islami bagi setiap bidang kajian atau wilayah penelitian pengetahuan modern
d) Mencari jalan dan upaya untuk menciptakan sintesis kreatif antara warisan Islam dengan pengetahuan modern
e) Mengarahkan pemikiran Islam pada arah yang tepat yaitu sunnatullah

5. Penguasaan disiplin ilmu modern dengan cara membaginya ke dalam kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problem dan tema yang dominan di Barat.

6. Survei disiplin ilmu yang dibuat dalam bentuk esai untuk mengetahui garis besar asal-usul dan sejarah perkembangan maupun metodologinya, perluasan visi bidang kajiannya, dan kontribusi utamanya yang memperluas daya jangkaunya.

7. Menguasai warisan khazanah Islam sebagai titik tolak Islamisasi pengetahuan.
8. Penyajian disiplin ilmu Islam yang relevan dan khas Islam.
9. Penilaian kritis atas warisan Islam terhadap disiplin khazanah ilmu.
10. Melakukan survei atas masalah pokok umat Islam.
11. Melakukan analisis-sintetik kreatif. Ini hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai disiplin ilmu, warisan Islam dan sekaligus pula melakukan analisis kritis terhadap keduanya.

12. Menata ulang disiplin ilmu di bawah frame work Islam: menyediakan text book untuk universitas.
13. Melaksanakan berbagai konferensi, seminar, workshop dan sebagainya sebagai faculty training.[10][10]

Jadi sebetulnya mengislamkan ilmu pengetahuan bukanlah langkah konfrontataif terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang telah berkembang dewasa ini. Islamisasi ilmu pengetahuan berarti memurnikan kembaliilmu pengetahuan atau mengembalikan esensi ilmu pengetahuan itu sendiri. Karena sebagaimana dinyatakan oleh para ahli sejarah bahwa peradaban Barat dewasa ini yang dipandang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan justru pada awalnya belajar dari Islam.

BAB III
PENUTUP

Makalah Integrasi Ilmu Pengetahuan Dan Islam: Perspektif Filsafat

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan sesuatu yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Agama merupakan sumber ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran agama.

Islam menyamakan dirinya dengan ilmu pengetahuan. Islam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai syarat ibadah. Islam sangat memuji orang yang tekun mencari pengetahuan, karena dalam Islam ilmu disebut sebagai cahaya kebenaran dan diyakini sebagai kunci kesuksesan dunia dan akhirat.

Kebudayaan Islam, pada masa jayanya dan masa perkembangannya memberikan warisan yang membanggakan pada umat manusia, berdasarkan atas observasi dan berpikir induktif, klasifikasi dan verifikasi serta konfirmasi.

Perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan mensyaratkan dan memutlakkan adanya kegiatan penelitian, yaitu upaya untuk merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan jalan menemukan fakta-fakta dan memberikan penafsiran yang benar.

Tradisi pemikiran Islam abad pertengahan (periode klasik) menunjukkan bahwa ilmu-ilmu agama berhasil dikembangkan oleh ulama-ulama zaman klasik dengan prestasi yang cukup membanggakan dari hasil penelitian-penelitian yang tidak kenal lelah.adapun upaya untuk menjadikan ilmu (pengetahuan) agar tetap relevan dengan perkembangan zaman adalah pengembangan ilmu itu sendiri. Hal ini koheren dengan ilmu agama Islam.

islamisasi ilmu pengetahuan merupakan upaya untuk membangun paradigma keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, baik itu secara ontologis, epistimologis, maupun aksiologisnya.

Upaya mengatasi masalah umat Islam adalah dengan islamisasi ilmu pengetahuan, yang ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) Meningkatkan visi Islam dengan cara mengukuhkan identitas Islam, (2) Memadukan sistem pendidikan Islam, (3) Penegasan prinsip-prinsip pengetahuan Islam, (4) Menyusun langkah kerja, (5) Penguasaan disiplin ilmu modern dengan cara membaginya ke dalam kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problem dan tema yang dominan di Barat, (6) Survei disiplin ilmu, (7) Menguasai warisan khazanah Islam sebagai titik tolak Islamisasi pengetahuan, (8) Penyajian disiplin ilmu Islam yang relevan dan khas Islam, (9) Penilaian kritis atas warisan Islam terhadap disiplin khazanah ilmu, (10) Melakukan analisis-sintetik kreatif, (11) Menata ulang disiplin ilmu di bawah frame work Islam.

DAFTAR PUSTAKA
  • Al-Djamali, Fadhil. 1993. Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam. Jakarta: IKAPI.
  • Ali, Marpuji, dkk. 2010. Buku Kultum: Integritas Iman, Ilmu, dan Amal. Magelang: PMW Jateng.
  • Junaidi, Mahfud. 2010. Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan. Semarang: RaSAIL Media Group.
  • Musa, M. Yusuf. 1988. Al-Qur’an dan Filsafat. Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna.
  • Praja, Juhaya S.. 2002. Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam. Jakarta: Teraju.
  • Qadir, C.A. 1988. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam diterjemahkan dari Philosophy and Science in the Islamic World. Jakarta: IKAPI.
  • Qomar, Mujamil. 2012. Merintis Kejayaan Islam Kedua: Merombak Pemikiran dan Mengembangkan Aksi. Yogyakarta: Teras.
Footnote
-----------
[1][1]Mahfud Junaidi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2010), hlm. 4-5.
[2][2]Drs. H. Marpuji Ali, M.SI., dkk, Buku Kultum: Integritas Iman, Ilmu, dan Amal, (Magelang: PMW Jateng, 2010), hlm. 49-51.
[3][3]Prof. Dr. Fadhil Al-Djamali, Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam, (Jakarta: IKAPI, 1993), hlm. 129-130.
[4][4]C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam diterjemahkan dari Philosophy and Science in the Islamic World, (Jakarta: IKAPI, 1988), hlm. 16.
[5][5]Mahfud Junaidi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2010), hlm. 34-36.
[6][6]Mahfud Junaidi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2010), hlm. 38-39.
[7][7]Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag., Merintis Kejayaan Islam Kedua: Merombak Pemikiran dan Mengembangkan Aksi, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 20-21.
[8][8]Prof. Dr. M. Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, (Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna, 1988), hlm. 66.
[9][9]Prof. Dr. M. Yusuf Musa, Al-Qur’an dan Filsafat, (Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna, 1988), hlm. 70.
[10][10]Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam, (Jakarta: Teraju, 2002), hlm. 73-74.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis