Aneka Ragam Makalah

Makna kisah Al-quran dalam sejarah



Jika bermanfaat, Mohon di Share ya !. kalau sempat sumbang tulisannya ya !
Makna kisah dalam alquran merupakan sebuah wacana dan wahana bagi manusia setelahnya untuk lebih lanjut menganalisis apa hikmah dibalik itu semua. kisah-kisah dalam alquran mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini. kisah dalam alquran akan menjawab sejumlah pertanyaan tentang kisah terdahulu. kisah dalam alquran menjadi iktibar bagi manusia sesudahnya. dan kisah dalam alquran akan menjadikan manusia mengerti akan kehidupan yang ditinjau dari sejarah.

KISAH-KISAH DALAM ALQURAN Oleh: Isnawati
Pendahuluan

Salah satu sisi I’jaz Alquran adalah bila dilihat dari ilmu balaghah. Pengaturan kata, diksi dan pertautan kata dengan yang lainnya dikatatakan memiliki susunan paling indah dalam bahasa Arab. Tidak diragukan lagi memang bahwa Alquran turun pada bangsa yang begitu mengapresiasi terhadap sastra. Sastra dalam Alquran terlihat dalam bentuk-bentuk perumpamaannya, majaznya, radd I’jaz alas shudur dan sebagainya. Salah satu bentuk yang jugha sangat kental terlihat pada Alquran adalah cerita. 

Cerita merupakan sebuah bentuk sastra berupa prosa. Cerita tidaklah ditekankan kepada kebenaran informasi akan tetapi lebih kepada pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita tersebut. Cerita yang bagus memang merupakan sebuah saran yang efektif komunikasi dalam menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamya. Fakta ini diperalat oleh Alquran dalam menyampaikan menekankan pesan-pesan moral pada umumnya keopada bangsa Arab. Makalah ini akan mencoba menguraikan tetang kisah-kisah dalam Alquran, baik pengertiannya, macam-macamnya dan bentuknya, bentuk pengungkapannya, tujuannya dan beberapa perbedaanya dengan bentuk kisah lain.


B. Pengertian Qashas al-Qur’an.


Menurut bahasa, kata qashas berarti mengikuti jejak atau menelesuri bekas, atau cerita/kisah. Secara etimologis, qisshah merupakan bentuk mufrad, sedangkan bentuk jama’nya adalah qashash. Kata kerja qa¡¡a-yaqu¡¡u berarti mengikutinya langkah demi langkah
Arti etimologis qissah dapat dilihat pada Alquran surah al-Qasas ayat 11:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya (QS al-Qasas: 11).

Kata qassa juga berarti berita atau kisah seperti yang terdapat pada surah Yusuf ayat 3:
نحن نقص عليك أحسن القصص بما أوحينا إليك هذا القرءان وإن كنت من قبله لمن الغافلين
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Sedangkan pada surat Ali Imran ayat 62, qissah diartikan sebagai mengikuti yang benar:
إن هذا لهو القصص الحق وما من إله إلا الله وإن الله لهو العزيز الحكيم
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Qa¡¡a juga bisa berarti menceritakan mimpi, seperti dalam firman Allah Swt:

قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ(5)
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."(QS Yusuf: 5).

Di dalam Alquran, kata qi¡¡ah juga pernah diteruskan dengan kata al-¥aqq yang berarti kisah yang benar, seperti dalam surah Ali Imran ayat 62:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ; إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(62)

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Ali Imran: 62).

Menurut istilah, qasasul Qur’an berarti kisah-kisah yang ada di dalam Alquran yang menceritakan ihwal ummat-ummat terdahuluy dan nabi-nabi mereka serta peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang.

Di dalam Alquran banyak diceritakan tentang ummat-ummat terdahulu dan ceritera para nabi dan rasul, ihwal bangsa-bangsa dan kaum terhadahulu. Selain itu Alquran juga menceritakan tentang hal ihwal permulann penciptaan manusia dan kehidupannya, menerengkan kenikmatan syurga dan azab neraka.

Sebuah defenisi yang bagus adalah defenisi yang diungkapkan oleh Muhammad Kamil Hasan bahwa qi¡¡ah secara terminologi adalah instrumen untuk mengungkapkan kehidupan atau kejadian-kejadian tertentu dari kehidupan yang mencakup satu atau beberapa peristiwa yang memiliki variabel dan fragmentasi awal dan akhir.

Mann±’ Khal³l al-Qa¯¯±n memberikan defenisi yang lebih rinci bahwa yang dimaksud dengan qi¡¡ah dalam Alquran adalah cerita tentang keadaan ummat pada masa lalu, nabi-nabi terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Jelaslah bahwa kidah di dalam Alquran cerita peristiwa yang terjadi pada amsa lampau maupun sekarang dan masa yang akan datang.

C. Perbedaan Qissah Dengan Sejarah.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia , W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Sedangkan menurut Taufik Abdullah, sejarah adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. Sehingga menurut ilmu ini segala peristiwa adalah fakta atau realitas yang bersifat empiris-obyektif dan dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya dan siapa yang melihat peristiwa tersebut.

Jadi penekanan pada sejarah adalah fakta, artinya sejarah merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi. Dengan begitu salah satu unsur yang paling dasar dalam sejarah adalah pembuktian bahwa memang peristiwa tersebut memang terjadi, baik dengan saksi yang melihatnya adatupun dengan bentuk bukti lain seperti tulisan dang sebagainya.

Sementara itu kisah tidaklah mesti sebuah fakta, bisa saja berupa fiktif. Sifatnya yang berupakan bagian dari sastra menjadikan kisah harus dipandang terlepas dari apakah ia memang terjadi atau tidak. Tujuan utama kisah adalah penyampaian pesan-pesan kepada pendengar. Jadi perbedaan kisah dengan sejarah dapat dilihat kepada:
1. Fakta.
2. Tujuan.
3. Sifat.

D. Kisah Dalam Tradisi Arab Jahiliyah dan Perbedaannya Dengan Kisah Alquran.

Bangsa Arab adalah bangsa yang memberikan apresiasi tinggi kepada bahasa, bagi mereka bahasa adalah kehormatan yang harus dijaga. mereka mempunyai kebiasaan mengirimkan anak-anak mereka untuk mempelajari bahasa kepedalaman. Apresiasi tinggi bangsa Arab tersebut kemudian akan kondusif untuk kemajuan sastra dengan segala bentuknya termasuk kisah atau cerita, meskipun bentuk sya’ir adalah yang paling populer.

Karya sastra Jahiliyah paling disenangi biasanya berkisar pada hal, benda atau kejadian yang kasat mata, seperti wanita, unta, raja atau perang, maka tak heran jika puisi yang mereka gubah haruslah menggunakan kata-kata atau ungkapan hiperbola -yang tentu tidak terlepas dari unsur kebohongan- untuk memperindah karyanya.

Beberapa perbedaan mendasar yang akan ditemukan dalam membandingkan antara kisah-kisah Arab Jahiliyah dengan kisah-kisah Alquran adalah perbedaan dasar pada tema, bentuk ungkapan dan tujuan. Lebih detil lagi perbedaan itu dapat dikatakan sebagai berikut:
  • Tema-tema kisah-kisah Arab Jahiliyah berkutat sekitar kesenangan maupun kebanggaan hidup, seperti wanita cantik, unta yang indah, kuda dan pahlawan yang gagah.berkisar pada kehidupan sehari-hari, sementara Alquran mempunyai tema yang variatif, mulai dari kehidupan, sejarah, tema abstrak, akhirat dan sebagainya.
  • Objek-objek cerita Arab hanya berkisar kejadian atau hal-hal yang kasat mata, seperti kuda, perang, wanita, istana, taman dan sebagainya, semantara itu Alquran datang dengan tema kaum-kaum terdahulu yang tidak tersentuh oleh para sastrawan Arab.
  • Pola pengungkapan kisah Arab Jahiliyah adalah dengan menambahi keindahan karya dengan cerita-cerita yang menarik yang kemungkinan besar adalah bualan, sementara Alquran, selain objekyang menarik, bahasanya juga tertata dengan indah.
  • Kisah Arab biasanya hanya merupakan hiburan tanpa ada pesan mulia yang ingin disampaikan kepada pembaca, sementara semua kisah dalam Alquran selalu membawa pesan-pesan nilai mulia. 

E. Macam-Macam Kisah Dalam Alquran

Ada beberapa macam kisah yang dapat ditemukan dalam Alquran. Macam-macam kisah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
  • Kisah tentang peristiwa yang ghaib, baik pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Yang dimaksud dengan ghaib di sini adalah kisah yang tidak bisa dinalar dengan panca indera.
  • Kisah yang benar-benar terjadi (¬Al-Qi¡¡ah al-W±qi’ah) yakni kisah yang benar-benar terjadi pada masa lampau agar manusia dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut.
  • Kisah yang bersifat simbolik (Al-Qi¡¡ah at-Tam£³liyah). Yakni peristiwa yang diduga pernah terjadi pada suatu masa di suatu tempat tertentu yang ditamsilkan.
  • Kisah historis (Al-Qi¡¡ah at-T±r³khiyah) yakni kisah yang bernuansa historis dengan menggunakan masa atau kisah-kisah yang bersifat kesejarahan yang mengetenghkan tokoh-tokoh dan tempat masanya. 

F. Bentuk Pengungkapan Kisah Dalam Alquran

Ada beberapa bentuk bagaimana Alquran bercerita kepada pembacanya, bentuk-bentuk pengungkapan ini mempunyai maksud tersendiri yang akan terlihat dan diketahui dengan mengkajinya dengan lebih dalam. Beberapa bentuk pengungkapan tersebut adalah:
1. Mengungkapkan kisah tanpa memperhatikan urutan masa kejadian.

Beberapa kisah dapat ditemukan dalam sebuah surat di dalam Alquran, akan tetapi tidak begitu lengkap. Lalu pada surah lain kemudian kisah ini diteruskan. Tampaknya acuan dasar dalam menempatkan kisah seperti ini adalah tujuannya. Tidak jarang Alquran menjelaskan perkembangan sebuah ummat tapi tidak menjelaskan keruntuhannya, dan sebaliknya. Contoh kisah dengan bentuk pengungkapan seperti ini adalah:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ(6)إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ(7)الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ(8)
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,# yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS al-Fajr: 6-8).

Selanjutnya pada ayat 11-14, Allah Swt. menyatakan:

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ(11)فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ(12)فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ(13)إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ(14)
Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,# lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,# karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, # sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.(QS al-Fajr: 6-8).

Dan seterusnya pada ayat lain seperti dalam surah al-Qamar ayat 18-20

2. Dengan mengulangi kisah yang telah dipaparkan sebelumnya.
Tujuan utama pengulangalangan dalam Alquran adalah penekanan akan hal tersebut. Dalam Alquran kita juga akan bannya menemukan kisah-kisah yang diulang. Pengulangan ini baik dalam bentuk yang sama ataupun berbeda menunjukkan betapa pentingnya pesan yang ingin disampaikan dalam kisah tersebut.

Selain itu, pengulangan ini juga bisa dipahami bahwa Alquran ingin menyampaikan pesan yang berbeda dengan kisah yang sama. Karena kisah yang sama yang ditempatkan pada konteks ayat yang berbeda akan menghasilkan pesan yang berbeda pula.

G. Bentuk Pengulangan Kisah dan Tujuannya.

Seperti dijelaskan di atas, bahwa pengulangan merupakan salah satu bentuk penekanan dan uslub Alquran dalam menguraikan sesuatu. Alquran dalam memaparkan sebuah kisah. Ada tiga macam bentuk pengulangan kisah dalam Alquran:

  1. Pengulangan dengan pemusatan terhadap peristiwa atau kisah sepanjang kisah tersebut memenuhi tujuan pengulangannya.
  2. Pengulangan dengan menyertakan nasehat dan ajaran di antara kisah tersebut.
  3. Pengulangan kisah semata dengan beberapa tujuan tertentu.
Secara sederhana pengulangan kisah dalam Alquran bertujuan untuk:
  • Penekanan bahwa sastra Alquran memang sastra paling tinggi. Alquran ingin menunjukkan bahwa Alquran mempunyai cara yang begitu banyak dalam mengungkapkan sebuah kisah yang sama.
  • Untuk membuktikan kelemahan para pujangga Arab, karena pada umumnya mereka hanya mengungkapkan sebuah kisah atau syair hanya dalam sau bentuk ungkapan saja, sementara Alquran bisa mengungkapkan dengan duan macam ungkapan yang berbeda atau bahkan lebih.
  • Untuk menunjukkan perhatian besar pada kisah tersebut.
  • Untuk memberikan pesan yang berbeda atau pengulangan dengan tujuan yang berbeda pula.

H. Tujuan Kisah-Kisah Alquran

Dari beberapa literatur, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Alquran bertujuan untuk:
1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah dan pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi.
2. Menguatkan hati nabi Muhammad dan memperkuat keyakinan kaum mukminin.
3. Mengabadikan jejak para nabi terdahulu.
4. Membuktikan kebenaran informasi yang berasal dari Muhammad.
5. Menarik minat pembaca.
6. Menjelaskan tentang kerasulan kepada ummat.
7. meringankan beban jiwa nabi Muhammad dan para pengikutnya.
8. Menumbuhkan kepercayaan diri dan ketentraman.
9. Membuktikan kerasulan Muhammad dan mu’jizatnya.
penutup dan daftar pustaka
 I. Penutup

Menurut istilah, qasasul Qur’an berarti kisah-kisah yang ada di dalam Alquran yang menceritakan ihwal ummat-ummat terdahuluy dan nabi-nabi mereka serta peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang atau instrumen untuk mengungkapkan kehidupan atau kejadian-kejadian tertentu dari kehidupan yang mencakup satu atau beberapa peristiwa yang memiliki variabel dan fragmentasi awal dan akhir.

Kisah dan sejarah mempunyai perbedaan yang mendasar yakni penekannya terhadap kefaktualan peristiwa tersebut. Terbuktinya sebuah peristiwa merupakan syarat mutlak sejarah, sementara kisah tidak menekankan demikian, kisah merupakan wadah untuk menyampaikan pesan.

Sementara itu, perbedaan mendasar antara kisah-kisah Arab Jahiliyah dengan kisah Alquran adalah perbedaan dasar pada tema, bentuk ungkapan dan tujuan. Kisah-kisah dalam Alquran pada umumnya diungkapkan dalam dua bentuk, yakni tanpa adanya runutan zaman atau dengan pengulangan. Pengulangan kisah dalam Alquran mempunyai tujuan tertentu yang terkait dengan pesan yang dikandungnya. Meskipun ada beberapa tujuan dalam kisah-kisah Alquran, namun pada dasarnya semua tujuan tersebut bermuara kepada pembuktian kerasulan Muhammad dan penguatan mukjizatnya.

Daftar Pustaka

  • Abdullah, Taufik, Sejarah dan Masyarakat.. Jakarta :Pustaka Firdaus, 1987.
  • Al-Khalidi, ¢al±¥ Kisah-Kisah dalam Alquran, jil. 1. Jakarta: GIP, 1999.
  • Al-Qa¯¯±n, Mann±’ Kh±lil, Mab±¥³£ f³ Ul­m al-Qur’±n. Riyad: Maktabah Ma’±rif, 1988.
  • Al-‘Umar³, A¥mad Jam±l, Dir±s±t f³ al-Qur’±n wa as-Sunnah. Kairo: D±r Ma’±rif, 1982.
  • B±q³, Mu¥ammad Fu’±d ‘Abdul, Taf¡³l Ayat al-Qur’±n al-¦ak³m. Jazirah: ‘Isa al-B±b al-Halab³, 1955.
  • Esposito, John L., Dunia Islam Modern I, terj. Eva dkk. Bandung : Mizan, 2002.
  • ¦asan, Mu¥ammad K±mil, al-Qur’±n wa al-Qi¡¡ah al-Had³£ah. Beirut: D±r Bu’­£ al-Ilmiyah, 1970.
  • ¦±kim, M. Baqir, Ulumul Quran, terj. Jakarta: Al-Huda, 2006.
  • Khalil, Munawwar, Al-Qur’an Dari Masa ke Masa. Solo:Ramadhani, 1985.
  • Ma’l­f, Louis, al-Munjid f³ al-Lughah wa al-A’l±m. Beirut: D±r Masyriq, 1986.
  • Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia,Cet.XII. Jakarta :Balai Pustaka,1991.
  • Tauf³k Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Alquran.Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001.


Makalah atau artikelnya sudah di share, makasih ya !

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Previous
Next Post »
Copyright © 2012 Aneka Makalah - All Rights Reserved