Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
 UsiTech

Pendidikan Versi Ibnu Sina


Pendidikan islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas peserta didik, berjutujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaakwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, memiliki etose kerja yang tinggi , berbudi peketi luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya,bangsa dan negara serta agama. Proses tersebut telah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Ilmu pendidikan Islam merupakan prinsip,struktur, metodologi, dan objek yang memiliki karekteristik epistemologi imu Islami. Oleh karena itu, pendidikan Islam sangat bertolak belakang dengan ilmu-ilmu pendidikan umum lainnya. Pengembangan pendidikan Islam adalah memperjuangkan sebuah sistem alternatif yang lebih baik dan relatif dapat memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menyelesaikan semua kebutuhan umat Islam dalam menyelesaikan semua problematika kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari.

Selanjutnya ilmu pendidikan Islam telah diakui sebagai salah satu bidang studi atau kajian Islam. Hal ini terbukti dari adanya Fakultas yang secara khusus membidangi ilmu pendidikan Islam, yaitu fakultas Tarbiyah yang telah berkembang pesat di berbagai Intitusi Agama Islam Negeri seluruh Indonesia dan Perguruan Islam Swasta lainnya.

Dari masa kehadirannya, fakultas Tarbiyah tersebut telah mengkaji ilmu-ilmu pendidikan islam baik dari masa islam klasik hingga masa islam kontemporer,salah satu kajiannya tersebut adalah kajian terhadap pemikiran para tokoh pendidikan Islam.menindak lanjuti kajian tokoh pendidikan Islam tersebut, maka dalam penulisan ini akan memaparkan pemikiran pendidikan salah seorang tokoh yang cukup terkenal baik di dunia Islam maupun di dunia Barat, yaitu Ibnu Sina yang merupakan ilmuwan muslim yang cukup disengani pada masanya.

Dalam makalah ini akan dikemukakan beberapa pemikirannya tentang pendidikan yang meliputi pemikiran tentang tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan, kedudukan seorang guru dan hukuman dalam pendidikan dengan menggunakan pendekatan metode deskriptif.


PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU SINA

A. Biografi kehidupan Ibnu Sina

Sebelum mengetahui bagaimana pendangan pemikiran pendidikan Ibnu Sina, sebaiknya kita mengetahui sejarah perjalanan hidupnya. Hal ini diharuskan mengingat sejarah perjalanan kehidupan seseorang sangat begitu potensi memberikan pengaruh kepada aspek-aspek kehidupannya, karena untuk mengawali makalah ini akan dikemukakan beberapa informasi tentang perjalanan sejarah kehidupan Ibnu Sina.

a. Biografi Ibnu sina

Ibnu Sina yang memiliki nama lengkap ‘Ali al-Husayn Ibn Abdullah. Bagi sebagian penulis terdapat beberapa perbedaan mengenai penyebutan namanya. Sebagai dari mereka mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari bahasa Latin, Aven Sina, dan sebagian lain mengatakan bahwa nama tersebut di ambil dari kata al- Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina. Selain itu pendapat lain juga mengatakan bahwa nama tersebut dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya[1]. Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, sebuah kota kecil dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya bernama Abdullah dari Balkh yang merupakan seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh Ibnu Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Ibunya bernama Satarah yang berasal dari daerah Afshana pula.

b. Kepandaian dan Kecerdasan Ibnu Sina

Ibnu Sina memulai pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya, Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali yang dia pelajari adalah membaca al-Qur’an, setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama Islam seperti Tafsir, Fiqih, Ushuliddin dan lain sebagainya, berkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghapal al-Quran dan menguasai berbagai cabang ilmu-ilmu agama tersebut pada usia yang belum genap sepuluh tahun[2].

Sejarah mencatat sejumlah guru pernah pernah mendidiknya, di antaranya adalah Mahmud al-Massah yang dikenal sebagai ahli Matematika dan menganjur ajaran Isma’iliyah dari India[3]. Kemudian terdapat pula nam Abi Muhammad Isma’il Ibn al-Husyaini yang dikenal dengan az-Zahid dan termasyur sebagai ahli Fiqihbermadzhab Hanafi di Bukhara pada saat itu, dan dari Ialah Ibnu Sina belajar ilmu Fiqih.

Ibnu Sina banyak mempelajari beberapa kitab diantaranya adalah kitab karangan Abi ‘Abdillah al-Nataliy yang berjudul “ Isagogi ”[4] , dan buku karangan Eclides[5] dan al-Magisty[6]. Pada waktu itu Ibnu Sina menerangkan isi-isi buku tersebut kepada gurunya. Ia menunjukakan kecerdasan pikirannya yang mengangumkan,karena ia dapat mengungkapkan secara jelasa sesuai dengan rumus-rumus dan problematika yang ditulis dalam buku-buku tersebut, dimana para gurunya sendiri tidak dapat memahaminya.

Selain itu ia mendalami ilmu-ilmu alam dan teologi, kemudian mempelajari dan mendalami ilmu kedokteran, sehingga praktek sebagai seorang dokter. Pada usianya yang mencapai enam balas tahun, kemasyhurannya telah menyebar luas sampai kepada para ahli kedokteran lainnya, sehingga mereka tertarik mempelajari pengalaman dan berbagai macam teknik penyembuhan yang pernah dilakukan oleh Ibnu Sina.

Dikisahkan bahwa Amir Nuh bin Nasr as-Samani menderita sakit keras, maka Ibnu Sina diminta untuk mengobatinya, dan kemudianpun Amir tersebut sembuh dari penyakitnya. Ia pun diberikan sebuah perpustakaan milik Amir tersebut yang terkenal dengan kelengkapan koleksi buku-bukunya, sehingga pada akhirnya Ibnu Sina banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan tersebut dengam membaca seluruh kitab yang ada didalamnya yang terdiri dari kitab-kitab tentang ilmu-ilmu dasar dari tiap ilmu dan seni, sehingga pada saat usianya delapan belas tahun ia telah dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

c. Karir Ibnu Sina

Mengawali karirnya yang pertama Ibnu Sina mengikuti kiprah orang tuanya, yaitu membantu tugas-tugas amir Nuh bin Mansur. Ia misalnya diminta menyusun kumpulan pemikiran filsafat oleh Abu al-Husain al-Arudi. Untuk ini ia menyusun buku al-Majmu’. Setelah itu ia menulis buku al-Hashil wa al-Mashul dan al-Birr wa al-Ism atas permintaan Abu Bakar al-Barqy al-Hawarizmy[7].

Setelah usianya memasuki dua puluh dua tahun, ayahnya meninggal dunia, dan kemudian terjadi kemelut politik di tubuh pemerintahan Nuh bin Mansur. Kedua orang putera kerajaan, yaitu Mansur dan Abd Malik saling berebut kekuasaan, yang dimenangkan oleh Abd Malik. Selanjutnya dalam pemerintahan yang belum stabil itu terjadi serbuam yang dilakukan oleh kesultanan Mahmud al-Ghaznawi, sehingga seluruh wilayah kerajaan Samani yang berpusat di Bukhara jatuh ke tangan Mahmud al-Ghaznawi tersebut[8].

Dalam keadaan situasi politik yang bagitu ricuh, Ibnu Sina memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Ia pergi ke Karkang yang termasuk ibukota al-Khawarizm, dan di daerah tersebut Ibnu Sina mendapat penghormatan dan perlakuan yang baik. Di kota ini pula Ibnu Sina banyak berkenalan dengan sejumlah pakar para ilmuwan seperti, Abu al-Khir al-Khamar, Abu Sahl ‘Isa bin Yahya al-Masity al-Jurjani, Abu Rayhan al-Biruni dan Abu Nash al-Iraqi. Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan perjalanan ke Nasa, Abiwarud, Syaqan, Jajarin dan terus ke Jurjan. Setelah kota yang ia singgahi terakhir ini juga kurang aman, Ibnu Sina memutuskan pindah ke Rayi dan bekerja pada As-Sayyidah dan puteranya Madjid al-Daulah yang pada waktu itu terserang penyakit, dan membantu menyembuhkannya.

Selang beberapa waktu, Ibnu Sina sina terserang penyakit Colic, dan karena keinginannya yang kuat untuk sembuh, sehingga dikisahkan bahwa pada saat itu Ibnu Sina pernah minta obat sampai delapan kali dalam sehari. Namun sekalipun kondisinya yang memburuk karena penyakit yang ia derita, ia masih saja tetap aktif menhadiri sidang-sidang majelis ilmu di Ishfaha. Kemudian ketika al-Daulah bermaksdu akan pergi ke Hamadan, Ibnu Sina memaksakan ikut dalam rombongan tersebut. Ditengah perjalanan ia kembali diserang penyakit, dan dalam keadaan yang demikian itu ia berkata, segala tenaga pengatur kekuatan tubuhku sudah lumpuh sama sekali, dan segala pengobatan sudah tidak berguna lagi[9]. Karena hal tersebut ia pun kemudian mandi dan bertobat kepada Allah, menyedekahkan segala kekayaannya kepada kaum fakir, memaafkan setiap orang yang pernah menyakitinya, membebaskan para budaknya, membaca al-Quran sehingga khatam tiga hari sekali, sampi ia menghembuskan nafasnya yanag terakhir. Sehingga Ibnu Sina pun wafat pada hari Jum’at bulan Ramadhan apda tahun 428 H, bertepatan dengan tahun 1037 M, dan dimakamkan di Hamadan[10].

d. Karya-Karya Ibnu Sina

Dalam sejarah kehidupannya, Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif dalam menghasilkan berbagai karya buku. Buku-buku karangannya hampir meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan, diantarannya ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik dan sastra arab.

Adapun karya-karyanya sebagai berikut :

1. Kitab Qanun fi al-Thib, yang merupakan karyanya dalam bidang ilmu kedokteran. Buku yang terdiri dari tiga jlid ini pernah menjadi satu-satunya rujukan dalam bidang kedokteran di Eropa selam lebih kurang lima abad. Buku ini merupakan iktisar

pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini di telah diterjemahkan ke bahasa Latin. kitab ini selain lengkap, disusun secara sistematis. Dalam bidang materia medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga - dimana tumbuh-tumbuhan banyak membantu terhadap beberapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak ( miningitis). Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula-mula mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi .

2. Kitab As-Syifa, yang merupakan karnyanya dalam bidang filsafat.

Kitab ini antara lain berisikan tentang uraian filsafat dengan segala aspeknya, dan karena sangat luas cakupannya , maka bermunculan nama-nama terjemahan yang dilakukan oleh para ahli terhadap hasil karya filsafat Ibnu Sina ini. Karya keduanya Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. Kitab ini terdiri dari delapan belas jilid yang berisikan uraian tentang filsafat yang mencakup empat bagian, yaitu: ketuhanan, fisika, matematika, dan logika. Dalam kitab ini juga ditemukan beberapa pemikirannya tentang pendidikan.

3. Kitab An-Najah, yang merupakan kitab yang berisikan ringkasan dari kitab As-Syifa, kitab ini ia tulis untu para pelajar yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu hikmah, selain itu buku ini juga secara lengkap membahas tentang pemikiran Ibnu Sina tentang ilmu Jiwa.

4. Kitab Fi Aqsam al-Ulum al-Aqliyah, yang merupakan karyanya dalam bidang ilmu fisika. Buku ini ditulis dalam bahasa Arab dan masih tersimpan dalam berbagai perpustakaan di Istanbul, penerbitannya pertama kali dilakukan di Kairo pada tahun 1910 M, sedangkan terjemahanny dalam bahasa Yahudi dan Latin masih terdapat hingga sekarang.

5. Kitab Lisan al-Arab, kitab ini merupakan hasil karyanya dalam bidang sastra Arab. Kitab ini berjumlah mencapai sepuluh jilid. Menurut suatu informasi menjelaskan bahwa buku ini Ibnu Sina susun sebagai jawaban terhadap tantangan dari seorang pujangga sastra bernama Abu Mansur al-Jubba’I di hadapan Amir ‘Ala ad-Daulah di Ishfaha[11].

Selain kitab-kitab tersebut masih banyak karyanya yang berjumlah cukup besar, namun untuk mengetahui berapa jumlah buku karya-karyanya tersebut secara pasti sangatlah sulit, mengingat perbedaan tentang sedikit banyaknya data yang digunakan. Namun untuk menjawab hal ini, setidaknya ada dua pendapat. Pertama, dari penyelidikan yang dilakukan oleh Father dari Domician di Kairo terhadap karya-karya Ibnu Sina, ia mencatat sebanyak 276 (dua ratus tujuh puluh enam) buah. Kedua, Phillip K.Hitti dengan menggunakan daftar yang dibuat al-Qifti mengatakan bahwa karya-karya tulis Ibnu Sina sekitar 99 (sembilan puluh sembilan) buah[12].

Akhirnya dari berbagai penjelasan diatas tentang sejarah perjalanan hidupnya,maka dapat disimpulkan bahwa Ibnu Sina merupakan seseorang yang semasa hidupnya sangat berpengaruh, tidak hanya sebagai seorang yang aktif dalam kancah politik, namun juga sebagai seorang dokter yang begitu disegani dikalangan para medis, serta seorang ilmuwan yang begitu produktif dalam melahirkan berbagai karya dalam berbagai disiplin ilmu, yang bahkan salah satu karyanya sempat menjadi satu-satunya referensi di bidang kedokteran di belahan Eropa selama lebih kurang lima abad.

B. Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina

Sebagaimana telah diketahui pada penjelasan sebelumnya bahwa sebagai seorang cendikiawan muslim, ia dikategorikan sebagai seorang yang produktif, karena melalui pemikiran dan pandangannya itulah Ibnu Sina dikenal oleh masyarakat seluruh dunia. Pemikiran Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan barang kali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Menurut Ibnu Sina ilmu terbagi menjadi dua, yaitu ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal (hikmah). Ilmu yang kekal dipandang dari perannya sebagai alat dapat disebut logika. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan yang teoritis. Ilmu teoritis seperti ilmu kealaman, matematika, dan ilmu ketuhanan . Sedangkan ilmu yang praktis adalah ilmu akhlak, ilmu pengurusan rumah,ilmu pengurusan kota dan ilmu nabi (syariah).

Menurut Hasan Langgulung pemikiran pendidikan Ibnu Sina dalam falsafat praktisnya (ilmu praktis) memuat tentang ilmu akhlak, ilmu tentang urusan rumah tangga, politik dan syariah. Karya tersebut ada prinsipnya berkaitan dengan cara mengatur dan membimbing manusia dalam berbagai tahap dan sistem. Pembahasan diawali dari pendidikan individu. Yaitu bagaimana seseorang mengendalikan diri (akhlak). Kemudian dilanjutkan dengan bimbingan kepada keluarga (takbiral-manzil), lalu meluas ke masyarakat (tadbir al-madinat) dan akhirnya kepada seluruh umat manusia. Maka menurut Ibnu Sina, pendidikan yang diberikan oleh nabi pada hakikatnya adalah pendidikan kemanusiaan. Disini dapat dilihat bahwa pemikiran pendidikan Ibnu Sina bersifat komprehensif. Sementara itu pandangan-pandangan Ibnu Sina dalam bidang politik hampir tidak dapat dipisahkan dari pandangan nya dalam bidang agama, karena menurutnya hampir semua cabang ilmu keislaman berhubungan dengan politik, ilmu ini selanjutnya ia bagi menjadi empat cabang yaitu ilmu akhlak, ilmu cara mengatur rumah tangga, ilmu tata negara dan ilmu tentang kenabian. Ke dalam ilmu politik ini juga termasuk ilmu. Ilmu. Pendidikan, karena ilmu pendidikan merupakan ilmu yang berada pada garis terdepan dalam menyiapkan kader-kader yang siap untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan[13].

Pada pembahasan ini selanjutnya akan diuraikan tentang beberapa konsep Ibnu Sina tentang berbagai komponen pendidikan, yang meliputi, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, konsep guru, dan konsep hukuman dalam pendidikan .

1. Tujuan Pendidikan

Sebelum lebih jauh mengetahui konsep tujuan pendidikan yang ditawarkan oleh Ibnu sina, terlebih dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari tujuan tersebut. Secara etimologi, tujuan adalah arah , maksud atau haluan [14]. Dalam bahasa Arab tujuan diistilahkan dengan Ghayat, Ahdaf, atau Maqashid, sementara dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan goal, purpose, objectives atau aim. Secara terminologi, tujuan berarti sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selsesai [15]. Sedangkan mengenai tujuan pendidikan,Arifin menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah idealitas (cita-cita) yang menagndung nilai-nilai Islami yang akan hendak dicapai dalam proses pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam secara bertahap[16].

Mengenai tujuan pendidikan Ibnu Sina, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang di miliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna. Yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti[17]. Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya[18].

Sedangkan tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Sina adalah untuk membentuk manusia yang berkepribadian akhlak mulia. Ukuran berakhlak mulia dijabarkan secara luas yang meliputi segala aspek kehidupan manusia. Aspek-aspek kehidupan yang syarat terwujudnya suatu sosok pribadi berakhlak mulia meliputi aspek pribadi, sosial dan spiritual, ketiganya harus berfungsi secara integral dan komprehensif. Tujuan pembinaan moral melalui pendidikan sangat penting menurut pandangan Ibnu Sina, hal ini dapat dilakukan dengan cara seorang anak harus dijaga dalam menentang manusia yang buruk dan memiliki budi pekerti yang buruk mereka juga harus diberikan peluang yang memungkinkan untuk dapat memahami dan merasakan kehidupan dengan cara berkomunikasi dengan orang-orang yang salih. Orang yang memiliki akhlak mulia akan dapat mencapai kebahagiaan (sa’adah).

Kebahagiaan menurut Ibnu Sina, dapat diperoleh secara bertahap. Mula-mula kebahagiaan secara individu dan kebahagiaan ini akan tercapai jika individu memiliki akhlak yang mulia. Jika setiap individu yang menjadi anggota rumah tangga memiliki akhlak mulia, maka tercapai pula kebahagiaan rumah tangga. Jika masing-masing rumah tangga berpegang pada prinsip akhlak mulia, maka tercapailah kebahagiaan dalam masyarakat dan bahkan manusia secara keseluruhan. Untuk terciptanya sosok manusia yang berakhlak, maka harus dimulai dari dirinya sendiri, serta ditunjang kesehatan jasmani dan rohani. Bila kondisi ini dimiliki, maka manusia akan mampu menjalankan proses muamalah dengan teman pergaulan dan lingkungannya, serta mampu mendekatkan diri kepada Allah, bahkan pada akhirnya mampu melakukan ma’rifat kepada Allah. Kondisi yang demikian merupakan puncak dari tujuan pendidikan manusia. Mengenai pendidikan yang bersifat jasmani, Ibnu Sina mengatakan hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala suatu yang berkaitan dengannya, seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan[19].

Melalui pendidikan jasmani atau olah raga, seorang anak diarahkan agar terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan pendidikan budi pekerti diharapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya khayalnya. Selain itu Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang penyulaman, penyablonan. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja profesional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara profesional. Pendidikan keterampilan ini bertujuan untuk mempersiapkan anak dalam mencari penghidupannya, dalam hal ini Ibnu Sina mengintegrasikan antara nilai-nilai idealitas dengan pandangan pramatis, sebagaimana dia katakan : jika anak sudah selesai belajar Al-Qur’an dan menghapal dasar-dasar gramatika, saat itu amatilah apa yang ia inginkan mengenai pekerjaan, maka arahkanlah ke arah itu. Oleh karena itu hendaknya mereka mengarahkan pendidikan anak-anak kepada apa yang menjadikan mereka baik lalu menuangkan pengetahuan mereka pada prinsip yang ditetapkan yang bersifat khusus.

Jika beberapa pendapat Ibnu Sina mengenai tujuan-tujuan pendidikan tersebut dihubungkan dengan satu dan lainnya, maka akan tampak bahwa Ibnu Sina memiliki pandangan tentang tujuan pendidikan yang bersifat hirarkis-struktural, yaitu bahwa ia memiliki pendapat tentang tujuan yang bersifat universal. Juga memiliki pendapat tentang tujuan yang bersifat kurikuler atau perbidang studi dan tujuan yang bersifat operasional. Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang insan kamil (manusia yang sempurna). Yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh, Ibnu Sina juga ingin tujuan pendidikan universal itu diarahkan kepada terbentuknya manusia yang sempurna.

Ibnu Sina memandang, bahwa yang sangat penting dilakukan dalam sistem dunia pendidikan adalah meneliti tingkat kecerdasan, karakteristik dan bakat-bakat yang dimiliki anak, dan memeliharanya dalam rangka menentukan pilihan yang disenangi untuk masa yang akan datang. Jika anak suka mempelajari suatu ilmu secara intelektual dan ilmiah, maka tunjukkan dan arahkan pada hal tersebut, dan berilah kesempatan untuk mempelajari suatu ilmu yang di inginkan. Setiap anak atau murid akan mudah mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bakatnya.

Jika anak atau murid dengan mudah mencapai setiap ilmu yang di inginkan, maka anak dengan mudah pula menjadi ahli sastra, ahli ilmu eksak, dokter juga yang lainnya. Intinya yang sesuai dengan kecerdasan dan tingkat intelektualitas anak bersangkutan akan cepat berpengaruh dalam menentukan hasil atau tidaknya seseorang untuk meraih apa yang di inginkannya. Ibnu Sina memandang bahwa tujuan pendidikan, terdiri dari dua bagian diantaranya adalah : pertama, Lahirnya insan kamil yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh. Kedua, kurikulum yang memungkinkan berkembangnya seluruh potensi manusia, meliputi dimensi fisik, intelektual dan jiwa.

Rumusan tujuan pendidikan yang diformulasikan Ibnu Sina tampaknya dipengaruhi oleh pemikiran filsafat dan metafisisnya serta pengaruh sosial politik waktu itu. Namun demikian, ada dugaan kuat bahwa pengaruh tersebut justru puncak dari iman dan taqwa serta konsep ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian dalam rumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina itu sudah terkandung strategi yang mendasar mengenai dasar dan fungsi pendidikan. Yaitu bahwa pendidikan yang diberikan pada anak didik, selain harus dapat mengembangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di masyarakat, dengan suatu keahlian yang dapat diandalkan.

Dengan tujuan ini Ibnu Sina tampak berusaha melakukan antisipasi dalam rangka membentuk manusia yang memiliki keahlian dan membendung lahirnya lulusan pendidikan yang tidak mampu bekerja di tengah-tengah masyarakat yang berakibat pada timbulnya pengangguran. Selain itu rumusan tujuan pendidikan yang di kemukakan Ibnu Sina tampak mencerminkan sikapnya yang selain sebagai seorang pemikir juga sebagai pekerja dan praktisi. Melalui tujuan pendidikan yang dirumuskan ini, ia tampak menghendaki agar orang lain meniru dirinya.

2. Kurikulum Pendidikan

Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah manhaj, yang berarti jalan terang yang harus ditempuh oleh pendidik bersam anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka[20]. Selain itu kurikulum juga dipandang sebagai suatu program yang direncakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan[21]. Selanjutnya dalam pembahasan ini, akan dikemukakan beberapa pandangan Ibnu Sina tentang kurikulum tersebut, yang ia membagi kurikulum tersebut kepada tinggakatan usia, sebagai berikut :

a. Usia 3 sampai 5 Tahun

Menurut Ibnu Sina, diusia ini perlu diberikan mata pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian[22]. Olahraga sebagai pendidikan jasmani, Ibnu Sina memiliki pandangan yang banyak dipengaruhi oleh pandangan psikologisnya . Menurutnya ketentuan dalam berolahraga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik serta bakat yang dimilikinya. Dengan cara demikian dapat diketahui dengan pasti mana saja di antara anak didik yang perlu diberikan pendidikan olahraga sekedarnya saja, dan mana saja di antara anak didik yang perlu dilatih berolahraga lebih banyak lagi. Ia juga merinci olah raga mana saja yang memerlukan dukungan fisik yang kuat serta keahlian; dan mana pula olahraga yang tergolong ringan, cepat, lambat, memerlukan peralatan dan sebagainya. Menurutnya semua jenis olahraga ini disesuaikan dengan kebutuhan bagi kehidupan si anak[23].

Pelajaran olahraga atau gerak badan tersebut diarahkan untuk membina kesempurnaan pertumbuhan fisik si anak serta berfungsinya organ tubuh secara optimal. Hal ini penting mengingat jasad/tubuh adalah tempat bagi jiwa yang harus dirawat agar tetap sehat dan kuat. Mata pelajaran olah raga yang menginginkan kesehatan jasmani memang mendapat perhatian dari Ibnu Sina, apalagi jika dihubungkan dengan keahliannnya di bidang ilmu kesehatan/ kedokteran, tentu Ibnu Sina memahami begitu pentingnya pelajaran oleh raga sebagai upaya untuk menjaga kesehatan jasmani.

Pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali si anak agar memiliki kebiasaan sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Pelajaran budi pekerti ini sangat dibutuhkan dalam rangka membina kepribadian si anak sehingga jiwanya menjadi suci, terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang dapat mengakibatkan jiwanya rusak dan sukar diperbaiki kelak di usia dewasa. Dengan demikian, Ibnu Sina memandang pelajaran akhlak sangat penting ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Pendidikan akhlak harus dimulai dari keluarga dengan keteladanan dan pembiasan secara berkelanjutan sehingga terbentuk karakter atau kepribadian yang baik bagi si anak.

Pendidikan kebersihan juga mendapat perhatian Ibnu Sina. Pendidikan ini diarahkan agar si anak memiliki kebiasaan mencintai kebersihan yang juga menjadi salah satu ajaran mulia dalam Islam. Ibnu Sina mengatakan, bahwa pelajaran hidup bersih dimulai dari sejak anak bangun tidur, ketika hendak makan, sampai ketika hendak tidur kembali. Dengan cara demikian, dapat diketahui mana saja anak yang telah dapat menerapkan hidup sehat, dan mana saja anak yang berpenampilan kotor dan kurang sehat.

Pendidikan seni suara dan kesenian diperlukan agar si anak memiliki ketajaman perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya. Jiwa seni perlu dimiliki sebagai salah satu upaya untuk memperhalus budi yang pada gilirannya akan melahirkan akhlak yang suka keindahan

b. Usia 6 tahun sampai 14 tahun.

Selanjutnya kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur'an, pelajaran agama, pelajaran sya'ir, dan pelajaran olahraga[24].

Pelajaran al-Qur'an adalah pelajaran pertama dan yang paling utama diberikan kepada anak yang sudah mulai berfungsi rasionalitasnya. Pelajaran membaca dan menghafal al-Qur'an menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-Qur'an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama Islam seperti pelajaran tafsir al-Qur'an, fiqih, tauhid, akhlak dan pelajaran agama lain-nya yang sumber utamanya adalah al-Qur'an. Selain itu pelajaran membaca dan menghafal al-Qur'an juga mendukung keberhasilan dalam mempelajari bahasa Arab, karena dengan menguasai al-Qur'an berarti ia telah menguasai ribuan kosa kata bahasa Arab atau bahasa al-Qur'an.

Pelajaran keterampilan diperlukan untuk mempersiapkan anak mampu mencari penghidupannya kelak. Dalam pendidikan modern pelajaran ini dikenal dengan vokasional. Setelah kanak-kanak diajar membaca al-Qur'an, menghafal dasar-dasar bahasa, barulah dilihat kepada pekerjaan yang akan dikerjakannya dan ia dibimbing ke arah itu, setelah gurunya tahu bahwa bukan semua pekerjaan yang diinginkannya bisa dibuatnya tetapi adalah yang sesuai dengan tabiatnya. jika ia ingin menjadi jurutulis maka haruslah ia diajar surat menyurat, pidato, diskusi, dan perdebatan dan lain-lain lagi. Begitu juga ia perlu belajar berhitung dan mempelajari tulisan indah. Kalau dikehendaki yang lain maka ia disalurkan ke situ.

Pelajaran sya'ir tetap dibutuhkan di usia ini sebagai lanjutan dari pelajaran seni pada tingkat sebelumnya. Anak perlu menghafal sya'ir-sya'ir yang mengandung nilai-nilai pendidikan akan sangat berguna dalam menuntun perilakunya, di samping petunjuk al-Qur'an dan Sunnah. Pelajaran ini dimulai dengan menceritakan syair-syair yangmenceritakan anak-anak yang glamour, sebab lebih mudah dihafal dan mudah menceritakannya serta bait-baitnya lebih pendek. Kemudian Ibnu Sina menolak ungkapan "seni adalah untuk seni", ia berpendapat bahwa seni dalam syair merupakan sarana pendidikan akhlak.

Pelajaran olah raga harus disesuaikan dengan tingkat usia ini. Dari sekian banyak olahraga, menurut Ibnu Sina yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum atau rancangan mata pelajaran pada usia ini adalah olahraga adu kekuatan, gulat, meloncat, jalan cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta. Tentu semua ini berdasarkan kebutuhan si anak dan disesuaikan dengan tingkat perkembangannya.

c. Usia 14 tahun ke atas

Menurut Ibnu Sina kurikulum pada usia ini tidaklah sama seperti kurikulum pada usia sebelumnya, pada usia ini ia membagi kurikulum tersebut kepada mata pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Mata pelajaran yang bersifat teoritis antara lain ilmu fisika dan matematika, dan ilmu ketuhanan[25]. Adapun mata pelajaran yang bersifat praktis adalah ilmu akhlak yang mengkaji tentang tentang car-cara pengurusan tingakah laku seseorang, ilmu pengurusan rumah tangga, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara suami istri, anak-anak, pengaturan keuangan dalam kehidupan rumah tangga, serta ilmu politik yang mengakaji tentang bagaimana hubungan antara rakyat dan pemerintahan, kota dengan kota, bangsa dan bangsa [26].

Dari beberapa penjelasan tentang kurikulum yang ditawarkan oleh Ibnu Sina,jelaslah bahwa ia sangat menekankan faktor psikologis dalam membagi beberapa pelajaran yang harus diajarkan kepada anak didik, yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan usia anak didik tersebut.

3. Metode Pendidikan

Dalam proses pendidikan, metode mempunyai kedudukan yang sangat signifikan untuk mencapai tujuan. Bahkan metode sebagai seni dan cara dalam menstransfer ilmu pengetahuan (materi pelajaran) kepada peseta didik dianggap lebih signifikan dibandingkan dengan materi itu sendiri. Sebuah unggapan dalam bahasa Arab menyatakan bahwa “ al-Thariqatu Ahammu min al-Maddah ”, jika ungkapan ini diartikan ke dalam bahasa Indonesia, maka maksudnya adalah bahwa metode itu jauh lebih penting dibandingkan sebuah materi. Hal ini mengindikasikan bahwa metode yang digunakan dalam penyampaian pelajaran sangat berperan dalam keberhasilan mencapai tujuan pelajaran tersebut.

Mengenai metode pendidikan, Ibnu Sina juga sangat menaruh perhatiannya kepada metode-metode pendidikan tersebut. Metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain, metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan,diskusi, mangang, dan penugasan.

Metode talqin digunankan pada pembelajaran baca al-Quran. Dimulai dengan cara memperdengarkan bacaan al-Quran keapda anak didik, sebagian-sebagian, setelah anak didik disuruh untuk mengikutinya dan melakukan hal tersebut secara terus-menerus hingga ia hafal[27]. Metode demonstrasi yang dimaksud adalah metode yang digunakan dalam pengajaran menulis, dimana seorang guru memberikan contoh cara menulis sebuah huruf, yang kemudian diikuti oleh para muridnya[28]. Mengenai metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang sangat efektif, khususnya dalam pengajaran akhlak. Mengenai metode diskusi ini dapat digunakan dalam pengajaran ilmu yang bersifat rasional dan teoritis. Selanjutnya Metode mangang yang dimaksud adalah metode yang dapat digunakan dalam pengajaran ilmu kedokteran, dimana setelah para peserta didik diajarkan tentang berbagai teori di dalam kelas,maka para pesert didik tersebut juga dituntut untuk melakukan mangang,yaitu mempraktekan semua ilmu yang telah diketahui di rumah sakit maupu di balai kesehatan. Mengenai metode penugasan yang dimaksud adalah guru memberikan penyajian pembelajaran dengan memberikan tugas tertentu sehingga para peserta didika melakukan kegiatan belajar.

Dari beberapa metode tersebut jelaslah bahwa penggunaan metode sangat diperlukan dalam sebuah pembelajaran,terlebih metode yang digunakan haruslah cocok dengan materi yang diajarkan, sehingga para peserta didik menjadi lebih mudah dan menyenangkan dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut.

4. Konsep Guru

Guru merupakan juru kunci kesukesan dalam sebuah pembelajaran, sehingga Ibnu Sina juga menaruh perhatiannya kepada kriteria yang harus dimilki oleh guru. Mengenai hal ini ia menjelaskan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan murid-muridnya,tidak bermuka masam,sopan santun,bersih dan suci murni[29]. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa seorang guru sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya,cerdas,teliti,sabar,telaten dalam membimbing anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, geamr bergaul dengan anak-anak,tidak sombong dan berpenampilan rapi. Selain itu guru juga harus mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan dirinya sendiri, menjauhi sifat-sifat raja dan orang-orang yang berakhlak tercela, mengetahui etika dalam majlis ilmu, sopan dan santun dalam berdebat, berdiskusi dan bergaul[30].

Penjelasan ini menerangkan bahwa Ibnu Sina sangat menekankan bahwa guru merupakan sosok yang baik dan memiliki kepribadian yang baik pula .Disamping itu, guru juga dituntut untuk memiliki berbagai macam kemampuan mengajar yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, sebagaimana kemampuan tersebut yang telah dijelaskan diatas, hal ini juga mengindikasikan bahwa seorang guru seharusnya tidak hanya menjadi guru bagi para muridnya, tetapi juga menjadi guru bagi kehidupan orang lain sepanjang hidupnya.

5. Hukuman dalam Pendidikan

Ibnu Sina selain memberikan garis-garis besar tentang prinsip-prinsip pendidikan akhlak, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, ia juga mempunyai konsep tentang hukuman dalam pendidikan. Mengenai hal ini ia menyebutkan bahwa suatu kewajiban pertama bagi seorang guru adalah mendidikanka dengan sopan santun, membiasakannya dengan perbuatan yang terpuji, sebelum kebiasaan jelek mempengaruhinya[31].

Jika terpaksa harus mendidik dengan memberikan hukuman kepada peserta didik, sebaiknya diberi peringatan dan ancaman lebih dahulu, jangan menindak anak dengan kekerasan, tetapi dengan kehalusan hati,lalu diberi motivasi dan persuasi dan kadang-kadang dengan raut muka yang kusam, atau dengan cara yang lain agar ia kembali kepada perbuatan baik.


Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Pendidikan Versi Ibnu Sina, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com
Daftar Pustaka dan Footnote


[1] Sa’id Isma’il Ali, al-Falsafah al-Tarbiyah ‘ind Ibnu Sina, (Mesir : Dar al-Ma’arif, 1969), h. 31

[2] Ibn Ushaibah, Uyun al-Anba,Juz II, ( Mesir : Al-Mathba’ah al-Wahabiyyah,1299 H), h. 2

[3] Ibn Ushaibah, Ibid, h.5

[4] Isagogi, merupakan istilah nam yang diambil dari kita “al-Machdal ila Maqualati Aristo” yang dikarang oleh Proporius. Dikatakan oleh oleh Sa’idul Andalusi, bahwa Ibnu al-Muqaffa’ yang menerjemahkan kitab ini dari bahasa Yunani, sesuai dengan catatan Ibnu Nadiem dalam indek bukunya, bahwa Ayub bin al-Qasim yang menerjemahkan kedalam bahasa Arab dari bahsa Suryani, kemudian istilah Isagogi ini dijadikan permasalahan Ilmu Mantiq (Logika) yang berarti pembatasan dan takrif, qiyas, diskusi,retorika dan salsafah (sufisme).

[5]Eclides adalah filsuf Yunani Kuno, yang ahli Matematika, dilahirkan di Iskandariyah dan tinggal di Yunani, lahir pada tahun 300 SM,lalu pindah ke Iskandariyah, lalu membuka sekolah Matematika. Bukunya yang terkenal ‘al-Ma’ruf bi Ushulil Iqlides”, dibagian isinya ada yang membahasa tentang ilmu pasti yang dijadikan pengangan di sekolah-sekolah Inggris,dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, dan ditasyrihkan antara lain syarah Nashruddin al-Thusi .

[6] Al-Magisty,kata Yunani yang berarti tata tertib tau bangunan besar yaitu suatu ilmu tentang prilaku zaman kuno yang paling baik, diciptakan oleh Bartolomeus,seorang hakim. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ishak al-Abbadi atau beberapa yang lain seperti al-Hallaj bin Matar. Kemudian Abu Mohammad Jabir al-Aflah Mengkritik isinya, dalam kitabnya “Islah al-Magisty”.

[7] Athif al-Iraqi, h. 34

[8] De Lacy o’Leary, Al-Fikr al-‘Arabi wa Makanuhu fi al-Tarikh,( Mesir : al-Muassasah al-‘Ammah,1401 H), h. 181.

[9] Taysir Syaikh al-Arld, h. 21

[10] Abd al-Salam kafany, Kitab al-Zahaby li al-Mahrajah al-Alay li al-Dzikr Ibn Sina, ( Mesir : t.p.,1952), h. 162.

[11] Lihat fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology, (London : Oxford University Press,1959), h. 64.

[12] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,2000), h. 65.

[13] Abuddin Nata, Ibid , h. 66

[14] Departemen Pendidikan dan Kebudayaa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,1995), Edisi Ke-2,Cet, Ke-4, h. 1077.

[15] Zakiyah Drajat, dkk, Ilmu Pendidikan islam, (Jakarta : Bumi Aksara,1996), Cet.Ke-3, h. 29

[16] H.M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara,1991),Cet.I,h. 224

[17] Ibn Sina, Al-Siyasah fi al-Tarbiyah, (Mesir : Majalah al- Masyrik,1906) h. 1076.

[18] Ibn Sina, Ibid, h. 1218

[19] Ibnu Sina, Ibid , h.1221.

[20] Omar Mohammad al-Toumy al-syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, tejemahan Hasan Langgulung, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984) h. 478.

[21] Zakiyah Drajat, dkk, Ibid, h. 122.

[22] Ibnu Sina, al-Siyasah, h. 159.

[23] Ibnu Sina, al-Siyasah, h. 321

[24] Ibnu Sina, al-Siyasah, h. 117

[25] Ibn Sina , Tis’u Rasail, ( Mesir : Dar al- Ma’arif, 1908), h. 231

[26] Ibid, h.342.

[27] Ibid, h.1310

[28] Ibid, h. 1074

[29] Ibid, h. 1456.

[30] Ibid, h. 1074.

[31] Ali Al Jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta : Rineka Cipta ,1994), h. 124-125.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis