Aneka Ragam Makalah
Jasa Review
Usi Tech

Pola Menonton Siaran Agama Di Televisi


Pada dasarnya setiap agama berusaha untuk menyiarkan ajaran-ajaran agamanya, terutama agama Islam. Bagaimanapun, Islam sebagai agama dakwah, ajaran-ajarannya harus senantiasa disampaikan kepada umat Islam atau kepada seluruh umat manusia. Setiap muslim yang telah akil baligh wajib berdakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing (qs.16:125). Dakwah itu juga mestilah dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan keadaan dan perkembangan masyarakat. Dalam pelaksanaan dakwah, harus dimanfaatkan hasil kemajuan sains dan teknologi agar pelaksanaan dakwah itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, segala aspek kehidupan dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Televisi merupakan salah satu teknologi komunikasi yang perlu mendapat pemanfaatan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Peranan televisi dirasakan semakin penting, akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi. Berbagai ide, gagasan, pesan, ajaran dan ideologi dapat disampaikan secara luas melalui pemanfaatan. televisi. Televisi amat sesuai digunakan sebagai salah satu media penyiaran dakwah.

Kota Langsa yang merupakan salah satu kota yang ada dibawah naungan Propinsi NAD yang mana masyarakat Kota Langsa, yang luas wilayahnya 262,41 km2 dibagi dalam 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Kota, Kecamatan Langsa Timur dan Kecamatan Langsa Barat yang terdiri dari 45 (empat puluh lima) gampong dan 6 (enam) kelurahan, dengan jumlah penduduk 127.261 jiwa.[1]

Salah satu cara yang paling mudah untuk menyampaikan atau memberi informasi kepada masyarakat pada umumnya yang mayoritas penduduknya hidup yang terpisah anatara desa satu dengan lainnya. Maka lewat media ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk penyampaian dakwah, lewat media eloktronik televisi. Menurut data statistik Kota Langsa dari 45 (empat puluh lima) gampong dan 6 (enam) kelurahan yang ada diwilayah Kota Langsa dan pada umumnya masyarakat sudah memiliki televisi dirumah-rumah penduduk. Dan menggunakan semua siaran televisi sebagai sarana informasi dan ini memberikan peluang bagi khalayak untuk lebih banyak menonton.

Berdasarkan jumlah penonton dan jumlah televisi yang dimiliki setiap penduduk, maka dapatlah dipandang bahwa televisi merupakan media yang paling banyak peminatnya. Program-program agama yang disiarkan melalui televisi, akan berupaya menjangkau lebih dari 38.03 % khalayak didaerah yang sangat luas dalam waktu yang sama. Dari 127.126 orang penduduk Kota Langsa. Sekitar 48.350 orang (38.03 %) yang selalu menonton televisi, adapun sebanyak 40.548 orang (31.90 %) yang selalu mendengar radio dan 38.228 orang (30.07 %) membaca surat kabar dan majalah.[2]

Berdasarkan data statistik tersebut maka dapat diketahui bahwa televisi merupakan media yang paling benyak penggunaannya. Informasi keagamaan di televisi dapat menjangkau mayoritas masyarakat Kota Langsa dan masyarakat gampong secara serentak.Acara-acara agama yang disiarkan selalu melalui televisi dapat didengar dan ditonton oleh masyarakat gampong. Begitu juga masyarakat yang ada di Kota Langsa yang serba sibuk ternyata dapat juga meluangkan waktu untuk mendengar dan menonton acara-acara agama yang disiarkan melalui televisi. Karena itu, televisi dapat dipergunakan sebagai media alternatif untuk penyiaran agama.

Penyiaran agama melalui televisi sudah dilakukan untuk pembinaan nilai-ilai keagamaan sejak media tersebut muncul di Indonesia pada tahun 1976. Namun belum banyak yang diketahui mengenai hal-hal yang menyangkut dengan keadaan tersebut, baik aspek isi atau materi siaran maupun minat masyarakat untuk menonton siaran-siaran agama.

Media televisi sama-sama kita tahu dewasa ini senantiasa menyiarkan siaran yang ada kaitannya dengan agama, namun tidak dapat diketahui secara pasti bagaimana minat khalayak menonton program siaran agama yang disiarkan melalui media elektronik tersebut. Pihak media tidak dapat mengetahui minat khalayak terhadap isi siaran agama, terhadap tema siaran, bentuk penyampaiannya dan juga sumber atau komunikator siaran agama. Apabila hal ini tidak diketahui secara pasti, maka dapat menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya minat masyarakat untuk menonton program agama yang disiarkan di media televisi. Masalah ini perlu diketahui sebagai suatu usaha untuk meyesuaikan berbagai aspek yang menyangkut dengan penyiaran agama di televisi dengan minat dan keinginan khalayak. Karena itu, peneliti merasa tertarik untuk mendalami masalah pola menonton siaran agama di televisi dan pengaruhnya terhadap pengamalan agama masyarakat Islam di Kota Langsa. Menurut data yang diperoleh statistik Kota Langsa bahwa, jumlah pengguna media elektronik di Kota Langsa jauh lebih ramai. 

B. Identifikasi Masalah

Pemanfaatan media televisi dalam penyiaran agama Islam merupakan salah satu cara atau strategi yang ditempuh dalam menyampaikan ajaran agama. Islam sebagai agama dakwah, mewajibkan umatnya untuk menyampaikan ajaran Islam dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ada berbagai permasalahan yang muncul berkaitan dengan analisi isi materi dakwah dalam televisi sebagai berikut.

  • Metode panyampaian agama yang digunakan oleh da’i tidak serta merta mampu memudahkan materi   sampai kepada khalayak karena faktor lapisan sosial masyarakat Islam.

  • Isi ceramah agama yang dikemas oleh da’i atas permintaan para pengelola atau produksi siaran agama pada televisi.

  • Aspek ajaran agama dalam isi ceramah belum tentu sesuai dengan keperluan psikologis dan sosiologis umat Islam.

  • Penggunaan bahasa dalam penyampaian isi ceramah agama cenderung terlalu tinggi, atau ilmiah dalam   pandangan umat Islam.

  • Pendengar siaran agama yang disiarkan di televisi tidak sistematis sebagaimana pembahasan dalam fiqih, tauhid, akhlak dan muamalah sehingga kesannya cenderung kurang mempengaruhi pengamalan agama.

  • Pendengar siaran agama di televisi dapat pindah siaran dari satu siaran televisi ke televisi lainnya yang lebih disenanginya.

C. Pembatasan Masalah

Banyak faktor yang mempengaruhi pengamalan agama umat Islam dalam perspektif komunikasi dan dakwah Islam. Ada faktor internal yang berasal dari para penonton siaran agama Islam di televisi, diantaranya, faktor minat, motivasi, kecerdasan, pemanfaatan waktu (pola). Selain itu adapula yang dikelompokkan kepada faktor eksternal yaitu di antaranya : isi materi ceramah, metode, gaya da’i atau penceramah, pendekatan yang digunakan, manajemen siaran.

Untuk memudahkan penelitian ini sesuai dengan kemampuan peneliti, maka perlu dibatasi masalah yang akan diteliti, yaitu : pola menonton siaran agama sebagai variabel bebas (X) dan pengamalan agama (shalat dan puasa) sebagai variabel terikat (Y).

D. Perumusan Masalah

Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah :
  • Bagaimanakah pola menonton siaran agama di televisi oleh umat Islam di Kota Langsa ?

  • Bagaimanakah tingkat pengamalan agama umat Islam yang menonton siaran agama televisi di Kota Langsa ?

  • Bagaimana pola menonton siaran agama di televisi dan pengaruhnya terhadap pengamalan agama umat Islam di Kota Langsa ?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pola menonton siaran agama di televisi oleh umat Islam di Kota Langsa.
2. Untuk mengetahui tingkat pengamalan agama umat Islam penonton siaran televisi di Kota Langsa.
3. Untuk mengetahui pengaruh pola menonton siaran agama di televisi terhadap pengamalan agama umat Islam di Kota Langsa.


F. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut 
  • Dapat menjadi bahan masukan terutama bagi pihak pengelola siaran agama di televisi dalam rangka meningkatkan kualitas penyiaran agama di televisi sesuai dengan minat dan keinginan khalayak.

  • Dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak yang memerlukan informasi tentang penyiaran agama di televisi serta minat masyarakat untuk menontonnya.

  • Sebagai bahan bagi pengembangan teori komunikasi dan dakwah dalam membantu meningkatkan pengamalan agama di kalangan umat Islam.

G. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang penonton siaran agama di televisi yang berorientasi agama dilakukan oleh Abelman, di Amerika serikat sebanyak 210 orang responden yang berusia antara 23-78 tahun telah diminta mengisi angket yang bertujuan untuk mengukur pola penontonan televisi yang meliputi daya tarik menonton, program yang disukai dan motif menonton televisi.[3]

Lebih lanjut Abelman (1987) menemukan bahwa responden rata-rata menonton siaran agama di televisi selama 2,34 jam sehari. Program agama yang mereka tonton ialah seremonial (3,66 %), berita agama (3,51%), percakapan (3,45 %), musik bernafaskan agama (3,36 %), pertunjukan anak-anak berbau agama (3,32 %), pengabdian (3,10 %), pengajian (2,42 %), peran agama (2,41 %), drama agama (2,33 %), permainan (2,25 %), olah raga bernafaskan agama (2,32 %), dan film bernafaskan agama (1,29 %).

Motivasi mereka menonton siaran agama di televisi ialah untuk mendapatkan informasi (3,84 %), tidak merasa puas dengan siaran-siaran yang bernafaskan komersial (3,77 %), mendapat bimbingan keagamaan (3,52 %), sebagai hiburan (3,49 %), menghindarkan diri dari televisi yang bersifat komersial (3,44 %), mereka dekat kepada Tuhan (3,19 %), agama sebagai sesuatu yang penting dalam hidup (2,95 %), dorongan moral (2,79 %), persaudaraan (2,56 %), persahabatan (2,47 %), ekonomi/tidak mahal (2,23 %), kebiasaan (2,19 %), menenangkan perasaan (2,15 %), topik untuk berkomunikasi/bahan diskusi (2,07 %), bimbingan prilaku (2,05 %), periklanan (1,82 %), istirahat (1,73 %), ganti berkunjung ke rumah ibadah (1,70 %) dan hubungan sosial (1,63 %).

Di samping itu, dia menemukan bahwa orang yang kuat beragama mempunyai hubungan dengan kecenderungan menonton siaran agama di televisi. Menurut penelitian Abelman bahwa; adanya yang menonton stasiun televisi komersial yang tidak menyiarkan agama sama sekali. Namun demikian, mereka menonton stasiun televisi agama hanya sebagai alternatif saja, bukan karena mereka merasa bahwa medium itu sebagai sesuatu yang penting bagi hidup mereka.

Selanjutnya penelitian Lenish (195), Rubin dan Rubin (1982), penggunaan media berbeda berdasarkan usia. Menurut hasil penelitian Katz, et.al. (1974) pula pengguna media berbeda berdasarkan jenis kelamin, dapat juga berbeda akibat pengaruh gaya hidup seseorang (Eastman, 1979), Ostman dan Jeffers (1980).

Menurut Buddenbaum (1981) dan Gandhy (1984), ciri-ciri khalayak penonton stasiun televisi agama di Amerika Serikat ialah orang yang lebih tua, lebih miskin tingkat pendidikan rendah dan lebih terbelakang. Menurut Gandhy dan Pritshard (1985) pula, ciri-ciri khalayak penonton stasiun televisi agama itu ialah aktif dalam aktifitas-aktifitas agama, pengikut agama yang setia, lebih konservatif dalam keyakinan agama, nilai hidup dan sikap.

Di samping itu, sejumlah tinjauan untuk mengukur bagaimana respon khalayak terhadap siaran-siaran agama di televisi, telah dilakukan oleh bahagian Penyelidikan Kementerian Penerangan Malaysia. Kajian tinjauan tersebut, dua diantaranya meneliti semua siaran agama yang disiarkan di televisi Malaysia.[4] Secara umum, siaran-siaran agama di televisi telah menarik perhatian sejumlah besar penonton sebagaimana yang dikemukakan oleh kedua penelitian tersebut. Peneliti pertama yang dilakukan pada bulan Januari tahun 1983, menggambarkan bahwa 98 % dari 399 responden menonton program tersebut. Pada penelitian tinjauan lain yang dilakukan pada tahun 1990, bahwa 93 % dari 771 responden juga menonton siaran agama di televisi.

Namun demikian, sebahagian penonton tidak menonton siaran agama di televisi dengan serius atau sungguh-sungguh, mereka tetap menonton tanpa mempertimbangkan siaran agama apa yang disiarkan televisi. Sebahagian pula menonton sambil makan, berbicara, membaca dan sebagainya. Alasan mereka yang tidak menonton siaran agama di televisi ialah bahwa acara agama di televisi tidak menarik, agama disiarkan pada masa yang tidak sesuai, masih adanya yang tidak mempunyai pesawat televisi, kurangnya waktu untuk nonton dan sakit.

Menurut Shahnon Ahmad dan Ellias Zakaria.[5] Beberapa faktor penyebab khalayak tidak menonton siaran agama di televisi ialah (1) bentuk dan isi siaran agama di televisi tidak menarik minat penonton, (2). Bentuk percakapan dan penyampaian siaran agama di televisi mengecilkan hati sejumlah besar penonton remaja, sebab siaran-siaran agama paling sedikit berisikan hiburan yang menarik para remaja, (3). Isi siaran agama di televisi terlalu ilmiah, sehingga hanya sesuai bagi orang-orang tertentu dan (4). Berbagai jenis promosi atau iklan secara efisien tidak digunakan oleh produser siaran agama untuk menarik minat penonton dalam menonton siaran agama di televisi.


BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori “Pengguna dan Kepuasan (User and Graffcations). Teori pengguna dan kepuasan bukan berarti baru. Pada dekade 1940-an, para sarjana di Amerika Serikat telah mengkaji kenapa khalayak menggunakan berbagai media, seperti kuiz radio, membaca buku-buku komik, membaca surat kabar.[6] Berelson (1954) misalnya menemukan bahwa khalayak membaca surat kabar untuk mengetahui informasi penting dan untuk mendapat teman. Pada dekade 1960-an dan 1970-an banyak dilakukan penyelidikan secara sistematik berdasarkan teori.

Tokoh yang sering dihubungkan dengan pendekatan pengguna dan kepuasan ialah Blumer dan Katz. Mereka telah menggariskan sejumlah pendapat dasar teori dan metodologi untuk teori ini. Walaupun didapati banyak perbedaan dari segi pendekatan dan pengukuran keperluan individu dan fungsi media massa, namun teori pengguna dan kepuasan berasaskan kepada suatu pendapat umum, yaitu :

1. Pengguna media massa adalah untuk memenuhi keperluan-keperluan tertentu. Keperluan itu dapat membangun lingkungan sosial.

2. Individu atau khalayak memilih jenis media massa dan isi media yang dapat memenuhi keperluan-keperluan mereka. Audien mempunyai kekuasaan yang dapat lebih besar untuk memilih media massa dan isi media dibandingkan degan kekuasaan media massa untuk mempengaruhi mereka.

3. Ada sumber-sumber lain selain media massa yang dapat memberikan kepuasan kepada individu dan media massa harus bertanding dengan sumber-sumber tersebut. Contohnya : keluarga, teman-teman, tidur dan aktivitas lain yang dapat mengisi waktu senggang.

4. Audien sadar akan keperluan itu, dan mereka juga mempunyai alasan kenapa mereka menggunakan media massa tertentu (Katz dan Foulkes, 1962 ; Katz, et-al, 1978; Blumer, 1979; Blumer, 1985, Littejohn, 1989).[7]

Katz et. al. (1973) membagi keperluan-keperluan audien dalam kaitannya dengan media kepada lima kategori, yaitu :

1. Keperluan kognitif, yaitu keperluan akan informasi, pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan.

2. Keperluan afektif, yaitu keperluan-keperluan yang menyangkut dengan keindahan, kesenangan dan pengalaman-pengalaman kerohanian.

3. Keperluan individu yaitu keperluan yang dapat memperkuat rasa percaya kepada diri sendiri, kestabilan dan status pribadi (harga diri).

4. Keperluan menjalin hubungan sosial, yaitu keperluan yang dapat meningkatkan hubungan akrab dengan keluarga, dengan teman-teman dan masyarakat luas.

5. Keperluan untuk hiburan.

Palmgreen & Raybum (1979-1985), mencoba memodifikasi teori pengguna dan kepuasan dengan cara memadukannya dengan model pengharapan nilai (ecpectancy-value model). Menurut Palmgreen (1984), tujuan khalayak dalam kehidupan di dunia adalah sesuai pengharapan (kepercayaan) dan penilaian mereka. Penonton media dipandang dapat memperoleh kepuasan yang merupakan aplikasi dari pada nilai pengharapan.

Palmgree & Raybun (1982) mengartikan pencarian kepuasan (grafication sought) sebagai kepercayaan seseorang tentang apa yang dapat diberikan oleh media, dan penilaian seseorang tentang apa yang dapat diberikan oleh media dan penilaian seseorang terhadap isi media. Misalnya, individu “A” percaya bahwa media berisi unsur hiburan, dan dia menilai bahwa hiburan itu adalah baik; kemudian di “A” akan memenuhi kepuasannya dengan cara menonton media yang berisi hiburan. Sebaliknya, mungkin orang lain yakin bahwa siaran tersebut tidak menarik, dan dia menilai bahwa siaran tersebut sebagai suatu hal yang buruk. Oleh karena itu, dia akan menghindarinya atau tidak akan menontonnya.

Individu mempunyai kepercayaan-kepercayaan tertentu terhadap sesuatu program berdasarkan penilaiannya sendiri terhadap program tersebut. Kepercayaan dan penilaian khalayak perlu untuk memastikan jenis program yang dapat memberikan kepuasan kepada khalayak. Keadaan ini digambarkan sebagai berikut :
  • (keagamaan)
  • Pencarian
  • Kepuasan
  • Penggunaan
  • Media
  • Perasaan
  • Puas
  • Penilaian
  • Terhadap Media
Skema 1 : Model pengharapan nilai dari pencarian dan perolehan kepuasan.

Kombinasi diantara kepercayaan keagamaan dan penilaiaan terhadap media dan isi media dapat membawa kesan yang positif atau negatif. Seseorang yang memilih untuk menggunakan media dan isi media adalah karena ia memandangnya sebagai suatu hal yang positif dan tidak bertentangan dengan kepercayaan dan nilai-nilai pribadinya. Sebaliknya, apabila individu menganggap media atau isi media sebagai sesuatu yang negatif, dalam arti bertentangan dengan kepercayaan dan nilai-nilainya maka ia akan menghindarinya. 

B. Penyiaran Agama Dakwah

Dakwah Islam telah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan umat Islam. Kejayaan umat Islam pada zamannya sangat ditentukan oleh dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya yang kemudian dilanjutkan oleh para muballigh, ustaz dan guru agama. Berkaiatan dengan hal ini, dijelaskan bahwa sejarah perkembangan agama tauhid menunjukkan bahwa kebenaran yang diturunkan Allah terus menerus dapat berkembang dengan baik, disebarluaskan melalui dakwah oleh para nabi, Rasul, ulama dan muballigh.[8]

Adapun pengorganisasian dakwah di televisi, kegiatannya baik dilakukan individu apalagi kelompok sebenarnya memerlukan organisasi atau pengorganisasian. Demikian pula organisasi dakwah memerlukan managemen yang dijalankan oleh pemimpin organisasi-organisasi dakwah. Sementara masing-masing pimpinan organisasi dakwah memiliki strategi tersendiri dalam mengefektifkan organisasi dakwah yang dipimpinnya sehingga tercapai tujuan dakwah yang direncanakan.

Selanjutnya Lewis, menjelaskan bahwa “an Organization is any group of people who have a primary goal and operate as a unit to achieve that goal”.[9] Dari pendapat ini dipahami bahwa organisasi ialah suatu kelompok orang tertentu yang memiliki tujuan utama dan bekerja sebagai suatu kesatuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Sejalan dengan pendapat diatas, organisasi juga dapat dipahami dari pendapat Mondy dan Premeauk bahwa : an organization is two or more people working together in a coordinated manner to achieve group result.[10] Berarti sebuah organisai merupakan kerjasama dua orang atau lebih dalam keadaan terpadu untuk mencapai tujuan bersama atau kumpulan.

Dengan demikian sebuah organisasi merupakan wadah bagi pengelolaan kegiatan dakwah, seperti halnya dengan televisi. Dan dakwah dikelola secara kelompok orang (pimpinan dan anggota) dengan menggunakan managemen. Dalam konteks ini hubunagn tersebut adalah hubungan antara wadah dengan isi. Organisasi sebagai wadah sedangkan dakwah adalah isi, sehingga sebuah organisasi disebut sebagai organisasi dakwah.

Kehadiran organisasi merupakan fenomena kehidupan modern, karena perwujudan organisasi mengakar pada kompleksitas tuntutan hidup yang hanya dapat dicapai dengan bekerjasama dalam wadah tertentu. Oleh karenanya keberadaan berbagai organisasi keagamaan sangat strategis perannya dalam perkembangan dakwah Islam. Demikianlah yang dijumpai dalam realitas sosial, Seorang muslim di manapun dan kapanpun, di kota maupun di desa, wajib mengadakan perubahan baik secara individu maupun secara kelompok. Perubahan tersebut harus sesuatu perubahan yang Islami, menyeluruh dan terpadu.[11] Karena itu tugas dan tanggung jawab dakwah Islam sebagai proses merubah keadaan menjadi Islami sangat berat dan kompleks sifatnya. Hal ini dapat dirasakan karena melibatkan banyak unsur di dalam pelaksanaannya. Dengan meninggalkan atau mengurangi fungsi salah satu unsur pelaksanaan dakwah berarti pula mengurangi efektifitas dan efisiensi dakwah.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan landasan teori tersebut, maka kerangka pikir teori pola memonton siaran agama di televisi sebagai variabel X dan pengamalan agama sebagai variabel Y. Kerangka pikir tersebut dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut :

Pola menonton Siaran Agama di Televisi (X)

1. Persentase siaran keagamaan,
2. Lama siaran,
3. Waktu-waktu penyiaran,
4. tema siaran agama,
5. bentuk penyampaian,
6. Lamanya waktu menonton.

Pengamalan agama umat Islam di Kota Langsa (Y)

1.Shalat,
2. Puasa.

D. Hipotesis

Adapun hipotesis penelitian ini yaitu : “pola menonton siaran agama di televisi berpengaruh secara signifikan terhadap pengamalan agama umat Islam di Kota Langsa.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah wilayah Kota Langsa yang merupakan salah satu kota yang ada dibawah Provinsi NAD yang mana masyarakat Islam Kota Langsa dibagi dalam 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Kota, Kecamatan Langsa Timur dan Kecamatan Langsa Barat yang terdiri dari 45 (empat puluh lima) gampong dan 6 (enam) kelurahan, sebagai subjek penelitian. Adapun subjek penelitian yaitu mereka yang terjangkau dan mengakses siaran televisi Indonesia, khususnya siaran agama Islam dalam berbagai waktu dan kesempatan dan penyiaran.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah masyarakat Islam Kota Langsa yang mengakses siaran agama pada televisi Indonesia, meliputi : TVRI, TPI, SCTV, RCTI, ANTV, INDOSIAR, LATIVI, TV7, TRANS7.

2. Sampel

Adapun yang menjadi sampel wilayah mencakup pada ketiga kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Kota, Kecamatan Langsa Timur dan Kecamatan Langsa Barat. Selanjutnya penetapan sampel/responden ini adalah menggunakan teknik purposive random sampling atau sampel bertujuan hanya sampel yang menonton siaran agama di televisi yang akan dipilih dan ditetapkan menjadi sampel dalam penelitian ini.

C. Defenisi Operasional

Ada dua variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini, yaitu pola menonton siaran agama di televisi sebagai variabel bebas (X), dan pengamalan agama umat Islam sebagai variabel terikat (Y).

1. Pola menonton Siaran Agama

Siaran agama dalam penelitian ini adalah suatu kegiatan penyampaian pesan atau nilai-nilai agama melalui siaran televisi dalam rangka mempengaruhi pendengar untuk mengetahui, menghayati, memahami dan mengamalkan ajaran agama. Pola menonton siaran agama yang ditayangkan di televisi Indonesia berisikan sub variable yaitu persentase siaran keagamaan, lama siaran, waktu-waktu penyiaran, tema siaran agama, bentuk penyampaian, lamanya waktu menonton.

2. Pengamalan agama dalam penelitian ini diartikan sebagai ajaran agama yang dilaksanakan oleh umat Islam yang menonton siaran agama pada televisi Indonesia. Adapun variabel pengamalan agama yaitu : latar belakang mengamalkan, tujuan dan manfaat yang dirasakan dalam mengamalkan shalat dan puasa ramadhan.

D. Alat Pengumpulan Data

Adapun Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner (angket) untuk mengukur variabel pola menonton siaran agama yang diikuti oleh responden penelitian ini, dan sekaligus untuk mengukur pengamalan agama responden sebagai akibat yang ditimbulkan oleh pola menonton siaran agama pada berbagai televisi yang mereka tonton, baik pada pagi/subuh, sore atau malam hari.

Adapun kisi-kisi angket yang akan ditanyakan dalam angket tertutup adalah berkaitan dengan :

1. Profil dan demografi penonton
2. Jumlah waktunya menonton siaran agama di televisi
3. Jumlah siaran agama yang ditontonnya
4. Tema siaran agama yang ditontonnya
5. Pendapat responden tentang keberadaan siaran agama di televisi
6. Motivasi responden menonton siaran agama di televisi
7. Motivasi responden memilih siaran agama pada beberapa televisi
8. Sikap responden terhadap bentuk penyiaran agama di televisi
9. Sikap penonton terhadap bahasa yang digunakan dalam penyiaran agama di televisi.
10.Pengamalan agama yang dilaksanakan dalam kehidupan responden setelah selama ini mengikuti siaran agama di televisi, baik pengamalan shalat maupun puasa ramadhan, latar belakang mengamalkan ajaran agama, tujuan, manfaat, kesan dalam mengamalkan ajaran agama.

E. Skala Pengukuran

Skala yang digunakan adalah skala Likert adalah alat ukur mengenai sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang gejala sosial. Skala Likert diciptakan dan diperkenalkan oleh Likert. Dalam penggunaannya, peneliti lebih dahulu menetapkan secara spesifik variabel-variabel penelitian lengkap dengan indikator-indikator setiap variabel. Indikator-indikator ini kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun instrumen penelitian dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Jawaban dari setiap pertanyaan itu mempunyai tingkatan mulai dari sangat positif sampai sangat negatif seperti contoh berikut:[12]

1. Sangat setuju Sangat positif Sangat sering
2. Setuju Positif Sering
3. Ragu-ragu Netral Kadang-kadang
4. Tidak setuju Negatif Hampir tidak pernah
5. Sangat tidak setuju Sangat negatif Tidak pernah

Penerapan skala Likert dalam bentuk ceklis dengan menggunakan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Untuk data kedua variabel pola penyiaran agama di televisi dikumpulkan melalui kuesioner model skala Likert, bahwa “this scale is to register the ektend of agreement or disagreement with a particular statemet of an attitude. Belief or judgement”.[13] Kuesioner disusun dalam bentuk kontinue dengan empat alternatif jawaban, sedangkan cara skoring bagi jawaban positif diberi skor 4,3,2 dan 1 dan jawaban negatif diberi skor 1,2,3 dan 4.

F. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain expost facto yaitu untuk menguji apa yang telah terjadi. Menurut Hajar, penelitian expost facto untuk menetukan apakah perbedaan yang terjadi antar kelompok subjek (dalam variabel independent) menyebabkan terjadinya perbedaan pada variabel dependen.[14] Penelitian ini dilaksanakan dengan pola kajian korelatif dengan mengklasifikasikan variabel penelitian kedalam dua bab kelompok yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Menurut Arikunto, penelitian korelatif dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel atau lebih.[15] Penelitian dengan kajian korelatif akan dapat memprediksi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Teknis analisis yang digunakan adalah korelasi dan regresi.

Pendekatan analisisnya adalah analisis deskriptif dan inferensial. Yang menurut Nazir, analisis deskriptif ialah suatu metode yang memiliki suatu objek pada masa sekarang, Sedangkan analisis inferensial ialah untuk memprediksi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.[16] Korelasi parsial akan melakukan korelasi antara satu variabel terikat, sedangkan variabel lainnya di control.

G. Analisis Data

Hasil penelitian ini dianalisa dengan menggunakan berbagai tehnik statistik. Analisis data dilakukan dengan bantuan program computer SPSS versi 10,0 for windows, untuk pengujian-pengujian sebagai berikut :

1. Pengujian asumsi dasar / persyaratan analisis

a. Pengujian uji normalitas data menggunakan teknik chi quadrat
b. Uji homogenitas antar variabel independent dengan variabel dependent dengan cara melihat Simpangan Bakunya.
c. Uji Linearitas garis dengan teknik regresi sederhana

3. Pengujian Hipotesis
Hipotesis 1 dan 2 di uji dengan teknik korelasi sederhana.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah POLA MENONTON SIARAN AGAMA DI TELEVISI , anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com
Daftar Pustaka dan Footnote


Daftar PUstaka

[1]Sumber data: Dinas Statistik Kota Langsa, Tahun 2006.

[1]Sumber data: Dinas Statistik Kota Langsa, Tahun 2006.

[1] R.Abelman, Religious Television Uses and Grafications, (Jaurnal of Broadcasting and Elektronik Media, 1987), h. 42.



[1] Asiah Sarji, Penyiaran dan Masyarakat : Isu-isu Perutuasan di Malaysia-arah dan Masalah ,( Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990), h. 92.

[1] Ibid, h.12-13.



[1] R.Abelman,Op-cit, h. 14.

[1] S.W.Littlejohn, Theories of Human Communication, ( California : Wadsworth Publishing Company, Figure, 1989), h. 275.

[1] Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam, (Bandung : CV.Diponegoro, 1981), h. 123.

[1] Philip.V.Lewis, Organizational Communication, (New Jersey : John Willey and Sons, 1987), h.11.

[1] R.W. Mondy and Shane R.Premeaux..Mangement, Counsepts, Practice and Skills, (New Jersey : Englewood Cliffs, 1995), h.202.

[1] Abdurrahman Al-Baghdadi, Dakwah Islam dan Masa Depan Ummat, (Bangil : Al-Izzah, 1997), h. 190.

[1]Syukur Kholil, Metodologi Penelitian Komunikasi (Bandung: Citapustaka Media, 2006), h. 144.

[1] Bruce W Tuckman, Bruce, Conducting Educational Research, ( New York : Harcourt BraceJovanovich Inc, 1972), h. 179.

[1] Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), h. 345.

[1] Suhharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta : rajawali Press, 1993), h. 73.

[1] Moh. Azir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985), h.12.










[1]Sumber data: Dinas Statistik Kota Langsa, Tahun 2006.

[2]Sumber data: Dinas Statistik Kota Langsa, Tahun 2006.

[3]R. Abelman, Religious Television Uses and Grafications (Jaurnal of Broadcasting and Elektronik Media, 1987), h. 42.



[4]Asiah Sarji, Penyiaran dan Masyarakat : Isu-isu Perutuasan di Malaysia-arah dan Masalah (Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990), h. 92.

[5]Ibid., h.12-13.



[6]R. Abelman, Religious Television Uses and Grafications…, h. 14.

[7]S.W.Littlejohn, Theories of Human Communication (California : Wadsworth Publishing Company, Figure, 1989), h. 275.

[8]Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam (Bandung : CV.Diponegoro, 1981), h. 123.

[9]Philip.V.Lewis, Organizational Communication (New Jersey : John Willey and Sons, 1987), h.11.

[10]R.W. Mondy and Shane R.Premeaux, Mangement, Counsepts, Practice and Skills (New Jersey : Englewood Cliffs, 1995), h.202.

[11]Abdurrahman Al-Baghdadi, Dakwah Islam dan Masa Depan Ummat (Bangil : Al-Izzah, 1997), h. 190.

[12]Syukur Kholil, Metodologi Penelitian Komunikasi (Bandung: Citapustaka Media, 2006), h. 144.

[13]Bruce W Tuckman, Bruce, Conducting Educational Research ( New York : Harcourt BraceJovanovich Inc, 1972), h. 179.

[14]Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), h. 345.

[15]Suhharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta : rajawali Press, 1993), h. 73.

[16]Moh. Azir, Metode Penelitian (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985), h.12.

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2012. Aneka Ragam Makalah - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ibrahim Lubis